Tag Archives: Syiah

Asal-usul Syiah

Oleh :  Dr. Ragheb El Sergani

Ulama-ulama Usul Al-Fiqh (Prinsip-prinsip Hukum Islam) menyatakan aturan berikut, “Seseorang tak bisa memberikan sebuah keputusan terhadap sesuatu sampai dia memiliki konsepsi jang jelas tentangnnya”. Berdasarkan aturan itu, tidaklah bernilai memberikan pendapat tentang syiah sampai anda memiliki pengetahuan yang baik tentang mereka. Tidak juga bermakna mengekspresikan pendapat seseorang yang mencoba mendamaikan pandangan-pandangan Sunni dan Syiah tanpa mengenali keadaan dua sekte itu. Sama halnya, bukanlah pandangan yang nyata untuk menerima atau menolak berbicara tentang Syiah tanpa mengetahui realitas masalahnya, yang mana perluasannya berbahaya, mengaturnya menjadi prioritas kita dan hubungannya pada berbagai variable Ummah yang dihadapi.

Ringkasnya, sebelum kita membuat kritik yang menentang ataupun mendukung syiah, kita harus pertama-tama memahami siapakah Syiah itu, bagaimana asal-usulnya, bagaimana latar belakang teologi dan Fiqh mereka, bagaimana sejarah mereka, apakah tujuan dan ambisi mereka di dunia nyata. Hanya setelah melakukan ini, kita dapat memperlihatkan pandangan kita lebih jauh, khususnya ketika kita mengetahui begitu banyaknya orang yang mengubah pandangan yang telah lama diyakininya dan menyerahkan gagasan mereka setelah mereka disuguhkan informasi dan pandangan yang jelas.

Siapakah Syiah?

Masalah ini bukanlah semata-mata tentang bangsa tertentu yang hidup di sebuah Negara tertentu yang memiliki beberapa perselisihan dengan Negara tetangganya. Lebih dari itu, ini adalah sebuah masalah yang memiliki latar belakang teologis, historis dan Fiqh yang harus diacu.

Banyak sejarahwan yang berselisih pendapat mengenai kapan dimulainya Syiah ini.

Apa yang biasa dipercayai orang banyak adalah bahwa Syiah adalah mereka yang mendukung ‘Ali bin Abu Talib pada masa kekhalifahan Mu`awiyah bin Abu Sufyan, (RA). Menurut pengertian ini, mereka yang mendukung `Ali bin Abu Talib adalah Syiah sementara mereka yang mendukung Mu`awiyah adalah Sunnis. Pemahaman seperti itu tak pernah dapat diterima. Lebih lagi, orang-orang Sunni percaya dengan rasa hormat perselisihan yang timbul antara du shahabat yang terhormat ini bahwa ‘Ali (RA)—lah yang benar, sementara Mu`awiyah (RA) melaksanakan Ijtihad namun tidak mencapai kebenaran. Maka, pemikiran orang-orang Sunni jelas-jelas bersama ‘Ali. Lebih lagi, prinsip-prinsip, doktrin dan ideology yang dpegang oleh Syiah secara keseluruhan benar-benar berbeda dengan apa yang dipegang oleh `Ali bin Abu. Karenanya, adalah keliru jika mengatakan bahwa kemunculan Syah adalah pada masa itu.

Beberapa sejarahwan mengatakan bahwa kemunculan Syiah adalah setelah Al-Hussein (RA) syahid. Pendapat ini kedengarannya lebih logis. Kenyataannya, Al-Hussein memberontak terhadap pemerintahan Yazid bin Mu`aweiyah dan karenanya, dia menuju ke Iraq setelah para pengikutnya yang berada di sana berjanji akan kembali padanya. Akan tetapi, mereka membiarkannya terjatuh di saat-saat yang sangat kritis, yang membuatnya harus menemui kesyahidan di Karbala. Kelompok orang yang mengundangnya dan gagal mendukungnya merasa menyesal dan memutuskan untuk menebus dosa-dosa mereka dengan cara memberontak terhadap kekhalifahan Umayyah. Mereka benar-benar melakukannya dan sejumlah besar dari mereka terbunuh sehingga disebut Syiah. Ini bisa menjelaskan kenapa kita melihat bahwa Syiah itu lebih lekat pada Al-Hussein bin `Ali daripada kepada `Ali bin Abu Talib (RA) sendiri. Mereka juga, sebagaimana dapat kita lihat, menandai peringatan kesyahidan Al-Hussein tapi tidak menandai hari kesyahidan `Ali bin Abu Talib.

Namun demikian, sekte ini hanya tumbuh sebagai gerakan politis yang menentang dinasti Ummayyah dan kembali melakukan upaya untuk memberontak pada dynasty ini. Sampai saat itu, mereka tidak memegang prinsip-prinsip teologi dan fiqh yang berbeda dengan orang-orang Sunni. Kita bahkan akan mengetahui bahwa pemimpin-pemimpin awal yang diklaim orang-orang Syiah sebagai imam-imam Syiah ternyata hanyalah orang-orang Sunni yang mengadopsi doktrin-doktrin dan prinsip-prinsip orang-orang Sunni.

Situasi terus berlanjut dan berangsur stabil untuk beberapa bulan setelah kesyahidan Al-Hussein (RA). Pada periode ini hidup `Ali Zainul-`Abdin bin Al- Hussein yang merupakan seorang yang berkepribadian baik dan ulama yang zuhud. Dia tak pernah dilaporkan memiliki keyakinan atau ideology yang berbeda dengan apa yang dipegang oleh para shahabat dan shalafu shalih.

`Ali Zainul-`Abdin memiliki dua orang putera yang yang shaleh dan murni, yang bernama, Mohammed Al-Baqir dan Zaid, yang keduanya benar-benar berkeyakinan sama dengan apa yang dipegang ulama-ulama Sunni termasuk para shahabat dan penerusnya. Akan tetapi, Zaid bin `Ali (RA) berbeda dalam melihat bahwa `Ali bin Abu Talib lebih layak dianggap khlaifah daripada Abu Bakr (RA). Meskipun pendapat bertentangan dengan consensus Ummah dan bertentangan dengan banyak hadits yang secara eksplisit menganggap bahwa Abu Bakr Al-Siddik, `Umar dan `Uthman memiliki peringkat yang lebih tinggi dibanding `Ali (RA), perbedaan pendapat ini, bagaimanapun, tidak berhubungan dengan masalah doctrinal. Sementara dia memandang bahwa `Ali –lah yang terbaik, dia, bagaimanapun, mengakui ketinggian derajat tiga khalifah pertama. Dia juga percaya dalam hal kebolehan mengangkat seorang imam meski ada orang yang lebih tinggi derajatnya. Jika demikian, dia tidak menolak imamah Abu Bakr, `Umar dan `Uthman (RA). Selain dari itu, dia juga setuju dengan orang-orang Sunni dalam hal teologi, prinsip-prinsip dan Fiqh.

Mengulangi upaya yang telah dilakukan kakeknya, Al-Hussein bin `Ali (RA), Zaid bin `Ali memberontak melawan khlaifah Umayyah, Hisham bin Abdul-Malik, yang berakhir dengan terbunuhnya dia pada tahun 122 H. Para pengikutnya kemudian mendirikan sebuah sekte yang didasarkan atas gagasan-gagasannya, yang dalam sejarah dikenal dengan nama Zaydiyyah,dinamai setelah Zaid bin `Ali. Meski dianggap sebagai sekte yang yang berbasis Syiah, Zaydiyyah sepakat dengan orang-orang Sunni dalam segala hal kecuali menempatkan `Ali dalam posisi yang lebih tinggi disbanding tiga khalifah yang lebih mula. Para pengikut sekte ini terutama ada di Yaman dan mereka ada sekte Syiah yang lebih dekat kepada Sunni – bahkan orang akan sulit membedakan mereka dari orang-orang Sunni even one can hardly distinguish them from Sunnis dalam banyak hal.

Adalah bermanfaat untuk menyebutkan bahwa sebuah kelompok para pengikut Zaid bin `Ali bertanya padanya mengenai pendapatnya tentang Abu Bakr dan `Umar. Dalam jawabannya, dia memohon kepada Allah untuk menunjukkan rahmat-Nya kepada kedua orang khalifah itu, namun mereka yang bertanya padanya menolak untuk melakukan hal yang sama dan keluar dari sektenya. Karenanya mereka dikenal dalam sejarah sebagai Rafidah (para pembangkang) karena mereka menolak kekhalifahan Abu Bakr dan `Umar pada satu sisi, dan menolak pendapat  Zaid di sisi yang lain. Generasi-generasi selanjutnya dari grup seperti ini mendirikan sebuah sekte yang nanti dikenal sebagai sekte Ithna `Ashriyyah (Imamiyyah) yang menjadi sekte Syiah terbesar.

Mohammed Al-Baqir, saudara dari Zaid bin `Ali, meninggal delapan tahun sebelum saudaranya (pada tahun 114 H.) meninggalkan seorang putera yang menjadi seorang ulama terhormat, Ja`far Al-Sadiq. Kemudian dia menjadi seorang ulama utama dan seorang Faqih, yang memegang teologi yang sama dengan apa yang diyakini para Shahabat, tabiin, dan para ulama secara umum.

Pada akhir era kekhalifahan Umayyah, gerakan Abbasiyyah memulai aktifitasnya yang bertujuan menggalang orang-orang untuk melawan kekhalifahan Umayyah. Gerakan ini bekerjasama dengan kelompok-kelompok yang keluar dari Zeid bin `Ali dan keduanya dapat menggulingkan kekhalifahan Umayyah pada tahun  132 H. Kekhalifahan Abbasiyyah kemudian berkuasa diketuai oleh pendirinya Abul-`Abbas Al-Saffah dan penggantinya Abu Ja`far Al-Mansur. Mereka yang bekerjasama dengan gerakan ini kemudian menjadi kecewa karena mereka berusaha mendirikan kekhalifahan yang diperintah oleh cucu `Ali bin Abu Talib. Karenanya, mereka membentuk sebuah kelompok yang disebut Al-Talibiyyun (para pendukung `Ali bin Abu Talib (RA) dibandingkan kepada Abbasiyyah yang dinamai setelah Al-`Abbas bin Abdul-Muttalib) dengan tujuan untuk melakukan kudeta terhadap kekhalifahan Abbasiyyah.

Sampai era ini, tak ada pelangaran teologis ataupun fiqh yang essensial kecuali kritik terhadap Abu Bakr dan `Umar; sebenarnya, beberapa dari mereka yang keluar dari Zaid bin `Ali yang menolak mereka dan bahkan mengutuk mereka di depan public.

Ja`far Al-Sadik meninggal tahun 148 H. meninggal seorang putera bernama Musa Al-Kazim, yang juga seorang ulama namun tak sebanding dengan ayahnya. Dia meninggal pada tahun 183 H. meninggalkan beberapa putera termasuk `Ali bin Musa Al-Rida.

Terjadilah Khalifah Abbasiyyah, al Ma’mun melihat konten pemberontakan Al-Talibiyyun yang mengklaim kekhalifahan untuk anak keturunan `Ali bin Abu Talib alih-alih untuk anak keturunan Al-`Abbas. Maka, dia mengangkat `Ali bin Musa Al-Rida sebagai pangeran mahkota, yang dipenuhi dengan kontroversi di antara kalangan Abbasiyyah. Namun demukian, `Ali bin Musa Al-Rida tiba-tiba meninggal pada tahun 203 H., dan Al-Talibiyyun menuduh Al-Ma’mun –lah yang membunhnya dan sekali lagi meningkatkan revolusi suksesi melawan Abbasiyyah sebagaimana mereka lakukan kepada Umayyah.

Bagaimanapun, tahun-tahun yang berlalu member ruang agar revolusi ini relative menurun. Sampai saat itu, Syiah belum mengadopsi sebuah mazhab pemikiran keagamaan yang independen yang disebut Syiah. Malahan, yang ada hanyalah gerakan-gerakan politis yang bertujuan memperoleh kekuatan dan menentang para penguasa karena berbagai alas an yang tidak termasuk kepada alas an-alasan teologis sebagaimana dipegang Syiah yang ada sekarang.

Dengan cara yang mencolok, dawah-dawah perselisihan seperti itu menemukan dukungan dalam skala besar di kawasan Persia (Iran hari ini). Sebenarnya, banyak penduduk di daerah itu yang menyesali atas runtuhnya kekaisaran Persia dan fusinya ke dalam Negara Islam. Mereka, bangsa Persia, menganggap diri mereka bersal dari ras yang lebih tinggi, kesukuan yang lebih baik dan sejarah yang lebih hebat disbanding Muslim. Perasaan ini menimbulkan perasaan Persophilia – sebuah ideology yang berarti memberikan prioritas pada ras dan kesukuan mereka dibanding lainnya bahkan Islam. Beberapa di antara mereka bahkan memperlihatkan ketaatan yang mendalam kepada akar-akar, kunci, persedian dan barel Persia mereka, bahkan kepada api yang pernah mereka sembah.

Karena mereka tidak cukup punya kekuatan untuk melakukan pemberontakan melawan Negara Islam, dan menjadi Muslim untuk beberapa decade, mereka menemukan revolusi Al-Talibiyyun sebagai jalan yang dengannya dapat menggulingkan kekhalifahan Islam yang telah menggulingkan Negara Persia mereka sebelumnya. Pada saat yang sama, mereka tak mau meninggalkan Islam yang telah mereka anut bertahun-tahun. Mereka, namun demikian, memutuskan menyusupkannya dengan cara menyuntikkannya peninggalan Negara Persia sehingga menciptakan instabilitas di dalam Ummah Muslim. Mereka mempertahankan penampangan yang rendah, sementara Al-Talibiyyu dibuat seakan-akan berada pada penampangan yang tinggi. Mengingat Al-Talibiyyun berafiliasi kepada `Ali bin Abu Talib, adalah bagian dari ahlul bayt Nabi dan maka dijunjung tinggi orang-orang, sehingga orang-orang itu dapat terjamin melanjutkan misi mereka.

Maka, upaya-upaya Persophil untuk menyatu dengan Al-Talibiyyun yang berasal dari Ahlul Bayt Nabi adalah untuk membentuk satu kemerdekaan baru, bukan hanya dalam bidang politik tapi juga dalam keagamaan, entitas.

Kembali ke Al-Talibiyyun, kita dapat melihat setelah kematian `Ali Al-Rida yang telah diangkat sebagai pangeran mahkota oleh Khalifah Al-Ma’mun, dia digantikan oleh anaknya Mohammed Al-Jawad yang meninggal pada tahun 220 H. Dia juga kemudian digantikan oleh puteranya `Ali bin Mohammed Al-Hadi yang meninggal pada tahun 254 H. Akhirnya, yang terakhir digantikan oleh Al-Hassan bin `Ali yang disebut Al-`Askary yang juga meninggal secara tiba-tiba pada tahun 260 H. meninggalkan seorang putera yang berusia 5 tahun, Mohammed.

Beberapa tahun sebelumnya, gerakan-gerakan separatis, yang dilakukan beberapa Ahlul Bayt Nabi dan Persophil, berikrar kepada putera tertua pemimpin Al-Talibiyyun, dimulai dengan `Ali Al-Rida dan diakhiri dengan Al-Hassan Al-`Askary. Mengenai leluhur-leluhur `Ali Al-Rida, seperti ayahnya Musa Al-Kazim atau kakeknya Ja`far Al-Sadik atau kakek buyutnya Mohammed Al-Baqir, mereka tidak dianggap pemimpin revolusioner melawan penguasa Umayyah atau Abbasiyyah.

Namun demikian, setelah Al-Hassan Al-`Askary meninggal pada tahun 260 H., para revolusioner ini benar-benar kebingungan kepada siapa mereka menyandarkan kepemimpinan sementara Al-Hassan Al-`Askary sendiri hanya meninggalkan seorang putera yang masih sangat kecil. Mereka bahkan menjadi benar-benar kebingungan setelah anak yang masih sangat kecil itu meninggal sevara tiba-tiba. Hal ini menghasilkan perpecahan kelompok-kelompok revolusioner itu ke dalam berbagai sekte yang masing-masing berbeda dari yang lainnya dalm terma prinsip-prinsip dan gagasan demikian juga dalam keyakinan.

Yang paling terkenal dari antara sekte-sekte itu adalah Ithna `Ashriyyah (Imamiyyah), yang sekarang banyak berlaku di Iran, Iraq dan Lebanon. Ini adalah sekte Syiah terbesar pada saat ini.

Para pemuka sekte ini mulai menambahi ke dalam gagasan-gagasan Islam yang akan bekerja dengan baik dalam situasi-situasi yang terpapar akhir-akhir ini dan yang dapat memastikan keberlangsungan sekte mereka menghipun dengan absennya pemimpin mereka.

Mereka menambahkan begitu banyak bid’ah yang serius ke dalam agama Islam, dan mengklaim bid’ah-bid’ah itu sebagai bagian dan paket dari Islam. Maka, bid’ah-bid’ah itu, dengan berlalunya waktu, menjadi komponen kunci igeologi dan pemikiran mereka. Beberapa bid’ah itu berhubungan dengan Imamah (kekhalifahan). Mencari justifikasi untuk kekurangan imam pada saat ini, mereka berargumen bahwa imam itu hanya ada duabelas, dengan rangkaian sebagai berikut: 1- `Ali bin Abu Talib, 2- Al-Hassan bin `Ali, 3- Al-Hussein bin `Ali, 4- `Ali Zainul-`Abidin bin Al-Hussein, 5- Mohammed Al-Baqir bin Zainul-`Abidin, 6- Ja`far Al-Sadik bin Mohammed Al-Baqir, 7- Musa Al-Kazim, 8- `Ali Al-Rida, 9- Mohammed Al-Jawad, 10- `Ali Al-Hadi, 11- Mohammed Al-Mahdi dan 12- Al-Hassan Al-`Askary.

Duabelas Imam SyiahItulah kenapa sekte ini dinamai Ithna `Ashriyyah. Mencari pembenaran kenapa pergantian imam itu berakhir, mereka mengklaim bahwa anak kecil Muhammad bin Al-Hassan Al-`Askary belumlah mati sampai sekarang, dan karenanya, menurut mereka, dia menghilang di dalam sebuah gua di gunung dan masih hidup sampai sekarang (lebih dari seribu tahun sampai sekarang). Mereka kemudian mengklaim bahwa imam ini akan kembali dan memerintah dunia. Mereka juga yakin bahwa dia adalah Imam Mahdi yang ditungu-tunggu. Mereka juga mengklaim bahwa Rasulullah (SAW) mewariskan imamah kepada dubelas nama itu namun para Shahabat menahan informasi itu. Inilah kenapa mereka menghukumi para Shahabat umumnya sebagai orang-orang yang kafir (akan tetapi, beberapa dari mereka menghukumi para Shahabat hanya sebagai orang-orang yang tamak) karena mereka menyembunyikan wasiat itu. Dipengaruhi oleh system pemerintahan Persia, mereka memperkenalkan keniscayaan system monarchi yang percaya bahwa imam haruslah anak lelaki tertua dari `Ali bin Abu Talib demikian juga seterusnya semua yang menggantikan imam-imam yang ada sebelumnya. Bahkan Negara-negara Islam Sunni mendasarkan pada system monarchi seperti itu, seperti Umayyah, Abbasiyyah, Seljuk, Ayyubi dan kekhalifahan Ottoman, tak pernah menganggap bahwa sistem monoarchi seperti itumenjadi bagian dari agama atau aturan itu mesti berbasis dinansi. Dipengaruhi juga oleh Persia, mereka memperkenalkan kekudusan pemerintahan dinasti. Dengan demikian, mereka yakin akan kesempurnaan imam-imam yang telah disebutkan di atas dan karenanya menganggap perkataan mereka itu sesuci Quran dan Hadits Nabi. Lebih lagi, kebanyakan aturan-aturan Fiqh mereka berasal dari perkataan para imam tanpa memperhatikan apakah perkataan itu otentik atau kepalsuan yang disandarkan kepada mereka. Lebih jauh, dalam bukunya “Islamic Government”, Khomeini, pemimpin revolusi Iran, menyatakan, “Salah satu fundamen ideology kita adalah bahwa imam-imam kita lebih tinggi derajatnya dari para malaikat yang setia dan para nabi.[1]”  Karenanya, ini menjelaskan kebencian mereka yang sengit kepada para shahabat (kecuali beberapa di antara mereka yang tidak melebihi tigabelas). Mereka juga bahkan memperlihatkan kebencian kepada beberapa Ahlul Bayt Nabi, seperti Al-`Abbas (RA), pamanda Rasulullah, dan puteranya Abdullah bin `Abbas (RA), ulama besar Ummah. Tak dapat dibantah, kebencian kepada dua tokoh ini dan menghukumi mereka sebagai kafir adalah disebabkan oleh konflik sejarah antara Ithna `Ashriyyah dengan kekhalifahan Abbasiyyah.

Di antara bid’ah-bid’ah mereka adalah mereka menganggap kebanyakan negeri-negeri Muslim sebagai Darul-Kufr (Negeri Orang-orang Kafir). Mereka jugaKhomeini menghukumi orang-orang Madinah, Mekkah, Mesir dan Libanon sebagai orang-orang kafir, yang telah meriwayatkan apa yang dikatakan Nabi dengan keliru dalam hal ini yang mereka yakini sebagai bagian dari agama mereka.

Anda dapat merujuk gagasan-gagasan seperti itu dari sumber-sumber aseli mereka, seperti Al-Kafy, Bihar Al-Anwar dan Tafsir Al-Qummi, Tafsir Al-`Ayyashi, Al-Burhan dan kitab-kitab lainnya.

Konsekuensinya, mereka tidak mengakui ulama-ulama Sunni dan semua kitab Hadits shahih, seperti Al-Bukhari, Muslim, Al-Tirmidhi dan Al-Nasa’i. Mereka juga menolak otoritas  Abu Hanifah, Malik, Al-Shafi`i dan Ibn Hanbal. Mereka juga tidak mengakui kehebatan Khalid bin Al-Walid atau Sa`d bin Abu Waqqas, `Umar bin Abdul-`Aziz, Musa bin Nusair, Nourul-Din Mahmoud, Salahud-Din, Qutuz dan Muhammad Al-Fatih.

Sebagai hasil dari itu – mereka tidak mengakui para Shahabat, para Tabiin dan kitab-kitab hadits dan tafsir, mereka mempertahankan begitu banyak ucapan-uvapan yang disandarkan kepada Imam-imam mereka melalui jalur periwayatan yang sangat lemah. Konsekuensinya, banyak bid’ah-bid’ah yang menjijikkan yang mendapatkan tempat dalam doktrin-doktrin, peribadatan, perdagangan dan kehidupan mereka. Dalam artikel ini, saya tidak berniat memberikan daftar bid’ah-bid’ah yang mereka lakukan; sebenarnya, tujuan seperti itu membutuhkan susunan kitab-kitab. Saya disini hanya mengacu pada asal-asul masalahnya sehingga kita dapat memahami konsekuensinya. Namun demikian, dibutuhkan perbincangan yang panjang lebar mengenai bid’ah-bid’ah itu seperti Taqiyyah (dibolehkannya seorang penganut Syiah untuk menyembunyikan keyakinan mereka jika berada di bawah ancaman, penganiayaan atau pemaksaan) dan Raj’a (kembalinya Imam-imam mereka dari kematian), memandang bahwa Qur’an itu telah disisipi, tidak percaya kepada Allah, Bid’ah-bid’ah yang dilakukan di dalam kuil, membangun kuil-kuil di dalam masjid, Bid’ah-bid’ah keji yang dilakukan dalam perayaan kesyahidan Al-Hussein dan ribuan bid’ah lain yang menjadi tonggak-tonggak kunci dalam agama menurut Ithna `Ashriyyah.

Semua yang telah saya sebutkan hanyalah bagian dari igdeologi Ithna `Ashriyyah. However, terdapat beberapa sekte-sekte lain dalam satu periode sejarah, khususnya dalam periode yang dikenal dalam sejarah sebagai periode “Shia Bewilderment (kebingungan Syiah)”, yang dimulai pada awal pertengahan abad ketiga hijriah, setelah meninggalnya Al-Hassan Al-`Askary (Imam keduabelas sekaligus yang terakhir menurut mereka).

200px-Mollah_imamzadeh_tabrizDari periode ini, literature buku-buku yang menumbuhkan ideology dan doktrin-doktrin mereka disusun. Metodologi mereka menyebar secara luas di kawasan Persia khususnya dan di dunia Muslim umumnya. Namun demikian, saat itu tak ada satu Negara pun yang mengadopsi ideology ini secara resmi. Setidaknya, pada akhir abad ketigabelas dan permulaan abad keempatbelas hijriah, pengembangan-pengembangan yang serius dilakukan di beberapa tempat yang membuat Syiah mendapatkan kekuatan di beberapa tempat, yang mendapatkan penolakan-penolakan yang serius di seluruh Ummat Muslim. Inilah yang akan saya bahas dalam beberapa artikel yang akan dating, insya Allah.

Namun demikian, saya harus mengulang kembali aturan ” Seseorang tak bisa memberikan sebuah keputusan terhadap sesuatu sampai dia memiliki konsepsi jang jelas tentangnnya “. Maka, jika kita mengambil sebuah keputusan dalam sebuah masalah atau pembahasan yang specific, pertama-tama yang harus kita miliki adalah pengetahuan tentangnya. Dengan kata lain, kita tak dapat menghukumi sesuatu benar atau salah atau mengatakan itu lebih baik dilakukan begini-begitu kecuali ketika informasi yang shahih mengenai itu tersedia. Tak dapat diragukan, penghukuman-penghukuman yang didasrkan pada hasrat dan hawa nafsu dan tak ada studi yang dilakukan pastilaah akan menyebabkan kemungkaran.

Semoga Allah Memuliakan Islam dan Ummat Muslim.

Sumber: Islamstory.com

[1] Khomeini, Islamic Government, hal. 52

Iklan