Category Archives: Islamic World View

Dan Apabila Bulan Hilang Cahayanya

Allah Berfirman dalam Qur’an surat Al-Qiyaamah, 75;8,

وَخَسَفَ الْقَمَرُ

“Dan apabila bulan telah hilang cahayanya.”

Gerhana bulan atau pun matahari adalah fenomena yang menunjukkan tanda kekuasaan Allah Ta’ala, sebagaimana Allah telah berfirman dalam Al-Quran, surat Ali Imran ayat 189 s/d 191,

وَلِلَّهِ مُلْكُ السَّمَاوَاتِ وَالأرْضِ وَاللَّهُ عَلَى كُلِّ شَيْءٍ قَدِيرٌ
إِنَّ فِي خَلْقِ السَّمَاوَاتِ وَالأرْضِ وَاخْتِلافِ اللَّيْلِ وَالنَّهَارِ لآيَاتٍ لأولِي الألْبَابِ
الَّذِينَ يَذْكُرُونَ اللَّهَ قِيَامًا وَقُعُودًا وَعَلَى جُنُوبِهِمْ وَيَتَفَكَّرُونَ فِي خَلْقِ السَّمَاوَاتِ وَالأرْضِ رَبَّنَا مَا خَلَقْتَ هَذَا بَاطِلا سُبْحَانَكَ فَقِنَا عَذَابَ النَّارِ

“Kepunyaan Allah-lah kerajaan langit dan bumi, dan Allah Maha Kuasa atas segala sesuatu. Sesungguhnya dalam penciptaan langit dan bumi, dan silih bergantinya malam dan siang terdapat tanda-tanda bagi orang-orang yang berakal, (yaitu) orang-orang yang mengingat Allah sambil berdiri atau duduk atau dalam keadaan berbaring dan mereka memikirkan tentang penciptaan langit dan bumi (seraya berkata): “Ya Tuhan kami, tiadalah Engkau menciptakan ini dengan sia-sia. Maha Suci Engkau, maka peliharalah kami dari siksa neraka.”

Perkataan atau kalimat Kusuf (كسوف) dalam bahasa Arab merujuk kepada Gerhana Matahari, sedangkan kalimat Khusuf ( خسوف ), merujuk kepada gerhana Bulan. Dalam kitab Sahih Muslim, Jilid 4, halaman 2553 menyatakan maksud Khusuf ialah hilang warna matahari atau bulan, manakala Kusuf pula bermaksud berubah warnanya. Di dalam kitab al-Manhaji, Jilid 1, halaman 240, karangan Dr. Mustafa al-Khin, Dr. Mustafa al-Bugha dan Al Syarbaji secara ringkas ada menyebutkan Kusuf menurut makna dari bahasa Arab ialah terlindung sinar matahari samada sebahagian atau keseluruhannya, manakala khusuf pula ialah terhalang cahaya bulan samada sebahagian atau keseluruhannya.

Gambar 1. Wajah Bulan yang 'hilang' separo saat mengalami Gerhana Bulan dalam fase parsial (sebagian), diabadikan pada 16 Juni 2011 di Kebumen. Pada Gerhana Bulan 8 Oktober 2014, pemandangan seperti ini pun akan terulang. Sumber: Sudibyo, 2011.Ketika ada gerhana bulan maupun matahari, Islam mensyariatkan agar melaksanakan shalat, sebagaimana Nabi ﷺ pernah mencontohkannya. Abu Bakrah berkata, “Kami berada di sisi Rasulullah lalu terjadi gerhana matahari. Maka, Nabi berdiri dengan mengenakan selendang beliau (dalam satu riwayat: pakaian beliau sambil tergesa-gesa 7/34) hingga beliau masuk ke dalam masjid, (dan orang-orang pun bersegera ke sana 2/31), lalu kami masuk. Kemudian beliau shalat dua rakaat bersama kami hingga matahari menjadi jelas. Beliau menghadap kami, lalu bersabda, ‘Sesungguhnya matahari dan bulan adalah dua dari tanda-tanda kekuasaan Allah, dan sesungguhnya keduanya (2/31) bukan gerhana karena meninggalnya seseorang. Akan tetapi, Allah ta’ala menakut-nakuti hamba-hamba-Nya dengannya. Oleh karena itu, apabila kamu melihatnya, maka shalatlah dan berdoalah sehingga terbuka apa (gerhana) yang terjadi padamu.’” (Hal itu karena putra Nabi (ﷺ) yang bernama Ibrahim meninggal dunia, kemudian terjadi gerhana. Lalu, orang-orang berkomentar bahwa gerhana itu terjadi karena kematian Ibrahim itu. Hal ini lantas disanggah Rasulullah dengan sabda beliau itu.) (Ringkasan Shahih Bukhari – M. Nashiruddin Al-Albani – Gema Insani Press)

Hukum Sholat Gerhana Bulan

Para ulama sepakat bahwa sholat gerhana bulan maupun matahari adalah sunnah muakad (sangat dianjurkan), baik untuk laki-laki maupun perempuan.

Waktu Sholat Gerhana Bulan

Waktu untuk mengerjakan sholat gerhana bulan adalah terbentang sejak mulainya gerhana hingga gerhana berakhir (bulan kembali ke kondisi semula).

Tata Cara Sholat Gerhana Bulan

Sholat gerhana, baik gerhana bulan maupun matahari, lebih utama dikerjakan secara berjamaah, meskipun menunaikannya secara berjamaah bukan termasuk syarat utama syahnya sholat tersebut. Ketika menjelang pelaksanaan sholat gerhana, hendaklah muadzin mengumandangkan dengan lafazh “Assholaatu jaami’ah”.

Hadis riwayat Aisyah ra., ia berkata:
Pada masa Rasulullah saw. pernah terjadi gerhana matahari. Saat itu Rasulullah saw. melakukan salat gerhana, beliau berdiri sangat lama dan rukuk juga sangat lama, lalu mengangkat kepala dan berdiri lama, tapi tidak seperti lamanya berdiri pertama. Kemudian beliau rukuk lama, tapi tidak seperti lamanya rukuk pertama. Selanjutnya beliau sujud. Kemudian berdiri lama, namun tidak seperti lamanya berdiri pertama, rukuk cukup lama, namun tidak selama rukuk pertama, mengangkat kepala, lalu berdiri lama, tapi tidak seperti lamanya berdiri pertama, rukuk cukup lama, tapi tidak seperti lamanya rukuk pertama, lalu sujud dan selesai. Ketika salat usai matahari sudah nampak sempurna kembali. Beliau berkhutbah di hadapan kaum muslimin, memuji Allah dan menyanjung-Nya, dan bersabda: Sesungguhnya matahari dan rembulan itu termasuk tanda-tanda kebesaran Allah. Keduanya terjadi gerhana bukan karena kematian atau kelahiran seseorang. Oleh sebab itu, jika kalian melihat keduanya gerhana, maka bertakbirlah, berdoalah kepada Allah, kerjakanlah salat dan bersedekahlah! Hai umat Muhammad, tidak seorang pun lebih cemburu daripada Allah, bila hambanya, lelaki maupun perempuan, berbuat zina. Hai umat Muhammad, demi Allah, seandainya kalian tahu apa yang kuketahui, tentu kalian banyak menangis dan sedikit tertawa. Ingatlah! Bukankah aku telah menyampaikan. (Shahih Muslim No.1499)

Jumhur ulama mengatakan bahwa sholat gerhana bulan dilakukan sebanyak dua rakaat. Setiap rakaat harus dilakukan dua kali ruku’.

Pada saat Nabi hidup, terjadi gerhana matahari. Rasulullah keluar ke masjid, berdiri dan membaca takbir. Orang-orang pun berdatangan dan berbaris di belakang beliau. Beliau membaca surat yang panjang. Selanjutnya beliau bertakbir dan ruku’. Beliau memanjangkan waktu ruku’ hampir menyerupai waktu berdiri. Selanjutnya beliau mengangkat kepala dan membaca “Sami’allaahu liman hamidah, rabbanaa walakal hamdu”. Lalu berdiri lagi dan membaca surat yang panjang, tapi lebih pendek daripada bacaan surat yang pertama. Kemudian beliau bertakbir dan ruku’. Waktu ruku’ ini lebih pendek daripada ruku’ pertama. Setelah itu beliau sujud. Pada rakaat berikutnya, beliau melakukan perbuatan yang sama hingga sempurnalah empat ruku’ dan empat sujud. Setelah itu matahari muncul seperti biasanya, yaitu sebelum beliau pulang ke rumah. Beliau terus berdiri dan menyampaikan khutbah, memuji Allah dengan puji-pujian yang layak bagi-Nya. Tak lama kemudian, beliau bersabda, “Sesungguhnya matahari dan bulan merupakan dua tanda kekuasaan Allah Azza wa Jalla. Terjadinya gerhana matahari atau bulan itu bukanlah karena kematian seseorang atau kehidupannya. Oleh karena itu, jika kau menyaksikan gerhana bergegaslah untuk mengerjakan shalat.” (HR. Muslim)

Ibnu Abbas juga meriwayatkan hadits sholat gerhana bulan sebagaimana dicantumkan Imam Al Bukhari dan Imam Muslim dalam kitab shahih beliau:

Dari Abdullah bin Abbas, bahwa pada suatu hari terjadi gerhana matahari. Lalu Rasulullah berdiri untuk mengerjakan sholat. Beliau berdiri lama sekali, kira-kira sepanjang bacaan surat Al-Baqarah, kemudian beliau ruku’ juga sangat lama. Lalu berdiri kembali dengan waktu yang sangat lama, tetapi lebih pendek dibandingkan dengan waktu berdiri yang pertama tadi. Kemudian beliau ruku’ lagi yang lamanya lebih pendek daripada ruku’ pertama. Lalu beliau sujud. Selanjutnya beliau berdiri lagi dan waktu berdirinya sangat lama hingga hampir menyamai rakaat pertama. Setelah itu beliau ruku’ dan lamanya hampir sama dengan ruku’ yang pertama. Lalu berdiri lagi, tetapi lebih pendek dibanding dengan berdiri yang pertama. Kemudian ruku’ lagi yang lamanya lebih pendek daripada ruku’ pertama, dan kemudian sujud. Setelah Nabi mengerjakan sholat, matahari telah kembali normal seperti biasa. Beliau bersabda, “Sesungguhnya matahari dan bulan itu adalah dua tanda kekuasaan Allah. Terjadinya gerhana matahari dan bulan itu bukanlah karena kematian atau kehidupan seeorang. Maka jika engkau melihatnya, ingatlah dan berzikirlah kepada Allah (HR. Bukhari dan Muslim)
Ibnu Abdil Barr mengatakan, “dua hadits di atas adalah hadits paling shahih mengenai sholat gerhana.”
Ibnu Qayyim mengatakan, “Hadits yang shahih, sharih, dan dapat dipakai sebagai pegangan dalam masalah sholat gerhana adalah dengan mengulangi ruku’ setiap rakaat, berdasarkan hadits Aisyah, Ibnu Abbas, Jabir, Ubay bin Ka’ab, Abdullah bin Amr bin Ash, dan Abu Musa Al Atsari. Semua meriwayatkan hadits dari Nabi SAW bahwa ruku’nya diulang dua kali dalam tiap raka’at. Para perawi yang meriwayatkan berulangnya ruku’ itu lebih banyak jumlahnya, lebih dapat dipercaya, dan lebih erat hubungannya dengan Rasulullah jika dibandingkan dengan perawi-perawi yang mengatakan tidak perlu melakukan ruku’ secara berulang-ulang. Begitu pula pendapat mazhab Maliki, Syafi’i, dan Ahmad. Tetapi Abu Hanifah berpendapat bahwa sholat gerhana itu adalah dua rakaat dan mengerjakannya seperti sholat Hari Raya atau Sholat Jum’at.

Ringkasan Tata Cara Sholat Gerhana Bulan

Secara ringkas, tata cara sholat gerhana bulan adalah sebagai berikut :

  1. Niat (tanpa perlu melafalkannya dalam kalimat tertentu dalam bahasa Arab atau dalam bahasa apapun, karena Nabi  tidak mencontohkan)
  2. Takbiratul Ikram
  3. Membaca surat Al Fatihah dan surat lainnya, disunnahkan yang panjang dan dibaca jahr (keras) oleh Imam ketika sholat gerhana bulan berjama’ah
  4. Ruku’ (disunnahkan waktu ruku’ lama, seperti waktu berdiri)
  5. Berdiri lagi kemudian membaca Al Fatihah dan surat lainnya (disunnahkan lebih pendek daripada sebelumnya)
  6. Ruku’ lagi (dengan waktu ruku’ disunnahkan lebih pendek dari ruku’ pertama)
  7. I’tidal
  8. Sujud
  9. Duduk diantara dua sujud
  10. Sujud kedua
  11. Berdiri lagi (rakaat kedua), membaca surat Al Fatihah dan lainnya (disunnahkan yang panjang)
  12. Ruku’ (disunnahkan waktu ruku’ lama, seperti waktu berdiri)
  13. Berdiri lagi kemudian membaca Al Fatihah dan surat lainnya (disunnahkan lebih pendek daripada sebelumnya)
  14. Ruku’ lagi (dengan waktu ruku’ disunnahkan lebih pendek dari ruku’ pertama)
  15. I’tidal
  16. Sujud
  17. Duduk diantara dua sujud
  18. Sujud kedua
  19. Duduk Tahiyah akhir
  20. Salam

Keterangan :

Sebelum sholat gerhana, tidak perlu dikumandangkan adzan dan iqamat, tetapi cukup “Assholaatu jaami’ah” sebagaimana hadits yang diriwayatkan Abdullah bin Amru bin Ash ra., ia berkata: Tatkala gerhana matahari terjadi di masa Rasulullah saw. (manusia) diseru dengan seruan: “as-shalaatu jaami`atan” (marilah salat berjamaah). Rasulullah saw. melakukan dua kali rukuk dalam satu rakaat. Kemudian berdiri dan melakukan dua kali rukuk dalam satu rakaat (yang terakhir). Kemudian matahari nampak kembali. (Shahih Muslim No.1515)

Rujuk:

  1. ayoshalat.blogspot.com
  2. albelurani.blogspot.com
  3. hadith.al-islam.com

Iklan

Menuju Gerhana Bulan Total Rabu 8 Oktober 2014

Sekedar mengingatkan kembali, bahwa besok tanggal 08 Oktober 2014 akan terjadi Gerhana Bulan Total. Dan disarankan bagi setiap ummat Muslim untuk melaksanakan shalat gerhana sebagai bukti ketaatan, ketakutan kita kepada Tuhan Yang Maha Pencipta. Dan shalat ini menjadi pembeda kita dari ummat-ummat yang lain.

GERHANA BULAN 1Abu Bakrah berkata, “Kami berada di sisi Rasulullah lalu terjadi gerhana matahari. Maka, Nabi berdiri dengan mengenakan selendang beliau (dalam satu riwayat: pakaian beliau sambil tergesa-gesa 7/34) hingga beliau masuk ke dalam masjid, (dan orang-orang pun bersegera ke sana 2/31), lalu kami masuk. Kemudian beliau shalat dua rakaat bersama kami hingga matahari menjadi jelas. Beliau menghadap kami, lalu bersabda, ‘Sesungguhnya matahari dan bulan adalah dua dari tanda-tanda kekuasaan Allah, dan sesungguhnya keduanya (2/31) bukan gerhana karena meninggalnya seseorang. Akan tetapi, Allah ta’ala menakut-nakuti hamba-hamba-Nya dengannya. Oleh karena itu, apabila kamu melihatnya, maka shalatlah dan berdoalah sehingga terbuka apa (gerhana) yang terjadi padamu.'” (Hal itu karena putra Nabi (ﷺ) yang bernama Ibrahim meninggal dunia, kemudian terjadi gerhana. Lalu, orang-orang berkomentar bahwa gerhana itu terjadi karena kematian Ibrahim itu. Hal ini lantas disanggah Rasulullah dengan sabda beliau itu.) (Ringkasan Shahih Bukhari – M. Nashiruddin Al-Albani – Gema Insani Press)
Wallahu a’lam.

Ekliptika

Seperti telah diduga Umat Islam di Indonesia pun mengumandangkan takbir merayakan Idul Adha 1435 H pada saat yang berbeda setelah Menteri Agama Lukman Saifuddin menetapkan 1 Zulhijjah 1435 H di Indonesia bertepatan dengan Jumat 26 September 2014. Keputusan ini berdasar pada hasil sidang itsbat penetapan Idul Adha 1435 H di Kementerian Agama RI yang kali ini kembali bersifat tertutup untuk umum. Dengan keputusan tersebut maka Kementerian Agama RI menetapkan Idul Adha 1435 H bertepatan dengan Minggu 5 Oktober 2014. Dalam konteks regional, keputusan Menteri Agama RI senada dengan keputusan sejumlah negara Asia Tenggara seperti Malaysia dan Brunei Darussalam maupun komunitas Umat Islam seperti di Singapura dan Filipina.

Namun sebagian Umat Islam Indonesia merayakannya lebih dulu pada Sabtu 4 Oktober 2014. Dasarnya adalah maklumat Pengurus Pusat Muhammadiyah terkait penetapan Idul Adha 1435 H (2014). Selain itu ada pula yang mengacu keputusan pemerintah kerajaan Saudi Arabia dimana 1 Zulhijjah 1435 H di…

Lihat pos aslinya 2.028 kata lagi

SYARIAT SEPUTAR IEDUL ADHA

Oleh: Amin Saefullah Muchtar

Amin Saefullah MuchtarPada 12 bulan hijriah terdapat 4 bulan yang ditetapkan oleh Allah kehormatannya. Allah berfirman:

إِنَّ عِدَّةَ الشُّهُورِ عِنْدَ اللَّهِ اثْنَا عَشَرَ شَهْرًا فِي كِتَابِ اللَّهِ يَوْمَ خَلَقَ السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضَ مِنْهَا أَرْبَعَةٌ حُرُمٌ

Sesungguhnya bilangan bulan pada sisi Allah adalah dua belas bulan, dalam ketetapan Allah di waktu Dia menciptakan langit dan bumi, di antaranya empat bulan haram (terhormat). (QS. At-Taubah:36)

Bulan haram yang dimaksud adalah bulan Dzulqa`dah, Dzulhijjah, Muharram dan Rajab. (H.r. Al-Bukhari). Penghormatan terhadap bulan-bulan ini, khususnya bulan Dzulhijjah, antara lain terkait dengan syariat ibadah haji.

Bagi orang yang tidak melaksanakan haji, ada ibadah lain yang ditetapkan oleh Allah sebagai wujud dari memelihara kehormatan bulan Dzulhijjah, yaitu

Shaum  Arafah

عَنْ أَبِي قَتَادَةَ قَالَ : قَالَ رَسُولُ اللهِ صلى الله عليه وسلم : صَوْمُ يَوْمِ عَرَفَةَ يُكَفِّرُ سَنَتَيْنِ مَاضِيَةً وَمُسْتَقْبِلَةً ، وَصَوْمُ عَاشُوراَءَ يُكَفِّرُ سَنَةً مَاضِيَةً . – رواه الجماعة إلا البخاري والترمذي

Artinya :Dari Abu Qatadah, ia berkata,”Rasulullah saw. telah bersabda,’Shaum Hari Arafah itu akan mengkifarati (menghapus dosa) dua tahun, yaitu setahun yang telah lalu dan setahun kemudian. Sedangkan shaum Asyura akan mengkifarati setahun yang lalu” H.r. Al-Jama’ah kecuali Al-Bukhari dan At-Tirmidzi (Lihat, Ahmad, Musnad Ahmad, XXXVII:222, No. hadis 22.535,  Muslim, Shahih Muslim, I:520, An-Nasai, As-Sunan Al-Kubra, II:150, No. hadis 2796, Ibnu Majah, Sunan Ibnu Majah, II:340, 343, Ath-Thabrani, Al-Mu’jam Al-Awsath, VI:300, No. hadis 5642)

Hadis ini diriwayatkan pula oleh Ath-Thabrani dari Sahabat Zaid bin Arqam, Sahl bin Saad, Qatadah bin Nu’man, Ibnu Umar, dan Abu Sa’id Al-Khudriy. Dalam versi Abu Sa’id Al-Khudriy dengan redaksi

عَنْ أَبِي سَعِيدٍالخُدِرِيِّ قَالَ : قَالَ رسول الله صلى الله عليه وسلم صَوْمُ يَوْمِ عَرَفَةَ كَفَّارَةُ السَّنَةِ المَاضِيَةِ وَالسَّنَةِ المُسْتَقْبِلَةِ . – رواه الطبراني

Artinya : Dari Abu Said, dari Nabi saw. Shaum Arafah itu merupakan kifarat tahun yang telah lalu dan tahun yang akan datang. (H.r. Ath-Thabrani, Al-Mu’jam Al-Awsath, III:45. No. hadis 2086)

Takbiran Iedul Adha

Selain Shaum sunat Arafah, pada bulan Dzulhijjah kaum muslimin juga disyariatkan untuk bertakbir. Bertakbir dilakukan sejak subuh 9 Dzulhijjah hingga ashar 13 dzulhijjah. Membacanya tidak terus menerus, melainkan bila ada kesempatan, baik ketika berkumpul di masjid atau di rumah masing-masing. Hal itu sebagaimana dijelaskan dalam hadis sebagai berikut:

عَنْ عَلِيٍّ وَعَمَّارِ أَنَّ النَّبِيَّ  صلى الله عليه وسلم… وَكَانَ يُكَبِّرُ مِنْ يَوْمِ عَرَفَةَ بَعْدَ صَلاَةَ الْغَدَاةِ وَيَقْطَعُهَا صَلاَةَ الْعَصْرِ آخِرَ أَيَّامِ التَّشْرِيْقِ

Dari Ali dan Ammar sesungguhnya Nabi saw… dan beliau bertakbir sejak hari Arafah setelah salat shubuh dan menghentikannya pada salat Ashar di akhir hari tasyriq (13 Dzulhijjah). (H.r. Al-Hakim, Al-Mustadrak, I:439; Al-Baihaqi, As-Sunan Al-Kubra, III:312)

Bagi Calon Qurbani: Makruh Memotong Rambut dan Kuku 

عَنْ أُمِّ سَلَمَةَ أَنَّ النَّبِيَّ صَلَّى اللَّه عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ إِذَا دَخَلَتِ الْعَشْرُ وَأَرَادَ أَحَدُكُمْ أَنْ يُضَحِّيَ فَلَا يَمَسَّ مِنْ شَعَرِهِ وَبَشَرِهِ شَيْئًا رواه مسلم

Dari Umi Salamah bahwasannya Nabi saw. bersabda, “Apabila masuk sepuluh hari (bulan Dzulhijjah) sedangkan salah seorang di antara kalian hendak berkurban maka janganlah menyentuh (janganlah memotong) rambut dan kukunya sedikitpun. (H.R. Muslim)

Dalam redaksi lain

إِذَا دَخَلَ الْعَشْرُ وَعِنْدَهُ أُضْحِيَّةٌ يُرِيدُ أَنْ يُضَحِّيَ فَلَا يَأْخُذَنَّ شَعْرًا وَلَا يَقْلِمَنَّ ظُفُرًا رواه مسلم

Apabila masuk sepuluh hari (bulan Dzulhijjah) sedangkan ia mempunyai hewan kurban yang hendak dikubankan (disembelih) maka janganlah memotong rambut dan kukunya. (H.r. Muslim)

إِذَا رَأَيْتُمْ هِلَالَ ذِي الْحِجَّةِ وَأَرَادَ أَحَدُكُمْ أَنْ يُضَحِّيَ فَلْيُمْسِكْ عَنْ شَعْرِهِ وَأَظْفَارِهِ رواه مسلم

Apabila kalian melihat Hilal (tanggal 1 ) Dzulhijjah sedangkan salah seorang diantara kalian hendak berkurban maka peganglah (janganlah memotong) rambut dan kukunya. (H.r. Muslim)

Penjelasan lebih lengkap dapat dibaca pada makalah terpisah.

Amaliah Ketika Iedul Adha

Qurban

Qurban merupakan salah satu bagian dari Ibadah nusuk, yakni ibadah dalam bentuk sembelihan. Ibadah nusuk terbagi kepada tiga macam:

Pertama, al-Hadyu, yaitu menyembelih binatang tertentu yang disyariatkan bagi hujjaj (orang yang beribadah haji). Dan hadyu itu adalah rangkaian dari ibadah haji.

Kedua, al-Udhhiyyah atau yang biasa disebut kurban,  yaitu menyembelih binatang tertentu yang disyariatkan bagi orang yang tidak sedang beribadah haji.

Udhhiyyah, Idhhiyyah, Dhahiyyah, Dhihiyyah, Adhhat, Idhhat dan Dhahiyyah maknanya sama, yaitu binatang yang disembelih dengan tujuan taqarrub (mendekatkan diri) kepada Allah pada hari Iedul Adhha sampai akhir hari-hari tasyriq. Kata itu diambil dari kata dhahwah yang berarti waktu dhuha. Disebut demikian, dilihat dari awal waktu pelaksanaan yaitu waktu dhuha (Lihat, Lisanul ’Arab, XIX:211, Mu’jam Al-Wasith, I:537)

Baik al-hadyu maupun al-Udhiyyah terikat oleh miqat zamani (ketentuan waktu), yaitu tanggal 10 hingga 13 Dzulhijjah sebelum maghrib. Namun berbeda dengan udlhiyah yang dapat disembelih dimana saja, al-hadyu terikat pula oleh miqat makani (ketentuan tempat), yaitu wajib disembelih di kota Mekah, dan apabila hadyu tidak dilaksanakan di Mekah maka hajinya tidak sah.

Ketiga, al-Aqiqah,  yaitu menyembelih binatang tertentu pada hari ke-7 dari kelahiran seorang anak.

Karena qurban itu termasuk nusuk, maka terikat dengan berbagai ketentuan yang berhubungan dengan jenis binatang, cara dan waktu penyembelihan, termasuk pendistribusiannya

Hukum Berkurban

Para ulama berbeda pendapat tentang hukum berkurban, ada yang berpendapat wajib dan ada pula yang berpendapat sunnah mu’akkadah. Namun mereka sepakat bahwa amalan mulia ini memang disyariatkan. (Lihat, Hasyiyah Asy-Syarh Al-Mumti’, VII:519). Sehingga tak sepantasnya bagi seorang muslim yang mampu untuk meninggalkannya, karena amalan ini banyak mengandung unsur penghambaan diri kepada Allah, taqarrub, syiar kemuliaan Islam dan manfaat besar lainnya.

Ureman kurban

Untuk tiap orang dianjurkan berqurban satu ekor kambing dan bila yang diqurbankannya itu unta mencukupi dari sepuluh orang. Sedangkan sapi mencukupi dari tujuh orang, sebagaimana diterangkan dalam hadis berikut ini:

عَنِ ابْنِ عَبَّاسٍ قَالَ : كُنَّا مَعَ رَسُولِ اللهِ  صَلَّى اللَّه عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فِى سَفَرٍ فَحَضَرَ الأَضْحَى فَاشْتَرَكْنَا فِى الْبقَرَةِ سَبْعَةً وَفِى الْبَعِيْرِعَشْرَةً. -رواه الترمذي

Dari Ibnu Abbas, ia berkata, “Kami bersama Rasululah saw. dalam perjalanan, maka tiba waktu iedul Adha, lalu kami patungan untuk seekor sapi tujuh orang dan seekor unta untuk sepuluh orang.” H.R. At-Tirmidzi

Syarat Umur dan kondisi Hewan Kurban

Ketentuan hewan Qurban telah ditegaskan oleh Nabi saw sebagaimana diterangkan dalam hadis-hadis berikut ini:

عَنْ جَابِرٍ قَالَ : قَالَ رَسُولُ اللهِ صَلَّى اللَّه عَلَيْهِ وَسَلَّمَ : لاَ تَذْبَحُوا اِلاَّ مُسِنَّةً اِلاَّ أَنْ يَعْسُرَ عَلَيْكُمْ فَتَذْبَحُوا جَدْعَةً مِنَ الضَّأْنِ. -رواه ابو داود

Dari Jabir, ia berkata, “Rasulullah saw. bersabda, ‘Janganlah kamu menyembelih hewan kurban kecuali yang musinnah (cukup umurna), sekiranya menyusahkan atas kamu maka sembelihlah kambing jadz’ah.” Hr. Abu Dawud

Kata Ibnu Malik, “Arti asal al-Musinnah hiya al-kabirah bis sinni (tua umurna). Standar usia musinnah tergantung jenis hewannya. Apabila jenis Unta berarti berumur 5 tahun masuk tahun ke-6. Sapi berumur 2 tahun masuk tahun ke-3. Domba/kambing berumur 1 tahun (Lihat, Aunul Ma’bud, juz VII:352-353).

Sedangkan arti asal jad’un muda umurnya. Standar usia jad’un juga tergantung jenis hewannya. Jenis unta berumur maju ke 5 th. Sapi berumur maju ke-2. Domba/kambing berumur 6 bulan. (Lihat, Taudhihul Ahkam syarah Bulughul Maram, VII:87)

Keterangan di atas menunjukkan bahwa Qurban tidak sah bila hewannya bukan unta, sapi, atau domba/kambing. Adapun kerbau termasuk jins al-baqar (jenis sapi). Hewan-hewan tersebut disyariatkan cukup umur.

Perihal berqurban dengan binatang jenis betina, kita belum mendapatkan keterangan dari Rasulullah yang melarang berqurban dengan betina. Adapun keterangan yang sharih, yang tegas-tegas menerangkan akan bolehnya betina dijadikan qurban ialah dalam aqiqah.

Ummu Karzin pernah bertanya kepada Rasulullah perihal aqiqah, maka Rasulullah bersabda:

نَعَمْ, عَنِ الغُلاَمِ شَاتَانِ وَعَنِ الأُنْثَى وَاحِدَةً, لاَ يَضُرُّكُمْ ذُكْرَنًا كُنَّ أَوْ إِنَاثًا

“Ya, bagi anak laki-laki dua kambing dan bagi anak perempuan satu, dan tidak mengapa kambing jantan atau betina”. Hr. Ahmad dan At-Tirmidzi

Orang tidak biasa menyembelih qurban dengan binatang jenis betina, mungkin mengingat akan kelanjutan keturunan binatang termaksud. Sebab dengan adanya penyembelihan binatang jenis betina yang terlampau banyak dapat mengakibatkan kekurangan ternak, bahkan dapat mengakibatkan musnah atau habisnya keturunan ternak termaksud.

Selain jenis hewan, disyariatkan pula tentang kondisi hewan tersebut sebagaimana diterangkan dalam hadis berikut ini:

عَنِ الْبَرَّاءِ بْنِ عَازِبٍ قَالَ : قَالَ رَسُولُ اللهِ صَلَّى اللَّه عَلَيْهِ وَسَلَّمَ أَرْبَعٌ لاَ تَجُوزُ فِى الضَّحَايَا العَوْرَاءُ الْبَيِّنُ عَوْرُهَا وَالْمَرِيْضَةُ الْبَيِّنُ مَرَضُهَا االْعَرْجَاءُ الْبَيِّنُ ضَلْعُهَا وَالْكَسِيْرُ الَّتِى لاَ تُنْقِى. رواه الخمسة

Dari Bara bin ‘Azib, “Rasulullah saw. telah bersabda, ‘Empat (cacat) yang tidak boleh dipakai qurban: Juling atau buta sebelah yang benar-benar julingnya, sakit yang benar-benar sakitnya, pincang yang benar-benar pincangnya, dan hewan yang telah tua yang sudah tidak bersumsum lagi.” H.r. Al-Khamsah (Imam yang lima)

Pada dasarnya hadis di atas hendak menegaskan bahwa berqurban itu harus dengan binatang yang baik, sehat, gemuk, dan tidak ada cacat pada tubuhnya. Bagaimana halnya dengan kambing yang dikebiri ? Kambing yang dikebiri tidaklah termasuk cacat. Dalam riwayat Ahmad dan at-Tirmidizi ada diriwayatkan dari Siti Aisyah, bahwasanya Rasulullah pernah berqurban dengan dua kibasy yang gemuk, bertanduk dan telah dikebiri (mawjuain).

Syarat Waktu Penyembelihan

عَنْ أَنَسِ بْنِ مَالِكٍ رَضِي اللَّهُ عَنْهُ قَالَ قَالَ النَّبِيُّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ مَنْ ذَبَحَ قَبْلَ الصَّلَاةِ فَإِنَّمَا ذَبَحَ لِنَفْسِهِ وَمَنْ ذَبَحَ بَعْدَ الصَّلَاةِ فَقَدْ تَمَّ نُسُكُهُ وَأَصَابَ سُنَّةَ الْمُسْلِمِينَ  رواه البخاري

Dari Anas r.a. ia berkata, “Nabi saw. telah bersabda, ’siapa yang menyambelih qurban sebelum salat ied, ia kurban untuk dirinya (bukan ibadah). Dan siapa yang menyembelih setelah salat, telah sempurna ibadahnya dan sesuai sunnah muslimin.’” H.r. al-Bukhari

عَنْ اَنَسٍ قَالَ : قَالَ رَسُولُ اللهِ صَلَّى اللَّه عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَوْمَ النَّحْرِ : مَنْ كَانَ ذَبَحَ قَبْلَ الصَّلاَةِ فَلْيُعِدْ متفق عليه

Dari Anas r.a. ia berkata, “Nabi saw. telah bersabda, ‘Pada hari raya qurban, siapa yang menyambelih qurban sebelum salat ied, maka hendaklah ia mengulangi lagi.” Muttafaq Alaih.

KETIKA USIA 40 TIBA

Oleh: Ustadz Azhar Idrus

Ramai tidak sedar dalam al-Quran ada menyentuh tentang usia ini. Tentu ada yang sangat penting, perlu diperhatikan dan diambil serius akan perkara ini. Allah swt. berfirman,

حَتَّى إَذَا بَلَغَ أَشُدَّهُ وَبَلَغَ أَرْبَعِيْنَ سَنَةً قَالَ رَبِّ أَوْزِعْنِى أَنْ أَشْكُرَ نِعْمَتَكَ الَّتِى أَنْعَمْتَ عَلَيَّ وَعَلَى وَالِدَيَّ وَأَنْ أَعْمَلَ صَالِحًا تَرْضَاهُ وَأَصْلِحْ لِى فِى ذُرِّيَّتِى إِنِّى تُبْتُ إِلَيْكَ وَإِنِّى مِنَ الْمُسْلِمِيْنَ

“Apabila dia telah dewasa dan usianya sampai empat puluh tahun, ia berdoa, “Ya Tuhanku, tunjukkanlah aku jalan untuk mensyukuri nikmat Engkau yang telah Engkau berikan kepadaku dan kepada ibu bapaku dan supaya aku dapat berbuat amal yang soleh yang engkau redhai; berilah kebaikan kepadaku dengan (memberi kebaikan) kepada anak cucuku. Sesungguhnya aku bertaubat kepada Engkau dan sesungguhnya aku termasuk orang-orang muslim.” (al-Ahqaf: 15)

KETIKA USIA 40 TIBAUsia 40 tahun disebut dengan jelas dalam ayat ini. Pada usia inilah manusia mencapai puncak kehidupannya baik dari segi fizikal, intelektual, emosi, mahupun spiritualnya. Benar-benar telah meninggalkan usia mudanya dan melangkah ke usia dewasa yang sebenar.

Doa yang terdapat dalam ayat tersebut dianjurkan untuk dibaca oleh mereka yang berusia 40 tahun dan ke atas. Di dalamnya terkandung penghuraian yang jelas bahawa mereka; telah menerima nikmat yang sempurna, kecenderungan untuk beramal yang positif, telah mempunyai keluarga yang harmoni, kecenderungan untuk bertaubat dan kembali kepada Allah

Pada ayat yang lain, firman Allah;

أَوَلَمْ نُعَمِّرْكُمْ مَا يَتَذَكَّرُ فِيْهِ مَنْ تَذَكَّرَ وَجَاءَكُمُ النَّذِيْرُ

Apakah Kami tidak memanjangkan umurmu dalam tempoh yang cukup untuk berfikir bagi orang-orang yang mahu berfikir, dan (apakah tidak) datang kepadamu pemberi peringatan? (al-Fathir: 37)

Menurut Ibnu Abbas, Hasan al-Bashri, al-Kalbi, Wahab bin Munabbih, dan Masruq, yang dimaksud dengan “umur panjang dalam tempoh yang cukup untuk berfikir” dalam ayat tersebut tidak lain adalah ketika berusia 40 tahun.

Menurut Ibn Kathir, ayat ini memberikan petunjuk bahawa manusia apabila menjelang usia 40 tahun hendaklah memperbaharui taubat dan kembali kepada Allah dengan bersungguh2.

Apabila itu berlaku menjelang usia 40 tahun, maka Allah memberikan janjiNya dalam ayat selepas itu: (maksudnya) Kematangan.

Usia 40 tahun adalah usia matang untuk kita bersungguh-sungguh dalam hidup. Mengumpulkan pengalaman, menajamkan hikmah dan kebijaksanaan, membuang kejahilan ketika usia muda, lebih berhati-hati, melihat sesuatu dengan hikmah dan penuh penelitian. Maka tidak hairan tokoh-tokoh pemimpin muncul secara matang pada usia ini. Bahkan Nabi s.a.w, seperti yang disebut oleh Ibn ‘Abbas:

“Dibangkitkan Rasulullah s.a.w pada usia 40 tahun” (riwayat al-Bukhari).
Nabi Muhammad saw. diutus menjadi nabi tepat pada usia 40 tahun. Begitu juga dengan nabi2 yang lain, kecuali Nabi Isa as. dan Nabi Yahya as.

Banyak negara menetapkan untuk menduduki jabatan2 elit seperti ketua negara, disyaratkan bakal calon harus telah berusia 40 tahun. Masyarakat sendiri mengakui prestasi seseorang mantap tatkala orang itu telah berusia 40 tahun. Soekarno menjadi presiden pada usia 44 tahun. Soeharto menjadi presiden pada umur 46 tahun. J.F. Kennedy 44 tahun. Bill Clinton 46 tahun. Paul Keating 47 tahun. Sementara Tony Blair 44 tahun.

Mengapa umur 40 tahun begitu penting.

Menurut Ibnu Qayyim Al-Jauziyah usia manusia diklasifikasikan menjadi 4 (empat) period, iaitu
1. Kanak-kanak ( sejak lahir hingga akil baligh )
2. Muda atau syabab ( sejak akil baligh hingga 40 tahun )
3. Dewasa ( 40 tahun hingga 60 tahun )
4. Tua atau syaikhukhah ( 60 tahun hingga mati )

Usia 40 tahun adalah usia ketika manusia benar-benar meninggalkan masa mudanya dan beralih kepada masa dewasa penuh. Kenyataan yang paling menarik pada usia 40 tahun ini adalah meningkatnya minat seseorang terhadap agama sedangkan semasa mudanya jauh sekali dengan agama. Seolah-olah macam satu fitrah di usia ini ramai yang mula menutup aurat dan mendekati kuliah-kuliah agama.

Salah satu keistimewaan usia 40 tahun tercermin dari sabda Rasulullah saw.,

لعَبْدُ الْمُسْلِمُ إِذَا بَلَغَ أَرْبَعِيْنَ سَنَةً خَفَّفَ اللهُ تَعَالَى حِسَابَهُ ، وَإِذَا بَلَغَ سِتِّيْنَ سَنَةً رَزَقَهُ اللهُ تَعَالَى الْإِنَابَةَ إِلَيْهِ ، وَإِذَا بَلَغَ سَبْعِيْنَ سَنَةً أَحَبَّهُ أَهْلُ السَّمَاءِ ، وَإِذَا بَلَغَ ثَمَانِيْنَ سَنَةً ثَبَّتَ اللهُ تَعَالَى حَسَنَاتِهِ وَمَحَا سَيِّئَاتِهِ ، وَإِذَا بَلَغَ تِسْعِيْنَ سَنَةً غَفَرَ اللهُ مَا تَقَدَّمَ مِنْ ذَنْبِهِ وَمَا تَأَخَّرَ وَشَفَّعَهُ اللهُ تَعَالَى فِى أَهْلِ بَيْتِهِ ، وَكَتَبَ فِى السَّمَاءِ أَسِيْرَ اللهِ فِى أَرْضِهِ – رواه الإمام أحمد

“Seorang hamba muslim bila usianya mencapai 40 tahun, Allah akan meringankan hisabnya (perhitungan amalnya). Jika usianya mencapai 60 tahun, Allah akan memberikan anugerah berupa kemampuan kembali (bertaubat) kepadaNya. Bila usianya mencapai 70 tahun, para penduduk langit (malaikat) akan mencintainya. Jika usianya mencapai 80 tahun, Allah akan menetapkan amal kebaikannya dan menghapus amal keburukannya. Dan bila usianya mencapai 90 puluh tahun, Allah akan mengampuni dosa-dosanya yang telah lalu dan dosa-dosanya yang dahulu, Allah juga akan memberikan pertolongan kepada anggota keluarganya, serta Allah akan mencatatnya sebagai tawanan Allah di bumi. (riwayat Ahmad)

Hadis ini menyebut usia 40 tahun paling awal memiliki komitmen terhadap penghambaan kepada Allah swt. sekaligus konsisten terhadap Islam, maka Allah swt. akan meringankan hisabnya. Orang yang usianya mencapai 40 tahun mendapatkan keistimewaan berupa hisabnya diringankan. Tetapi umur 40 tahun merupakan saat harus berhati2 juga. Ibarat waktu, orang yang berumur 40 tahun mungkin sudah masuk senja. Abdullah bin Abbas ra. dalam suatu riwayat berkata, “Barangsiapa mencapai usia 40 tahun dan amal kebajikannya tidak mantap dan tidak dpt mengalahkan amal keburukannya, maka hendaklah ia bersiap-siap ke neraka.”

Imam asy-Syafi’i tatkala mencapai usia 40 tahun, beliau berjalan sambil memakai tongkat. Jika ditanya, jawab beliau, “Agar aku ingat bahwa aku adalah musafir. Demi Allah, aku melihat diriku sekarang ini seperti seekor burung yang dipenjara di dalam sangkar. Lalu burung itu lepas di udara, kecuali telapak kakinya saja yang masih tertambat dalam sangkar. Komitmenku sekarang seperti itu juga. Aku tidak memiliki sisa2 syahwat untuk menetap tinggal di dunia. Aku tidak berkenan sahabat-sahabatku memberiku sedikit pun sedekah dari dunia. Aku juga tidak berkenan mereka mengingatkanku sedikit pun tentang hiruk pikuk dunia, kecuali hal yang menurut syara’ lazim bagiku. Di antara aku dan dia ada Allah.”

Lantas, apa yang harus kita lakukan menginjak usia 40 tahun?
1. Meneguhkan tujuan hidup
2. Meningkatkan daya spiritual
3. Menjadikan uban sebagai peringatan
4. Memperbanyak bersyukur
5. Menjaga makan dan tidur
6. Menjaga istiqamah dalam ibadah.

Jika ada yang mengatakan bahawa: Life began at forty, saya cenderung berpendapat kehidupan yang dimaksudkan ialah kehidupan terarah kepada mendekatkan diri kepada penciptaNya dengan sebenar-benarnya. Tetapi satu perkara yang kita harus sentiasa sedar bahawa kematian memanggil kita bila-bila masa tanpa tanda, tanpa alamat dan tanpa mengira usia. Jika kita beranggapan harus menunggu usia 40 tahun untuk baru memulakan kehidupan yang dimaksudkan di atas, maka rugi dan sia-sia lah hidup kita jika umur kita tidak panjang.

Maksud sabda Nabi Muhammad S.A.W ,” Orang yang bijak adalah orang yang selalu mengingati mati”.

Ramai manusia tertipu dengan keindahan dunia dan isinya yang bersifat sementara. Sejak Nabi Adam as. sehingga kini, kesemuanya telah kembali kepada Allah swt. tidak kira kaya atau miskin, berpangkat atau tidak. Mengingati mati bukan bermakna kita akan gagal di dunia tetapi dengan mengingati mati kita akan menjadi insan yang berjaya di dunia dan di akhirat. janganlah menunggu sehingga esok untuk membuat persediaan menghadapi kematian, kerana mati boleh datang pada bila-bila masa..

Catatan:

Tulisan ini bersumber dari Ustadz Azhar Idrus. Disimpan disini agar pemilik blog dan pembaca sekalian dapat dengan mudah membukanya kembali. Selebihnya pemilik blog mengucapkan Jazakumullahu khaeron katsiron kepada Ustadz Azhar Idrus atas tulisannya yang bermanfaat ini dan semoga siapa pun yang membacanya dapat mengambil manfaat yang berlimpah. Aamiin.

KRITERIA ZAKAT TIJARAH (PERDAGANGAN DAN INDUSTRI) Bag 1& 2

Oleh: Amin Saefullah Muchtar

Pengertian dan Fungsi Zakat

Amin Saefullah MuchtarKata zakat secara bahasa berarti tumbuh, mensucikan atau memperbaiki. Kata itu mengacu pada kesucian diri yang diperoleh setelah pembayaran zakat dilaksanakan. Itulah kebaikan hati yang dimiliki seseorang manakala ia tidak bersifat kikir dan tidak mencintai harta kekayaannya semata-mata demi harta itu sendiri. Harta kekayaan memang disukai oleh setiap orang dan setiap orang mencintai kekayaannya serta sumber-sumber kekayaan lainnya, akan tetapi orang yang menafkahkan harta kekayaan ini untuk orang lain akan memperoleh kebajikan dan kesucian. Inilah pertumbuhan dan kebaikan yang sejati, yang ia peroleh dengan membayar sumbangan wajib yang dipungut atas kekayaannya dalam bentuk zakat. Aspek spiritual inilah yang menyebabkan zakat tidak diberlakukan atas non-Muslim. Sebab mereka tidak boleh dipaksa untuk melaksanakan tindakan ibadah apa pun yang diperintahkan oleh Islam. Aspek ini digambarkan di dalam surat al-Taubah:103

خُذْ مِنْ أَمْوَالِهِمْ صَدَقَةً تُطَهِّرُهُمْ وَتُزَكِّيهِمْ بِهَا وَصَلِّ عَلَيْهِمْ إِنَّ صَلَاتَكَ سَكَنٌ لَهُمْ وَاللَّهُ سَمِيعٌ عَلِيمٌ

Ambillah sedekah dari harta mereka untuk membersihkan dan mensucikan mereka”

Penerimaan zakat oleh Nabi dari penduduk yang dibicarakan di sini merupakan suatu tindakan pensucian dari dosa yang terkandung dalam harta kekayaan. Kata zakat itu sendiri menunjukkan bahwa harta kekayaan yang tidak dibelanjakan dengan cara bijaksana atas diri seseorang atau orang lain akan melahirkan kejahatan (dengan mendorong industri-industri yang tidak produktif, bermewah-mewah serta menciptakan persaingan dan pertarungan antar kelas) dalam masyarakat. Hanya apabila harta kekayaan dibelanjakan untuk hal-hal yang baiklah, maka ia dapat menumbuhkan dan mensucikan masyarakat dari kejahatan-kejahatannya (dengan mendorong pengembangan industri yang sehat, bermanfaat dan produktif).

Dalam surat al-Baqarah:265 dikatakan:

وَمَثَلُ الَّذِينَ يُنفِقُونَ أَمْوَالَهُمْ ابْتِغَاءَ مَرْضَاةِ اللَّهِ وَتَثْبِيتًا مِنْ أَنْفُسِهِمْ كَمَثَلِ جَنَّةٍ بِرَبْوَةٍ أَصَابَهَا وَابِلٌ فَآتَتْ أُكُلَهَا ضِعْفَيْنِ فَإِنْ لَمْ يُصِبْهَا وَابِلٌ فَطَلٌّ وَاللَّهُ بِمَا تَعْمَلُونَ بَصِيرٌ

Dan perumpamaan orang-orang yang membelanjakan hartanya karena mencari keridaan Allah dan untuk keteguhan jiwa mereka, seperti sebuah kebun yang terletak di dataran tinggi yang disiram oleh hujan lebat, maka kebun itu menghasilkan buahnya dua kali lipat. Jika hujan lebat tidak menyiraminya, maka hujan gerimis (pun memadai). Dan Allah Maha Melihat apa yang kamu perbuat.

Dapat dikatakan di sini bahwa Alquran telah mempergunakan kata-kata sadaqat, anfaq, dan zakat, sebagai pemberian pada orang lain. Sesungguhnya ketiganya merupakan aspek dari satu hal yang sama; tujuan sesungguhnya adalah melatih moral serta mensucikan jiwa manusia. Dua aspek yang pertama, yaitu sedekah dan infaq, bersifat bebas pilih, akan tetapi yang terakhir yaitu zakat adalah wajib bagi setiap Muslim. Dalam ayat tersebut dijelaskan tentang perumpamaan orang yang berhasil memanen buah dari pengorbanan-pengorbanan yang mereka lakukan (demi kebaikan masyarakat). Tindakan mereka menafkahkan hartanya untuk kebaikan telah ditunjukkan dalam ayat Alquran di atas sebagai menafkahkan harta kekayaan demi memperoleh keridlaan Allah dan untuk memperkuat jiwa mereka. Ini dengan jelas memberikan indikasi bahwa harta yang dinafkahkan demi kebaikan orang banyak tanpa mengharapkan suatu imbalan apa pun, mempunyai arti yang sangat signifikan. Sesungguhnya, zakat dinamakan demikian karena ia dapat membantu mensucikan jiwa manusia (dari sifat keakuan, kekikiran, dan cinta akan harta). Dengan demikian berarti membuka jalan untuk pengembangan dan perbaikan yang selanjutnya (melalui pengeluaran bagi orang lain). Zakat bukan semata-mata amal, akan tetapi suatu langkah yang perlu bagi kemajuan manusia. Orang kaya, dengan membantu anggota masyarakat miskin sesungguhnya telah menolong diri mereka sendiri. Mereka enggan untuk membantu membangun umat manusia. Dengan kata lain, mereka meninggalkan jalan utama kemajuan manusia dan tersesat pada jalan-jalan kecil yang tidak terhitung jumlahnya yang buntu serta sia-sia. Mereka tidak menghendaki jiwa mereka disucikan dari kejahatan yang terkandung dalam kemewahan. Pembayaran zakat merupakan ketaatan yang sejati pada Allah dan hasilnya akan tampak dalam karakter dan relasi orang-orang yang melakukan pemberian seperti itu.

Kata zakat, seperti telah dijelaskan di atas, memainkan dua fungsi penting. Pertama, ia mensucikan hati atau jiwa si pemberi dari kejahatan-kejahatan sifat kikir dan sebagai gantinya mendorong pemberian sedekah dan mengeluarkan barang atau harta yang baik. Orang yang betul-betul mengerti arti penting zakat akan bersifat sangat rendah hati dan takwa. Mereka akan melaksanakan segala hal yang baik di dunia ini hanya untuk menyenangkan Tuhan dan tidak akan pernah merasa tinggi hati lantaran perbuatan-perbuatan baiknya. Semuanya ini tercakup dalam perkataan zakat.

Kedua, ia akan mengantarkan suatu komunitas menuju perkembangan yang sehat. Zakat dapat mencegah segala pengaruh yang bersifat penghalang dan mendorong orang untuk ikut membantu mencapai kemajuan dalam bidang ekonomi. Dengan menjadikan zakat sebagai suatu kewajiban bagi setiap Muslim yang kaya agar menzakati harta kekayaannya, barang-barang komersial dan lain-lain, maka zakat sebenarnya sekaligus menjadi suatu rangsangan yang sangat kuat pada orang-orang untuk menginvestasikan modal mereka agar dapat berkembang dan dengan demikian akan meningkat seluruh kekayaan masyarakat. Kedua tujuan ini, pensucian jiwa dan pertumbuhan ekonomi, tercakup dalam kata zakat.

Selanjutnya, apabila perkataan zakat mengacu pada pensucian, maka ia mengandung dua pengertian, pertama, kata tersebut mengacu pada harta yang dinafkahkan untuk mendapatkan atau mencapai kesucian dan keutamaan jiwa. Kedua, ia menunjuk pada tindakan aktual pensucian. Orang yang membayar zakat sesungguhnya melaksanakan tindakan pensucian. Dalam arti ini, tindakan pensucian tidaklah terbatas hanya pada pembayaran zakat materi, tetapi juga mencakup pensucian jiwa, pensucian karakter, pensucian kehidupan, pensucian harta kekayaan dan sesungguhnya pensucian seluruh aspek kehidupan manusia.

Lagi pula, zakat tidaklah terbatas pada pensucian kehidupan diri seseorang, tetapi meluas di segala lingkup dan mencakup kehidupan seseorang yang berhubungan dengannya. Dengan kata lain, itu berarti bahwa orang yang membayar zakat adalah orang yang sesungguhnya melakukan pekerjaan pensucian.

Pertama, mereka mensucikan diri mereka sendiri, dan kemudian mereka membantu orang-orang lain untuk mencapai kesucian. Dengan demikian, mereka menumbuhkan kualitas kemanusiaan yang benar di dalam diri mereka dan kemudian berusaha membantu kualitas tersebut tumbuh dalam diri orang lain. Fungsi zakat ini digambarkan di beberapa tempat dalam Alquran al-Qur’an.

Pada surat al-A’la:14, ditunjukkan sebagai berikut:

قَدْ أَفْلَحَ مَنْ تَزَكَّى

“Sesungguhnya menanglah orang yang suci (hati)”

Sedangkan pada surat al-Syams:9-10 dikatakan:

قَدْ أَفْلَحَ مَنْ زَكَّاهَا # وَقَدْ خَابَ مَنْ دَسَّاهَا

“Sesungguhnya telah menanglah orang yang membersihkan (jiwanya). Dan merugilah orang yang mengotorinya”

Zakat berarti membuat sesuatu meningkat dan berkembang. Sementara dassa ha berarti menyembunyikan atau “menguburnya” dan tidak tidak membiarkannya berkembang. Dengan demikian, yang pertama mensucikan dan membantu proses pertumbuhan, sementara yang kedua mencegah pertumbuhan tersebut dan menyebabkan sesuatu terhenti dan rusak. Penggunaan kedua kata tersebut benar-benar menunjukkan bahwa indera yang sangat diperlukan untuk pertumbuhan, pengembangan dan penyempurnaan dianugerahkan pada setiap orang; sebagian orang membuatnya tumbuh dan berkembang melalui pemanfaatan dan pengembangan yang layak, sementara yang lainnya membuatnya terhenti dan layu dengan membiarkannya tetap digunakan, tidak berkembang dan terkubur, sebab tidak digunakan sebagaimana mestinya untuk kepentingan mereka.

Sedangkan secara istilah para ulama fikih telah menjelaskan pengertian zakat sebagai berikut:

الزَّكَاةُ : إِعْطَاءُ جُزْءٍ مَخْصُوْصٍ مِنْ مَالٍ مَخْصُوْصٍ بِوَضْعٍ مَخْصُوْصٍ لِمُسْتَحِقِّهِ

“Zakat adalah mengeluarkan bagian yang khusus dari harta yang khusus dengan ketentuan yang khusus bagi mustahiqnya”.

Fiqh Riba

Oleh : Ibnu Muchtar

Riba Dalam Alquran

Amin MuchtarKata riba dalam Alquran ditemukan sebanyak tujuh kali, yaitu pada surah Al-Baqarah ayat 275, 276, 278, dan 279, surah Ali Imran ayat 130, surah An-Nisa ayat 161, surah Ar-Rum ayat 39. Perlu diketahui bahwa larangan riba dalam Alquran tidak turun sekaligus, melainkan secara bertahap, yakni dalam empat tahap;

Tahap Pertama ar-Rum ayat 39

Ayat ini turun di Mekah, tidak mengharamkan secara jelas, hanya berupa penolakan terhadap anggapan bahwa pinjaman riba yang pada zahirnya seolah-olah menolong mereka yang memerlukan sebagai perbuatan taqarrub kepada Allah.

Tahap kedua an-Nisaa’ ayat 160-161

Ayat ini turun di Madinah sebelum tahun ke-3 hijriah. Ayat ini pun belum secara tegas mengharamkan riba, namun memberikan gambaran yang buruk sebagai ancaman yang keras terhadap orang Yahudi yang memakan riba.

Tahap ketiga Ali Imran ayat 130

Ayat ini turun di Madinah pada tahun ke-3 hijriah, untuk memberikan gambaran bahwa pengambilan riba dengan tingkat yang cukup tinggi merupakan fenomena yang banyak dipraktikan pada masa tersebut.

Tahap Akhir al-Baqarah ayat 278-279

Ayat ini turun di Madinah  pada tahun ke-9. Ayat ini dengan jelas dan tegas mengharamkan riba dalam jenis apapun.

Ketiga, surat Ali-Imran ayat 130 itu mengecam sistem riba jahiliyyah, yang biasa disebut riba nasi-ah. Riba nasi-ah ini sudah umum berlaku di zaman jahiliyyah, sebagaimana dijelaskan oleh Syekh Fakruddin ar-Razi sebagai berikut: “Adapun riba nasi-ah itu sudah masyhur dan sangat dikenal pada masa jahiliyyah, yaitu seseorang memberi hutang pada orang lain dengan syarat adanya tambahan tiap bulan, sedangkan modalnya tetap, jika jatuh tempo pembayaran hutangnya dan yang berhutang tidak dapat membayar hutangnya, maka pemberi hutang mengundurkan pembayarannya dengan tambahan lagi, dan inilah riba yang biasa dilakukan orang jahiliyyah.” Tafsir ar-Razie, juz IV, hal. 62  .

Pada sifat riba nasiah ini jelas sekali makna ad’aafan mudhaafatan itu adalah dengan transaksi yang tidak berbatas waktu, dan selama si peminjam itu tidak mampu membayar pada waktu yang disanggupi riba itu akan terus bertambah, sesuai dengan bertambahnya waktu. Ini adalah suatu kondisi atau cara transaksi yang sangat lalim dan aniaya. Dengan demikian ayat 130 surat Ali Imran ini menegaskan bahwa sifat (karakteristik) riba secara umum mempunyai kecenderungan untuk berkembang dan berlipat sesuai dengan berjalannya waktu dengan tanpa batas. Hal itu dibuktikan juga oleh kenyataan sejarah bahwa riba pada masa pra Islam adalah tambahan pada modal uang yang dipinjamkan dan harus diterima oleh yang berpiutang sesuai dengan jangka waktu peminjaman dan persentase yang ditetapkan. Bila tidak mampu membayar pada waktu yang dijanjikan, maka terus bertambah. Maka semakin tidak mampu akan semakin teraniaya

Dari keterangan-keterangan di atas dapat disimpulkan bahwa riba bukan haram karena besar atau kecilnya prosentase, konsumtif atau produktif, melainkan karena sifat persyaratan atau perjanjian yang ada di dalamnya yang sangat lalim itu. Hanya dalam memahami sifat persyaratan inilah para ulama berbeda pendapat, sehingga melahirkan ta’rif atau definisi yang beragam.

Definisi Riba

            Riba, secara bahasa adalah الزيادة (kelebihan atau penambahan). Dilihat dari makna bahasa, riba tidak berbeda dengan ar-ribhu (profit, keuntungan), yakni sama-sama            الزيادة على رأس المال  (penambahan atas harta pokok). Dari pengertian bahasa ini akan muncul anggapan bahwa jual-beli  sama dengan riba, karena  keduanya menghasilkan kelebihan dari modal. Karena itu makna secara bahasa tidak dapat dijadikan dasar hukum dalam pembahasan ini.

Kajian terhadap masalah ini telah dilakukan oleh para ulama dari masa ke masa, sehingga kriteria riba yang ditetapkan pun mengalami perkembangan sebagai berikut:

a)  Pandangan ulama mutaqaddimin (abad I – V H)

Zaid bin Aslam berkata:

إِنَّمَا كَانَ الرِّبَا فِي الْجَاهِلِيَّةِ فِي التَّضْعِيْفِ وَفِي السِّنِّ يَكُوْنُ لِلرَّجُلِ فَضْلُ دَيْنٍ فَيَأْتِيْهِ إِذَا حَلَّ الأَجَلُ فَيَقُوْلُ لَهُ تَقْضِيْنِيْ أَوْ تَزِيْدُنِيْ – تفسير الطبري 4: 90 –

Yang dimaksud dengan riba jahiliyyah dalam pelipatgandaan dan usia (waktu) adalah seseorang  yang memiliki piutang (atas mitranya). Pada saat jatuh tempo, ia mendatanginya lalu berkata, “Lunasi sekarang atau tambah pembayaran”. Tafsir at-Thabari, IV:90.

Mujahid berkata :

كَانُوْا يَبِيْعُوْنَ الْبَيْعَ إِلَى أَجَلٍ فَإِذَا حَلَّ الأَجَلُ زَادُوْا فِي الثَّمَنِ عَلَى أَنْ يُؤَخِّرُوْا – تفسير القرطبي 4: 202 –

“Mereka menjual dagangannya dengan tempo. Apabila telah jatuh tempo dan (tidak mampu membayar), mereka (si pembeli) memberikan tambahan harga atas tambahan waktu” Tafsir al- Qurthubi, IV:202

Namun dalam versi lain, beliau berkata:

كَانُوْا فِي الْجَاهِلِيَّةِ يَكُوْنُ لِلرَّجُلِ عَلَى الرَّجُلِ الدَّيْنُ فَيَقُوْلُ لَكَ كَذَا وَكَذَا وتؤخر عَنِّيْ فَيُؤَخَّرُ عَنْهُ

“(Riba yang diharamkan pada masa jahiliyyah) adalah seseorang berutang pada orang lain, lalu si peminjam berkata, ‘Bagimu (tambahan) sekian dan sekian, dan berilah aku tempo’. Maka dia diberi tempo” Tafsir at-Thabari, III:101

Qatadah berkata :

أَنَّ رِبَا الْجَاهِلِيَّةِ يَبِيْعُ الرَّجُلُ الْبَيْعَ إِلَى أَجَلٍ مُسَمًّى فَإِذَا حَلَّ الأَجَلُ وَلَمْ يَكُنْ عِنْدَ صَاحِبِهِ قَضَاءٌ زَادَهُ وَأَخَّرَ عَنْهُ – تفسير الطبري 3: 101 –

“Riba jahiliyah adalah seseorang yang menjual barangnya secara tempo (kredit) hingga waktu tertentu. Apabila telah jatuh tempo dan si pembeli tidak mampu membayar, ia memberikan bayaran atas penangguhan” Tafsir at-Thabari, III:101

Ketika Imam Ahmad ditanya tentang riba, ia mejawab :

 وَهُوَ أَنْ يَكُوْنَ لَهُ دَيْنٌ فَيَقُوْلُ لَهُ أَتَقْضِيْ أَمْ تُرْبِيْ فَإِنْ لَمْ يَقْضِهِ زَادَهُ فِي الْمَالِ وَزَادَهُ هذَا فِي الأَجَلِ

“Riba itu adalah seseorang memiliki utang, lalu dikatakan kepadanya apakah akan melunasi atau membayar lebih. Jikalau tidak mampu melunasi, ia harus menambah pada harta (pinjaman) itu atas penambahan waktu.”

b)  Pandangan ulama mutawasithin (abad VI – X)

Imam as-Sarkhasi (W. 483 H)

الرِبَا هُوَ الْفَضْلُ الْخَالِيْ عَنِ الْعِوَضِ الْمَشْرُوْطُ فِي الْبَيْعِ

“Riba adalah tambahan tanpa adanya iwadh (transaksi pengganti atau penyeimbang) yang disyaratkan dalam jual-beli” Al-Mabsuth, XII:109

Ibnul ‘Arabi (W. 543 H)

ألرِّبَا فِي اللُّغَةِ هُوَ الزِّيَادَةُ وَالْمُرَادُ بِهِ فِي الأَيَةِ كُلُّ زِيَادَةٍ لَمْ يُقَابِلْهَا عِوَضٌ

“Riba secara bahasa adalah kelebihan atau penambahan, dan yang dimaksud dengan riba dalam ayat (Alquran) itu adalah setiap penambahan yang diambil tanpa adanya satu transaksi pengganti atau penyeimbang.”

Fakruddin ar-Razi (W. 604 H)

أَنَّهُمْ كَانُوْا يَدْفَعُوْنَ الْمَالَ عَلَى أَنْ يَأْخُذُوْا كُلَّ شَهْرٍ قَدْرًا مُعَيَّنًا وَيَكُوْنُ رَأْسُ الْمَالِ بَاقِيًا, ثُمَّ إِذَا حَلَّ الدَّيْنُ طَالَبُوْا الْمَدِيْنَ بِرَأْسِ الْمَالِ فَإِنْ تَعَذَّرَ عَلَيْهِ الأَدَاءُ زَادُوْا فِي الْحَقِّ وَالأَجَلِ. فَهذَا هُوَ الرِّبَا الَّذِيْ كَانُوْا فِي الْجَاهِلِيَّةِ يَتَعَامَلُوْنَ بِهِ

“Sesungguhnya mereka menyerahkan/meminjamkan dana (dengan syarat) mereka akan mengambil setiap bulannya besaran tertentu (tambahan), sedangkan harta pokoknya tetap. Apabila telah jatuh tempo, mereka menuntut pengembalian harta pokok itu. Jika si peminjam kesulitan membayar, mereka menambah hak dan tempo (pembayaran). Inilah riba yang dilakukan kaum jahiliyah”

Imam an-Nawawi (W 676 H)

طَلَبُ الزِّيَادَةِ فِي الْمَالِ بِزِيَادَةِ الأَجَلِ

“Menuntut tambahan atas harta pokok karena penambahan waktu” al-Majmu’ Syarh Muhadzdzab, IX:442

Badruddin al-‘Aini (W. 855 H) berkata:

الزِّيَادَةُ عَلَى أَصْلِ مَالٍ مِنْ غَيْرِ عَقْدِ تَبَايُعٍ

“Riba berarti penambahan atas harta pokok tanpa adanya akad jual-beli” Umdatul Qari, juz V, h. 436

c)  Pandangan ulama mutaakhirin (abad XI – XV)

Ali as-Shabuni

زِيَادَةٌ يَأْخُذُهَا الْمُقْرِضُ مِنَ الْمُسْتَقْرِضِ مُقَابِلَ الأَجَلِ

“Riba adalah kelebihan atau penambahan yang diambil oleh kreditor (pemberi pinjaman) dari debitor (peminjam) sebagai pengganti waktu” Rawa-i’ul Bayan, I:383

Muhamad al-Qadhuri berkata:

الْفَائِدَةُ أَوِ الزِّيَادَةُ تُؤْخَذُ عَنِ الْقَرْضِ وَهُوَ نَوْعَانِ: رِبَا الْفَضْلِ وَرِبَا النَّسِيْئَةِ

“Riba adalah faidah atau tambahan yang diambil dari pinjaman” Dalilul Musthalahatil Fiqhiyyah:70.

Al-Jurjani berkata:

الرِّبَا هُوَ فِي اللُّغَةِ الزِّيَادَةُ وَفِي الشَّرْعِ هُوَ فَضْلٌ خَالٍ عَنْ عِوَضٍ شُرِطَ لِأَحَدِ الْعَاقِدَيْنِ

“Riba menurut bahasa artinya penambahan, dan menurut syar’i adalah tambahan tanpa adanya iwadh (transaksi pengganti atau penyeimbang) yang disyaratkan kepada salah satu pihak yang berakad” At-Ta’rifat:146

Keterangan-keterangan di atas menunjukkan bahwa di kalangan para ulama terjadi pengembangan pemikiran dalam memaknai riba. Hal ini sejalan dengan perkembangan situasi ekonomi dan perdagangan pada masa masing-masing.

Dengan memperhatikan sistem riba yang dilakukan oleh kaum jahiliyyah, ulama mutaqaddimin memaknai riba secara khusus (lebih spesifik), namun terbagi kepada dua jenis. Zaid bin Aslam, Mujahid (pada salah satu pendapatnya), dan Imam Ahmad cenderung melihat bahwa unsur riba terdapat pada hutang yang diberikan dengan syarat si peminjam bersedia membayar tambahan atas harta pokok sebagai imbalan perpanjangan waktu. Dalam dunia perbankan konvesional, hal tersebut “hampir mirip” dengan istilah bunga kredit sesuai lama waktu peminjaman (lihat, Mengenal Dunia Perbankan, 1994: 111; Undang-undang No. 14/1967 mengenai Pokok-pokok Perbankan, Bab I pasal 1 (c)).

Sedangkan Qatadah dan Mujahid (pada pendapatnya yang lain) cenderung melihat bahwa unsur riba terdapat pada jual-beli secara tempo/kredit dengan syarat si pembeli bersedia membayar tambahan atas harga pokok sebagai imbalan perpanjangan waktu. Secara praktik, kedua jenis riba ini ditetapkan setelah jatuh tempo, yakni debitur (si peminjam) dan si pembeli tidak dapat membayarnya. Sehubungan dengan itu, Ar-Raghib al-Ashfahani (W. 502) menyatakan bahwa dalam Islam riba secara khusus menunjuk pada kelebihan (yang diminta) dengan cara yang khusus (Lihat, al-Mufradat fi Gharibil Quran, I:245)

Dua kecenderungan ulama mutaqaddimin di atas dipegang teguh oleh sebagian kecil ulama pada periode selanjutnya (mutawasithin), antara lain Fakhruddin ar-Razi (W. 604 H). Sedangkan mayoritas ulama pada periode ini memaknai riba secara umum (lebih luas), sehingga melahirkan ta’rif versi Ibnul ‘Arabi (W. 543 H) sebagai berikut:

ألرِّبَا فِي اللُّغَةِ هُوَ الزِّيَادَةُ وَالْمُرَادُ بِهِ فِي الأَيَةِ كُلُّ زِيَادَةٍ لَمْ يُقَابِلْهَا عِوَضٌ

“Riba secara bahasa adalah kelebihan atau penambahan, dan yang dimaksud dengan riba dalam ayat (Alquran) itu adalah setiap penambahan yang diambil tanpa adanya ‘iwadh (satu transaksi pengganti atau penyeimbang)”

Pada periode selanjutnya (mutaakhirin), kencendrungan ulama mutaqaddimin dan mutawasithin masih dipegang teguh oleh sebagian ulama, namun tidak sedikit di antara ulama pada periode ini yang memandang perlu untuk dilakukan reinterpretasi (penafsiran) baru dan pemikiran ulang tentang riba, terutama setelah terjadinya dominasi pasar finansial dunia oleh sistem barat yang berbasis bunga, seperti Abdullah Yusuf Ali (The Holy Quran) dan Muhamad Asad ketika menafsirkan riba sebagai usury (bunga yang tinggi) dan bukan interest (bunga yang rendah)

Keterangan-keterangan di atas menunjukkan bahwa para ulama berbeda kecenderungan dalam memahami maksud riba yang diharamkan Alquran dan Sunah. Keadaan ini memunculkan berbagai fatwa yang berbeda ketika menetapkan status hukum bunga (dengan berbagai bentuknya) dalam dunia perbankan dan lembaga keuangan non bank.

Kriteria Bunga

Sebagaimana sikap para ulama dalam menetapkan kriteria riba, di antara ahli ekonomi konvensional pun terjadi perbedaan pendapat mengenai; a) untuk apa bunga dibayarkan, b) beberapa pakar mengatakan bahwa bunga itu adalah suatu harga, tetapi harga apa? Apa yang diberikan kreditur sehingga ia menuntut suatu imbalan uang bulan demi bulan atau tahun demi tahun? Para pendukung bunga menemukan kesulitan untuk bersepakat dalam hal ini. Perbedaan ini melahirkan berbagai konsep tentang bunga.

Jumhur ekonom berpendapat bahwa bunga adalah imbal jasa atas pinjaman uang. Imbal jasa ini merupakan suatu kompensasi kepada pemberi pinjaman atas manfaat kedepan dari uang pinjaman tersebut apabila diinvestasikan. Jumlah pinjaman tersbut disebut “pokok utang” (principal). Persentase dari pokok utang yang dibayarkan sebagai imbal jasa dalam suatu periode tertentu disebut “suku bunga”

Jenis bunga

(a)   Bunga sederhana

Bunga sederhana: adalah merupakan hasil dari pokok utang, suku bunga per periode, dan lamanya waktu peminjaman. Contohnya: Wiki meminjam Rp 230.000.000 untuk membeli sebuah mobil baru, dengan suku bunga sebesar 9.5% per tahun dan masa pinjaman adalah 5 tahun, maka bunganya adalah Rp. 230.000.000 x 9.5 % (Rp. 21.850.000) x 5 = Rp. 109.250.000. Jadi, bunga sederhana untuk pinjaman Wiki adalah Rp. 109.250.000. Berarti total pembayaran Wiki adalah

  • Pokok utang         Rp. 230.000.000
  • Bunga                  Rp. 109.250.000
  • Total                     Rp. 339.250.000.

(b)   Bunga berbunga

Bunga berbunga atau disebut juga bunga majemuk: nilai pokok utang ini akan berubah terus setiap akhir suatu periode dengan penambahan perhitungan bunga. misalnya pokok hutang adalah 1.000 dengan bunga 5%/tahun maka periode tahun pertama pokok hutangnya menjadi 1000+(1.000×5%) = 1.050. Pada periode tahun berikutnya maka perhitungannya menjadi 1050+(1050×5%)= 1.102,50. Tahun berikutnya menjadi 1.102,50+(1.102,50×5%) = 1.157,625. Dan begitulah seterusnya sesuai dengan lamanya periode.

Keterangan di atas menunjukkan bahwa bunga mengandung tiga unsur; a) kelebihan atau surplus di atas modal, b) penetapan kelebihan ini berhubungan dengan waktu, c) pembayaran kelebihan itu ditetapkan ketika akad.

Dengan demikian, terdapat persamaan dan perbedaan antara riba, laba, dan bunga.

Persamaan

NAMA UNSUR A UNSUR B
Riba Ada Ada
Bunga Ada Ada
Laba Ada Tidak Ada

Keterangan:

Pada laba unsur a (kelebihan di atas modal) bukan semata-mata terkait dengan unsur b (waktu), melainkan angka produksi.

Adapun perbedaan di antara ketiganya dilihat dari unsur (c), yaitu riba tidak jelas hasil dari akad apa? Sedangkan Laba adalah hasil akad usaha perdagangan. Adapun bunga merupakan istilah yang disamakan dari berbagai akad yang berbeda, di antaranya jasa atas pinjaman uang, hasil investasi, hasil jual-beli (secara leasing, sewa-beli). Karena itu kami berkesimpulan bahwa tidak setiap bunga adalah riba. Dengan perkataan lain, yang “agak mirip” dengan riba nasiah adalah bunga majemuk dengan karakteristik yang telah dijelaskan di atas.

„Islamietisch Paedagogisch Ideaal” Menuju tercapainya Islamic Worldview Sebuah resume

Poin penting yang dapat ditangkap dari definisi keempat tokoh diatas adalah bahwa pandangan hidup Islam adalah pandangan Islam tentang realitas dan kebenaran yang menjelaskan tentang hakekat wujud yang berakumulasi dalam akal pikiran dan memancar dalam keseluruhan kegiatan kehidupan umat Islam di dunia. Pandangan-pandangan diatas telah cukup baik menggambarkan karakter Islam sebagai suatu pandangan hidup yang membedakannya dengan pandangan hidup lain. Pandangan hidup seorang muslim adalah pandangan hidup yang didasarkan dan bertujuan untuk mengesakan Allah SWT atau dengan bahasa M. Natsier adalah untuk menjadi “hamba Allah”. Sebagai syarat utama seorang muslim adalah mengakui keesaan Allah SWT dan mengakui Nabi Muhammad SAW sebagai rasul dan nabi penutup.

melalui„Islamietisch Paedagogisch Ideaal” Menuju tercapainya Islamic Worldview Sebuah resume.

13 Sifat Laki-laki yang Tidak Disukai Perempuan

13 Sifat Laki-laki Yang Tidak Disukai Perempuan

Oleh: DR. Amir Faishol Fath


Kirim Print

 Daridakwatuna.com – Para istri atau kaum wanita adalah manusia yang juga mempunyai hak tidak suka kepada laki-laki karena beberapa sifa-sifatnya. Karena itu kaum lelaki tidak boleh egois, dan merasa benar. Melainkan juga harus memperhatikan dirinya, sehingga ia benar-benar bisa tampil sebagai seorang yang baik. Baik di mata Allah, pun baik di mata manusia, lebih-lebih baik di mata istri. Ingat bahwa istri adalah sahabat terdekat, tidak saja di dunia melainkan sampai di surga. Karena itulah perhatikan sifat-sifat berikut yang secara umum sangat tidak disukai oleh para istri atau kaum wanita. Semoga bermanfaat.
Pertama, Tidak Punya Visi
Setiap kaum wanita merindukan suami yang mempunyai visi hidup yang jelas. Bahwa hidup ini diciptakan bukan semata untuk hidup. Melainkan ada tujuan mulia. Dalam pembukaan surah An Nisa’:1 Allah swt. Berfirman: “Hai sekalian manusia, bertakwalah kepada Tuhan-mu yang telah menciptakan kamu dari diri yang satu, dan daripadanya Allah menciptakan isterinya; dan daripada keduanya Allah memperkembang biakkan laki-laki dan perempuan yang banyak. Dan bertakwalah kepada Allah yang dengan (mempergunakan) nama-Nya kamu saling meminta satu sama lain, dan (peliharalah) hubungan silaturrahim. Sesungguhnya Allah selalu menjaga dan mengawasi kamu”. Dalam ayat ini Allah dengan tegas menjelaskan bahwa tujuan hidup berumah tangga adalah untuk bertakwa kepada Allah. Takwa dalam arti bersungguh mentaati-Nya. Apa yang Allah haramkan benar-benar dijauhi. Dan apa yang Allah perintahkan benar ditaati.Namun yang banyak terjadi kini, adalah bahwa banyak kaum lelaki atau para suami yang menutup-nutupi kemaksiatan. Istri tidak dianggap penting. Dosa demi dosa diperbuat di luar rumah dengan tanpa merasa takut kepada Allah. Ingat bahwa setiap dosa pasti ada kompensasinya. Jika tidak di dunia pasti di akhirat. Sungguh tidak sedikit rumah tangga yang hancur karena keberanian para suami berbuat dosa. Padahal dalam masalah pernikahan Nabi saw. bersabda: “Pernikahan adalah separuh agama, maka bertakwalah pada separuh yang tersisa.”
Kedua, KasarDalam sebuah riwayat dikatakan bahwa wanita diciptakan dari tulang rusuk yang bengkok. Ini menunjukkan bahwa tabiat wanita tidak sama dengan tabiat laki-laki. Karena itu Nabi saw. menjelaskan bahwa kalau wanita dipaksa untuk menjadi seperti laki-laki tulung rusuk itu akan patah. Dan patahnya berarti talaknya. Dari sini nampak bahwa kaum wanita mempunyai sifat ingin selalui dilindungi. Bukan diperlakukan secara kasar. Karena itu Allah memerintahkan para suami secara khusus agar menyikapi para istri dengan lemah lembut: Wa’aasyiruuhunna bil ma’ruuf (Dan sikapilah para istri itu dengan perlakuan yang baik) An Nisa: 19. Perhatikan ayat ini menggambarkan bahwa sikap seorang suami yang baik bukan yang bersikap kasar, melainkan yang lembut dan melindungi istri.Banyak para suami yang menganggap istri sebagai sapi perahan. Ia dibantai dan disakiti seenaknya. Tanpa sedikitpun kenal belas kasihan. Mentang-mentang badannya lebih kuat lalu memukul istri seenaknya. Ingat bahwa istri juga manusia. Ciptaan Allah. Kepada binatang saja kita harus belas kasihan, apalagi kepada manusia. Nabi pernah menggambarkan seseorang yang masuk neraka karena menyikas seekor kucing, apa lagi menyiksa seorang manusia yang merdeka.

Ketiga, Sombong

Sombong adalah sifat setan. Allah melaknat Iblis adalah karena kesombongannya. Abaa wastakbara wakaana minal kaafiriin (Al Baqarah:34). Tidak ada seorang mahlukpun yang berhak sombong, karena kesombongan hanyalah hak priogatif Allah. Allah berfirman dalam hadits Qurdsi: “Kesombongan adalah selendangku, siapa yang menandingi aku, akan aku masukkan neraka.” Wanita adalah mahluk yang lembut. Kesombongan sangat bertentangan dengan kelembutan wanita. Karena itu para istri yang baik tidak suka mempunyai suami sombong.

Sayangnya dalam keseharian sering terjadi banyak suami merasa bisa segalanya. Sehingga ia tidak mau menganggap dan tidak mau mengingat jasa istri sama sekali. Bahkan ia tidak mau mendengarkan ucapan sang istri. Ingat bahwa sang anak lahir karena jasa kesebaran para istri. Sabar dalam mengandung selama sembilan bulan dan sabar dalam menyusui selama dua tahun. Sungguh banyak para istri yang menderita karena prilaku sombong seorang suami.

Keempat, Tertutup

Nabi saw. adalah contoh suami yang baik. Tidak ada dari sikap-sikapnya yang tidak diketahui istrinya. Nabi sangat terbuka kepada istri-istrinya. Bila hendak bepergian dengan salah seorang istrinya, nabi melakukan undian, agar tidak menimbulkan kecemburuan dari yang lain. Bila nabi ingin mendatangi salah seorang istrinya, ia izin terlebih dahulu kepada yang lain. Perhatikan betapa nabi sangat terbuka dalam menyikapi para istri. Tidak seorangpun dari mereka yang merasa didzalimi. Tidak ada seorang dari para istri yang merasa dikesampingkan.

Kini banyak kejadian para suami menutup-nutupi perbuatannya di luar rumah. Ia tidak mau berterus terang kepada istrinya. Bila ditanya selalu jawabannya ngambang. Entah ada rapat, atau pertemuan bisnis dan lain sebagainya. Padahal tidak demikian kejadiannya. Atau ia tidak mau berterus terang mengenai penghasilannya, atau tidak mau menjelaskan untuk apa saja pengeluaran uangnya. Sikap semacam ini sungguh sangat tidak disukai kaum wanita. Banyak para istri yang tersiksa karena sikap suami yang begitu tertutup ini.

Kelima, Plinplan

Setiap wanita sangat mendambakan seorang suami yang mempunyai pendirian. Bukan suami yang plinplan. Tetapi bukan diktator. Tegas dalam arti punya sikap dan alasan yang jelas dalam mengambil keputusan. Tetapi di saat yang sama ia bermusyawarah, lalu menentukan tindakan yang harus dilakukan dengan penuh keyakinan. Inilah salah satu makna qawwam dalam firman Allah: arrijaalu qawwamuun alan nisaa’ (An Nisa’:34).

Keenam, Pembohong

Banyak kejadian para istri tersiksa karena sang suami suka berbohong. Tidak mau jujur atas perbuatannya. Ingat sepandai-pandai tupai melompat pasti akan jatuh ke tanah. Kebohongan adalah sikap yang paling Allah benci. Bahkan Nabi menganggap kebohongan adalah sikap orang-orang yang tidak beriman. Dalam sebuah hadits Nabi pernah ditanya: hal yakdzibul mukmin (apakah ada seorang mukmin berdusta?) Nabi menjawab: Laa (tidak). Ini menunjukkan bahwa berbuat bohong adalah sikap yang bertentangan dengan iman itu sendiri.

Sungguh tidak sedikit rumah tangga yang bubar karena kebohongan para suami. Ingat bahwa para istri tidak hanya butuh uang dan kemewahan dunia. Melainkan lenbih dari itu ia ingin dihargai. Kebohongan telah menghancurkan harga diri seorang istri. Karena banyak para istri yang siap dicerai karena tidak sanggup hidup dengan para sumai pembohong.

Ketujuh, Cengeng

Para istri ingin suami yang tegar, bukan suami yang cengeng. Benar Abu Bakar Ash Shiddiq adalah contoh suami yang selalu menangis. Tetapi ia menangis bukan karena cengeng melainkan karena sentuhan ayat-ayat Al Qur’an. Namun dalam sikap keseharian Abu Bakar jauh dari sikap cengeng. Abu Bakar sangat tegar dan penuh keberanian. Lihat sikapnya ketika menghadapi para pembangkang (murtaddin), Abu Bakar sangat tegar dan tidak sedikitpun gentar.

Suami yang cenging cendrung nampak di depan istri serba tidak meyakinkan. Para istri suka suami yang selalu gagah tetapi tidak sombong. Gagah dalam arti penuh semangat dan tidak kenal lelah. Lebih dari itu tabah dalam menghadapi berbagai cobaan hidup.

Kedelapan, Pengecut

Dalam sebuah doa, Nabi saw. minta perlindungan dari sikap pengecut (a’uudzubika minal jubn), mengapa? Sebab sikap pengecut banyak menghalangi sumber-sumber kebaikan. Banyak para istri yang tertahan keinginannya karena sikap pengecut suaminya. Banyak para istri yang tersiksa karena suaminya tidak berani menyelesaikan permasalahan yang dihadapi. Nabi saw. terkenal pemberani. Setiap ada pertempuran Nabi selalu dibarisan paling depan. Katika terdengar suara yang menakutkan di kota Madinah, Nabi saw. adalah yang pertama kaluar dan mendatangi suara tersebut.

Para istri sangat tidak suka suami pengecut. Mereka suka pada suami yang pemberani. Sebab tantangan hidup sangat menuntut keberanian. Tetapi bukan nekad, melainkan berani dengan penuh pertimbangan yang matang.

Kesembilan, Pemalas

Di antara doa Nabi saw. adalah minta perlindingan kepada Allah dari sikap malas: allahumma inni a’uudzubika minal ‘ajizi wal kasal , kata kasal artinya malas. Malas telah membuat seseorang tidak produktif. Banyak sumber-sumber rejeki yang tertutup karena kemalasan seorang suami. Malas sering kali membuat rumah tangga menjadi sempit dan terjepit. Para istri sangat tidak suka kepada seorang suami pemalas. Sebab keberadaanya di rumah bukan memecahkan masalah melainkan menambah permasalah. Seringkali sebuah rumah tangga diwarnai kericuhan karena malasnya seorang suami.

Kesepuluh, Cuek Pada Anak

Mendidik anak tidak saja tanggung jawab seorang istri melainkan lebih dari itu tanggung jawab seorang suami. Perhatikan surat Luqman, di sana kita menemukan pesan seorang ayah bernama Luqman, kepada anaknya. Ini menunjukkan bahwa seorang ayah harus menentukan kompas jalan hidup sang anak. Nabi saw. Adalah contoh seorang ayah sejati. Perhatiannya kepada sang cucu Hasan Husain adalah contoh nyata, betapa beliau sangat sayang kepada anaknya. Bahkan pernah berlama-lama dalam sujudnya, karena sang cucu sedang bermain-main di atas punggungnya.

Kini banyak kita saksikan seorang ayah sangat cuek pada anak. Ia beranggapan bahwa mengurus anak adalah pekerjaan istri. Sikap seperti inilah yang sangat tidak disukai para wanita.

Kesebelas, Menang Sendiri

Setiap manusia mempunyai perasaan ingin dihargai pendapatnya. Begitu juga seorang istri. Banyak para istri tersiksa karena sikap suami yang selalu merasa benar sendiri. Karena itu Umar bin Khaththab lebih bersikap diam ketika sang istri berbicara. Ini adalah contoh yang patut ditiru. Umar beranggapan bahwa adalah hak istri mengungkapkan uneg-unegnya sang suami. Sebab hanya kepada suamilah ia menemukan tempat mencurahkan isi hatinya. Karena itu seorang suami hendaklah selalu lapang dadanya. Tidak ada artinya merasa menang di depan istri. Karena itu sebaik-baik sikap adalah mengalah dan bersikap perhatian dengan penuh kebapakan. Sebab ketika sang istri ngomel ia sangat membutuhkan sikap kebapakan seorang suami. Ada pepetah mengatakan: jadilah air ketika salah satunya menjadi api.

Keduabelas, Jarang Komunikasi

Banyak para istri merasa kesepian ketika sang suami pergi atau di luar rumah. Sebaik-baik suami adalah yang selalu mengontak sang istri. Entah denga cara mengirim sms atau menelponnya. Ingat bahwa banyak masalah kecil menjadi besar hanya karena miskomunikasi. Karena itu sering berkomukasi adalah sangat menentukan dalam kebahagiaan rumah tangga.

Banyak para istri yang merasa jengkel karena tidak pernah dikontak oleh suaminya ketika di luar rumah. Sehingga ia merasa disepelekan atau tidak dibutuhkan. Para istri sangat suka kepada para suami yang selalu mengontak sekalipun hanya sekedar menanyakan apa kabarnya.

Ketiga belas, tidak rapi dan tidak harum

Para istri sangat suka ketika suaminya selalu berpenampilan rapi. Nabi adalah contoh suami yang selalu rapi dan harum. Karena itu para istrinya selalu suka dan bangga dengan Nabi. Ingat bahwa Allah Maha indah dan sangat menyukai keindahan. Maka kerapian bagian dari keimanan. Ketika seorang suami rapi istri bangga karena orang-orang pasti akan berkesan bahwa sang istri mengurusnya. Sebaliknya ketika sang suami tidak rapi dan tidak harum, orang-orang akan berkesan bahwa ia tidak diurus oleh istrinya. Karena itu bagi para istri kerapian dan kaharuman adalah cermin pribadi istri. Sungguh sangat tersinggung dan tersiksa seorang istri, ketika melihat suaminya sembarangan dalam penampilannya dan menyebarkan bahu yang tidak enak. Allahu a’lam

„Islamietisch Paedagogisch Ideaal” Menuju tercapainya Islamic Worldview

BUNGAOleh: Abahna Jafits

Hampir satu abad yang lalu, tepatnya tanggal 17 Juni 1934 dalam rapat Persatuan Islam di Bogor, Muhammad Natsier pernah berkata “Maju atau mundurnya salah satu kaum bergantung sebagian besar kepada pelajaran dan pendidikan yang berlaku dalam kalangan mereka itu. Tak ada satu bangsa yang terbelakang menjadi maju, melainkan sesudahnya mengadakan dan memperbaiki didikan anak-anak dan pemuda-pemuda mereka.”

Mohammad Natsier kemudian mengambil misal bangsa Jepang yang pada masa itu mulai membuka pintu untuk masuknya ilmu-ilmu dari luar bangsanya sehingga mereka pelajari dengan  tekun bahkan mengirimkan pemuda-pemuda terbaik mereka untuk belajar di luar negeri, padahal sebelumnya bangsa Jepang menutup rapat pintu dan jendela mereka dari pengaruh yang dating dari luar. Dan hasilnya kita lihat hari ini, bagaimana mereka dapat menguasai panggung dunia dengan penuh percaya diri.

Mohammad Natsier juga tak lupa mengambil contoh bangsa Spanyol yang jatuh tersungkur dari bangsa kelas satu dunia menjadi bangsa yang tak diperhitungkan oleh karena terlena kesenangan dunia dan tak memperdulikan pendidikan para pemudanya yang akan mengambil tongkat estafet kepemimpinan bangsa. Bagaimana cordoba pada masa keemasannya menjadi pusat peradaban dunia kemudian luluh lantak hanya karena despotism, korupsi, kolusi, nepotisme dan buruknya kaderisasi kepemimpinan dalam bentuk pendidikan.

Dalam bahasa Indonesia, pendidikan berasal dari verba didik yang berarti memelihara dan memberi latihan (ajaran, tuntunan, pimpinan) mengenai akhlak dan kecerdasan pikiran. Kemudian kata ini diberi imbuhan pen-kan menjadi kata noun pendidikan yang berarti proses pengubahan sikap dan tata laku seseorang atau kelompok orang dalam usaha mendewasakan manusia melalui upaya pengajaran dan pelatihan; proses, cara, perbuatan mendidik.

Menurut M. Natsier tujuan dari didikan Islam atau “Islamietisch Paedagogisch Ideaal itu” ialah “satu pimpinan jasmani dan ruhani yang menuju kepada kesempurnaan dan lengkapnya sifat-sifat kemanusiaan dengan arti yang sesungguhnya”. Beliau menyebut pimpinan semacam ini sekurangnya membutuhkan dua hal :

  1. Satu tujuan yang tertentu tempat mengarahkan didikan itu.
  2. Satu asas tempat mendasarkannya.

“Apakah tujuan yang akan dituju oleh didikan kita?’, sebenarnya tidak pula dapat dijawab sebelum menjawab pertanyaan yang lebih tinggi lagi jaitu : „Apakah tujuan hidup kita didunia ini ?’ Kedua pertanyaan ini tidak dapat dipisahkan, keduanya sama (identiek), Tujuan didikan ialah Tujuan-Hidup.

Dan tujuan seorang muslim tidak lain adalah menjadi penyembah Allah dan tidak menyekutukanNya sebagaimana dapat kita baca dalam surat (Q.s. Addzariyat: 56).

“Dan aku tidak menciptakan jin dan manusia melainkan supaya mereka mengabdi kepada-Ku.”

Inilah tujuan hidup kita diatas dunia. Kata “Liya’buduni” dalam QS. Addzariyat: 56 yang berarti “menyembah Aku” ini mempunyai arti yang sangat dalam dan luas. “Menyembah Allah” itu melengkapi semua ketaatan dan ketundukan kepada semua perintah Ilahi yang membawa kepada kebesaran dunia dan kemenangan akhirat, serta menjauhkan diri dari segala larangan yang menghalangi tercapainya kemenangan dunia dan akhirat itu.

Dalam Q.s. Al-Fathir : 28 Allah menerangkan syarat dan sifat seseorang yang berhak menamakan diri “Hamba Allah” itu: “Dan demikian (pula) di antara manusia, binatang-binatang melata dan binatang-binatang ternak ada yang bermacam-macam warnanya (dan jenisnya). Sesungguhnya yang takut kepada Allah di antara hamba-hamba-Nya, hanyalah ulama. Sesungguhnya Allah Maha Perkasa lagi Maha Pengampun.” Ayat ini menjelaskan bahwa ilmu, ialah satu syarat yang terpenting untuk menjadi Hamba Allah yang sesungguhnya. Seorang Hamba Allah, bukanlah seorang yang mengasingkan diri dari kenikmatan dunia dan pergi bertapa kehutan belukar, dan mengerjakan hanya sekedar „sembahyang” dan „puasa” saja! Bukan sekedar itu yang dimaksud dengan menyembah Allah itu.

Malah dengan terang dan tegas pula Tuhan peringatkan bahwa segala barang yang baik dan rezeki yang halal diatas dunia ini, adalah teruntuk bagi Hamba Allah !

„Katakanlah! Siapakah yang mengharamkan perhiasan Allah yang Dia keluarkan untuk hamba-Nya, beserta rezeki yang baik itu ? Katakanlah, (semua itu) untuk mereka yang beriman diatas dunia ini,dan semata-mata akan (kepunyaan mereka) dihari kiamat” (Q.s. Al-A’raf: 31).

Hamba Allah, ialah orang yang ditinggikan Allah derajatnya, sebagai pemimpin untuk manusia. Mereka menurut perintah Allah, dan berbuat baik kepada sesama machluk, lagi menunaikan ibadah terhadap Tuhannya, sebagaimana tersimpul dalam firman Tuhan :

“Bukanlah menghadapkan wajahmu ke arah timur dan barat itu suatu kebajikan, akan tetapi sesungguhnya kebajikan itu ialah beriman kepada Allah, hari kemudian, malaikat-malaikat, kitab-kitab, nabi-nabi dan memberikan harta yang dicintainya kepada kerabatnya, anak-anak yatim, orang-orang miskin, musafir (yang memerlukan pertolongan) dan orang-orang yang meminta-minta; dan (memerdekakan) hamba sahaya, mendirikan shalat, dan menunaikan zakat; dan orang-orang yang menepati janjinya apabila ia berjanji, dan orang-orang yang sabar dalam kesempitan, penderitaan dan dalam peperangan. Mereka itulah orang-orang yang benar (imannya); dan mereka itulah orang-orang yang bertakwa.” (Q.s. Al-Baqarah : 177).

Kepada Hamba Allah yang beginilah Tuhan telah memberi satu „balagh”, satu ultimatum, yakni satu pemberitahuan yang keras, bahwa kemenangan dan kejayaan di atas dunia ini tidak diberikan, melainkan kepada hamba-Nya yang pantas dan patut lagi mempunyai kecakapan yang cukup untuk menerima dan mengurus dunia.Lain dari itu, tidak!

„Sesungguhnya Kami telah tetapkan dalam Zabur, sesudahnya peringatan, bahwa sesungguhnya dunia ini diwarisi oleh hamba*-Ku yang patut*, dan sesungguhnya dalam hal ini adalah satu pemberian tahu, „peringatan” untuk orang yang menyembah Allah” (Q.s. Al-Anbija : 105-106).

Beginilah sekurangnya sifat-sifat dan amalannya seseorang yang mempunyai derajat „Hamba Allah” itu ! Maka nyata pula bahwa memperhambakan diri yang semacam ini ialah untuk kepentingan dan keperluan yang menyembah itu sendiri, bukan untuk yang disembah. Allah berfirman  „Tidak ! Aku tidak berkehendak mendapat rezeki dari mereka dan Aku tidak berkehendak, supaya mereka memberi Aku makan. Sesungguhnya Allah itulah yang memberi rezeki yang mempunyai semua kekuatan dan kekuasaan yang paling berkuasa” (Q.s. Addzariyat : 57-58).

Perhambaan kepada Allah yang jadi tujuan hidup dan jadi tujuan didikan kita, bukanlah suatu perhambaan yang memberi keuntungan kepada yang disembah, tetapi perhambaan yang mendatangkan kebahagiaan kepada yang menyembah; perhambaan yang memberi kekuatan kepada yang memperhambakan dirinya itu.

„Dan barang siapa yang syukur kepada Tuhan maka sesungguhnya ia bersyukur untuk kebaikan dirinya sendiri dan barang siapa yang ingkar, maka sesungguhnya Tuhanku Mahakaya dan Mahamulia l” (Q.s. An-Naml: 40).

Akan menjadi orang yang memperhambakan segenap ruhani dan jasmaninya kepada Allah s.w.t. untuk kemenangan dirinya dengan arti yang seluas-luasnya yang dapat dicapai oleh manusia itulah tujuan hidup manusia diatas dunia. Dan itulah tujuan didikan yang harus kita berikan kepada anak kita kaum Muslimin.

Inilah „Islamietisch Paedagogisch Ideaal” yang gemerlapan yang harus memberi suar kepada tiap-tiap pendidik Muslimin dalam mengemudikan pendidikannya.

Demikian halusnya pengertian hamba Allah yang menjadi tujuan pendidikan Islam sehingga tak ada angka-angka yang mampu menjadi tolok ukur keberhasilannya. Keberhasilan pendidikan Islam tidak boleh diukur oleh semua hal yang bersifat materialistic, dengan sederet gelar mentereng, seberapa luas kekuasaan, berapa banyak kekayaan, setinggi apa jabatan. Semua hal itu hanyalah effek samping. Dr. Yusuf Qardhawi menyebut “seseorang belum diakui sebagai ahli suatu ilmu sebelum mengintegrasikan ilmu yang dimilikinya dengan amal. Inilah yang dimaksud wara, asasnya adalah takut kepada Allah SWT yang merupakan buah dari ilmu yang hakiki.”

Oleh karenanya tercapainya tujuan pendidikan Islam hanya dapat dirasakan dan dilihat akibatnya ketika seluruh peri kehidupan mendapatkan hasil yang maksimal sehingga terciptalah sebuah peradaban adiluhung yang mengandung Islamic worldview.

Worldview (dalam bahasa Inggris) weltanschauung atau weltansicht (Jerman), terkadang juga disebut paradigma. Menurut DR. Hamid Fahmi Zarkasy, worldview adalah tolok ukur untuk membedakan antara suatu peradaban dengan peradaban yang lain. Dalam tradisi Islam klasik tidak ditemukan terma khusus untuk pengertian worldview, meski tidak berarti bahwa para ulama tidak memiliki asas yang sistemik untuk memahami realitas. Para ulama abad 20 menggunakan terma khusus untuk pengertian worldview ini, meskipun berbeda antara satu dengan yang lain. Maulana al-Mawdudi mengistilahkannya dengan Islami nazariat (Islamic Vision), Sayyid Qutb menggunakan istilah al-TaÎawwur al-Islam (Islamic Vision), Mohammad AÏif al-Zayn menyebutnya al-Mabda’ al-Islam (Islamic Principle),  Prof. Syed Naquib al-Attas menamakannya Ru’yatul Islam lil wujd (Islamic Worldview). Meskipun istilah yang dipakai berbeda-beda pada umumnya para ulama tersebut sepakat bahwa Islam mempunyai cara pandangnya sendiri terhadap segala sesuatu. Untuk menunjukkan bahwa penambahan kata sifat “Islam” untuk kata worldview dapat merubah makna etimologis dan terminologisnya.

Istilah Islami Nazariyat (Islamic Vision) bagi al-Mauwdudi berarti “pandangan hidup yang dimulai dari konsep keesaan Tuhan (shahadah) yang berimplikasi pada keseluruhan kegiatan kehidupan manusia di dunia. Sebab shahadah adalah pernyataan moral yang mendorong manusia untuk melaksanakannya dalam kehidupannya secara menyeluruh”. Worldview dalam istilah Shaykh Atif al-Zayn adalah al-Mabda’ al-Islam yang lebih cenderung merupakan kesatuan iman dan akal dan karena itu ia mengartikan mabda’ sebagai aqidah fikriyyah yaitu kepercayaan yang berdasarkan pada akal. Sebab baginya iman didahului dengan akal. Sayyid Qutb memahami dari perspektif teologis dan juga metafisis mengartikannya dengan al-tasawwur al-Islami, yang berarti sebagai “akumulasi dari keyakinan asasi yang terbentuk dalam pikiran dan hati setiap Muslim, yang memberi gambaran khusus tentang wujud dan apa-apa yang terdapat dibalik itu.” S.M.Naquib al-Attas mengartikan worldview Islam sebagai pandangan Islam tentang realitas dan kebenaran yang nampak oleh mata hati kita dan yang menjelaskan hakekat wujud; oleh karena apa yang dipancarkan Islam adalah wujud yang total maka worldview Islam berarti pandangan Islam tentang wujud (ru’yat al-Islam lil-wujd).

Poin penting yang dapat ditangkap dari definisi keempat tokoh diatas adalah bahwa pandangan hidup Islam adalah pandangan Islam tentang realitas dan kebenaran yang menjelaskan tentang hakekat wujud yang berakumulasi dalam akal pikiran dan memancar dalam keseluruhan kegiatan kehidupan umat Islam di dunia. Pandangan-pandangan diatas telah cukup baik menggambarkan karakter Islam sebagai suatu pandangan hidup yang membedakannya dengan pandangan hidup lain. Pandangan hidup seorang muslim adalah pandangan hidup yang didasarkan dan bertujuan untuk mengesakan Allah SWT atau dengan bahasa M. Natsier adalah untuk menjadi “hamba Allah”. Sebagai syarat utama seorang muslim adalah mengakui keesaan Allah SWT dan mengakui Nabi Muhammad SAW sebagai rasul dan nabi penutup.

Wallahu a’lam bi shawab

SIB 21 Muharam 1434 H/ 05 Desember 2012