Burma Kembali Siksa Warga Muslim Rohingya

RAKHINE – Sebuah kelompok Hak Azasi manusia memperingatkan semakin banyaknya warga Muslim Rohingya yang menghadapi penyiksaan dan penganiayaan yang didukung Negara karena dituduh bergabung dengan sebuah organisasi militant samar-samar.

Slideshow ini membutuhkan JavaScript.

Penahanan-penahan itu dilakukan secara “serampangan” dan “jelas-jelas merupakan sebuah reaksi atas pengumuman al-Qaeda pada awal bulan Sepetember yang lalu,” kata Chris Lewa,pendiri Arakan Project kepada Anadolu Agency (AA) sebagaimana diberitakan Onislam.com.

Berita mengkhawatirkan itu pertama kali diungkapkan oleh Arakan Project, sebuah kelompok yang berbasis di Thailand yang mendokumentasikan penyalahgunaan-penyalahgunaan terhadap orang Rohingya, tentang seorang Muslim Rohingya yang disiksa sampai mati di Burma baral laut jauh, dekat dengan perbatasan Bangladesh.

Lebih jauh, kelompok hak azasi ini menuduh pemerintah menahan setidaknya 58 orang laki-laki di dua minggu terakhir dari beberapa kampung di bagian utara Rakhine.

Istri dari laki-laki yang meninggal itu mengatakan kepada kelompok itu bahwa dia dipaksa untuk menandatangi sebuah pernyataan bahwa suaminya meninggal secara alamiah.

Pemerintah sendiri mengklaim bahwa pria-pria Muslim yang ditahan akhir-akhir ini dituduh memiliki hubungan dengan sebuah kelompok yang disebut Rohingya Solidarity Organization, atau RSO.

RSO ini diyakini telah terbentuk dari tahun 1990an setelah angkatan bersenjata Myanmar memaksa ratusan dari ribuan orang-orang Rohingya yang dituduh tinggal di Negara itu secara iledal dan dipaksa mengungsi ke Bangladesh.

Meskipun sedikit sekali informasi yang diketahui mengenai gerakan-gerakan organisasi ini hari ini, serangan-serangan sporadic di perbatasan antara Burma dan Bangladesh seringkali disalahkan kepada RSO.

Awal tahun ini, Khin Maung Myint, kepala HuMas untuk National Democratic Party for Development yang pro-Rohingya, mengklaim bahwa “RSO sudah tidak ada sejak 20 tahun yang lalu.”

Lebih jauh, dia menuduh bahwa pemerintah menggunakan RSO sebagai tabir asap atas operasi penyiksaan Muslim yang dilakukannya.

Digambarkan oleh PBB sebagai minoritas yang paling mendapat penganiayaan, Muslim Rohingya menghadapi sebuah catalog diskriminasi di tanah kelahirannya sendiri.

Mereka telah ditolak hak kewarganegaraannya sejak sebuah amandemen hokum-hukum kewarganegaraan pada tahun 1982 dan diperlakukan sebagai imigran gelap di rumahnya sendiri.

Pemerintah Burma, juga mayoritas orang-orang beragama Buddha menolak mengakui terma “Rohingya”, yang menurut mereka adalah “orang-orang Bengal”.

Kelompok-kelompok Hak Azasi Manusia telah menuduh bahwa pihak keamanan Burma telah melakukan pembunuhan, pemerkosaan dan penahanan orang-orang Rohingya mengikuti kekerasan sectarian tahun lalu.

Lebih dari dua tahun yang lalu, massa beragama Buddha telah menyebabkan ratusan Muslim Rohingya terbunuh dan 140000 lainnya dievakuasi keluar dari rumah-rumah mereka.

Menurut Persatuan Bangsa-Bangsa, kekerasan ini telah mengakibatkan hamper 29000 orang tidak memiliki tempat tinggal, 97 persennya adalah Muslim Rohingya.

Kebanyakan dari antara mereka sekarang tinggal di perkemahan, menambah jumlah 75000 warga Rohingya lainnya yang telah tak memiliki tempat tinggal pada bulan Juni 2012, setelah setelah kekerasan sectarian yang meletus sebelumnya.

SHAFIYAH binti Huyay

Shafiyah binti Huyay (رضي الله ﻋﻧﻬﺎ) menikah dengan Nabi Muhammad (ﷺ) pada tahun 7 H saat Nabi berusia enampuluh tahun dan dia sendiri berusia tujuhbelas tahun. Seperti yang terjadi pada kasus Juwayriyya binti al-Harits, pernikahan ini terjadi setelah salah satu peperangan Muslim yang menentukan, dalam hal ini, perang Khaybar.

Setelah perang Khaybar dimana kaum Muslim dapat mengalahkan orang-orang Yahudi, dua orang wanita dibawa ke hadapan Nabi Muhammad (ﷺ) oleh Bilal, Muadzdzin kulit hitam Madinah yang suara indahnya menembus langsung memanggil ummat muslim untuk melaksanakan shalat sampai wafatnya Nabi – setelah wafatnya Nabi, Billal tak bisa melantunkan adzdzan sampai Yerusalem menyatakan menyerah kepada khalifah ‘Umar pada tahun 17 H.

Dua orang perempuan itu adalah mereka yang telah ditinggal mati dalam peperangan. Salah satu perempuan itu memekik-mekik dan menjerit-jerit, dan menggosokkan rambutnya dengan pasir, sementara yang satunya lagi diam saja karena terkejut.

Wanita yang diam itu adalah Shafiyah, puteri Huyay ibn Akhtab, kepala dari Banu Nadir yang telah dikeluarkan dari Madinah pada tahun 4 H setelah merencanakan pembunuhan terhadap Rasulullah dengan cara menjatuhkan batu ke atas kepala Nabi ketika beliau sedang berbicara dengan ketua mereka. Sementara wanita yang ribut adalah sepupu Shafiyah. Shafiyah sendiri dapat ditelusuri leluhurnya langsung sampai ke Harun, saudara laki-laki Nabi Musa AS.

Nabi Muhammad (ﷺ) meminta seseorang untuk menjaga wanita yang menjerit-jerit itu lalu membuka jubahnya dan melingkarkannya pada bahu Shafiyah, yang suaminya terbunuh dalam peperangan itu. Itu adalah satu isyarat kasih sayang, dan sejak saat itu Shafiyah jadi dihormati dan diberi kehormatan dalam masyarakat Muslim. Lalu Nabi (ﷺ) berbalik kepada Bilal dan berkata,

“Billal, sudahkah Allah mencabut kasih sayang dari hatimu sehingga engkau biarkan dua wanita yang ditinggal mati suami mereka ini?”

Ini dirasakan sebagai sebuah teguran keras, dimana Nabi (ﷺ) jarang sekali mengkritik kebiasaan mereka yang melayaninya. Anas ibn Malik, contohnya pernah berkata, “Aku melayani Rasulullah (ﷺ) selama delapan tahun. Dia tak pernah sekalipun mengomeliku untuk sesuatu yang aku lakukan ataupun sesuatu yang tidak aku lakukkan.”

Seperti Ummu Habibah, Shafiyah adalah puteri dari seorang ketua yang hebat. Satu-satunya orang yang dapat menyelamatkannya dari dijadikan seorang budak padahal sebelumnya dia terbiasa menikmati bermacam kenikmatan, adalah Nabi.

Meskipun ayahnya pernah berencana membunuh Muhammad (ﷺ) pada saat setelah perang Uhud, dan bersekongkol dengan Banu Qurayza untuk membasmi semua kaum Muslim selama peperangan al-Khandaq, sudah merupakan karakteristik Nabi Muhammad (ﷺ) bahwa dia tidak pernah menyimpan dendam. Kepada mereka yang telah melakukan kesalahan, dia selalu berlaku kasih sayang alih-alih marah, dan bagi mereka yang tidak melakukan kesalahan, dia akan lebih memberikan kasih sayangnya.

Nabi Muhammad (ﷺ) mengundang Shafiyah untuk masuk Islam, yang mana dilakukan Shafiyah, dan setelah membebaskannya, kemudian Nabi menikahinya.

jewBeberapa orang mungkin bertanya bagaimana bisa Shafiyah menerima Islam dan menikahi Nabi sementara ayahnya sendiri adalah musuh yang sengit, dan peperangan-peperangan yang berdarah-darah telah terjadi antara orang-orang Yahudi dan orang-orang Muslim. Jawabannya bisa ditemukan pada apa yang telah diceritakannya tentang kehidupannya yang sebelumnya sebagai puteri kepala Banu Nadir.

Dia (رضي الله ﻋﻧﻬﺎ) berkata: “Aku adalah kesayangan ayahku dan juga kesayangan pamanku yang bernama Yasir. Mereka tak dapat melihatku bersama salah satu anak-anak mereka tanpa memangkuku. Ketika Rasulullah (ﷺ) datang ke Madinah, ayahku dan pamanku datang menemuinya. Saat itu pada awal pagi kira-kira antara shubuh dan matahari terbit. Mereka tidak kembali sampai matahari tergelincir. Mereka kembali dalam keadaan letih dan tertekan, berjalan dengan lambat, langkah-langkah mereka terasa berat. Aku tersenyum kepada mereka seperti biasanya aku lakukan tapi mereka tidak memperhatikanku karena mereka dalam keadaan sedih. Aku mendengar Abu Yasir bertanya pada ayahku, ‘Inikah dia?’ ‘Ya,memang.’ ‘Bisakah kau mengenalinya? Bisakah kau meyakinkannya?’ ‘Ya, aku dapat mengenalinya dengan sangat baik.’ ‘Bagaimana perasaanmu padanya?’ ‘Permusuhan, permusuhan selama aku hidup.’[i]

Signifikansi percakapan ini adalah bukti ketika kita melihat kembali ke dalam Taurat umat Yahudi, disana tertulis bahwa seorang Nabi akan datang yang akan memimpin para pengikutnya pada sebuah kemenangan. Bahkan sebelum Nabi Muhammad (ﷺ) datang ke kota Madinah, orang-orang Yahudi biasa memperlakukan para pemuja berhala di Yatsrib, sebagaimana kemudian disebut, bahwa saat datang Nabi berikutnya mereka akan dimusnahkan, seperti orang-orang Yahudi memusnahkan suku-suku lain yang menolak menyembah Tuhan di masa lalu. Sebagaimana dalam kasus, Nabi Isa AS yang secara tegas digambarkan dalam Taurat – namun ditolak oleh banyak orang-orang Yahudi saat dia benar-benar datang – Nabi berikutnya sekaligus yang terakhir secara akurat digambarkan di dalam Taurat, yang juga mengandungi tanda-tanda yang dapat dilihat dengan mudah oleh orang-orang Yahudi, Maka itu Ka’b al-Ahbar, salah seorang Yahudi pada saat itu yang telah masuk Islam, mengatakan bahwa Nabi ini digambarkan di dalam Taurat sepert ini:

‘Budakku, Ahmad, yang Terpilih, lahir di Mekkah, yang akan hijrah ke Madinah (atau dia sebut Tayyiba – nama lain yang diberikan adalah Yatsrib); ummatnya adalah mereka yang akan memuji Allah di dalam setiap kebesaran.’

‘Amr ibn al-‘As mengatakan bahwa dalam Taurat juga disebutkan:

‘Ya Nabi, Aku mengirimmu sebagai seorang saksi, pembawa kabar gembira dan seorang pemberi peringatan dan seorang pelindung orang yang buta huruf. Kamu adalah budak-Ku dan utusan-Ku. Aku telah memanggilmu satu-satunya dari orang yang percaya, seseorang yang tidak berkata kasar dan tidak pula berkata cabul, dan juga bukan orang yang berteriak di pasar-pasar atau yang membalas kejahatan dengan kejahatan, namun dia yang mengampuni dan memaafkan. Allah tak akan mengambilnya kembali pada diri-Nya sampai masyarakat yang bengkok telah dikuatkan olehnya dan mereka berkata, “Tidak ada Tuhan kecuali Allah.” Dengannya, mata-mata yang buta, telinga-telinga yang tuli, dan hati-hati yang tertutup akan terbuka.’

Untunglah ada deskripsi ini di dalam Taurat, sehingga rabbi Yahudi yang paling terpelajar yang bernama ‘Abdullah ibn Salam masuk Islam ketika melihat Muhammad (ﷺ) dan karena deskripsi ini pulalah Huyay ibn Akhtab juga dapat mengenali Nabi. Namum Huyay, seperti orang Yahudi kebanyakan, merasa sungguh kecewa bahwa Nabi terakhir (ﷺ) adalah anak keturunan dari Ismail dan bukan dari anak keturunan Ishaq (dua putera Nabi Ibrahim AS), Orang-orang Yahudi sampai saat itu mengklaim diri secara eksklusif sebagai anak keturunan Ishaq melalui jalur keturunan dua belas putera Ya’qub (yang juga dikenal sebagai Israel) yang darinya dua belas suku Israel berasal.

Huyay bukan saja marah karena Nabi terakhir muncul dari kalangan orang Arab, tapi dia juga tidak mau kehilangan posisinya atas kekuatan dan kepemimpiannya dalam kaumnya.

Oleh karena alasan inilah Huyay secara rahasia memutuskan untuk berseberangan dan melawan Nabi Muhammad (ﷺ) sementara di hadapan orang banyak dia dan pemimpin-pemimpin Yahudi lainnya bersikap damai dengan orang-orang Muslim dan Yahudi akan menghancurkannya sesegera mungkin ketika ada kesempatan untuk melakukannya.

Namun demikian, meskipun Shafiyah adalah puteri Huyay, tapi dia memiliki hati yang tulus dan benar-benar ingin menyembah Tuhan dan Penciptanya, Tuhan yang telah mengirimkan Musa, yang kepadanya dia punya hubungan, dan Isa, dan akhirnya Muhammad, semoga Allah ridla kepada mereka semua. Maka ketika kesempatan itu muncul, bukan hanya mengikutinya, tapi bahkan dia menikahi Nabi terakhir itu.

Meski Shafiyah mendapati dalam diri Muhammad (ﷺ) sebagai orang yang paling baik dan penuh perhatian, namun Shafiyah tidak selalu dapat diterima dengan cara yang menyenangkan oleh beberapa istri nabi yang lainnya, terutama ketika Shafiyah pertama kali bergabung ke dalam rumahtangga Nabi. Diriwayatkan oleh Anas bahwa dalam satu kesempatan, Nabi (ﷺ) mendapati Shafiyah sedang menangis. Saat Nabi bertanya padanya apa yang terjadi, Shafiyah menjawab bahwa dia mendengar Hafshah dengan cara meremehkan menggambarkannya sebagai ‘puteri seorang Yahudi’.

Nabi (ﷺ) menjawab dengan mengatakan, “Engkau sudah dapat dipastikan adalah puteri dari seorang Nabi (Harun), dan sudah dapat dipastikan pamanmu juga seorang Nabi (Musa), dan engkau sudah dapat dipastikan adalah seorang istri dari seorang Nabi (Muhammad), jadi dari semua itu apa yang dapat merendahkanmu?” Lalu Nabi berkata kepada Hafshah, “Ya Hafshah, takutlah kepada Allah!”

Suatu kali Nabi ditemani dalam perjalanannya oleh Shafiyah dan Zainab binti Jahsy. Pada saat itu unta Shafiyah berjalan dengan pincang sementara Zainab memiliki unta tambahan dan Nabi memintanya untuk memberikan unta tambahan itu kepada Shafiyah. Zainab menjawab dengan pedas, “Mestikah aku memberi pada seorang Yahudi!” Mendengar itu Nabi lalu menjauh dari Zainab dengan perasaan marah dan tidak berbuat apapun dengannya selama dua atau tiga bulan untuk memperlihatkan celaannya atas apa yang dikatakan Zainab.

Sekitar tiga bulan berikutnya, saat Nabi Muhammad (ﷺ) dalam sakitnya yang terakhir, Shafiyah merasa iba begitu dalam dan tulus hati, “Ya Rasulullah,” katanya, “Aku harap akulah yang menderita daripada engkau.” Beberapa istri Nabi lainnya saling mengedipkan mata dimana Nabi berada di antara mereka dan melihatnya, maka Nabi berseru, “Demi Allah, dia berbicara benar!”

Shafiyah masih menjalani masa sulit setelah meninggalnya Nabi (ﷺ). Suatu kali seorang budak wanita miliknya datang kepada Amir al Muminin dan berkata, “Amir al Muminin! Shafiyah menyukai Sabbath dan berhubungan dengan orang Yahudi!” ’Umar lalu menanyai Shafiyah perihal itu maka Shafiyah menjawab, “Aku tidak mencintai Sabbath dari semenjak Allah menggantikannya dengan hari Jum’at untukku dan aku berhubungan dengan Yahudi yang memiliki hubungan keluarga denganku.” Lalu Shafiyah bertanya pada budak wanitanya apa yang membuatnya berbohong kepada ‘Umar dan gadis itu menjawab, “Shaytan!” Shafiyah berkata, “Pergilah, kamu bebas.”

Shafiyah bersama Nabi (ﷺ) sekitar empat tahun, dia hanya berusia duapuluhsatu tahun ketika Nabi (ﷺ) meninggal dan hidup sebagai janda untuk tigapuluhsembilan tahun berikutnya. Dia sendiri meninggal pada tahun 50 H dalam usia enampuluh tahun, semoga Allah meridlainya.

[i] Lihat, (Muhammad Fathi Mus’ad, The Wives of Prophet Muhammad Their Strives and Their Lives. Islamic INC. Publishing and Distribution 8 As-Sayeda Zainab Sq.Cairo. Egypt Translated to English, Edited, and Prepared by: Al-Falah Foundation 24 Tairan st. Nasr city, Cairo, Egypt Tel & Fax: 2622838. PDF. Tanpa tahun. Hal. 162)

Dan Apabila Bulan Hilang Cahayanya

Allah Berfirman dalam Qur’an surat Al-Qiyaamah, 75;8,

وَخَسَفَ الْقَمَرُ

“Dan apabila bulan telah hilang cahayanya.”

Gerhana bulan atau pun matahari adalah fenomena yang menunjukkan tanda kekuasaan Allah Ta’ala, sebagaimana Allah telah berfirman dalam Al-Quran, surat Ali Imran ayat 189 s/d 191,

وَلِلَّهِ مُلْكُ السَّمَاوَاتِ وَالأرْضِ وَاللَّهُ عَلَى كُلِّ شَيْءٍ قَدِيرٌ
إِنَّ فِي خَلْقِ السَّمَاوَاتِ وَالأرْضِ وَاخْتِلافِ اللَّيْلِ وَالنَّهَارِ لآيَاتٍ لأولِي الألْبَابِ
الَّذِينَ يَذْكُرُونَ اللَّهَ قِيَامًا وَقُعُودًا وَعَلَى جُنُوبِهِمْ وَيَتَفَكَّرُونَ فِي خَلْقِ السَّمَاوَاتِ وَالأرْضِ رَبَّنَا مَا خَلَقْتَ هَذَا بَاطِلا سُبْحَانَكَ فَقِنَا عَذَابَ النَّارِ

“Kepunyaan Allah-lah kerajaan langit dan bumi, dan Allah Maha Kuasa atas segala sesuatu. Sesungguhnya dalam penciptaan langit dan bumi, dan silih bergantinya malam dan siang terdapat tanda-tanda bagi orang-orang yang berakal, (yaitu) orang-orang yang mengingat Allah sambil berdiri atau duduk atau dalam keadaan berbaring dan mereka memikirkan tentang penciptaan langit dan bumi (seraya berkata): “Ya Tuhan kami, tiadalah Engkau menciptakan ini dengan sia-sia. Maha Suci Engkau, maka peliharalah kami dari siksa neraka.”

Perkataan atau kalimat Kusuf (كسوف) dalam bahasa Arab merujuk kepada Gerhana Matahari, sedangkan kalimat Khusuf ( خسوف ), merujuk kepada gerhana Bulan. Dalam kitab Sahih Muslim, Jilid 4, halaman 2553 menyatakan maksud Khusuf ialah hilang warna matahari atau bulan, manakala Kusuf pula bermaksud berubah warnanya. Di dalam kitab al-Manhaji, Jilid 1, halaman 240, karangan Dr. Mustafa al-Khin, Dr. Mustafa al-Bugha dan Al Syarbaji secara ringkas ada menyebutkan Kusuf menurut makna dari bahasa Arab ialah terlindung sinar matahari samada sebahagian atau keseluruhannya, manakala khusuf pula ialah terhalang cahaya bulan samada sebahagian atau keseluruhannya.

Gambar 1. Wajah Bulan yang 'hilang' separo saat mengalami Gerhana Bulan dalam fase parsial (sebagian), diabadikan pada 16 Juni 2011 di Kebumen. Pada Gerhana Bulan 8 Oktober 2014, pemandangan seperti ini pun akan terulang. Sumber: Sudibyo, 2011.Ketika ada gerhana bulan maupun matahari, Islam mensyariatkan agar melaksanakan shalat, sebagaimana Nabi ﷺ pernah mencontohkannya. Abu Bakrah berkata, “Kami berada di sisi Rasulullah lalu terjadi gerhana matahari. Maka, Nabi berdiri dengan mengenakan selendang beliau (dalam satu riwayat: pakaian beliau sambil tergesa-gesa 7/34) hingga beliau masuk ke dalam masjid, (dan orang-orang pun bersegera ke sana 2/31), lalu kami masuk. Kemudian beliau shalat dua rakaat bersama kami hingga matahari menjadi jelas. Beliau menghadap kami, lalu bersabda, ‘Sesungguhnya matahari dan bulan adalah dua dari tanda-tanda kekuasaan Allah, dan sesungguhnya keduanya (2/31) bukan gerhana karena meninggalnya seseorang. Akan tetapi, Allah ta’ala menakut-nakuti hamba-hamba-Nya dengannya. Oleh karena itu, apabila kamu melihatnya, maka shalatlah dan berdoalah sehingga terbuka apa (gerhana) yang terjadi padamu.’” (Hal itu karena putra Nabi (ﷺ) yang bernama Ibrahim meninggal dunia, kemudian terjadi gerhana. Lalu, orang-orang berkomentar bahwa gerhana itu terjadi karena kematian Ibrahim itu. Hal ini lantas disanggah Rasulullah dengan sabda beliau itu.) (Ringkasan Shahih Bukhari – M. Nashiruddin Al-Albani – Gema Insani Press)

Hukum Sholat Gerhana Bulan

Para ulama sepakat bahwa sholat gerhana bulan maupun matahari adalah sunnah muakad (sangat dianjurkan), baik untuk laki-laki maupun perempuan.

Waktu Sholat Gerhana Bulan

Waktu untuk mengerjakan sholat gerhana bulan adalah terbentang sejak mulainya gerhana hingga gerhana berakhir (bulan kembali ke kondisi semula).

Tata Cara Sholat Gerhana Bulan

Sholat gerhana, baik gerhana bulan maupun matahari, lebih utama dikerjakan secara berjamaah, meskipun menunaikannya secara berjamaah bukan termasuk syarat utama syahnya sholat tersebut. Ketika menjelang pelaksanaan sholat gerhana, hendaklah muadzin mengumandangkan dengan lafazh “Assholaatu jaami’ah”.

Hadis riwayat Aisyah ra., ia berkata:
Pada masa Rasulullah saw. pernah terjadi gerhana matahari. Saat itu Rasulullah saw. melakukan salat gerhana, beliau berdiri sangat lama dan rukuk juga sangat lama, lalu mengangkat kepala dan berdiri lama, tapi tidak seperti lamanya berdiri pertama. Kemudian beliau rukuk lama, tapi tidak seperti lamanya rukuk pertama. Selanjutnya beliau sujud. Kemudian berdiri lama, namun tidak seperti lamanya berdiri pertama, rukuk cukup lama, namun tidak selama rukuk pertama, mengangkat kepala, lalu berdiri lama, tapi tidak seperti lamanya berdiri pertama, rukuk cukup lama, tapi tidak seperti lamanya rukuk pertama, lalu sujud dan selesai. Ketika salat usai matahari sudah nampak sempurna kembali. Beliau berkhutbah di hadapan kaum muslimin, memuji Allah dan menyanjung-Nya, dan bersabda: Sesungguhnya matahari dan rembulan itu termasuk tanda-tanda kebesaran Allah. Keduanya terjadi gerhana bukan karena kematian atau kelahiran seseorang. Oleh sebab itu, jika kalian melihat keduanya gerhana, maka bertakbirlah, berdoalah kepada Allah, kerjakanlah salat dan bersedekahlah! Hai umat Muhammad, tidak seorang pun lebih cemburu daripada Allah, bila hambanya, lelaki maupun perempuan, berbuat zina. Hai umat Muhammad, demi Allah, seandainya kalian tahu apa yang kuketahui, tentu kalian banyak menangis dan sedikit tertawa. Ingatlah! Bukankah aku telah menyampaikan. (Shahih Muslim No.1499)

Jumhur ulama mengatakan bahwa sholat gerhana bulan dilakukan sebanyak dua rakaat. Setiap rakaat harus dilakukan dua kali ruku’.

Pada saat Nabi hidup, terjadi gerhana matahari. Rasulullah keluar ke masjid, berdiri dan membaca takbir. Orang-orang pun berdatangan dan berbaris di belakang beliau. Beliau membaca surat yang panjang. Selanjutnya beliau bertakbir dan ruku’. Beliau memanjangkan waktu ruku’ hampir menyerupai waktu berdiri. Selanjutnya beliau mengangkat kepala dan membaca “Sami’allaahu liman hamidah, rabbanaa walakal hamdu”. Lalu berdiri lagi dan membaca surat yang panjang, tapi lebih pendek daripada bacaan surat yang pertama. Kemudian beliau bertakbir dan ruku’. Waktu ruku’ ini lebih pendek daripada ruku’ pertama. Setelah itu beliau sujud. Pada rakaat berikutnya, beliau melakukan perbuatan yang sama hingga sempurnalah empat ruku’ dan empat sujud. Setelah itu matahari muncul seperti biasanya, yaitu sebelum beliau pulang ke rumah. Beliau terus berdiri dan menyampaikan khutbah, memuji Allah dengan puji-pujian yang layak bagi-Nya. Tak lama kemudian, beliau bersabda, “Sesungguhnya matahari dan bulan merupakan dua tanda kekuasaan Allah Azza wa Jalla. Terjadinya gerhana matahari atau bulan itu bukanlah karena kematian seseorang atau kehidupannya. Oleh karena itu, jika kau menyaksikan gerhana bergegaslah untuk mengerjakan shalat.” (HR. Muslim)

Ibnu Abbas juga meriwayatkan hadits sholat gerhana bulan sebagaimana dicantumkan Imam Al Bukhari dan Imam Muslim dalam kitab shahih beliau:

Dari Abdullah bin Abbas, bahwa pada suatu hari terjadi gerhana matahari. Lalu Rasulullah berdiri untuk mengerjakan sholat. Beliau berdiri lama sekali, kira-kira sepanjang bacaan surat Al-Baqarah, kemudian beliau ruku’ juga sangat lama. Lalu berdiri kembali dengan waktu yang sangat lama, tetapi lebih pendek dibandingkan dengan waktu berdiri yang pertama tadi. Kemudian beliau ruku’ lagi yang lamanya lebih pendek daripada ruku’ pertama. Lalu beliau sujud. Selanjutnya beliau berdiri lagi dan waktu berdirinya sangat lama hingga hampir menyamai rakaat pertama. Setelah itu beliau ruku’ dan lamanya hampir sama dengan ruku’ yang pertama. Lalu berdiri lagi, tetapi lebih pendek dibanding dengan berdiri yang pertama. Kemudian ruku’ lagi yang lamanya lebih pendek daripada ruku’ pertama, dan kemudian sujud. Setelah Nabi mengerjakan sholat, matahari telah kembali normal seperti biasa. Beliau bersabda, “Sesungguhnya matahari dan bulan itu adalah dua tanda kekuasaan Allah. Terjadinya gerhana matahari dan bulan itu bukanlah karena kematian atau kehidupan seeorang. Maka jika engkau melihatnya, ingatlah dan berzikirlah kepada Allah (HR. Bukhari dan Muslim)
Ibnu Abdil Barr mengatakan, “dua hadits di atas adalah hadits paling shahih mengenai sholat gerhana.”
Ibnu Qayyim mengatakan, “Hadits yang shahih, sharih, dan dapat dipakai sebagai pegangan dalam masalah sholat gerhana adalah dengan mengulangi ruku’ setiap rakaat, berdasarkan hadits Aisyah, Ibnu Abbas, Jabir, Ubay bin Ka’ab, Abdullah bin Amr bin Ash, dan Abu Musa Al Atsari. Semua meriwayatkan hadits dari Nabi SAW bahwa ruku’nya diulang dua kali dalam tiap raka’at. Para perawi yang meriwayatkan berulangnya ruku’ itu lebih banyak jumlahnya, lebih dapat dipercaya, dan lebih erat hubungannya dengan Rasulullah jika dibandingkan dengan perawi-perawi yang mengatakan tidak perlu melakukan ruku’ secara berulang-ulang. Begitu pula pendapat mazhab Maliki, Syafi’i, dan Ahmad. Tetapi Abu Hanifah berpendapat bahwa sholat gerhana itu adalah dua rakaat dan mengerjakannya seperti sholat Hari Raya atau Sholat Jum’at.

Ringkasan Tata Cara Sholat Gerhana Bulan

Secara ringkas, tata cara sholat gerhana bulan adalah sebagai berikut :

  1. Niat (tanpa perlu melafalkannya dalam kalimat tertentu dalam bahasa Arab atau dalam bahasa apapun, karena Nabi  tidak mencontohkan)
  2. Takbiratul Ikram
  3. Membaca surat Al Fatihah dan surat lainnya, disunnahkan yang panjang dan dibaca jahr (keras) oleh Imam ketika sholat gerhana bulan berjama’ah
  4. Ruku’ (disunnahkan waktu ruku’ lama, seperti waktu berdiri)
  5. Berdiri lagi kemudian membaca Al Fatihah dan surat lainnya (disunnahkan lebih pendek daripada sebelumnya)
  6. Ruku’ lagi (dengan waktu ruku’ disunnahkan lebih pendek dari ruku’ pertama)
  7. I’tidal
  8. Sujud
  9. Duduk diantara dua sujud
  10. Sujud kedua
  11. Berdiri lagi (rakaat kedua), membaca surat Al Fatihah dan lainnya (disunnahkan yang panjang)
  12. Ruku’ (disunnahkan waktu ruku’ lama, seperti waktu berdiri)
  13. Berdiri lagi kemudian membaca Al Fatihah dan surat lainnya (disunnahkan lebih pendek daripada sebelumnya)
  14. Ruku’ lagi (dengan waktu ruku’ disunnahkan lebih pendek dari ruku’ pertama)
  15. I’tidal
  16. Sujud
  17. Duduk diantara dua sujud
  18. Sujud kedua
  19. Duduk Tahiyah akhir
  20. Salam

Keterangan :

Sebelum sholat gerhana, tidak perlu dikumandangkan adzan dan iqamat, tetapi cukup “Assholaatu jaami’ah” sebagaimana hadits yang diriwayatkan Abdullah bin Amru bin Ash ra., ia berkata: Tatkala gerhana matahari terjadi di masa Rasulullah saw. (manusia) diseru dengan seruan: “as-shalaatu jaami`atan” (marilah salat berjamaah). Rasulullah saw. melakukan dua kali rukuk dalam satu rakaat. Kemudian berdiri dan melakukan dua kali rukuk dalam satu rakaat (yang terakhir). Kemudian matahari nampak kembali. (Shahih Muslim No.1515)

Rujuk:

  1. ayoshalat.blogspot.com
  2. albelurani.blogspot.com
  3. hadith.al-islam.com

Menuju Gerhana Bulan Total Rabu 8 Oktober 2014

Sekedar mengingatkan kembali, bahwa besok tanggal 08 Oktober 2014 akan terjadi Gerhana Bulan Total. Dan disarankan bagi setiap ummat Muslim untuk melaksanakan shalat gerhana sebagai bukti ketaatan, ketakutan kita kepada Tuhan Yang Maha Pencipta. Dan shalat ini menjadi pembeda kita dari ummat-ummat yang lain.

GERHANA BULAN 1Abu Bakrah berkata, “Kami berada di sisi Rasulullah lalu terjadi gerhana matahari. Maka, Nabi berdiri dengan mengenakan selendang beliau (dalam satu riwayat: pakaian beliau sambil tergesa-gesa 7/34) hingga beliau masuk ke dalam masjid, (dan orang-orang pun bersegera ke sana 2/31), lalu kami masuk. Kemudian beliau shalat dua rakaat bersama kami hingga matahari menjadi jelas. Beliau menghadap kami, lalu bersabda, ‘Sesungguhnya matahari dan bulan adalah dua dari tanda-tanda kekuasaan Allah, dan sesungguhnya keduanya (2/31) bukan gerhana karena meninggalnya seseorang. Akan tetapi, Allah ta’ala menakut-nakuti hamba-hamba-Nya dengannya. Oleh karena itu, apabila kamu melihatnya, maka shalatlah dan berdoalah sehingga terbuka apa (gerhana) yang terjadi padamu.'” (Hal itu karena putra Nabi (ﷺ) yang bernama Ibrahim meninggal dunia, kemudian terjadi gerhana. Lalu, orang-orang berkomentar bahwa gerhana itu terjadi karena kematian Ibrahim itu. Hal ini lantas disanggah Rasulullah dengan sabda beliau itu.) (Ringkasan Shahih Bukhari – M. Nashiruddin Al-Albani – Gema Insani Press)
Wallahu a’lam.

Ekliptika

Seperti telah diduga Umat Islam di Indonesia pun mengumandangkan takbir merayakan Idul Adha 1435 H pada saat yang berbeda setelah Menteri Agama Lukman Saifuddin menetapkan 1 Zulhijjah 1435 H di Indonesia bertepatan dengan Jumat 26 September 2014. Keputusan ini berdasar pada hasil sidang itsbat penetapan Idul Adha 1435 H di Kementerian Agama RI yang kali ini kembali bersifat tertutup untuk umum. Dengan keputusan tersebut maka Kementerian Agama RI menetapkan Idul Adha 1435 H bertepatan dengan Minggu 5 Oktober 2014. Dalam konteks regional, keputusan Menteri Agama RI senada dengan keputusan sejumlah negara Asia Tenggara seperti Malaysia dan Brunei Darussalam maupun komunitas Umat Islam seperti di Singapura dan Filipina.

Namun sebagian Umat Islam Indonesia merayakannya lebih dulu pada Sabtu 4 Oktober 2014. Dasarnya adalah maklumat Pengurus Pusat Muhammadiyah terkait penetapan Idul Adha 1435 H (2014). Selain itu ada pula yang mengacu keputusan pemerintah kerajaan Saudi Arabia dimana 1 Zulhijjah 1435 H di…

Lihat pos aslinya 2.028 kata lagi

Ummu Habibah Ramlah binti Abu Sufyan (رضي الله ﻋﻧﻬﺎ)

HABASYAH

HABASYAH

Ummu Habibah Ramlah binti Abu Sufyan (رضي الله ﻋﻧﻬﺎ)[ii] sebenarnya telah menikah dengan Nabi (ﷺ) pada tahun 1 H. Namun demikian dia tidak ikut hidup bersama Nabi di Madinah sampai tahun 7 H, ketika Nabi berumur enampuluh tahun dan dia sendiri berusia tigapuluhlima tahun. Ummu Habibah puteri dari Abu Sufyan, seorang pria yang pada sebagian besar hidupnya dihabiskan sebagai musuh yang nyata Nabi (ﷺ) – yang menghabiskan banyak hartanya dalam memerangi ummat Muslim dan memimpin pasukan kafirun untuk melawan kaum Muslim dalam peperangan-peperangan besar di awal tumbuhnya kaum Muslim, termasuk perang Badar, Uhud dan al-Khandaq. Tentu saja tidak sampai peristiwa penaklukan Mekkah, saat Nabi secara bermurah hati memaafkannya, Abu Sufyan masuk Islam dan mulai berperang bersama kaum Muslim alih-alih melawan mereka.

Ummu Habibah dan suaminya yang pertama yang bernama Ubaydullah ibn Jahsy, saudara lelaki Zainab binti Jahsy adalah diantara orang-orang pertama yang masuk Islam di Mekkah, dan mereka adalah diantara kaum Muslim awal yang melakukan hijrah ke Habasyah untuk mencari perlindungan.

Di Habasyah, namun demikian, Ubaydullah meninggalkan Islam dan menjadi seorang Kristen. Ubaydullah juga mencoba membuat Ummu Habibah (رضي الله ﻋﻧﻬﺎ) menjadi seorang Kristen namun istrinya itu tetap bertahan[iii].

Ini membuat Ummu Habibah berada pada posisi yang sulit karena seorang wanita muslim hanya bisa menikah dengan seorang pria muslim. Dia tidak bisa lagi hidup bersama suaminya tapi juga tidak mungkin kembali kepada ayahnya yang masih sibuk memerangi ummat Muslim. Maka dia tetap berada di Habasyah bersama saudara perempuannya, hidup dengan penuh kesederhanaan dalam isolasi, menunggu apa yang ditakdirkan Allah untuknya.

Suatu hari, ketika Ummu Habibah (رضي الله ﻋﻧﻬﺎ) duduk di dalam kamarnya yang sunyi, seorang asing di tanah asing yang jauh dari kampung halamannya, seorang inang mengetuk pintunya dan berkata bahwa dia diutus Najasyi untuk menyampaikan sebuah pesan. Pesan itu adalah bahwa Nabi Muhammad (ﷺ) meminangnya, dan seandainya dia menerima lamaran ini agar menunjuk seseorang untuk menjadi wakilnya. Maka ditunjuknyalah salah seorang muslim yang berada di Habasyah sebagai wakilnya[iv], dan upacara pernikahan itu dapat dilaksanakan di Habasyah meski dia tidak berada di tempat yang sama dengan Nabi.

Secara alamiah Ummu Habibah (رضي الله ﻋﻧﻬﺎ) merasa senang dan menerima langsung lamaran itu. “Allah telah memberimu berita gembira! Allah telah memberimu berita gembira!” dia berteriak, menarik perhiasan kecil miliknya dan memberikannya pada seorang gadis yang sedang tersenyum. Dia minta pada gadis itu untuk mengulang kembali pesan itu sampai dia benar-benar dapat mempercayai apa yang didengarnya.

Segera setelahnya, seluruh muslim yang saat itu sedang mencari perlindungan di Habasyah berkumpul di istana Najasyi untuk menyaksikan upacara pernikahan sederhana antara Nabi dan Ummu Habibah, dan Khalid ibn Said bertindak sebagai walinya. Saat pernikahan itu selesai, Najasyi[v] berbicara kepada yang sedang berkumpul itu:

“Alhamdulillah, subhanallah, dan aku bersaksi bahwasannya tiada Tuhan kecuali Allah dan bahwasannya Muhammad adalah pelayan dan utusan-Nya dan Allah telah memberi kabar gembira kepada Isa putera Maria.”

“Rasulullah (ﷺ) memintaku menandatangani perjanjian pernikahan antara dia dengan Ummu Habibah puteri Abu Sufyan. Aku menyetujui permintaannya dan dengan atas namanya aku memberikan Ummu Habibah mas kawin sebesar empat ratus emas dinar.” Najasyi menyerahkan empat ratus emas dinar itu kepada Khalid ibn Said yang berdiri dan berkata:

‘Segala puji hanya milik Allah. Aku memuji-Nya dan memohon pertolongan dan ampunan-Nya dan kepada-Nya aku bertobat. Aku bersaksi bahwasannya Muhammad adalah pelayan dan utusan-Nya yang telah diutus-Nya dengan membawa agama yang menjadi petunjuk dan kebenaran yang mengungguli semua agama yang ada, meskipun semua yang menolaknya tidak menyukai ini. Aku setuju untuk melakukan apa yang diminta Nabi (ﷺ) dan bertindak sebagai wali atas nama Ummu Habibah puteri Abu Sufyan. Semoga Allah memberkati Rasulullah dan istrinya ini. Selamat kepada Ummu Habibah atas kebaikan yang telah ditakdirkan Allah untuknya ini.”

Khalid mengambil mas kawin itu dan menyerahkannya kepada Ummu Habibah. Jadi meskipun Ummu Habibah tidak bisa pergi ke Arab secara langsung, dia telah diatur oleh Nabi (ﷺ) dari momen itu dan mereka bisa tetap menikah.

Kaum muslim yang menjadi saksi perjanjian pernikahan itu baru saja hendak pergi, ketika Najasyi berkata kepada mereka, “Duduklah, ini adalah kebiasaan para nabi untuk menyajikan makanan pada saat pernikahan.” Dengan senang hati semuanya duduk lagi untuk makan-makan dan merayakan kesempatan yang menggembirakan itu.

Ummu Habibah khususnya, sulit untuk dapat mempercayai nasib baiknya, di kemudian hari dia menggambarkan betapa ingin dia untuk membagi kebahagiaanya itu, dia berkata: “Ketika aku menerima uang itu sebagai mas kawin, aku kirimkan limapuluh mithqal emas kepada inang yang pertama kali mengabarkan padaku berita gembira itu, dan aku berkata padanya, ‘aku memberimu apa yang ingin aku berikan saat kau memberiku berita gembira itu tapi pada saat itu aku tidak punya sepeserpun uang.’

“Tidak lama setelah itu, dia datang kepadaku dan mengembalikan emas itu. Dia juga bahkan membuatkan sebuah kotak yang berisikan kalung yang telah kuberikan kepadanya lalu memberikannya kepadaku, dan berkata, ‘Najasyi telah memerintahkan padaku agar tidak mengambil apapun darimu, dan dia telah memerintahkanku wanita-wanita di lingkungan rumahtangganya untuk menghadiahimu wewangian.”

“Pada hari berikutnya, dia membawakan untukku ambergris, kunyit dan minyak kayu gaharu dan berkata, ‘aku punya pertanyaan yang ingin aku ajukan padamu.’

“’Apakah itu?’ tanyaku.

“’Aku telah menerima Islam,’ jawabnya, ‘dan sekarang aku mengikuti agama Muhammad (ﷺ). Tolong sampaikan salamku padanya, dan berilah dia tahu bahwa aku percaya kepada Allah dan nabi-Nya. Aku mohon jangan engkau lupa.”’

Enam tahun berikutnya, pada tahun 7 H, saat kaum Muslim yang hijrah ke Habasyah itu akhirnya dapat kembali ke Arab, Ummu Habibah datang ke kota Madinah dimana terdapat Nabi Muhammad (ﷺ) yang baru saja kembali dari perang Khaybar dengan membawa kemenangan lalu menyambutnya dengan hangat.

Ummu Habibah meriwayatkan: “Saat aku bertemu Nabi (ﷺ), aku katakan padanya tentang pengaturan yang dibuat untuk pernikahan itu, dan tentang hubunganku dengan gadis inang itu. Aku katakan padanya bahwa gadis itu telah menjadi seorang muslimah dan menyampaikan ucapan salam padanya. Nabi merasa gembira atas berita itu dan berkata, ‘Wa alayha as salam wa rahmatullaahi wa barakaatuh’[vi] – ‘Dan semoga baginya keselamatan, rahmat dan berkah Allah.’”

Kekuatan karakter Ummu Habibah dapat ditakar dengan apa yang terjadi pada saat dekat-dekat dengan penaklukan Mekkah, saat ayahnya, Abu Sufyan, datang ke kota Madinah setelah kaum Quraisy melanggar perjanjian Hudaibiyyah, dengan maksud untuk mencoba melakukan renegosiasi (suatu penyelesaian baru) dengan Nabi dan kaum Muslim. Sebelum melakukan itu pertama-tama Abu Sufyan mendatangi kamar Ummu Habibah dan ketika dia baru saja mau duduk di atas selimut yang biasa digunakan Nabi (ﷺ) untuk tidur, Ummu Habibah yang baru bertemu ayahnya setelah lebih dari enam tahun, meminta ayahnya itu untuk tidak duduk di atas selimut itu dan dengan cepat melipat selimut itu lalu menyimpannya.

“Apakah aku terlalu bagus untuk temat tidurnya atau tempat tidurnya yang terlalu bagus untukku?” Tanya Abu Sufyan.

“Bagaimana bisa seorang musuh Islam dibiarkan duduk di atas tempat tidur Nabi Suci?” jawab Ummu Habibah.

Setelah Abu Sufyan masuk Islam, setelah peristiwa penaklukan Mekkah, dan menjadi musuh dari musuh Islam, saat itulah Ummu Habibah menerima dan mencintainya lagi sebagai seorang ayah. Saat dia menerima berita bahwa ayahnya dan saudara laki-lakinya yang bernama Muawiyah, yang nanti menjadi khalifah ummat Muslim, telah menjadi Muslim setelah penaklukan, dia bersujud kepada Allah penuh dengan rasa syukur.

Ummu Habibah menghabiskan empat tahun hidupnya bersama Nabi Muhammad (ﷺ) dan hidup tigapuluhtiga tahun setelah wafatnya Nabi, meninggal dalam usia tujuhpuluhdua tahun pada tahun 44 H, semoga Allah meridlainya.

radhiAllahuanhaSeperti semua istri-istri Nabi (ﷺ) lainnya, Ummu Habibah juga menghabiskan sebagian besar waktunya untuk mengingat Allah dan beribadah kepada-Nya. Dia telah meriwayatkan bahwa suatu kali Nabi (ﷺ) berkata padanya, “Sebuah rumah akan dibangun di surga bagi siapa saja yang dalam waktu siang dan malamnya shalat sunnat duabelas rakaat,” dan dia menambahkan, “Aku tak pernah berhenti melakukannya sejak aku menerimanya dari Rasulullah (ﷺ).”

[i] http://islamstory.com/en/node/38440

[ii] Habibah adalah anak Ramlah binti Abu Sufyan (رضي الله ﻋﻧﻬﺎ) dari suami pertamanya, ‘Ubayd Allah ibn Jahsy yang dilahirkan di Habasyah.

[iii] Suatu malam Ummu Habibah bermimpi dan melihat dalam mimpinya itu suaminya ‘Ubayd Allah ibn Jahsy dalam sebuah kondisi yang mengerikan dan tersesat di dalam laut gelap yang dalam. Maka dia terbangun ketakutan dan tidak bisa menenangkan pikirannya.

Diriwayatkan Ummu Habibah (رضي الله ﻋﻧﻬﺎ), dia bercerita, “Aku melihat dalam tidurku suamiku sUbayd Allah ibn Jahsy dalam gambaran terburuk dan terjelek. Aku ketakutan. Aku berkata, ‘Demi Allah, dia telah berubah’. Pagi harinya aku mendapati dia berkata padaku bahwa telah berpikir dan memutuskan bahwa agama terbaik untuk dimasuki adalah kristen. Aku berkata padanya, tidak ada yang lebih baik bagimu kecuali Islam, dan aku katakan padanya mengenai apa yang aku lihat dalam mimpiku tapi dia tidak mengindahkannya. Dia lalu menjadi benar-benar ketagihan minum-minum. Suaminya itu lalu memberi Ummu Habibah kebebasan pilihan apakah diceraikan ataukah masuk menjadi penganut Kristen. (Muhammad Fathi Mus’ad, The Wives of Prophet Muhammad Their Strives and Their Lives. Islamic INC. Publishing and Distribution 8 As-Sayeda Zainab Sq.Cairo. Egypt Translated to English, Edited, and Prepared by: Al-Falah Foundation 24 Tairan st. Nasr city, Cairo, Egypt Tel & Fax: 2622838. PDF. Tanpa tahun).

[iv] Dalam buku Detik-Detik Penulisan Wahyu disebutkan bahwa yang menjadi wakil Nabi di Habasyah untuk menikahi Ummu Habibah adalah Khalid ibn Said al-Ash.

[v] Hadits ke-25 Dari Abu Hurairah (رضي الله ﻋﻧﮫ) bahwa Nabi (ﷺ) menyiarkan kematian Najasyi pada hari kematiannya, beliau keluar bersama mereka ke tempat sholat, bershaf bersama mereka, dan sholat empat takbir untuknya. Muttafaq Alaihi. (Kitab Hadits Bulughul Maram Min Adillatil Ahkam, Oleh : Al-Hafidz Ibnu Hajar Al-Ashqolani. (http://www.mutiara-hadits.co.nr/)

Hadits riwayat Abu Hurairah (رضي الله ﻋﻧﮫ):
Bahwa Rasulullah (ﷺ) mengumumkan kemangkatan Raja Najasy kepada kaum muslimin pada hari kematiannya, maka beliau dan kaum muslimin keluar menuju ke tempat salat dan bertakbir empat kali (melaksanakan salat gaib). (Shahih Muslim No.1580)

Hadits riwayat Jabir bin Abdullah (رضي الله ﻋﻧﮫ):
Bahwa Rasulullah (ﷺ) menyalatkan Ash-hamah An-Najasyi, beliau bertakbir empat kali. ((Shahih Muslim No.1582) Sumber: http://hadith.al-islam.com/bayan/Tree.asp?Lang=IND))

[vi] Disebutkan dalam buku Muhammad Fathi Mus’ad, The Wives of Prophet Muhammad Their Strives and Their Lives. Islamic bahwa nama inang itu adalah Abrahah.

SYARIAT SEPUTAR IEDUL ADHA

Oleh: Amin Saefullah Muchtar

Amin Saefullah MuchtarPada 12 bulan hijriah terdapat 4 bulan yang ditetapkan oleh Allah kehormatannya. Allah berfirman:

إِنَّ عِدَّةَ الشُّهُورِ عِنْدَ اللَّهِ اثْنَا عَشَرَ شَهْرًا فِي كِتَابِ اللَّهِ يَوْمَ خَلَقَ السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضَ مِنْهَا أَرْبَعَةٌ حُرُمٌ

Sesungguhnya bilangan bulan pada sisi Allah adalah dua belas bulan, dalam ketetapan Allah di waktu Dia menciptakan langit dan bumi, di antaranya empat bulan haram (terhormat). (QS. At-Taubah:36)

Bulan haram yang dimaksud adalah bulan Dzulqa`dah, Dzulhijjah, Muharram dan Rajab. (H.r. Al-Bukhari). Penghormatan terhadap bulan-bulan ini, khususnya bulan Dzulhijjah, antara lain terkait dengan syariat ibadah haji.

Bagi orang yang tidak melaksanakan haji, ada ibadah lain yang ditetapkan oleh Allah sebagai wujud dari memelihara kehormatan bulan Dzulhijjah, yaitu

Shaum  Arafah

عَنْ أَبِي قَتَادَةَ قَالَ : قَالَ رَسُولُ اللهِ صلى الله عليه وسلم : صَوْمُ يَوْمِ عَرَفَةَ يُكَفِّرُ سَنَتَيْنِ مَاضِيَةً وَمُسْتَقْبِلَةً ، وَصَوْمُ عَاشُوراَءَ يُكَفِّرُ سَنَةً مَاضِيَةً . – رواه الجماعة إلا البخاري والترمذي

Artinya :Dari Abu Qatadah, ia berkata,”Rasulullah saw. telah bersabda,’Shaum Hari Arafah itu akan mengkifarati (menghapus dosa) dua tahun, yaitu setahun yang telah lalu dan setahun kemudian. Sedangkan shaum Asyura akan mengkifarati setahun yang lalu” H.r. Al-Jama’ah kecuali Al-Bukhari dan At-Tirmidzi (Lihat, Ahmad, Musnad Ahmad, XXXVII:222, No. hadis 22.535,  Muslim, Shahih Muslim, I:520, An-Nasai, As-Sunan Al-Kubra, II:150, No. hadis 2796, Ibnu Majah, Sunan Ibnu Majah, II:340, 343, Ath-Thabrani, Al-Mu’jam Al-Awsath, VI:300, No. hadis 5642)

Hadis ini diriwayatkan pula oleh Ath-Thabrani dari Sahabat Zaid bin Arqam, Sahl bin Saad, Qatadah bin Nu’man, Ibnu Umar, dan Abu Sa’id Al-Khudriy. Dalam versi Abu Sa’id Al-Khudriy dengan redaksi

عَنْ أَبِي سَعِيدٍالخُدِرِيِّ قَالَ : قَالَ رسول الله صلى الله عليه وسلم صَوْمُ يَوْمِ عَرَفَةَ كَفَّارَةُ السَّنَةِ المَاضِيَةِ وَالسَّنَةِ المُسْتَقْبِلَةِ . – رواه الطبراني

Artinya : Dari Abu Said, dari Nabi saw. Shaum Arafah itu merupakan kifarat tahun yang telah lalu dan tahun yang akan datang. (H.r. Ath-Thabrani, Al-Mu’jam Al-Awsath, III:45. No. hadis 2086)

Takbiran Iedul Adha

Selain Shaum sunat Arafah, pada bulan Dzulhijjah kaum muslimin juga disyariatkan untuk bertakbir. Bertakbir dilakukan sejak subuh 9 Dzulhijjah hingga ashar 13 dzulhijjah. Membacanya tidak terus menerus, melainkan bila ada kesempatan, baik ketika berkumpul di masjid atau di rumah masing-masing. Hal itu sebagaimana dijelaskan dalam hadis sebagai berikut:

عَنْ عَلِيٍّ وَعَمَّارِ أَنَّ النَّبِيَّ  صلى الله عليه وسلم… وَكَانَ يُكَبِّرُ مِنْ يَوْمِ عَرَفَةَ بَعْدَ صَلاَةَ الْغَدَاةِ وَيَقْطَعُهَا صَلاَةَ الْعَصْرِ آخِرَ أَيَّامِ التَّشْرِيْقِ

Dari Ali dan Ammar sesungguhnya Nabi saw… dan beliau bertakbir sejak hari Arafah setelah salat shubuh dan menghentikannya pada salat Ashar di akhir hari tasyriq (13 Dzulhijjah). (H.r. Al-Hakim, Al-Mustadrak, I:439; Al-Baihaqi, As-Sunan Al-Kubra, III:312)

Bagi Calon Qurbani: Makruh Memotong Rambut dan Kuku 

عَنْ أُمِّ سَلَمَةَ أَنَّ النَّبِيَّ صَلَّى اللَّه عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ إِذَا دَخَلَتِ الْعَشْرُ وَأَرَادَ أَحَدُكُمْ أَنْ يُضَحِّيَ فَلَا يَمَسَّ مِنْ شَعَرِهِ وَبَشَرِهِ شَيْئًا رواه مسلم

Dari Umi Salamah bahwasannya Nabi saw. bersabda, “Apabila masuk sepuluh hari (bulan Dzulhijjah) sedangkan salah seorang di antara kalian hendak berkurban maka janganlah menyentuh (janganlah memotong) rambut dan kukunya sedikitpun. (H.R. Muslim)

Dalam redaksi lain

إِذَا دَخَلَ الْعَشْرُ وَعِنْدَهُ أُضْحِيَّةٌ يُرِيدُ أَنْ يُضَحِّيَ فَلَا يَأْخُذَنَّ شَعْرًا وَلَا يَقْلِمَنَّ ظُفُرًا رواه مسلم

Apabila masuk sepuluh hari (bulan Dzulhijjah) sedangkan ia mempunyai hewan kurban yang hendak dikubankan (disembelih) maka janganlah memotong rambut dan kukunya. (H.r. Muslim)

إِذَا رَأَيْتُمْ هِلَالَ ذِي الْحِجَّةِ وَأَرَادَ أَحَدُكُمْ أَنْ يُضَحِّيَ فَلْيُمْسِكْ عَنْ شَعْرِهِ وَأَظْفَارِهِ رواه مسلم

Apabila kalian melihat Hilal (tanggal 1 ) Dzulhijjah sedangkan salah seorang diantara kalian hendak berkurban maka peganglah (janganlah memotong) rambut dan kukunya. (H.r. Muslim)

Penjelasan lebih lengkap dapat dibaca pada makalah terpisah.

Amaliah Ketika Iedul Adha

Qurban

Qurban merupakan salah satu bagian dari Ibadah nusuk, yakni ibadah dalam bentuk sembelihan. Ibadah nusuk terbagi kepada tiga macam:

Pertama, al-Hadyu, yaitu menyembelih binatang tertentu yang disyariatkan bagi hujjaj (orang yang beribadah haji). Dan hadyu itu adalah rangkaian dari ibadah haji.

Kedua, al-Udhhiyyah atau yang biasa disebut kurban,  yaitu menyembelih binatang tertentu yang disyariatkan bagi orang yang tidak sedang beribadah haji.

Udhhiyyah, Idhhiyyah, Dhahiyyah, Dhihiyyah, Adhhat, Idhhat dan Dhahiyyah maknanya sama, yaitu binatang yang disembelih dengan tujuan taqarrub (mendekatkan diri) kepada Allah pada hari Iedul Adhha sampai akhir hari-hari tasyriq. Kata itu diambil dari kata dhahwah yang berarti waktu dhuha. Disebut demikian, dilihat dari awal waktu pelaksanaan yaitu waktu dhuha (Lihat, Lisanul ’Arab, XIX:211, Mu’jam Al-Wasith, I:537)

Baik al-hadyu maupun al-Udhiyyah terikat oleh miqat zamani (ketentuan waktu), yaitu tanggal 10 hingga 13 Dzulhijjah sebelum maghrib. Namun berbeda dengan udlhiyah yang dapat disembelih dimana saja, al-hadyu terikat pula oleh miqat makani (ketentuan tempat), yaitu wajib disembelih di kota Mekah, dan apabila hadyu tidak dilaksanakan di Mekah maka hajinya tidak sah.

Ketiga, al-Aqiqah,  yaitu menyembelih binatang tertentu pada hari ke-7 dari kelahiran seorang anak.

Karena qurban itu termasuk nusuk, maka terikat dengan berbagai ketentuan yang berhubungan dengan jenis binatang, cara dan waktu penyembelihan, termasuk pendistribusiannya

Hukum Berkurban

Para ulama berbeda pendapat tentang hukum berkurban, ada yang berpendapat wajib dan ada pula yang berpendapat sunnah mu’akkadah. Namun mereka sepakat bahwa amalan mulia ini memang disyariatkan. (Lihat, Hasyiyah Asy-Syarh Al-Mumti’, VII:519). Sehingga tak sepantasnya bagi seorang muslim yang mampu untuk meninggalkannya, karena amalan ini banyak mengandung unsur penghambaan diri kepada Allah, taqarrub, syiar kemuliaan Islam dan manfaat besar lainnya.

Ureman kurban

Untuk tiap orang dianjurkan berqurban satu ekor kambing dan bila yang diqurbankannya itu unta mencukupi dari sepuluh orang. Sedangkan sapi mencukupi dari tujuh orang, sebagaimana diterangkan dalam hadis berikut ini:

عَنِ ابْنِ عَبَّاسٍ قَالَ : كُنَّا مَعَ رَسُولِ اللهِ  صَلَّى اللَّه عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فِى سَفَرٍ فَحَضَرَ الأَضْحَى فَاشْتَرَكْنَا فِى الْبقَرَةِ سَبْعَةً وَفِى الْبَعِيْرِعَشْرَةً. -رواه الترمذي

Dari Ibnu Abbas, ia berkata, “Kami bersama Rasululah saw. dalam perjalanan, maka tiba waktu iedul Adha, lalu kami patungan untuk seekor sapi tujuh orang dan seekor unta untuk sepuluh orang.” H.R. At-Tirmidzi

Syarat Umur dan kondisi Hewan Kurban

Ketentuan hewan Qurban telah ditegaskan oleh Nabi saw sebagaimana diterangkan dalam hadis-hadis berikut ini:

عَنْ جَابِرٍ قَالَ : قَالَ رَسُولُ اللهِ صَلَّى اللَّه عَلَيْهِ وَسَلَّمَ : لاَ تَذْبَحُوا اِلاَّ مُسِنَّةً اِلاَّ أَنْ يَعْسُرَ عَلَيْكُمْ فَتَذْبَحُوا جَدْعَةً مِنَ الضَّأْنِ. -رواه ابو داود

Dari Jabir, ia berkata, “Rasulullah saw. bersabda, ‘Janganlah kamu menyembelih hewan kurban kecuali yang musinnah (cukup umurna), sekiranya menyusahkan atas kamu maka sembelihlah kambing jadz’ah.” Hr. Abu Dawud

Kata Ibnu Malik, “Arti asal al-Musinnah hiya al-kabirah bis sinni (tua umurna). Standar usia musinnah tergantung jenis hewannya. Apabila jenis Unta berarti berumur 5 tahun masuk tahun ke-6. Sapi berumur 2 tahun masuk tahun ke-3. Domba/kambing berumur 1 tahun (Lihat, Aunul Ma’bud, juz VII:352-353).

Sedangkan arti asal jad’un muda umurnya. Standar usia jad’un juga tergantung jenis hewannya. Jenis unta berumur maju ke 5 th. Sapi berumur maju ke-2. Domba/kambing berumur 6 bulan. (Lihat, Taudhihul Ahkam syarah Bulughul Maram, VII:87)

Keterangan di atas menunjukkan bahwa Qurban tidak sah bila hewannya bukan unta, sapi, atau domba/kambing. Adapun kerbau termasuk jins al-baqar (jenis sapi). Hewan-hewan tersebut disyariatkan cukup umur.

Perihal berqurban dengan binatang jenis betina, kita belum mendapatkan keterangan dari Rasulullah yang melarang berqurban dengan betina. Adapun keterangan yang sharih, yang tegas-tegas menerangkan akan bolehnya betina dijadikan qurban ialah dalam aqiqah.

Ummu Karzin pernah bertanya kepada Rasulullah perihal aqiqah, maka Rasulullah bersabda:

نَعَمْ, عَنِ الغُلاَمِ شَاتَانِ وَعَنِ الأُنْثَى وَاحِدَةً, لاَ يَضُرُّكُمْ ذُكْرَنًا كُنَّ أَوْ إِنَاثًا

“Ya, bagi anak laki-laki dua kambing dan bagi anak perempuan satu, dan tidak mengapa kambing jantan atau betina”. Hr. Ahmad dan At-Tirmidzi

Orang tidak biasa menyembelih qurban dengan binatang jenis betina, mungkin mengingat akan kelanjutan keturunan binatang termaksud. Sebab dengan adanya penyembelihan binatang jenis betina yang terlampau banyak dapat mengakibatkan kekurangan ternak, bahkan dapat mengakibatkan musnah atau habisnya keturunan ternak termaksud.

Selain jenis hewan, disyariatkan pula tentang kondisi hewan tersebut sebagaimana diterangkan dalam hadis berikut ini:

عَنِ الْبَرَّاءِ بْنِ عَازِبٍ قَالَ : قَالَ رَسُولُ اللهِ صَلَّى اللَّه عَلَيْهِ وَسَلَّمَ أَرْبَعٌ لاَ تَجُوزُ فِى الضَّحَايَا العَوْرَاءُ الْبَيِّنُ عَوْرُهَا وَالْمَرِيْضَةُ الْبَيِّنُ مَرَضُهَا االْعَرْجَاءُ الْبَيِّنُ ضَلْعُهَا وَالْكَسِيْرُ الَّتِى لاَ تُنْقِى. رواه الخمسة

Dari Bara bin ‘Azib, “Rasulullah saw. telah bersabda, ‘Empat (cacat) yang tidak boleh dipakai qurban: Juling atau buta sebelah yang benar-benar julingnya, sakit yang benar-benar sakitnya, pincang yang benar-benar pincangnya, dan hewan yang telah tua yang sudah tidak bersumsum lagi.” H.r. Al-Khamsah (Imam yang lima)

Pada dasarnya hadis di atas hendak menegaskan bahwa berqurban itu harus dengan binatang yang baik, sehat, gemuk, dan tidak ada cacat pada tubuhnya. Bagaimana halnya dengan kambing yang dikebiri ? Kambing yang dikebiri tidaklah termasuk cacat. Dalam riwayat Ahmad dan at-Tirmidizi ada diriwayatkan dari Siti Aisyah, bahwasanya Rasulullah pernah berqurban dengan dua kibasy yang gemuk, bertanduk dan telah dikebiri (mawjuain).

Syarat Waktu Penyembelihan

عَنْ أَنَسِ بْنِ مَالِكٍ رَضِي اللَّهُ عَنْهُ قَالَ قَالَ النَّبِيُّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ مَنْ ذَبَحَ قَبْلَ الصَّلَاةِ فَإِنَّمَا ذَبَحَ لِنَفْسِهِ وَمَنْ ذَبَحَ بَعْدَ الصَّلَاةِ فَقَدْ تَمَّ نُسُكُهُ وَأَصَابَ سُنَّةَ الْمُسْلِمِينَ  رواه البخاري

Dari Anas r.a. ia berkata, “Nabi saw. telah bersabda, ’siapa yang menyambelih qurban sebelum salat ied, ia kurban untuk dirinya (bukan ibadah). Dan siapa yang menyembelih setelah salat, telah sempurna ibadahnya dan sesuai sunnah muslimin.’” H.r. al-Bukhari

عَنْ اَنَسٍ قَالَ : قَالَ رَسُولُ اللهِ صَلَّى اللَّه عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَوْمَ النَّحْرِ : مَنْ كَانَ ذَبَحَ قَبْلَ الصَّلاَةِ فَلْيُعِدْ متفق عليه

Dari Anas r.a. ia berkata, “Nabi saw. telah bersabda, ‘Pada hari raya qurban, siapa yang menyambelih qurban sebelum salat ied, maka hendaklah ia mengulangi lagi.” Muttafaq Alaih.

JUWAYRIYYA binti al-Harits

radhiAllahuanhaJuwayriyya binti Harits (رضي الله ﻋﻧﻬﺎ) menikah dengan Nabi (ﷺ) pada tahun 5 H, saat Nabi berusia limapuluhenam tahun dan dia sendiri berusia duapuluh tahun, tidak lama setelah Nabi menikah dengan Zainab binti Jahsy, dan sebagai hasil dari keberhasilan iring-iringan tentara kaum Muslim yang melawan Banu Mushthaliq[ii] yang dengan cepat ditaklukkan setelah serangan tiba-tiba dari Nabi. Di antara tawanan yang dibawa iring-iringan ini adalah Juwayriyya yang cantik, puteri dari al-Harits yang merupakan ketua dari Banu Mushthaliq.

Juwayriyya khawatir jika saja kaum Muslim mengetahui siapakah dia sebenarnya, mereka akan meminta uang tebusan yang berlebihan untuk kebebasannya. Setelah kaum Muslim kembali ke Madinah dengan barang rampasan dan para tawanan, Juwayriyya meminta bertemu dengan Nabi Muhammad (ﷺ) dan berharap Nabi akan mencegah apa yang dikhawatirkannya.

Melihat betapa cantiknya Juwayriyya, Aisyah merasa tidak nyaman atas pertemuan Juwayriyya dengan sang Nabi. Namun Juwayriyya memaksa dan pada akhirnya diizinkan juga menemui Nabi (ﷺ) dan dibawa menemui Nabi ketika Nabi sedang bersama Aisyah. Setelah Juwayriyya selesai berbicara, Nabi berpikir sejenak lalu berkata, “Bolehkah aku mengusulkan sesuatu yang akan lebih baik daripada ini?”

Nabi kemudian meminta Juwayriyya menikah dengannya, dan Juwayriyya sesegera itu langsung menerimanya.

Mesti diingat, meskipun Juwayriyya itu seorang wanita cantik dan dari keturunan terhormat, yang dipikirkan Nabi adalah bagaimana meneyelamatkannya dan anggota sukunya dari nasib buruk yang akan menimpanya. Dengan menikahi Juwayriyya, Banu Mushthaliq akan mau masuk Islam secara terhormat, dan dengan menyingkirkan rasa terhina karena sebelumnya telah ditaklukkan. Maka tak akan perlu lagi bagi mereka memulai lagi sebuah perang balas dendam yang akan terus berlanjut sampai salah satu dari kedua belah pihak dibinasakan.

Sesegera setelah pernikahan itu diumumkan, seluruh harta rampasan yang diambil dari Banu Mushthaliq dikembalikan lagi, dan semua tawanan dibebaskan karena mereka sekarang berada dalam perlindungan Nabi Muhammad (ﷺ). Karenanya Aisyah suatu kali pernah berkata mengenai Juwayriyya, “Aku tidak kenal seorang wanita yang lebih memberkati terhadap kaumnya lebih daripada Juwayriyya binti al-Harits.”

Setelah Nabi dan Juwayriyya menikah, Nabi (ﷺ) lalu mengubah namanya dari Barra menjadi Juwayriyya.

Diriwayatkan oleh Juwayriyya bahwa pada suatu pagi buta Rasulullah (ﷺ) keluar dari kamarnya ketika Juwayriyya sedang shalat shubuh. Ketika Nabi kembali lagi pada pagi hari Juwayriyya masih duduk di tempat yang sama. “Apakah kau duduk terus duduk di sana sejak tadi aku meninggalkanmu?” Tanya Nabi. “Ya,” jawab Juwayriyya. Maka Nabi berkata, “Aku telah membaca kalimat, mengiringi ucapanmu, jika ia ditimbang (pahalanya) dengan apa yang engkau baca hari ini sejak tadi shubuh akan sama beratnya, yaitu (artinya = Maha suci Allah dan aku memuji-Nya, sebanyak ciptaan-Nya, sejauh ridlo-Nya, seberat timbangan arsy-Nya, dan sebanyak tinta untuk menulis kalimat-Nya).”[iii] Ini mengingatkan kita pada ayat al-Qur’an berikut ini (Qur’an S. Al-Kahfi 18:109):

Katakanlah: “Kalau sekiranya lautan menjadi tinta untuk (menulis) kalimat-kalimat Tuhanku, sungguh habislah lautan itu sebelum habis (ditulis) kalimat-kalimat Tuhanku, meskipun Kami datangkan tambahan sebanyak itu (pula). قُلْ لَوْ كَانَ الْبَحْرُ مِدَادًا لِكَلِمَاتِ رَبِّي لَنَفِدَ الْبَحْرُ قَبْلَ أَنْ تَنْفَدَ كَلِمَاتُ رَبِّي وَلَوْ جِئْنَا بِمِثْلِهِ مَدَدًا

Juwayriyya menikah dengan Nabi (ﷺ) selama enam tahun dan hidup tigapuluhsembilan tahun berikutnya setelah Nabi wafat. Dia meninggal pada tahun 50 H pada usia enampuluhlima tahun, semoga Allah meridlainya.

Catatan:

[ii] Banu Mushthaliq tinggal di sebelah utara kota Mekkah. Mereka bagian dari keturunan Bani Khaza’ah yang pernah menguasai Mekkah. Asal-usul mereka dari Yaman. Pasukan Banu Mushthaliq dan pasukan muslim berperang di dekat sumur yang bernama al-Maraisi yang terletak di antara Mekkah dan Madinah, 250 KM dari Mekkah dan 320 KM dari Madinah. (Fathi Fawzi ‘Abd al-Mu’thi, Detik-Detik Penulisan Wahyu, Penerbit Zaman, Jakarta, Cet. 1, hal. 82-83)

[iii] Bulughul Maram, Kitab Adab dan Kesopanan, Hadits ke-107
Juwairiyyah Binti al-Harits (رضي الله ﻋﻧﻬﺎ) berkata: Rasulullah (ﷺ) bersabda kepadaku: “Aku telah membaca kalimat, mengiringi ucapanmu, jika ia ditimbang (pahalanya) dengan apa yang engkau baca hari ini akan sama beratnya, yaitu (artinya = Maha suci Allah dan aku memuji-Nya, sebanyak ciptaan-Nya, sejauh ridlo-Nya, seberat timbangan arsy-Nya, dan sebanyak tinta untuk menulis kalimat-Nya).” Riwayat Muslim.

Makarim Wibisono, Pelapor Khusus PBB Itu Siap Masuk Gaza

Kairo, – United Nations Special Rapporteur on the Situation of Human Rights in the Palestinian Territories Occupied since 1967, atau orang yang diberi mandate untuk melakukan investigasi, monitor dan solusi atas masalah-masalah hak azasi manusia di suatu tempat tertentu yang ditugaskan PBB, Makarim Wibisono, seorang diplomat senior RI telah siap memasuki Gaza melalui jalur Mesir.

Makarim-_wibisono“Izin masuk Jalur Gaza sedang diproses di Kementerian Luar Negeri Mesir untuk tugas pengumpulan data di berbagai bidang di Jalur Gaza,” kata Makarim dalam perbincangan dengan Antara sebagaimana dilaporkan  republika.co.id di Wisma Duta KBRI Kairo, Kamis. Dalam perbincangan sambil sarapan di Wisma Duta itu, Makarim Wibisono didampingi Dubes RI untuk Mesir Nurfaizi Suwandi, Kepala Fungsi Protokol dan Konsuler KBRI Kairo Nugroho Yuwono Aribhimo, dan Istri Dubes Iesye Suwandi.

Sejak dilantik sebagai Pelapor Khusus PBB untuk Situasi Hak Asasi Manusia (HAM) Palestina pada tanggal 2 Juni 2014, baru kali ini Wibisono memasuki Jalur Gaza. Diplomat senior Indonesia itu mengungkapkan tugas-tugas yang diembannya bukan saja di Jalur Gaza dan di Tepi Batat yang diduduki Israel, melainkan juga masalah HAM di kantong-kantong komunitas Palestina di dalam negara Israel.

“Selain tinjauan lapangan, saya juga akan memawancarai lebih dari 100 pejabat terkait mencakup juga beberapa jenderal militer Israel,” kata mantan Ketua Dewan HAM PBB itu.

Kota Gaza yang Porak Poranda Karena Agresi Israel Juli-Agustus 2014

Kota Gaza yang Porak Poranda Karena Agresi Israel Juli-Agustus 2014

Untuk di Jalur Gaza, Wibisono akan menitikberatkan pada pengumpulan data tentang dampak agresi militer Israel terbaru pada bulan Juni dan Agustus lalu yang menewaskan sebanyak 2.184 orang Palestina dan sejumlah kasus lainnya.

Mantan Wakil Tetap RI untuk PBB di New York dan Jenewa itu menjelaskan pihak Israel untuk pertama kali menanggapi surat permohonan izin untuk menjalankan tugas meninjau di wilayah Palestina dan Israel.

“Pemerintah Israel melalui Wakil Tetap Israel untuk PBB di Jenewa, Eviatar Manor, dalam surat balasannya menetapkan akan mempertimbangkan permohonan izin masuk wilayah Palestina dan Israel pada bulan Maret 2015,” katanya.

“Jawaban Israel untuk surat permohonan tersebut baru pertama kali dalam sejarah karena hal itu belum pernah terjadi terhadap Pelapor PBB sebelumnya yang tidak diperdulikan Israel,” ujar Makarim.

Namun demikian ada terdapat tudingan anti-semit yang ditujukan media Israel kepadanya. Menanggapi tuduhan media massa Israel itu, Wibisono membantah tegas tuduhan itu, dan menegaskan bahwa pihaknya akan secara objektif dan profesional sesuai dengan kenyataan di lapangan dalam melakukan tugasnya.

“Saya bukan anti-Semit, saya menyusun pelaporan sesuai dengan data di lapangan yang saya melihat sendiri secara objektif tanpa rekayasa,” katanya.

Hasil pelaporan mengenai persoalan HAM di Palestina itu akan menjadi dasar bagi PBB untuk upaya penyelesaian konflik Palesatina-Israel.

Wibisono menegaskan bantuan kepada Palestina tidak hanya dalam bentukBeautiful Free Palestine Flag materi berupa bahan makanan, tetapi yang penting adalah bagaimana mencari titik temu perdamaian jangka panjang yang bermuara pada kemerdekaan Palestina dan Jerusalem Timur sebagai ibu kota Palestina.

Untuk menyelesaikan berbagai masalah di Palestina, khususnya yang berhubungan dengan Israel, Pelapor Khusus PBB, Makarim Wibisono, ternyata pernah merencanakan akan mengusulkan pembentukan komisi pencari fakta.

“Dalam hasil diskusi saya dengan Pak Dubes Nurfaizi Suwandi, ada beberapa hal yang perlu dilakukan Indonesia pada masa mendatang untuk membuka mata dunia, misalnya mendorong dibentuknya Komisi Pencari Fakta Internasional di Palestina yang hasilnya akan berdampak luas berupa reaksi global untuk menekan Israel,” katanya kepada Antara di Wisma Duta KBRI Kairo, Kamis.

Hal itu diungkapkannya menjawab pertanyaan peran Indonesia dalam upaya penyelesaian konflik Israel-Palestina, Wibisono menegaskan bahwa peran itu telah dan sedang dimainkan Indonesia lewat desakan di forum-forum internasional.

Peran kedua, kata dia, Indonesia hendaknya meminta fatwa kepada Mahkamah Kriminal Internasional di Den Haag mengenai target penembakan Israel terhadap warga sipil Palestina apakah itu termasuk pelanggaran HAM atau tidak.

GAZ2Begitu pula, fatwa mengenai pengadilan militer Israel terhadap warga sipil Palestina, misalnya, pelempar batu saja bisa divonis 20 tahun hukuman penjara.

Menanggapi suara sumbang beberapa kalangan bahwa Indonesia tidak mungkin berperan aktif penyelesaian konflik karena belum memiliki hubungan diplomatik dengan Israel, Wibosono menegaskan bahwa berperan itu tidak harus menjalin hubungan diplomatik dengan Israel.

“Berperan menyelesaikan konflik tidak harus menjalin hubungan dengan Israel. Buktinya banyak negara, termasuk Mesir, punya hubungan diplomatik dengan Israel, tetapi tidak berdaya dalam penyelesaian konflik Israel-Palestina,” paparnya.

Dalam pantauannya Wibisono menilai warga Gaza saat ini sangat menderita akibat agresi Israel dan mereka sangat membutuhkan bantuan kebutuhan pokok.

“Penderitaan rakyat Palestina itu diperparah oleh blokade Israel terhadap darat, laut dan udara Gaza,” katanya.

Oleh karena itu, Wibosono mengharapkan pemerintah Mesir untuk mempermudah akses bantuan kemanusiaan masuk Jalur Gaza lewat Rafah, satu-satunya pintu perbatasan yang menghubungkan Gaza dengan luar negeri.

KETIKA USIA 40 TIBA

Oleh: Ustadz Azhar Idrus

Ramai tidak sedar dalam al-Quran ada menyentuh tentang usia ini. Tentu ada yang sangat penting, perlu diperhatikan dan diambil serius akan perkara ini. Allah swt. berfirman,

حَتَّى إَذَا بَلَغَ أَشُدَّهُ وَبَلَغَ أَرْبَعِيْنَ سَنَةً قَالَ رَبِّ أَوْزِعْنِى أَنْ أَشْكُرَ نِعْمَتَكَ الَّتِى أَنْعَمْتَ عَلَيَّ وَعَلَى وَالِدَيَّ وَأَنْ أَعْمَلَ صَالِحًا تَرْضَاهُ وَأَصْلِحْ لِى فِى ذُرِّيَّتِى إِنِّى تُبْتُ إِلَيْكَ وَإِنِّى مِنَ الْمُسْلِمِيْنَ

“Apabila dia telah dewasa dan usianya sampai empat puluh tahun, ia berdoa, “Ya Tuhanku, tunjukkanlah aku jalan untuk mensyukuri nikmat Engkau yang telah Engkau berikan kepadaku dan kepada ibu bapaku dan supaya aku dapat berbuat amal yang soleh yang engkau redhai; berilah kebaikan kepadaku dengan (memberi kebaikan) kepada anak cucuku. Sesungguhnya aku bertaubat kepada Engkau dan sesungguhnya aku termasuk orang-orang muslim.” (al-Ahqaf: 15)

KETIKA USIA 40 TIBAUsia 40 tahun disebut dengan jelas dalam ayat ini. Pada usia inilah manusia mencapai puncak kehidupannya baik dari segi fizikal, intelektual, emosi, mahupun spiritualnya. Benar-benar telah meninggalkan usia mudanya dan melangkah ke usia dewasa yang sebenar.

Doa yang terdapat dalam ayat tersebut dianjurkan untuk dibaca oleh mereka yang berusia 40 tahun dan ke atas. Di dalamnya terkandung penghuraian yang jelas bahawa mereka; telah menerima nikmat yang sempurna, kecenderungan untuk beramal yang positif, telah mempunyai keluarga yang harmoni, kecenderungan untuk bertaubat dan kembali kepada Allah

Pada ayat yang lain, firman Allah;

أَوَلَمْ نُعَمِّرْكُمْ مَا يَتَذَكَّرُ فِيْهِ مَنْ تَذَكَّرَ وَجَاءَكُمُ النَّذِيْرُ

Apakah Kami tidak memanjangkan umurmu dalam tempoh yang cukup untuk berfikir bagi orang-orang yang mahu berfikir, dan (apakah tidak) datang kepadamu pemberi peringatan? (al-Fathir: 37)

Menurut Ibnu Abbas, Hasan al-Bashri, al-Kalbi, Wahab bin Munabbih, dan Masruq, yang dimaksud dengan “umur panjang dalam tempoh yang cukup untuk berfikir” dalam ayat tersebut tidak lain adalah ketika berusia 40 tahun.

Menurut Ibn Kathir, ayat ini memberikan petunjuk bahawa manusia apabila menjelang usia 40 tahun hendaklah memperbaharui taubat dan kembali kepada Allah dengan bersungguh2.

Apabila itu berlaku menjelang usia 40 tahun, maka Allah memberikan janjiNya dalam ayat selepas itu: (maksudnya) Kematangan.

Usia 40 tahun adalah usia matang untuk kita bersungguh-sungguh dalam hidup. Mengumpulkan pengalaman, menajamkan hikmah dan kebijaksanaan, membuang kejahilan ketika usia muda, lebih berhati-hati, melihat sesuatu dengan hikmah dan penuh penelitian. Maka tidak hairan tokoh-tokoh pemimpin muncul secara matang pada usia ini. Bahkan Nabi s.a.w, seperti yang disebut oleh Ibn ‘Abbas:

“Dibangkitkan Rasulullah s.a.w pada usia 40 tahun” (riwayat al-Bukhari).
Nabi Muhammad saw. diutus menjadi nabi tepat pada usia 40 tahun. Begitu juga dengan nabi2 yang lain, kecuali Nabi Isa as. dan Nabi Yahya as.

Banyak negara menetapkan untuk menduduki jabatan2 elit seperti ketua negara, disyaratkan bakal calon harus telah berusia 40 tahun. Masyarakat sendiri mengakui prestasi seseorang mantap tatkala orang itu telah berusia 40 tahun. Soekarno menjadi presiden pada usia 44 tahun. Soeharto menjadi presiden pada umur 46 tahun. J.F. Kennedy 44 tahun. Bill Clinton 46 tahun. Paul Keating 47 tahun. Sementara Tony Blair 44 tahun.

Mengapa umur 40 tahun begitu penting.

Menurut Ibnu Qayyim Al-Jauziyah usia manusia diklasifikasikan menjadi 4 (empat) period, iaitu
1. Kanak-kanak ( sejak lahir hingga akil baligh )
2. Muda atau syabab ( sejak akil baligh hingga 40 tahun )
3. Dewasa ( 40 tahun hingga 60 tahun )
4. Tua atau syaikhukhah ( 60 tahun hingga mati )

Usia 40 tahun adalah usia ketika manusia benar-benar meninggalkan masa mudanya dan beralih kepada masa dewasa penuh. Kenyataan yang paling menarik pada usia 40 tahun ini adalah meningkatnya minat seseorang terhadap agama sedangkan semasa mudanya jauh sekali dengan agama. Seolah-olah macam satu fitrah di usia ini ramai yang mula menutup aurat dan mendekati kuliah-kuliah agama.

Salah satu keistimewaan usia 40 tahun tercermin dari sabda Rasulullah saw.,

لعَبْدُ الْمُسْلِمُ إِذَا بَلَغَ أَرْبَعِيْنَ سَنَةً خَفَّفَ اللهُ تَعَالَى حِسَابَهُ ، وَإِذَا بَلَغَ سِتِّيْنَ سَنَةً رَزَقَهُ اللهُ تَعَالَى الْإِنَابَةَ إِلَيْهِ ، وَإِذَا بَلَغَ سَبْعِيْنَ سَنَةً أَحَبَّهُ أَهْلُ السَّمَاءِ ، وَإِذَا بَلَغَ ثَمَانِيْنَ سَنَةً ثَبَّتَ اللهُ تَعَالَى حَسَنَاتِهِ وَمَحَا سَيِّئَاتِهِ ، وَإِذَا بَلَغَ تِسْعِيْنَ سَنَةً غَفَرَ اللهُ مَا تَقَدَّمَ مِنْ ذَنْبِهِ وَمَا تَأَخَّرَ وَشَفَّعَهُ اللهُ تَعَالَى فِى أَهْلِ بَيْتِهِ ، وَكَتَبَ فِى السَّمَاءِ أَسِيْرَ اللهِ فِى أَرْضِهِ – رواه الإمام أحمد

“Seorang hamba muslim bila usianya mencapai 40 tahun, Allah akan meringankan hisabnya (perhitungan amalnya). Jika usianya mencapai 60 tahun, Allah akan memberikan anugerah berupa kemampuan kembali (bertaubat) kepadaNya. Bila usianya mencapai 70 tahun, para penduduk langit (malaikat) akan mencintainya. Jika usianya mencapai 80 tahun, Allah akan menetapkan amal kebaikannya dan menghapus amal keburukannya. Dan bila usianya mencapai 90 puluh tahun, Allah akan mengampuni dosa-dosanya yang telah lalu dan dosa-dosanya yang dahulu, Allah juga akan memberikan pertolongan kepada anggota keluarganya, serta Allah akan mencatatnya sebagai tawanan Allah di bumi. (riwayat Ahmad)

Hadis ini menyebut usia 40 tahun paling awal memiliki komitmen terhadap penghambaan kepada Allah swt. sekaligus konsisten terhadap Islam, maka Allah swt. akan meringankan hisabnya. Orang yang usianya mencapai 40 tahun mendapatkan keistimewaan berupa hisabnya diringankan. Tetapi umur 40 tahun merupakan saat harus berhati2 juga. Ibarat waktu, orang yang berumur 40 tahun mungkin sudah masuk senja. Abdullah bin Abbas ra. dalam suatu riwayat berkata, “Barangsiapa mencapai usia 40 tahun dan amal kebajikannya tidak mantap dan tidak dpt mengalahkan amal keburukannya, maka hendaklah ia bersiap-siap ke neraka.”

Imam asy-Syafi’i tatkala mencapai usia 40 tahun, beliau berjalan sambil memakai tongkat. Jika ditanya, jawab beliau, “Agar aku ingat bahwa aku adalah musafir. Demi Allah, aku melihat diriku sekarang ini seperti seekor burung yang dipenjara di dalam sangkar. Lalu burung itu lepas di udara, kecuali telapak kakinya saja yang masih tertambat dalam sangkar. Komitmenku sekarang seperti itu juga. Aku tidak memiliki sisa2 syahwat untuk menetap tinggal di dunia. Aku tidak berkenan sahabat-sahabatku memberiku sedikit pun sedekah dari dunia. Aku juga tidak berkenan mereka mengingatkanku sedikit pun tentang hiruk pikuk dunia, kecuali hal yang menurut syara’ lazim bagiku. Di antara aku dan dia ada Allah.”

Lantas, apa yang harus kita lakukan menginjak usia 40 tahun?
1. Meneguhkan tujuan hidup
2. Meningkatkan daya spiritual
3. Menjadikan uban sebagai peringatan
4. Memperbanyak bersyukur
5. Menjaga makan dan tidur
6. Menjaga istiqamah dalam ibadah.

Jika ada yang mengatakan bahawa: Life began at forty, saya cenderung berpendapat kehidupan yang dimaksudkan ialah kehidupan terarah kepada mendekatkan diri kepada penciptaNya dengan sebenar-benarnya. Tetapi satu perkara yang kita harus sentiasa sedar bahawa kematian memanggil kita bila-bila masa tanpa tanda, tanpa alamat dan tanpa mengira usia. Jika kita beranggapan harus menunggu usia 40 tahun untuk baru memulakan kehidupan yang dimaksudkan di atas, maka rugi dan sia-sia lah hidup kita jika umur kita tidak panjang.

Maksud sabda Nabi Muhammad S.A.W ,” Orang yang bijak adalah orang yang selalu mengingati mati”.

Ramai manusia tertipu dengan keindahan dunia dan isinya yang bersifat sementara. Sejak Nabi Adam as. sehingga kini, kesemuanya telah kembali kepada Allah swt. tidak kira kaya atau miskin, berpangkat atau tidak. Mengingati mati bukan bermakna kita akan gagal di dunia tetapi dengan mengingati mati kita akan menjadi insan yang berjaya di dunia dan di akhirat. janganlah menunggu sehingga esok untuk membuat persediaan menghadapi kematian, kerana mati boleh datang pada bila-bila masa..

Catatan:

Tulisan ini bersumber dari Ustadz Azhar Idrus. Disimpan disini agar pemilik blog dan pembaca sekalian dapat dengan mudah membukanya kembali. Selebihnya pemilik blog mengucapkan Jazakumullahu khaeron katsiron kepada Ustadz Azhar Idrus atas tulisannya yang bermanfaat ini dan semoga siapa pun yang membacanya dapat mengambil manfaat yang berlimpah. Aamiin.

KRITERIA ZAKAT TIJARAH (PERDAGANGAN DAN INDUSTRI) Bag 1& 2

Oleh: Amin Saefullah Muchtar

Pengertian dan Fungsi Zakat

Amin Saefullah MuchtarKata zakat secara bahasa berarti tumbuh, mensucikan atau memperbaiki. Kata itu mengacu pada kesucian diri yang diperoleh setelah pembayaran zakat dilaksanakan. Itulah kebaikan hati yang dimiliki seseorang manakala ia tidak bersifat kikir dan tidak mencintai harta kekayaannya semata-mata demi harta itu sendiri. Harta kekayaan memang disukai oleh setiap orang dan setiap orang mencintai kekayaannya serta sumber-sumber kekayaan lainnya, akan tetapi orang yang menafkahkan harta kekayaan ini untuk orang lain akan memperoleh kebajikan dan kesucian. Inilah pertumbuhan dan kebaikan yang sejati, yang ia peroleh dengan membayar sumbangan wajib yang dipungut atas kekayaannya dalam bentuk zakat. Aspek spiritual inilah yang menyebabkan zakat tidak diberlakukan atas non-Muslim. Sebab mereka tidak boleh dipaksa untuk melaksanakan tindakan ibadah apa pun yang diperintahkan oleh Islam. Aspek ini digambarkan di dalam surat al-Taubah:103

خُذْ مِنْ أَمْوَالِهِمْ صَدَقَةً تُطَهِّرُهُمْ وَتُزَكِّيهِمْ بِهَا وَصَلِّ عَلَيْهِمْ إِنَّ صَلَاتَكَ سَكَنٌ لَهُمْ وَاللَّهُ سَمِيعٌ عَلِيمٌ

Ambillah sedekah dari harta mereka untuk membersihkan dan mensucikan mereka”

Penerimaan zakat oleh Nabi dari penduduk yang dibicarakan di sini merupakan suatu tindakan pensucian dari dosa yang terkandung dalam harta kekayaan. Kata zakat itu sendiri menunjukkan bahwa harta kekayaan yang tidak dibelanjakan dengan cara bijaksana atas diri seseorang atau orang lain akan melahirkan kejahatan (dengan mendorong industri-industri yang tidak produktif, bermewah-mewah serta menciptakan persaingan dan pertarungan antar kelas) dalam masyarakat. Hanya apabila harta kekayaan dibelanjakan untuk hal-hal yang baiklah, maka ia dapat menumbuhkan dan mensucikan masyarakat dari kejahatan-kejahatannya (dengan mendorong pengembangan industri yang sehat, bermanfaat dan produktif).

Dalam surat al-Baqarah:265 dikatakan:

وَمَثَلُ الَّذِينَ يُنفِقُونَ أَمْوَالَهُمْ ابْتِغَاءَ مَرْضَاةِ اللَّهِ وَتَثْبِيتًا مِنْ أَنْفُسِهِمْ كَمَثَلِ جَنَّةٍ بِرَبْوَةٍ أَصَابَهَا وَابِلٌ فَآتَتْ أُكُلَهَا ضِعْفَيْنِ فَإِنْ لَمْ يُصِبْهَا وَابِلٌ فَطَلٌّ وَاللَّهُ بِمَا تَعْمَلُونَ بَصِيرٌ

Dan perumpamaan orang-orang yang membelanjakan hartanya karena mencari keridaan Allah dan untuk keteguhan jiwa mereka, seperti sebuah kebun yang terletak di dataran tinggi yang disiram oleh hujan lebat, maka kebun itu menghasilkan buahnya dua kali lipat. Jika hujan lebat tidak menyiraminya, maka hujan gerimis (pun memadai). Dan Allah Maha Melihat apa yang kamu perbuat.

Dapat dikatakan di sini bahwa Alquran telah mempergunakan kata-kata sadaqat, anfaq, dan zakat, sebagai pemberian pada orang lain. Sesungguhnya ketiganya merupakan aspek dari satu hal yang sama; tujuan sesungguhnya adalah melatih moral serta mensucikan jiwa manusia. Dua aspek yang pertama, yaitu sedekah dan infaq, bersifat bebas pilih, akan tetapi yang terakhir yaitu zakat adalah wajib bagi setiap Muslim. Dalam ayat tersebut dijelaskan tentang perumpamaan orang yang berhasil memanen buah dari pengorbanan-pengorbanan yang mereka lakukan (demi kebaikan masyarakat). Tindakan mereka menafkahkan hartanya untuk kebaikan telah ditunjukkan dalam ayat Alquran di atas sebagai menafkahkan harta kekayaan demi memperoleh keridlaan Allah dan untuk memperkuat jiwa mereka. Ini dengan jelas memberikan indikasi bahwa harta yang dinafkahkan demi kebaikan orang banyak tanpa mengharapkan suatu imbalan apa pun, mempunyai arti yang sangat signifikan. Sesungguhnya, zakat dinamakan demikian karena ia dapat membantu mensucikan jiwa manusia (dari sifat keakuan, kekikiran, dan cinta akan harta). Dengan demikian berarti membuka jalan untuk pengembangan dan perbaikan yang selanjutnya (melalui pengeluaran bagi orang lain). Zakat bukan semata-mata amal, akan tetapi suatu langkah yang perlu bagi kemajuan manusia. Orang kaya, dengan membantu anggota masyarakat miskin sesungguhnya telah menolong diri mereka sendiri. Mereka enggan untuk membantu membangun umat manusia. Dengan kata lain, mereka meninggalkan jalan utama kemajuan manusia dan tersesat pada jalan-jalan kecil yang tidak terhitung jumlahnya yang buntu serta sia-sia. Mereka tidak menghendaki jiwa mereka disucikan dari kejahatan yang terkandung dalam kemewahan. Pembayaran zakat merupakan ketaatan yang sejati pada Allah dan hasilnya akan tampak dalam karakter dan relasi orang-orang yang melakukan pemberian seperti itu.

Kata zakat, seperti telah dijelaskan di atas, memainkan dua fungsi penting. Pertama, ia mensucikan hati atau jiwa si pemberi dari kejahatan-kejahatan sifat kikir dan sebagai gantinya mendorong pemberian sedekah dan mengeluarkan barang atau harta yang baik. Orang yang betul-betul mengerti arti penting zakat akan bersifat sangat rendah hati dan takwa. Mereka akan melaksanakan segala hal yang baik di dunia ini hanya untuk menyenangkan Tuhan dan tidak akan pernah merasa tinggi hati lantaran perbuatan-perbuatan baiknya. Semuanya ini tercakup dalam perkataan zakat.

Kedua, ia akan mengantarkan suatu komunitas menuju perkembangan yang sehat. Zakat dapat mencegah segala pengaruh yang bersifat penghalang dan mendorong orang untuk ikut membantu mencapai kemajuan dalam bidang ekonomi. Dengan menjadikan zakat sebagai suatu kewajiban bagi setiap Muslim yang kaya agar menzakati harta kekayaannya, barang-barang komersial dan lain-lain, maka zakat sebenarnya sekaligus menjadi suatu rangsangan yang sangat kuat pada orang-orang untuk menginvestasikan modal mereka agar dapat berkembang dan dengan demikian akan meningkat seluruh kekayaan masyarakat. Kedua tujuan ini, pensucian jiwa dan pertumbuhan ekonomi, tercakup dalam kata zakat.

Selanjutnya, apabila perkataan zakat mengacu pada pensucian, maka ia mengandung dua pengertian, pertama, kata tersebut mengacu pada harta yang dinafkahkan untuk mendapatkan atau mencapai kesucian dan keutamaan jiwa. Kedua, ia menunjuk pada tindakan aktual pensucian. Orang yang membayar zakat sesungguhnya melaksanakan tindakan pensucian. Dalam arti ini, tindakan pensucian tidaklah terbatas hanya pada pembayaran zakat materi, tetapi juga mencakup pensucian jiwa, pensucian karakter, pensucian kehidupan, pensucian harta kekayaan dan sesungguhnya pensucian seluruh aspek kehidupan manusia.

Lagi pula, zakat tidaklah terbatas pada pensucian kehidupan diri seseorang, tetapi meluas di segala lingkup dan mencakup kehidupan seseorang yang berhubungan dengannya. Dengan kata lain, itu berarti bahwa orang yang membayar zakat adalah orang yang sesungguhnya melakukan pekerjaan pensucian.

Pertama, mereka mensucikan diri mereka sendiri, dan kemudian mereka membantu orang-orang lain untuk mencapai kesucian. Dengan demikian, mereka menumbuhkan kualitas kemanusiaan yang benar di dalam diri mereka dan kemudian berusaha membantu kualitas tersebut tumbuh dalam diri orang lain. Fungsi zakat ini digambarkan di beberapa tempat dalam Alquran al-Qur’an.

Pada surat al-A’la:14, ditunjukkan sebagai berikut:

قَدْ أَفْلَحَ مَنْ تَزَكَّى

“Sesungguhnya menanglah orang yang suci (hati)”

Sedangkan pada surat al-Syams:9-10 dikatakan:

قَدْ أَفْلَحَ مَنْ زَكَّاهَا # وَقَدْ خَابَ مَنْ دَسَّاهَا

“Sesungguhnya telah menanglah orang yang membersihkan (jiwanya). Dan merugilah orang yang mengotorinya”

Zakat berarti membuat sesuatu meningkat dan berkembang. Sementara dassa ha berarti menyembunyikan atau “menguburnya” dan tidak tidak membiarkannya berkembang. Dengan demikian, yang pertama mensucikan dan membantu proses pertumbuhan, sementara yang kedua mencegah pertumbuhan tersebut dan menyebabkan sesuatu terhenti dan rusak. Penggunaan kedua kata tersebut benar-benar menunjukkan bahwa indera yang sangat diperlukan untuk pertumbuhan, pengembangan dan penyempurnaan dianugerahkan pada setiap orang; sebagian orang membuatnya tumbuh dan berkembang melalui pemanfaatan dan pengembangan yang layak, sementara yang lainnya membuatnya terhenti dan layu dengan membiarkannya tetap digunakan, tidak berkembang dan terkubur, sebab tidak digunakan sebagaimana mestinya untuk kepentingan mereka.

Sedangkan secara istilah para ulama fikih telah menjelaskan pengertian zakat sebagai berikut:

الزَّكَاةُ : إِعْطَاءُ جُزْءٍ مَخْصُوْصٍ مِنْ مَالٍ مَخْصُوْصٍ بِوَضْعٍ مَخْصُوْصٍ لِمُسْتَحِقِّهِ

“Zakat adalah mengeluarkan bagian yang khusus dari harta yang khusus dengan ketentuan yang khusus bagi mustahiqnya”.