PRIA PUNYA SELERA

PRIA PUNYA SELERA

Oleh: Abahna Jafits

Lima jam sebelum memulai catatan ini saya bertemu seorang teman SMA. Seorang teman yang ketika SMA adalah seseorang yang pintar bergaul, berpenampilan dan berkepribadian baik, laki-laki sejati dan disukai banyak perempuan. Tak ada yang aneh ketika itu. Bahkan banyak laki-laki merasa iri padanya karena dia banyak memiliki teman perempuan.

Tapi mulai lima jam yang lalu, ketika saya berbincang-bincang beberapa saat dengannya, keadaan sudah sangat berubah. Keadaan yang sungguh di luar dugaan saya, dan mungkin juga beberapa teman saya yang lain. Teman yang satu ini hampir seratus delapan puluh derajat berbeda dengan penampilannya yang dulu saya kenal. Dia tidak menampakkan kelelakiannya, bukan lagi pria punya selera. Dari gerak-geriknya, lenggak-lenggok dan lirikannya, pria yang dulu punya selera ini telah hampir menyerupai seorang perempuan.

Beberapa lama saya termenung, bagaimana waktu yang hampir dua puluh tahun telah merubahnya. Saya mengurut dada untuk mengasihaninya sambil bersyukur bahwa Allah SWT masih memberikan sifat dan sikap normal kepada saya sebagai seorang laki-laki.

Dari perbincangan yang tak lama itu, saya mendapat gambaran bagaimana dia terpengaruh dan terjerumus pada kehidupan dan komunitas yang abnormal yang sekarang dia jalani. Bagaimana dia memberontak pada keadaan, pada kehidupan keluarganya yang broken home, tidak diperhatikan dan dipisahkan dari kasih sayang seorang ibu.

“Bagaimana lagi?” sergahnya, untuk menjustifikasi apa yang telah dilakukannya. “Saya hanya mengikuti keadaan, mengiyakan keinginan zaman. Saya mendapat hidup dari apa yang saya lakukan. Apa kamu bisa?” tanyanya seperti mengetahui bahwa saya sangat memprihatinkan keadaannya.

Saya tak menjawab karena saya memang tak memiliki jawaban yang dimintanya. Meskipun saya yakin apa yang dilakukannya adalah salah. Seberat apapun cobaan yang didera, apakah ada alasan seseorang menggadaikan keyakinan?

Maka setelah dia lepas dari pandangan saya dan menjauh, sesegera itu saya kasak-kusuk mencari refferensi bagaimana seseorang bisa terpengaruh dan terjerumus pada keadaan seperti itu dan bagaimana Islam memandang keadaan itu. Dari salah satu situs dalam internet saya menemukan jawaban seperti saya copy paste berikut ini.

Al-Khuntsa

Dalam Islam, ada istilah “al-khuntsa” dan “al-mukhannats.”

Al-khuntsa, secara umum para ulama mendefinisikannya sebagai orang yang mempunyai dua alat kelamin, laki-laki dan perempuan. Atau, bahkan tidak mempunyai alat kelamin, baik kelamin laki-laki maupun perempuan. Artinya, dia bukan laki-laki juga bukan perempuan.

Tetapi, Imam Al-Kasani berpendapat bahwa seorang manusia tidak bisa menjadi laki-laki dan perempuan secara bersamaan. Dia mesti laki-laki, atau mesti perempuan. [Bada`i’ Ash-Shana`i’/Al-Kasani]

Al-khuntsa ada dua macam, yaitu: al-khuntsa “ghairul musykil” (tidak sulit) dan al-khuntsa “al-musykil” (sulit).

Pertama; al-Khuntsa ghairul musykil, yaitu orang/khuntsa yang jelas tanda-tanda kelelakiannya atau tanda-tanda keperempuanannya. Tanda-tanda ini bisa dilihat secara fisik, mana yang lebih dominan. Untuk yang belum baligh, biasanya dilihat dari saluran mana dia kencing. Jika air kencing keluar dari kemaluan laki-laki, maka dia dihukumi sebagai laki-laki. Dan jika keluar dari kelamin perempuan, maka dihukumi sebagai perempuan.

Sedangkan setelah baligh, jika dia mimpi junub, (maaf) penisnya lebih menonjol dari sebelumnya, suaranya lantang, menyukai tantangan, keluar jenggot atau kumis, dan sebagainya; maka dia dihukumi sebagai laki-laki.

Adapun jika dia mengalami menstruasi, payudaranya membesar, suaranya lembut, menyukai permainan atau aktifitas yang cenderung disukai wanita, suka berdandan, dan sebagainya; maka dia dihukumi sebagai perempuan.

Dalam Al-Mausu’ah Al-Fiqhiyyah Al-Kuwaitiyyah [XX/22] disebutkan, “Siapa yang tampak jelas pada dirinya tanda-tanda maskulin atau feminin, maka diketahui bahwa dia adalah laki-laki atau perempuan. Yang seperti ini, bukan khuntsa yang musykil (sulit). Karena sesungguhnya dia adalah lelaki yang memiliki anggota tubuh (kelamin) tambahan, atau perempuan yang memiliki anggota tubuh (kelamin) tambahan. Hukum khuntsa jenis ini dalam masalah waris dan dalam semua masalahnya adalah sesuai dengan hukum yang tampak pada tanda-tanda yang ada padanya.”

Kedua; al-khuntsa al-musykil, yaitu orang/khuntsa yang mempunyai tanda-tanda maskulinitas dan feminitas dalam dirinya, misalnya; dia buang air kecil dari saluran kencing perempuan dan laki-laki secara bersamaan, atau tumbuh jenggot dan payudara dalam satu waktu; sehingga tidak diketahui apakah dia laki-laki atau perempuan. Dan, sejatinya yang dimaksud dengan kata al-khuntsa dalam kitab-kitab fiqih adalah khuntsa ini, yakni khuntsa musykil.

Namun demikian, jika seorang khuntsa musykil mengaku sebagai laki-laki, maka dia dihukumi sebagai laki-laki. Dan jika dia mengaku sebagai perempuan, maka dia dihukumi sebagai seorang perempuan.

Ibnu Qudamah berkata, “Apabila seorang khuntsa musykil mengatakan; ‘saya laki-laki’, maka dia tidak boleh dihalangi jika hendak menikahi perempuan. Dan, dia tidak boleh menikahi selain perempuan (maksudnya, menikahi laki-laki) setelah itu. Begitu pula jika seorang khuntsa musykil mengatakan; ‘saya perempuan’, maka dia tidak boleh menikah kecuali dengan laki-laki.” [Al-Mughni fi Fiqhi Al-Imam Ahmad ibn Hanbal Asy-Syaibani]

Al-Mukhannats (dan Al-Mutarajjil)

Al-mukhannats berbeda dengan al-khuntsa. Al-Mukhannats (yang kewanita-wanitaan) yaitu orang yang secara fisik adalah lelaki tulen, dan memiliki satu alat kelamin, yakni kelamin laki-laki. Tetapi, dia berperilaku layaknya perempuan atau menyerupai perempuan dalam tingkah lakunya, gerak-geriknya, suaranya, dan gaya bicaranya. Adapun untuk perempuan yang menyerupai laki-laki, disebut sebagai al-mutarajjil (yang kelelaki-lakian). Dalam istilah kita, al-mukhannats sering disebut sebagai banci atau bencong atau waria. Sedangkan al-mutarajjil, biasa disebut sebagai tomboy, atau mungkin lebih tepatnya tomboy yang ekstrim, alias betul-betul seperti laki-laki dalam hampir segala hal.

Abu Hurairah Radhiyallahu ‘Anhu berkata,

“Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam melaknat mukhannats kaum laki-laki yang menyerupai perempuan, dan mutarajjil dari kaum perempuan yang menyerupai laki-laki.” [HR. Ahmad]

Dan, dalam hadits Ibnu Abbas Radhiyallahu ‘Anhuma disebutkan,

“Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam melaknat mukhannats dari kaum laki-laki dan mutarajjil dari kaum perempuan. Beliau bersabda; Keluarkanlah mereka dari rumah kalian’.” [HR. Al-Bukhari dan Ibnu Majah]

Menurut para ulama –sebagaimana dikatakan Imam An-Nawawi–, al-mukhannats ada dua macam. Yang pertama; Adalah orang yang memang pada dasarnya tercipta seperti itu. Dia tidak mengada-ada atau berlagak dengan bertingkah laku meniru perempuan; dalam gayanya, cara bicaranya, atau gerak-geriknya. Semuanya alami. Allah memang menciptakannya dalam bentuk seperti itu. Yang demikian, dia tidak tercela, tidak boleh disalahkan, tidak berdosa, dan tidak dihukum. Mukhannats jenis ini dimaafkan, karena dia tidak membuat-buat menjadi seperti itu. Karena itulah, Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam tidak mengingkari seorang mukhannats jenis ini berkumpul bersama para perempuan. Beliau juga tidak mengingkari tingkah lakunya yang seperti perempuan, karena dia aslinya memang seperti itu. Tetapi kemudian beliau mengingkari mukhannats ini, setelah dia menceritakan apa-apa yang dilihatnya dari kaum perempuan. Namun, beliau tidak mengingkari keberadaannya sebagai seorang mukhannats.

Yang kedua; Yaitu mukhannats yang pada dasarnya tidak tercipta sebagai seorang mukhannats. Tetapi, dia membuat-buat dan bertingkah laku layaknya perempuan dalam gerakannya, dandanannya, cara bicara, dan gaya berpakaian. Inilah mukhannats yang tercela, di mana terdapat hadits-hadits shahih yang melaknatnya. Adapun mukhannats yang pertama, maka ia tidak dilaknat. [Syarh Shahih Muslim]

Al-Hafizh Ibnu Hajar menggarisbawahi, “Namun hendaknya ia (si mukhannats) berusaha keras untuk menghilangkan sifat kewanita-wanitaannya itu.” [Fath Al-Bari]

Al-Khuntsa dalam Sejarah Islam

Al-Khuntsa tidak tercela, dan orang yang mengalaminya tidak boleh dilecehkan. Sebab, ia adalah ciptaan Allah. Ia tercipta dengan keadaan yang demikian atas kehendak Allah. Bukan karena keinginannya sendiri.

Imam Ibnu Abi Syaibah meriwayatkan, bahwasanya Umar bin Al-Khathab Radhiyallahu ‘Anhu pernah didatangi beberapa orang utusan Muawiyah bin Abi Sufyan yang menanyakan masalah warisan seorang khuntsa. Umar berkata, “Dia (khuntsa itu) mewarisi dari jalan mana dia kencing.” [Al-Mushannaf, VII/374]

Pada masa Ali bin Abi Thalib Radhiyallahu ‘Anhu, ada seorang laki-laki menikahi perempuan yang ternyata adalah seorang khuntsa. Si istri memiliki dua kemaluan, kemaluan perempuan dan kemaluan laki-laki. Sang suami memberi mahar kepada istrinya berupa seorang budak perempuan. Layaknya sebuah keluarga, si istri lalu hamil dan melahirkan anak. Akan tetapi, tak lama berselang, si budak perempuan yang menjadi mahar itu juga hamil dan melahirkan anak.

Madinah gempar. Peristiwa ini pun diajukan kepada Amirul Mukminin Ali bin Abi Thalib. Ali bertanya tentang keadaan si istri yang ternyata seorang khuntsa tersebut. Ali mendapat keterangan bahwa si istri haid, menyetubuhi, disetubuhi, mengeluarkan sperma dari dua kemaluannya, dan dia juga bisa hamil maupun menghamili. Masyarakat bingung dengan kondisi si khuntsa.

Ali pun mengirim dua orang utusan untuk menemui si khuntsa dan memerintahkan agar memeriksa tulang rusuknya dari kedua sisi. Jika tulang tersebut sama, berarti dia perempuan. Dan kalau sisi kiri lebih pendek, berarti dia laki-laki. Ternyata didapati bahwa tulang rusuk sebelah kiri si khuntsa lebih pendek, beda satu tulang. Maka, Ali memutuskan bahwa si khuntsa adalah laki-laki. Lalu, Ali memisahkan si istri itu dari suaminya.

Dalilnya adalah, saat Adam masih tercipta seorang diri, Allah ingin memberikan pasangan untuk Adam dari jenisnya, agar mereka bisa saling memberikan ketenangan dan cinta kasih. Oleh karena itu, ketika Adam tidur, Allah ‘Azza wa Jalla menciptakan Hawa dari tulang rusuk kirinya. Itulah makanya, tulang rusuk kiri laki-laki kurang satu, sedangkan tulang rusuk perempuan sempurna. Pada perempuan terdapat 24 buah tulang. Sementara pada laki-laki terdapat 23 tulang, dua belas di sebelah kanan dan sebelas di sebelah kiri. Dan, perempuan itu tercipta dari tulang yang bengkok. [Nur Al-Abshar fi manaqib Aali Bayti An-Nabiy Al-Mukhtar/Mukmin Hasan Asy-Syabalankhi]

Al-Mukhannats Pada Masa Nabi Saw

Al-Mukhannats yang tercela dan dilaknat adalah yang dibuat-buat. Adapun seorang mukhannats yang memang sudah aslinya tercipta demikian dan dia tidak mengada-ada dalam ke-mukhannatsan-nya, maka tidak mengapa. Mukhannats yang disebutkan terakhir tidak boleh dicela. Namun hendaknya sebisa mungkin dia menghilangkan sifat kewanita-wanitaannya, sebagaimana kata Ibnu Hajar.

Imam Al-Baihaqi meriwayatkan dari Ayyasy bin Abi Rabi’ah Radhiyallahu ‘Anhu, bahwasanya pada masa Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam ada tiga orang mukhannats, yaitu; Mati’, Hidm, dan, Hit. Mati’ adalah budak Fakhitah binti Amr, bibi Rasul. Dulu, mati’ sering masuk ke rumah Nabi dan bertemu dengan istri-istri beliau, sebelum akhirnya dilarang. [As-Sunan Al-Kubra/16760]

Disebutkan dalam hadits, bahwa ada seorang mukhannats yang mengecat kuku-kuku kedua tangan dan kakinya dengan daun pacar didatangkan kepada Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam. Beliau bertanya, “Ada apa dengan orang ini?” Salah seorang sahabat berkata, “Wahai Rasulullah, dia ini menyerupai perempuan.” Maka, Nabi pun memerintahkan agar orang tersebut diasingkan ke Naqi’ (satu tempat dekat Baqi’). Para sahabat berkata, “Wahai Rasulullah, apakah kita boleh membunuhnya?” Kata Nabi, “Sesungguhnya aku dilarang membunuh orang yang shalat.” [HR. Abu Dawud dan Al-Baihaqi dari Abu Hurairah]

Homoseksual (al-liwath) dan Lesbian (as-sihaq)

Banyak orang salah paham, dikiranya seorang laki-laki yang homo dan perempuan yang lesbi, termasuk dalam kategori khuntsa atau mukhannats yang mendapatkan pengakuan dan ada hukumnya dalam Islam. Ini adalah anggapan keliru. Sebab, jika seorang laki-laki yang secara fisik adalah lelaki tulen; berkelamin laki-laki (bukan ganda), suara laki-laki, badan laki-laki, tumbuh jenggot dan kumis, serta menyukai kegemaran yang biasa disukai laki-laki; tetapi dia mencintai sesama laki-laki; maka inilah yang pernah terjadi pada kaum Luth ‘Alaihissalam. Apabila mereka melampiaskannya dengan berhubungan badan sesama jenis, maka ini adalah perbuatan terlaknat dan orangnya pun terlaknat. Begitu pula dengan perempuan yang demikian. Hukumnya sama. Adapun jika itu masih berupa perasaan dan belum dilakukan, di mana seorang lelaki mempunyai kecenderungan seksual mencintai sesama lelaki (demikian halnya perempuan), maka belum ada dosa yang dia lakukan, selain penyakit hati. Mudah-mudahan Allah memaafkan dan segera membimbingnya kepada kebenaran, serta mengaruniakan cinta yang fitrah kepada lawan jenis. (Hidayatullah.com)

Dalam hormonology dan pshycologie psikoanalisa Freudian berpendapat bahwa tiap orang secara inhaerent adalah biseksual; tiap jenis kelamin tertarik oleh jenis kelamin yang sama dan jenis kelamin yang lain (Sumadi Suryabrata, PSIKOLOGI KEPRIBADIAN, UGM, Rajawali Pers, 1986). Artinya, setiap siapa saja punya kecenderungan menjadi homoseks tergantung bagaimana dia menyikapi dan bagaimana lingkungan sekitarnya memberikan kontribusi pada perkembangan kepribadiannya. Banyak teori yang menjelaskan sebabsebab homoseksualitas diantaranya adalah

  1. Faktor herediter berupa tidak seimbangnya hormon-hormon seks.
  2. Pengaruh lingkungan yang tidak baik atau tidak menguntungkan bagi perkembangan kematangan seksual yang normal.
  3. Seseorang yang mencari kepuasan relasi homoseks, karena pengalaman homoseksual pada masa remaja.
  4. Pengalaman traumatis dengan ibunya sehingga timbul kebencian atau antipati terhadap ibunya dan semua wanita.

Dalam sebuah skripsi yang meneliti perkembangan komunitas kaum gay di Indonesia, disebutkan salah satu contoh bagaimana proses seseorang memiliki orientasi seks menyimpang adalah oleh karena pengaruh lingkungan dan keluarga yang sekan mendukung orientasi seks yang salah itu.

Seorang laki-laki sebut saja Si A sejak kanak-kanak lebih suka bermain dengan saudara-saudara perempuannya. Si A juga suka bermain boneka dan membantu ibunya memasak. Si A juga memiliki hobi menyanyi dan menari. Kedua hoby itu (menari dan meyanyi) dipadukan dan tidak menimbulkan tanda tanya orang tuanya karena menari adalah tuntutan dari hobi menyanyi dan begitu pun sebaliknya. Kedua orangtuanya juga tidak mempermasalahkan kesenangan Si A berkutat di dapur, karena dengan begitu, pekerjaaan ibu di dapur menjadi lebih ringan. Sementara kesenangan Si A bermain boneka dengan kakak dan adik perempuannya pun dirasa meringankan tugas ibu untuk mengawasi anak-anaknya.

Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman,

“Dan (ingatlah kisah) Luth, ketika dia berkata kepada kaumnya; ‘Kenapa kalian melakukan perbuatan keji itu sedang kalian bisa berpikir? Mengapa kalian berhubungan dengan sesama lelaki untuk melampiaskan syahwat dan menelantarkan perempuan? Sebenarnya kalian adalah kaum yang bodoh’.” (An-Naml: 55)

Tahun 2003, seorang tokoh Gay Indonesia mengklaim bahwa jumlah kaum gay, lesbi dan waria di Indonesia sekitar 2% dari 180 juta penduduk (Suara Merdeka, Senin, 16 Juni 2003). Jumlah yang fantastis sekaligus memprihatinkan. Sampai saat ini kaum minoritas ini terus kasak-kusuk supaya keberadaan mereka dapat diakui di dalam undang-undang perkawinan Negara.

Kaum homoseksual seringkali berkilah bahwa keberadaan mereka disebabkan factor genital atau karena Tuhan telah menjadikan mereka sebagaimana adanya. Padahal jelas berbeda antara khuntsa dan mukhannats dengan praktik kaum Luth yang mereka pertontonkan. Orang yang homo atau lesbi, sama sekali bukan khuntsa ataupun mukhannats. Secara fisik mereka lelaki tulen dan perempuan tulen, tidak ada yang diragukan. Kecenderungan seksual mereka yang menyukai sesama jenis, tak lain adalah hawa nafsu semata.

“Dan tatkala datang utusan-utusan Kami (para malaikat) itu kepada Luth, dia merasa susah dan merasa sempit dadanya karena kedatangan mereka, dan dia berkata: “Ini adalah hari yang amat sulit.” Dan datanglah kepadanya kaumnya dengan bergegas-gegas. Dan sejak dahulu mereka selalu melakukan perbuatan-perbuatan yang keji. Luth berkata: “Hai kaumku, inilah puteri-puteriku, mereka lebih suci bagimu, maka bertakwalah kepada Allah dan janganlah kamu mencemarkan (nama)ku terhadap tamuku ini. Tidak adakah di antaramu seorang yang berakal?” Mereka menjawab: “Sesungguhnya kamu telah tahu bahwa kami tidak mempunyai keinginan terhadap puteri-puterimu; dan sesungguhnya kamu tentu mengetahui apa yang sebenarnya kami kehendaki.” Luth berkata: “Seandainya aku ada mempunyai kekuatan (untuk menolakmu) atau kalau aku dapat berlindung kepada keluarga yang kuat (tentu aku lakukan).”Para utusan (malaikat) berkata: “Hai Luth, sesungguhnya kami adalah utusan-utusan Tuhanmu, sekali-kali mereka tidak akan dapat mengganggu kamu, sebab itu pergilah dengan membawa keluarga dan pengikut-pengikut kamu di akhir malam dan janganlah ada seorangpun di antara kamu yang tertinggal, kecuali isterimu. Sesungguhnya dia akan ditimpa azab yang menimpa mereka karena sesungguhnya saat jatuhnya azab kepada mereka ialah di waktu subuh; bukankah subuh itu sudah dekat?”. Maka tatkala datang azab Kami, Kami jadikan negeri kaum Luth itu yang di atas ke bawah (Kami balikkan), dan Kami hujani mereka dengan batu dari tanah yang terbakar dengan bertubi-tubi,” (QS. Huud, 77-82).

Wallahu a’lam bi ashshawwab

SIB, 25 Juli 2011

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s