Tag Archives: Maria al-Qibtiyya (رضي الله ﻋﻧﻬﺎ)

Maria al-Qibtiyya (رضي الله ﻋﻧﻬﺎ)

Egypt_2Maria al-Qibtiyya (رضي الله ﻋﻧﻬﺎ) dikatakan telah menikah dengan Nabi (ﷺ) dan semua orang memberinya gelar yang sama yang diberikan untuk menghormati istri-istri Nabi, sebagai ‘Umm al-Muminin,’ ‘Ibunda Orang-orang Beriman’. Maria dilahirkan di dataran tinggi Mesir dari pasangan ayah Koptik dan ibu Yunani. Dia pindah ke istana Muqawqis saat dia masih sangat muda. Dia sendiri tiba di Madinah untuk bergabung dengan rumahtangga Nabi saat Nabi baru kembali melakukan perundingan dengan orang-orang Quraisy dimana perundingan itu dilakukan di al-Hudaibiyya. Maria memberi Nabi seorang putera yang sehat pada tahun 9 H, tahun yang sama ketika saudarinya Zainab wafat. Nabi memberi nama anak itu Ibrahim, nenek moyang orang-orang Yahudi dan Kristen, seorang nabi yang darinya nabi-nabi berikutnya berasal. Sayangnya, saat Ibrahim berusia delapan belas bulan, dia sakit keras dan akhirnya meninggal. Meski benar Nabi tahu bahwa puteranya yang masih kecil itu akan pergi ke surga, Nabi Muhammad (ﷺ) tak dapat menahan airmatanya jatuh. Saat beberapa sahabatnya bertanya mengapa beliau menangis, Nabi menjawab, “Ini sisi kemanusiaanku.”

Saat mayat Ibrahim dikebumikan, matahari sedang dalam keadaan gerhana sehingga langit menjadi gelap dan suram. Beberapa orang berpikir bahwasannya hal tersebut berhubungan dengan kematian Ibrahim, namun Nabi (ﷺ) segera membersihkannya. “Matahari dan bulan adalah dua tanda-tanda Allah,” katanya, “mereka tidak gerhana karena kelahiran atau kematian seseorang. Saat kalian menyaksikan tanda-tanda (gerhana) ini, segeralah mengingat Allah dengan melakukan shalat.”[i]

Sungguhpun orang-orang kafir biasa mengejek Nabi Muhammad karena dia tidak punya anak laki-laki dan mengatakan bahwa beliau telah ‘terputus’, Allah telah memperjelasnya dalam surah berikut (Quran S. Al-Kautsar 108:1-3), bahwa keadaan Nabi Muhammad berada di atas laki-laki lain:

بِسْمِ اللَّهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيمِ

Dengan menyebut nama Allah Yang Maha Pemurah lagi Maha Penyayang

إِنَّا أَعْطَيْنَاكَ الْكَوْثَرَ

Sesungguhnya Kami telah memberikan kepadamu nikmat yang banyak.

فَصَلِّ لِرَبِّكَ وَانْحَرْ

Maka dirikanlah shalat karena Tuhanmu; dan berkorbanlah.

إِنَّ شَانِئَكَ هُوَ الأبْتَرُ

Sesungguhnya orang-orang yang membenci kamu dialah yang terputus[ii].

Dan ayat berikut,

 مَا كَانَ مُحَمَّدٌ أَبَا أَحَدٍ مِنْ رِجَالِكُمْ وَلَكِنْ رَسُولَ اللَّهِ وَخَاتَمَ النَّبِيِّينَ وَكَانَ اللَّهُ بِكُلِّ شَيْءٍ عَلِيمًا

Muhammad itu sekali-kali bukanlah bapak dari seorang laki-laki di antara kamu, tetapi dia adalah Rasulullah dan penutup nabi-nabi. Dan adalah Allah Maha Mengetahui segala sesuatu. (Quran S. Al-Ahzab 33:40)

Maria dimuliakan dan dihormati Nabi dan keluarganya juga sahabat-sahabatnya. Dia sendiri menghabiskan tiga tahun hidupnya bersama Nabi sampai wafatnya Nabi. Maria meninggal lima tahun berikutnya setelah wafatnya Nabi pada tahun 16 H, semoga Allah meridlainya. Pada lima tahun akhir hidupnya, dia bagai seorang pertapa dan hampir tidak pernah keluar rumah kecuali untuk jiarah ke kuburan Nabi dan juga puteranya. Pada saat ia meninggal, ‘Umar ibn al-Khatab-lah yang menjadi imam shalat janazahnya dan dia dikuburkan di pekuburan al-Baqi.

[i] Abu Bakrah berkata, “Kami berada di sisi Rasulullah lalu terjadi gerhana matahari. Maka, Nabi berdiri dengan mengenakan selendang beliau (dalam satu riwayat: pakaian beliau sambil tergesa-gesa 7/34) hingga beliau masuk ke dalam masjid, (dan orang-orang pun bersegera ke sana 2/31), lalu kami masuk. Kemudian beliau shalat dua rakaat bersama kami hingga matahari menjadi jelas. Beliau menghadap kami, lalu bersabda, ‘Sesungguhnya matahari dan bulan adalah dua dari tanda-tanda kekuasaan Allah, dan sesungguhnya keduanya (2/31) bukan gerhana karena meninggalnya seseorang. Akan tetapi, Allah ta’ala menakut-nakuti hamba-hamba-Nya dengannya. Oleh karena itu, apabila kamu melihatnya, maka shalatlah dan berdoalah sehingga terbuka apa (gerhana) yang terjadi padamu.'” (Hal itu karena putra Nabi (ﷺ) yang bernama Ibrahim meninggal dunia, kemudian terjadi gerhana. Lalu, orang-orang berkomentar bahwa gerhana itu terjadi karena kematian Ibrahim itu. Hal ini lantas disanggah Rasulullah dengan sabda beliau itu.) (Ringkasan Shahih Bukhari – M. Nashiruddin Al-Albani – Gema Insani Press)

Hadits riwayat Aisyah (رضي الله ﻋﻧﻬﺎ), ia berkata:
Pada masa Rasulullah (ﷺ) pernah terjadi gerhana matahari. Saat itu Rasulullah (ﷺ) melakukan salat gerhana, beliau berdiri sangat lama dan rukuk juga sangat lama, lalu mengangkat kepala dan berdiri lama, tapi tidak seperti lamanya berdiri pertama. Kemudian beliau rukuk lama, tapi tidak seperti lamanya rukuk pertama. Selanjutnya beliau sujud. Kemudian berdiri lama, namun tidak seperti lamanya berdiri pertama, rukuk cukup lama, namun tidak selama rukuk pertama, mengangkat kepala, lalu berdiri lama, tapi tidak seperti lamanya berdiri pertama, rukuk cukup lama, tapi tidak seperti lamanya rukuk pertama, lalu sujud dan selesai. Ketika salat usai matahari sudah nampak sempurna kembali. Beliau berkhutbah di hadapan kaum muslimin, memuji Allah dan menyanjung-Nya, dan bersabda: Sesungguhnya matahari dan rembulan itu termasuk tanda-tanda kebesaran Allah. Keduanya terjadi gerhana bukan karena kematian atau kelahiran seseorang. Oleh sebab itu, jika kalian melihat keduanya gerhana, maka bertakbirlah, berdoalah kepada Allah, kerjakanlah salat dan bersedekahlah! Hai umat Muhammad, tidak seorang pun lebih cemburu daripada Allah, bila hambanya, lelaki maupun perempuan, berbuat zina. Hai umat Muhammad, demi Allah, seandainya kalian tahu apa yang kuketahui, tentu kalian banyak menangis dan sedikit tertawa. Ingatlah! Bukankah aku telah menyampaikan. (Shahih Muslim No.1499)

[ii] Dalam suatu riwayat dikemukakan bahwa ketika Ka’bubnul Asyraf (tokoh Yahudi) datang ke Makkah, kaum Quraisy berkata kepadanya: “Tuan adalah pemimpin orang Madinah, bagaimana pendapat tuan tentang si pura-pura shabar yang diasingkan oleh kaumnya, yang mengangggap dirinya lebih mulia daripada kita padahal kita menyambut oramg-orang yang melaksanakan haji, pemberi minumnya serta penjaga Ka’bah?” Ka’ab berkata: “Kalian lebih mulia daripadanya.” Maka turunlah ayat ini (S. 108:3) yang membantah ucapan mereka.
(Diriwayatkan oleh al-Bazazar dan yang lainnya dengan sanad shahih yang bersumber dari Ibnu Abbas.)
Dalam riwayat lain dikemukakan bahwa ketika Nabi (ﷺ) diberi wahyu, kaum Quraisy berkata: “Terputus hubungan Muhammad dengan kita.” Maka turunlah ayat ini (S.108:3) sebagai bantahan atas ucapan mereka.
(Diriwayatkan oleh Ibnu Abi Syaibah di dalam kitab al-Mushannif dan Ibnul Mundzir yang bersumber dari ‘Ikrimah)
Dalam riwayat lain dikemukakan bahwa kaum Quraisy menganggap kematian anak laki-laki berarti putus turunan. Ketika putra Rasulullah (ﷺ) meninggal, al-‘Ashi bin Wa’il berkata bahwa Muhammaad terputus turunannya. Maka ayat ini (S.108:3) sebagai bantahan terhadap ucapannya itu.
(Diriwayatkan oleh Ibnu Abi Hatim yang bersumber dari as-Suddi.)
Diriwayatkan oleh al-Baihaqi di dalam kitab ad-Dalail yang bersumber dari Muhammad bin ‘Ali, dan disebutkan bahwa yang meninggal itu ialah al-Qasim.
Dalam riwayat lain dikemukakan bahwa ayat ini (S.108:3) turun berkenaan dengan al-‘Ashi bin Wa’il yang berkata: “Aku membenci Muhammad.” Ayat ini (S.108:3) turun sebagai penegasan bahwa orang yang membenci Rasulullah akan terputus segala kebaikannya.
(Diriwayatkan oleh al-Baihaqi yang bersumber dari Mujahid.)
Dalam riwayat lain dikemukakan bahwa ketika wafat Ibrahim putra Rasulullah (ﷺ) orang-orang musyrik berkata satu sama lain: “Orang murtad itu (Muhammad) telah terputus keturunannya tadi malam.” Allah menurunkan ayat ini (S.108:1-3) yang membantah ucapan mereka.
(Diriwayatkan oleh at-Thabarani dengan sanad yang dha’if yang bersumber dari Abi Ayyub.)
Dalam riwayat lain dikemukakan bahwa ayat ini (S.108:2) turun ketika Jibril datang kepada Rasulullah pada peristiwa Hudhaibiyyah memerintahkan qurban dan shalat. Rasulullah segera berdiri khutbah fithri mungkin juga Adl-ha (Rawi meragukan, apakah peristiwa di dalam Hadits itu terjadi pada bulan Ramadhan ataukah Dzulqaidah) kemudian shalat dua raka’at dan menuju ke tempat qurban lalu memotong qurban.
(Diriwayatkan oleh Ibnu jarir yang bersumber dari Sa’ad bin Jubair.)
Keterangan:
Menurut as-Suyuthi riwayat ini sangat gharib. Matan hadits ini meragukan karena shalat Ied didahului khutbah.
Dalam riwayat lain dikemukakan bahwa ‘Uqbah bin Abi Mu’aith berkata: “Tidak seorang anak laki-laki pun yang hidup bagi Nabi (ﷺ) sehingga keturunannya terputus.” Ayat ini (S.108:3) turun sebagai bantahan terhadap ucapan itu.
(Diriwayatkan oleh Ibnu jarir yang bersumber dari Syamar bin ‘Athiyah.)
Dalam riwayat lain dikemukakan bahwa ketika Ibrahim putra Rasulullah (ﷺ) wafat, kaum Quraisy berkata: “Sekarang Muhammad menjadi Abtar (putus turunannya).” Hal ini meyebabkan Nabi (ﷺ) bersedih hati, maka turunlah ayat ini (S.108:1-3) sebagai penghibur baginya.
(Diriwayatkan oleh Ibnul Mundzir yang bersumber dari Ibnu Juraij.) (http://www.alquran-digital.com)