Tag Archives: Muhammad ibn Abdul Wahhab

Catatan Untuk Penggunaan Kata-kata “Wahhabi” dan “Wahhabisme”

ibn Abdul WahhabPara pengikut Muhammad ibn Abdul-Wahhaab tidak pernah menggunakan terma “Wahhabi” atau “Wahhabisme” dalam menunjukkan dirinya atau keyakinannya. Umumnya, mereka akan menggunakan terma-terma seperti “ummat Muslim”, muwahhideen (“penganut monotheisme”) dan mereka menyebut seruan mereka, “seruan monotheisme sejati (tauheed),” “agama Islam,” “dawah Salaf” (mengacu kepada generasi-generasi awal ummat muslim yang shaleh) atau hanya “dawah.”[1] Muwahhideen adalah terma favorit mereka untuk digunakan kepada diri mereka, sebagai cara membedakan mereka dari ummat Muslim lain yang terlibat dalam praktik-praktik yang berbenturan dengan akar agama tauhid sejati.[2]

Sangat jelas bahwa ibn Abdul-Wahhaab tidak lebih daripada seorang pengikut Nabi (SAW), para shahabatnya, tabi’in, tabi’i tabi’in, dan beberapa ulama besar yang datang kemudian, seperti Imam Ahmad, ibn Taimiyyah, ibn al-Qayyim, ibn Katheer dan lain-lain. Namun demikian, untuk memberikan ibn Abdul-Wahhaab sebuah nama yang akan memperlihatkan pendekatannya dengan benar – seperti salafi (berarti orang yang mengikuti cara-cara para pendahulu yang shaleh) – tak akan mendapati gol dan tujuan yang sama dengan mereka yang datang dengan nama “Wahhabi”.[3]

Al-Uthaimeen menyatakan bahwa tak diragukan bahwa orang pertama yang menggunakan terma ini adalah para penentang dawahnya, meskipun tidak jelas apakah mereka yang ada di dalam Najd atau mereka yang ada di luar Najd yang pertama kali menggunakan terma ini. Apa yang jelas, bagaimanapun, adalah pada waktu tidak lama setelah penyerangan Muhammad Ali Pasha kepada al-Diriyyah, terma itu mulai menjadi biasa.[4]

Di lain pihak, tak ada kesangsikan bahwa terma ini aselinya digunakan untuk membuat “orang-orang menjauh” dari ajaran-ajaran Muhammad ibn Abdul-Wahhaab. Diklaim bahwa Muhammad ibn Abdul-Wahhaab menyeru kepada sebuah agama baru atau kepada madzhab kelima. Tentu saja, dalam tambahan menyebut mereka “Wahhabi,” mereka juga disebut bid’ah, kafir dan Khawarij.[5]

Selama abad yang telah berlalu, terbangun sebuah perbedaan pendapat di antara para pengikut ajaran-ajaran Muhammad ibn Abdul-Wahhaab apakah menerima atau tidak terma “Wahabi” yang ditujukan kepada mereka. Bagi mereka yang menerimanya, mereka merasa bahwa ajaran-ajaran Muhammad ibn Abdul-Wahhaab telah menjadi sangat jelas bagi semua dan bermacam terma “Wahhabi” adalah mirip dengan terma lain untuk mengikuti jalan generasi-generasi awal Islam yang shaleh. Karenanya, mereka melihat tidak ada masalah dalam penggunaan terma itu. Maka, Abdul-Azeez ibn Muhammad ibn Ibraheem, seorang anak keturunan ibn Abdul-Wahhaab, menulis akhir-akhir ini (barangkali terlalu optimis),

Terma Wahhabisme di zaman kita tidak menciptakan masalah bagi kita. Di zaman kecepatan ini, hasil-hasil penemuan memeprsempit jarak…[orang-orang] sekarang tahu untuk dirinya sendiri apa yang biasa mereka ketahui melalui alat-alat yang merubah kenyataan … Kebenaran sekarang terang dan terbukti bagi orang-orang yang melihat kenyataan. Orang-orang sekarang tahu bahwa Wahhabisme hanya berarti orang-orang yang menjalankan Sunnah, orang-orang Sunni, berpegang teguh pada doktrin para pendahulu yang shaleh dan mempertahankannya untuk melawan segala macam serangan.[6]

Bahkan, Aali-Bootaami mengatakan (juga barangkali terlalu optimistik) bahwa rencana jahat musuh-musuh ibn Abdul-Wahhaab pada hal ini benar-benar menyerang balik. Apa yang sebenarnya dimaksudkan untuk meremehkan sekarang menjadi papan penunjuk untuk mengikuti jalan Nabi (SAW) yang sebenarnya. Sekali orang mendengar kata “Wahhabi” sekarang, dia tahu bahwa kata ini mengacu kepada seseorang yang menyeru untuk mengikuti Quran dan Sunnah, mengikuti dalil, amar ma’ruf nahyi munkar, mengeliminir bidah-bidah dan takhyul dan ketaatan pada jalan yang telah ditempuh salafu shalih. Kenyataannya, para “Wahhabi” ini terus tumbuh menyebarkan kebenaran sementara Negara-negara Ottoman dan Sharif telah kehilangan eksistensinya.[7]

Mereka yang tidak keberatan dengan terma ini termasuk ibn Sahmaan, Muhammad Haamid al-Faqi, Muhammad Rasheed Ridha dan al-Nadwi. Sementara mereka yang terus keberatan pada terma ini termasuk Saalih al-Fauzaan[8]dan ibn Jibreen.[9]

Akan tetapi, dalam situasi mutakhir, sekali lagi, terma ini digunakan untuk menggiring orang agar menjauh dari Islam yang sejati, dalam cara yang sama dalam penggunaan terma “fundamentalist” yang digunakan untuk mengecilkan mereka yang mempraktikkan Islam yang sebenarnya. Khususnya sekarang dan zaman ini, banyak orang yang mulutnya kurang besar atau sebaliknya menganggap tidak bijaksana dan tidak hati-hati jika keluar dan menyerang Islam secara terbuka. Karenanya, mereka mencoba perkakas lain yang dapat digunakan untuk menyerang Islam – sementara pada saat yang sama menampakkan diri sebagai orang yang simpatik kepada ummat Muslim dan beberapa bentuk Islam. Harus ada layar yang berasap. Upaya itu adalah dengan mencoba melawan setiap penerapan Islam yang akan memiliki makna dan signifikansi yang nyata dalam kehidupan ummat Muslim. Barat takut pada tantangan yang diberikan oleh Islam dan satu-satunya cara mereka dapat menundukkan Islam – cara yang telah mereka ikuti selama berabad-abad – adalah dengan mencoba menjelek-jelekkannya dengan cara terburuk yang mungkin dilakukan.

Saat ini, perkakas yang dapat digunakan untuk melukiskan ummat Muslim yang benar-benar mengikuti Quran dan Sunnah tiada lain daripada fundamentalist, extremist, terbelakang dan terroris. Kenyataannya, salah satu metode yang digunakan oleh orang-orang yang “anti-Wahhaabi” adalah bahwa mereka menjejaki aspek-aspek yang mereka anggap tanpa diduga kembali kepada para “Wahhaabi” sementara tidak pernah menyebutkan bahwa hal-hal itu secara eksplisit disebutkan dalam Quran dan Sunnah. Karenanya, masalah mereka sebenarnya bukanlah dengan para “Wahhaabi” namun sebenarnya dengan makna Quran dan Sunnah yang jelas dan tegas.

Poin penting terakhir adalah bahwa “para pengikut” bisa jadi tidak selalu merefleksikan pendirian guru atau ajaran-ajaran aselinya. Ini benar bagi setiap pemimpin. Setiap ajaran, seruan atau gerakan bisa memiliki para pengikut yang menempel pada dirinya yang tidak benar-benar memahami pesannya, yang bodoh dalam dirinya atau yang tidak benar-benar tulus dalam kecintaannya pada seruan itu. Bahkan, dengan rasa hormat pada semua ajaran, orang harus membedakan para pengikut yang berpengetahuan yang benar-benar menjaga pesan dengan kata-kata dan tindakan dengan para pengikut yang tak terdidik. Karenanya, tindakan-tindakan yang diambil guru dan ajaran-ajaran aseli tidak bisa disalahkan. Sebagaimana dicatat al-Uthaimeen, masalah ini dimulai pada masa cukup awal dawah ibn Abdul-Wahhaab.[10] Selama hidup Muhammad ibn Abdul-Wahhaab, beberapa pengikutnya keberatan pada anak-anak keturunan Nabi (SAW), yang memakai pakaian yang berbeda untuk menandai diri mereka sendiri dari yang lain. Namun demikian, Muhammad ibn Abdul-Wahhaab sendiri tidak keberatan terhadap hal itu dan beliau telah mengoreksi “para pengikutnya.” Kedua, lebih penting, contoh yang diberikan oleh al-Uthaimeen mengenai tahun 1217 H. (setelah wafatnya ibn Abdul-Wahhaab), ketika para pengikut ibn Abdul-Wahhaab menaklukkan Taif. “Para pengikut” dengan penuh semangat menghancurkan buku-buku keagamaan di kota itu. Adalah putera Muhammad ibn Abdul-Wahhaab, yang telah mengecam tindakan itu dan mencoba mengoreksi cara-cara mereka.[11]

Di masa kontemporer, dua hal terjadi: setiap orang yang diberi label “Wahhabi” atau “Wahhabis” disalahkan atas segala hal. Banyak orang yang menyebut dirinya “Wahhabis” melakukan hal-hal yang tidak sesuai dengan prinsip-prinsip Muhammad ibn Abdul-Wahhaab atau, jika tidak bisa diperoleh secara langsung, cara para salaf darimana ibn Abdul-Wahhaab memperoleh ajaran-ajarannya. Maka, sekali lagi, barangkali inilah waktunya untuk bersiap-siap untuk tidak menggunakan terma “Wahhabi” dan “Wahhabisme” dan, malahan, mendorong semua untuk menjejak klaim-klaim mereka kembali kepada Quran dan Sunnah.

[1] Kenyataan, Membicarakan referensi pada abad 20, Muhammad Haamid al-Fiqi menyatakan bahwa orang-orang Najd tak pernah menyebut terma “Wahhabi.” Dia mengatakan bahwa mereka semua, termasuk para pemimpin keagamaan mereka, kebanyakannya adalah anak keturunan Muhammad ibn Abdul-Wahhaab, yang menyebut diri mereka dengan orang Najdi, untuk menghormati asal-usul mereka, dan Hanbali, untuk menghormati agama dan keyakinan mereka. Al-Fiqi dikutip dalam Dhaahir, hal. 29.

[2] Bandingkan, al-Uthaimeen, al-Shaikh, hal. 102. Al-Uthaimeen lebih jauh mencatat bahwa Winder, dalam bukunya Saudi Arabia in the Nineteenth Century, mengatakan bahwa ketika para pengikut ibn Abdul-Wahhaab menggunakan terma, “dawah Muhammad,” mereka mengacu kepada Muhammad ibn Abdul-Wahhaab. Al-Uthaimeen mengatakan bahwa yang seperti itu adalah tidak benar. Terma “dawah Muhammad” dalam tulisan-tulisan para pengikut Muhammad ibn Abdul-Wahhaab sebenarnya mengacu kepada Nabi Muhammad (SAW).

[3] Sejumlah penulis menekankan poin yang salah untuk menyebut mereka Wahhabi karena nama itu didapat dari nama ayah ibn Abdul-Wahhaab dan bukan namanya. Al-Uthaimeen (al-Shaikh, hal. 101) mengetengahkan kontroversi ini dan menyatakan bahwa sebenarnya tak ada perbedaan dari terma Hanbali, yang berhubungan pada kakeknya Ahmad. Tak diharapkan mereka disebut “Muhammadans” sebagai cara membedakan mereka dari sebagian ummat Muslim lainnya. Namun demikian, pada saat yang sama, terdapat banyak, termasuk Neibhur, yang salah berpikir bahwa nama itu berasal dari guru asal dawah itu, yaitu ayah Muhammad.

[4] Al-Uthaimeen, al-Shaikh, hal. 101. Lihat juga al-Nadwi, hal. 203.

[5] Missionaris Zweimer mencatat bahwa ibn al-Qayyim memiliki pandangan-pandangan yang mirip dengan pandangan-pandangan ibn Abdul-Wahhaab dan menyimpulkan meskipun ibn al-Qayyim menyadari dirinya sebagai seorang Hanbali, dia sebenarnya seorang Wahhabi. Kenyataannya adalah ibn al-Qayyim hidup berabad-abad sebelum ibn Abdul-Wahhaab nampaknya hilang pada Zweimer. Lihat al-Nadwi, hal. 201. Sebenarnya, telah menjadi sangat digemari bahwa siapa saja yang mengikuti Quran dan Sunnah da menentang syirk disebut seorang “Wahhabi.” Al-Saabiq, pada awal abad ini, menulis bahwa dia menemukan banyak orang yang menyebut bahwa Imam Ahmad, ibn Taimiyyah yang yang lain-lainnya yang seperti mereka sebagai “Wahhabi.” Dia menyatakan jika saja Shahabat Abu Bakr Nampak di antara orang-orang ini, mereka juga akan menyebutnya seorang “Wahhabi” juga. Lihat Fauzaan al-Saabiq, Al-Bayaan wa al-Ishhaar li-Kashf Zaig al-Mulhid al-Haaj al-Mukhtaar (N.c. N.p. 2001), hal. 60.

[6] Dikutip dalam al-Huqail, hal. 98.

[7] Ali-Bootaami, hal. 65-66.

[8] al-Fauzaan, “Taqeebaat ala ma Dhakarahu al-Ustaadh Abdul-Kareem al-Khateeb” hal. 68-69.

[9] Untuk pandangan ibn Jibreen, lihat al-Abdul-Lateef, hal. 76.

[10] Orang mestilah tidak pernah lupa kenyataan bahwa banyak yang akhirnya jatuh di bawah payung kepemimpinan Muhammad ibn Abdul-Wahhaab adalah orang-orang Badui yang bodoh yang pengetahuannya kurang tentang Islam. Meskipun ibn Abdul-Wahhaab secara konstan mengrimkan guru-guru kepada daerah-daerah yang berbeda-beda, namun tidak cukup untuk menghilangkan tahun-tahun kebodohan dan mindset yang mendatangkan keinginan untuk belajar. Dengan jelas, tindakan-tindakan orang-orang seperti ini tidak bisa merefleksikan ajaran-ajaran sang pemimpin.

[11] Al-Uthaimeen, al-Shaikh, hal. 103.

Seluruhnya dikutip dari buku The Life, Teachings and Influence of Muhammad ibn Abdul-Wahhaab Karya Jamaal Zarabozo

Iklan