Category Archives: Ghazwul Fikr

Bulan Sabit Bintang, Benarkah Simbol Islam?

Bulan Sabit Bintang, Benarkah Simbol Islam?.

Catatan Untuk Penggunaan Kata-kata “Wahhabi” dan “Wahhabisme”

ibn Abdul WahhabPara pengikut Muhammad ibn Abdul-Wahhaab tidak pernah menggunakan terma “Wahhabi” atau “Wahhabisme” dalam menunjukkan dirinya atau keyakinannya. Umumnya, mereka akan menggunakan terma-terma seperti “ummat Muslim”, muwahhideen (“penganut monotheisme”) dan mereka menyebut seruan mereka, “seruan monotheisme sejati (tauheed),” “agama Islam,” “dawah Salaf” (mengacu kepada generasi-generasi awal ummat muslim yang shaleh) atau hanya “dawah.”[1] Muwahhideen adalah terma favorit mereka untuk digunakan kepada diri mereka, sebagai cara membedakan mereka dari ummat Muslim lain yang terlibat dalam praktik-praktik yang berbenturan dengan akar agama tauhid sejati.[2]

Sangat jelas bahwa ibn Abdul-Wahhaab tidak lebih daripada seorang pengikut Nabi (SAW), para shahabatnya, tabi’in, tabi’i tabi’in, dan beberapa ulama besar yang datang kemudian, seperti Imam Ahmad, ibn Taimiyyah, ibn al-Qayyim, ibn Katheer dan lain-lain. Namun demikian, untuk memberikan ibn Abdul-Wahhaab sebuah nama yang akan memperlihatkan pendekatannya dengan benar – seperti salafi (berarti orang yang mengikuti cara-cara para pendahulu yang shaleh) – tak akan mendapati gol dan tujuan yang sama dengan mereka yang datang dengan nama “Wahhabi”.[3]

Al-Uthaimeen menyatakan bahwa tak diragukan bahwa orang pertama yang menggunakan terma ini adalah para penentang dawahnya, meskipun tidak jelas apakah mereka yang ada di dalam Najd atau mereka yang ada di luar Najd yang pertama kali menggunakan terma ini. Apa yang jelas, bagaimanapun, adalah pada waktu tidak lama setelah penyerangan Muhammad Ali Pasha kepada al-Diriyyah, terma itu mulai menjadi biasa.[4]

Di lain pihak, tak ada kesangsikan bahwa terma ini aselinya digunakan untuk membuat “orang-orang menjauh” dari ajaran-ajaran Muhammad ibn Abdul-Wahhaab. Diklaim bahwa Muhammad ibn Abdul-Wahhaab menyeru kepada sebuah agama baru atau kepada madzhab kelima. Tentu saja, dalam tambahan menyebut mereka “Wahhabi,” mereka juga disebut bid’ah, kafir dan Khawarij.[5]

Selama abad yang telah berlalu, terbangun sebuah perbedaan pendapat di antara para pengikut ajaran-ajaran Muhammad ibn Abdul-Wahhaab apakah menerima atau tidak terma “Wahabi” yang ditujukan kepada mereka. Bagi mereka yang menerimanya, mereka merasa bahwa ajaran-ajaran Muhammad ibn Abdul-Wahhaab telah menjadi sangat jelas bagi semua dan bermacam terma “Wahhabi” adalah mirip dengan terma lain untuk mengikuti jalan generasi-generasi awal Islam yang shaleh. Karenanya, mereka melihat tidak ada masalah dalam penggunaan terma itu. Maka, Abdul-Azeez ibn Muhammad ibn Ibraheem, seorang anak keturunan ibn Abdul-Wahhaab, menulis akhir-akhir ini (barangkali terlalu optimis),

Terma Wahhabisme di zaman kita tidak menciptakan masalah bagi kita. Di zaman kecepatan ini, hasil-hasil penemuan memeprsempit jarak…[orang-orang] sekarang tahu untuk dirinya sendiri apa yang biasa mereka ketahui melalui alat-alat yang merubah kenyataan … Kebenaran sekarang terang dan terbukti bagi orang-orang yang melihat kenyataan. Orang-orang sekarang tahu bahwa Wahhabisme hanya berarti orang-orang yang menjalankan Sunnah, orang-orang Sunni, berpegang teguh pada doktrin para pendahulu yang shaleh dan mempertahankannya untuk melawan segala macam serangan.[6]

Bahkan, Aali-Bootaami mengatakan (juga barangkali terlalu optimistik) bahwa rencana jahat musuh-musuh ibn Abdul-Wahhaab pada hal ini benar-benar menyerang balik. Apa yang sebenarnya dimaksudkan untuk meremehkan sekarang menjadi papan penunjuk untuk mengikuti jalan Nabi (SAW) yang sebenarnya. Sekali orang mendengar kata “Wahhabi” sekarang, dia tahu bahwa kata ini mengacu kepada seseorang yang menyeru untuk mengikuti Quran dan Sunnah, mengikuti dalil, amar ma’ruf nahyi munkar, mengeliminir bidah-bidah dan takhyul dan ketaatan pada jalan yang telah ditempuh salafu shalih. Kenyataannya, para “Wahhabi” ini terus tumbuh menyebarkan kebenaran sementara Negara-negara Ottoman dan Sharif telah kehilangan eksistensinya.[7]

Mereka yang tidak keberatan dengan terma ini termasuk ibn Sahmaan, Muhammad Haamid al-Faqi, Muhammad Rasheed Ridha dan al-Nadwi. Sementara mereka yang terus keberatan pada terma ini termasuk Saalih al-Fauzaan[8]dan ibn Jibreen.[9]

Akan tetapi, dalam situasi mutakhir, sekali lagi, terma ini digunakan untuk menggiring orang agar menjauh dari Islam yang sejati, dalam cara yang sama dalam penggunaan terma “fundamentalist” yang digunakan untuk mengecilkan mereka yang mempraktikkan Islam yang sebenarnya. Khususnya sekarang dan zaman ini, banyak orang yang mulutnya kurang besar atau sebaliknya menganggap tidak bijaksana dan tidak hati-hati jika keluar dan menyerang Islam secara terbuka. Karenanya, mereka mencoba perkakas lain yang dapat digunakan untuk menyerang Islam – sementara pada saat yang sama menampakkan diri sebagai orang yang simpatik kepada ummat Muslim dan beberapa bentuk Islam. Harus ada layar yang berasap. Upaya itu adalah dengan mencoba melawan setiap penerapan Islam yang akan memiliki makna dan signifikansi yang nyata dalam kehidupan ummat Muslim. Barat takut pada tantangan yang diberikan oleh Islam dan satu-satunya cara mereka dapat menundukkan Islam – cara yang telah mereka ikuti selama berabad-abad – adalah dengan mencoba menjelek-jelekkannya dengan cara terburuk yang mungkin dilakukan.

Saat ini, perkakas yang dapat digunakan untuk melukiskan ummat Muslim yang benar-benar mengikuti Quran dan Sunnah tiada lain daripada fundamentalist, extremist, terbelakang dan terroris. Kenyataannya, salah satu metode yang digunakan oleh orang-orang yang “anti-Wahhaabi” adalah bahwa mereka menjejaki aspek-aspek yang mereka anggap tanpa diduga kembali kepada para “Wahhaabi” sementara tidak pernah menyebutkan bahwa hal-hal itu secara eksplisit disebutkan dalam Quran dan Sunnah. Karenanya, masalah mereka sebenarnya bukanlah dengan para “Wahhaabi” namun sebenarnya dengan makna Quran dan Sunnah yang jelas dan tegas.

Poin penting terakhir adalah bahwa “para pengikut” bisa jadi tidak selalu merefleksikan pendirian guru atau ajaran-ajaran aselinya. Ini benar bagi setiap pemimpin. Setiap ajaran, seruan atau gerakan bisa memiliki para pengikut yang menempel pada dirinya yang tidak benar-benar memahami pesannya, yang bodoh dalam dirinya atau yang tidak benar-benar tulus dalam kecintaannya pada seruan itu. Bahkan, dengan rasa hormat pada semua ajaran, orang harus membedakan para pengikut yang berpengetahuan yang benar-benar menjaga pesan dengan kata-kata dan tindakan dengan para pengikut yang tak terdidik. Karenanya, tindakan-tindakan yang diambil guru dan ajaran-ajaran aseli tidak bisa disalahkan. Sebagaimana dicatat al-Uthaimeen, masalah ini dimulai pada masa cukup awal dawah ibn Abdul-Wahhaab.[10] Selama hidup Muhammad ibn Abdul-Wahhaab, beberapa pengikutnya keberatan pada anak-anak keturunan Nabi (SAW), yang memakai pakaian yang berbeda untuk menandai diri mereka sendiri dari yang lain. Namun demikian, Muhammad ibn Abdul-Wahhaab sendiri tidak keberatan terhadap hal itu dan beliau telah mengoreksi “para pengikutnya.” Kedua, lebih penting, contoh yang diberikan oleh al-Uthaimeen mengenai tahun 1217 H. (setelah wafatnya ibn Abdul-Wahhaab), ketika para pengikut ibn Abdul-Wahhaab menaklukkan Taif. “Para pengikut” dengan penuh semangat menghancurkan buku-buku keagamaan di kota itu. Adalah putera Muhammad ibn Abdul-Wahhaab, yang telah mengecam tindakan itu dan mencoba mengoreksi cara-cara mereka.[11]

Di masa kontemporer, dua hal terjadi: setiap orang yang diberi label “Wahhabi” atau “Wahhabis” disalahkan atas segala hal. Banyak orang yang menyebut dirinya “Wahhabis” melakukan hal-hal yang tidak sesuai dengan prinsip-prinsip Muhammad ibn Abdul-Wahhaab atau, jika tidak bisa diperoleh secara langsung, cara para salaf darimana ibn Abdul-Wahhaab memperoleh ajaran-ajarannya. Maka, sekali lagi, barangkali inilah waktunya untuk bersiap-siap untuk tidak menggunakan terma “Wahhabi” dan “Wahhabisme” dan, malahan, mendorong semua untuk menjejak klaim-klaim mereka kembali kepada Quran dan Sunnah.

[1] Kenyataan, Membicarakan referensi pada abad 20, Muhammad Haamid al-Fiqi menyatakan bahwa orang-orang Najd tak pernah menyebut terma “Wahhabi.” Dia mengatakan bahwa mereka semua, termasuk para pemimpin keagamaan mereka, kebanyakannya adalah anak keturunan Muhammad ibn Abdul-Wahhaab, yang menyebut diri mereka dengan orang Najdi, untuk menghormati asal-usul mereka, dan Hanbali, untuk menghormati agama dan keyakinan mereka. Al-Fiqi dikutip dalam Dhaahir, hal. 29.

[2] Bandingkan, al-Uthaimeen, al-Shaikh, hal. 102. Al-Uthaimeen lebih jauh mencatat bahwa Winder, dalam bukunya Saudi Arabia in the Nineteenth Century, mengatakan bahwa ketika para pengikut ibn Abdul-Wahhaab menggunakan terma, “dawah Muhammad,” mereka mengacu kepada Muhammad ibn Abdul-Wahhaab. Al-Uthaimeen mengatakan bahwa yang seperti itu adalah tidak benar. Terma “dawah Muhammad” dalam tulisan-tulisan para pengikut Muhammad ibn Abdul-Wahhaab sebenarnya mengacu kepada Nabi Muhammad (SAW).

[3] Sejumlah penulis menekankan poin yang salah untuk menyebut mereka Wahhabi karena nama itu didapat dari nama ayah ibn Abdul-Wahhaab dan bukan namanya. Al-Uthaimeen (al-Shaikh, hal. 101) mengetengahkan kontroversi ini dan menyatakan bahwa sebenarnya tak ada perbedaan dari terma Hanbali, yang berhubungan pada kakeknya Ahmad. Tak diharapkan mereka disebut “Muhammadans” sebagai cara membedakan mereka dari sebagian ummat Muslim lainnya. Namun demikian, pada saat yang sama, terdapat banyak, termasuk Neibhur, yang salah berpikir bahwa nama itu berasal dari guru asal dawah itu, yaitu ayah Muhammad.

[4] Al-Uthaimeen, al-Shaikh, hal. 101. Lihat juga al-Nadwi, hal. 203.

[5] Missionaris Zweimer mencatat bahwa ibn al-Qayyim memiliki pandangan-pandangan yang mirip dengan pandangan-pandangan ibn Abdul-Wahhaab dan menyimpulkan meskipun ibn al-Qayyim menyadari dirinya sebagai seorang Hanbali, dia sebenarnya seorang Wahhabi. Kenyataannya adalah ibn al-Qayyim hidup berabad-abad sebelum ibn Abdul-Wahhaab nampaknya hilang pada Zweimer. Lihat al-Nadwi, hal. 201. Sebenarnya, telah menjadi sangat digemari bahwa siapa saja yang mengikuti Quran dan Sunnah da menentang syirk disebut seorang “Wahhabi.” Al-Saabiq, pada awal abad ini, menulis bahwa dia menemukan banyak orang yang menyebut bahwa Imam Ahmad, ibn Taimiyyah yang yang lain-lainnya yang seperti mereka sebagai “Wahhabi.” Dia menyatakan jika saja Shahabat Abu Bakr Nampak di antara orang-orang ini, mereka juga akan menyebutnya seorang “Wahhabi” juga. Lihat Fauzaan al-Saabiq, Al-Bayaan wa al-Ishhaar li-Kashf Zaig al-Mulhid al-Haaj al-Mukhtaar (N.c. N.p. 2001), hal. 60.

[6] Dikutip dalam al-Huqail, hal. 98.

[7] Ali-Bootaami, hal. 65-66.

[8] al-Fauzaan, “Taqeebaat ala ma Dhakarahu al-Ustaadh Abdul-Kareem al-Khateeb” hal. 68-69.

[9] Untuk pandangan ibn Jibreen, lihat al-Abdul-Lateef, hal. 76.

[10] Orang mestilah tidak pernah lupa kenyataan bahwa banyak yang akhirnya jatuh di bawah payung kepemimpinan Muhammad ibn Abdul-Wahhaab adalah orang-orang Badui yang bodoh yang pengetahuannya kurang tentang Islam. Meskipun ibn Abdul-Wahhaab secara konstan mengrimkan guru-guru kepada daerah-daerah yang berbeda-beda, namun tidak cukup untuk menghilangkan tahun-tahun kebodohan dan mindset yang mendatangkan keinginan untuk belajar. Dengan jelas, tindakan-tindakan orang-orang seperti ini tidak bisa merefleksikan ajaran-ajaran sang pemimpin.

[11] Al-Uthaimeen, al-Shaikh, hal. 103.

Seluruhnya dikutip dari buku The Life, Teachings and Influence of Muhammad ibn Abdul-Wahhaab Karya Jamaal Zarabozo

Asal-usul Syiah

Oleh :  Dr. Ragheb El Sergani

Ulama-ulama Usul Al-Fiqh (Prinsip-prinsip Hukum Islam) menyatakan aturan berikut, “Seseorang tak bisa memberikan sebuah keputusan terhadap sesuatu sampai dia memiliki konsepsi jang jelas tentangnnya”. Berdasarkan aturan itu, tidaklah bernilai memberikan pendapat tentang syiah sampai anda memiliki pengetahuan yang baik tentang mereka. Tidak juga bermakna mengekspresikan pendapat seseorang yang mencoba mendamaikan pandangan-pandangan Sunni dan Syiah tanpa mengenali keadaan dua sekte itu. Sama halnya, bukanlah pandangan yang nyata untuk menerima atau menolak berbicara tentang Syiah tanpa mengetahui realitas masalahnya, yang mana perluasannya berbahaya, mengaturnya menjadi prioritas kita dan hubungannya pada berbagai variable Ummah yang dihadapi.

Ringkasnya, sebelum kita membuat kritik yang menentang ataupun mendukung syiah, kita harus pertama-tama memahami siapakah Syiah itu, bagaimana asal-usulnya, bagaimana latar belakang teologi dan Fiqh mereka, bagaimana sejarah mereka, apakah tujuan dan ambisi mereka di dunia nyata. Hanya setelah melakukan ini, kita dapat memperlihatkan pandangan kita lebih jauh, khususnya ketika kita mengetahui begitu banyaknya orang yang mengubah pandangan yang telah lama diyakininya dan menyerahkan gagasan mereka setelah mereka disuguhkan informasi dan pandangan yang jelas.

Siapakah Syiah?

Masalah ini bukanlah semata-mata tentang bangsa tertentu yang hidup di sebuah Negara tertentu yang memiliki beberapa perselisihan dengan Negara tetangganya. Lebih dari itu, ini adalah sebuah masalah yang memiliki latar belakang teologis, historis dan Fiqh yang harus diacu.

Banyak sejarahwan yang berselisih pendapat mengenai kapan dimulainya Syiah ini.

Apa yang biasa dipercayai orang banyak adalah bahwa Syiah adalah mereka yang mendukung ‘Ali bin Abu Talib pada masa kekhalifahan Mu`awiyah bin Abu Sufyan, (RA). Menurut pengertian ini, mereka yang mendukung `Ali bin Abu Talib adalah Syiah sementara mereka yang mendukung Mu`awiyah adalah Sunnis. Pemahaman seperti itu tak pernah dapat diterima. Lebih lagi, orang-orang Sunni percaya dengan rasa hormat perselisihan yang timbul antara du shahabat yang terhormat ini bahwa ‘Ali (RA)—lah yang benar, sementara Mu`awiyah (RA) melaksanakan Ijtihad namun tidak mencapai kebenaran. Maka, pemikiran orang-orang Sunni jelas-jelas bersama ‘Ali. Lebih lagi, prinsip-prinsip, doktrin dan ideology yang dpegang oleh Syiah secara keseluruhan benar-benar berbeda dengan apa yang dipegang oleh `Ali bin Abu. Karenanya, adalah keliru jika mengatakan bahwa kemunculan Syah adalah pada masa itu.

Beberapa sejarahwan mengatakan bahwa kemunculan Syiah adalah setelah Al-Hussein (RA) syahid. Pendapat ini kedengarannya lebih logis. Kenyataannya, Al-Hussein memberontak terhadap pemerintahan Yazid bin Mu`aweiyah dan karenanya, dia menuju ke Iraq setelah para pengikutnya yang berada di sana berjanji akan kembali padanya. Akan tetapi, mereka membiarkannya terjatuh di saat-saat yang sangat kritis, yang membuatnya harus menemui kesyahidan di Karbala. Kelompok orang yang mengundangnya dan gagal mendukungnya merasa menyesal dan memutuskan untuk menebus dosa-dosa mereka dengan cara memberontak terhadap kekhalifahan Umayyah. Mereka benar-benar melakukannya dan sejumlah besar dari mereka terbunuh sehingga disebut Syiah. Ini bisa menjelaskan kenapa kita melihat bahwa Syiah itu lebih lekat pada Al-Hussein bin `Ali daripada kepada `Ali bin Abu Talib (RA) sendiri. Mereka juga, sebagaimana dapat kita lihat, menandai peringatan kesyahidan Al-Hussein tapi tidak menandai hari kesyahidan `Ali bin Abu Talib.

Namun demikian, sekte ini hanya tumbuh sebagai gerakan politis yang menentang dinasti Ummayyah dan kembali melakukan upaya untuk memberontak pada dynasty ini. Sampai saat itu, mereka tidak memegang prinsip-prinsip teologi dan fiqh yang berbeda dengan orang-orang Sunni. Kita bahkan akan mengetahui bahwa pemimpin-pemimpin awal yang diklaim orang-orang Syiah sebagai imam-imam Syiah ternyata hanyalah orang-orang Sunni yang mengadopsi doktrin-doktrin dan prinsip-prinsip orang-orang Sunni.

Situasi terus berlanjut dan berangsur stabil untuk beberapa bulan setelah kesyahidan Al-Hussein (RA). Pada periode ini hidup `Ali Zainul-`Abdin bin Al- Hussein yang merupakan seorang yang berkepribadian baik dan ulama yang zuhud. Dia tak pernah dilaporkan memiliki keyakinan atau ideology yang berbeda dengan apa yang dipegang oleh para shahabat dan shalafu shalih.

`Ali Zainul-`Abdin memiliki dua orang putera yang yang shaleh dan murni, yang bernama, Mohammed Al-Baqir dan Zaid, yang keduanya benar-benar berkeyakinan sama dengan apa yang dipegang ulama-ulama Sunni termasuk para shahabat dan penerusnya. Akan tetapi, Zaid bin `Ali (RA) berbeda dalam melihat bahwa `Ali bin Abu Talib lebih layak dianggap khlaifah daripada Abu Bakr (RA). Meskipun pendapat bertentangan dengan consensus Ummah dan bertentangan dengan banyak hadits yang secara eksplisit menganggap bahwa Abu Bakr Al-Siddik, `Umar dan `Uthman memiliki peringkat yang lebih tinggi dibanding `Ali (RA), perbedaan pendapat ini, bagaimanapun, tidak berhubungan dengan masalah doctrinal. Sementara dia memandang bahwa `Ali –lah yang terbaik, dia, bagaimanapun, mengakui ketinggian derajat tiga khalifah pertama. Dia juga percaya dalam hal kebolehan mengangkat seorang imam meski ada orang yang lebih tinggi derajatnya. Jika demikian, dia tidak menolak imamah Abu Bakr, `Umar dan `Uthman (RA). Selain dari itu, dia juga setuju dengan orang-orang Sunni dalam hal teologi, prinsip-prinsip dan Fiqh.

Mengulangi upaya yang telah dilakukan kakeknya, Al-Hussein bin `Ali (RA), Zaid bin `Ali memberontak melawan khlaifah Umayyah, Hisham bin Abdul-Malik, yang berakhir dengan terbunuhnya dia pada tahun 122 H. Para pengikutnya kemudian mendirikan sebuah sekte yang didasarkan atas gagasan-gagasannya, yang dalam sejarah dikenal dengan nama Zaydiyyah,dinamai setelah Zaid bin `Ali. Meski dianggap sebagai sekte yang yang berbasis Syiah, Zaydiyyah sepakat dengan orang-orang Sunni dalam segala hal kecuali menempatkan `Ali dalam posisi yang lebih tinggi disbanding tiga khalifah yang lebih mula. Para pengikut sekte ini terutama ada di Yaman dan mereka ada sekte Syiah yang lebih dekat kepada Sunni – bahkan orang akan sulit membedakan mereka dari orang-orang Sunni even one can hardly distinguish them from Sunnis dalam banyak hal.

Adalah bermanfaat untuk menyebutkan bahwa sebuah kelompok para pengikut Zaid bin `Ali bertanya padanya mengenai pendapatnya tentang Abu Bakr dan `Umar. Dalam jawabannya, dia memohon kepada Allah untuk menunjukkan rahmat-Nya kepada kedua orang khalifah itu, namun mereka yang bertanya padanya menolak untuk melakukan hal yang sama dan keluar dari sektenya. Karenanya mereka dikenal dalam sejarah sebagai Rafidah (para pembangkang) karena mereka menolak kekhalifahan Abu Bakr dan `Umar pada satu sisi, dan menolak pendapat  Zaid di sisi yang lain. Generasi-generasi selanjutnya dari grup seperti ini mendirikan sebuah sekte yang nanti dikenal sebagai sekte Ithna `Ashriyyah (Imamiyyah) yang menjadi sekte Syiah terbesar.

Mohammed Al-Baqir, saudara dari Zaid bin `Ali, meninggal delapan tahun sebelum saudaranya (pada tahun 114 H.) meninggalkan seorang putera yang menjadi seorang ulama terhormat, Ja`far Al-Sadiq. Kemudian dia menjadi seorang ulama utama dan seorang Faqih, yang memegang teologi yang sama dengan apa yang diyakini para Shahabat, tabiin, dan para ulama secara umum.

Pada akhir era kekhalifahan Umayyah, gerakan Abbasiyyah memulai aktifitasnya yang bertujuan menggalang orang-orang untuk melawan kekhalifahan Umayyah. Gerakan ini bekerjasama dengan kelompok-kelompok yang keluar dari Zeid bin `Ali dan keduanya dapat menggulingkan kekhalifahan Umayyah pada tahun  132 H. Kekhalifahan Abbasiyyah kemudian berkuasa diketuai oleh pendirinya Abul-`Abbas Al-Saffah dan penggantinya Abu Ja`far Al-Mansur. Mereka yang bekerjasama dengan gerakan ini kemudian menjadi kecewa karena mereka berusaha mendirikan kekhalifahan yang diperintah oleh cucu `Ali bin Abu Talib. Karenanya, mereka membentuk sebuah kelompok yang disebut Al-Talibiyyun (para pendukung `Ali bin Abu Talib (RA) dibandingkan kepada Abbasiyyah yang dinamai setelah Al-`Abbas bin Abdul-Muttalib) dengan tujuan untuk melakukan kudeta terhadap kekhalifahan Abbasiyyah.

Sampai era ini, tak ada pelangaran teologis ataupun fiqh yang essensial kecuali kritik terhadap Abu Bakr dan `Umar; sebenarnya, beberapa dari mereka yang keluar dari Zaid bin `Ali yang menolak mereka dan bahkan mengutuk mereka di depan public.

Ja`far Al-Sadik meninggal tahun 148 H. meninggal seorang putera bernama Musa Al-Kazim, yang juga seorang ulama namun tak sebanding dengan ayahnya. Dia meninggal pada tahun 183 H. meninggalkan beberapa putera termasuk `Ali bin Musa Al-Rida.

Terjadilah Khalifah Abbasiyyah, al Ma’mun melihat konten pemberontakan Al-Talibiyyun yang mengklaim kekhalifahan untuk anak keturunan `Ali bin Abu Talib alih-alih untuk anak keturunan Al-`Abbas. Maka, dia mengangkat `Ali bin Musa Al-Rida sebagai pangeran mahkota, yang dipenuhi dengan kontroversi di antara kalangan Abbasiyyah. Namun demukian, `Ali bin Musa Al-Rida tiba-tiba meninggal pada tahun 203 H., dan Al-Talibiyyun menuduh Al-Ma’mun –lah yang membunhnya dan sekali lagi meningkatkan revolusi suksesi melawan Abbasiyyah sebagaimana mereka lakukan kepada Umayyah.

Bagaimanapun, tahun-tahun yang berlalu member ruang agar revolusi ini relative menurun. Sampai saat itu, Syiah belum mengadopsi sebuah mazhab pemikiran keagamaan yang independen yang disebut Syiah. Malahan, yang ada hanyalah gerakan-gerakan politis yang bertujuan memperoleh kekuatan dan menentang para penguasa karena berbagai alas an yang tidak termasuk kepada alas an-alasan teologis sebagaimana dipegang Syiah yang ada sekarang.

Dengan cara yang mencolok, dawah-dawah perselisihan seperti itu menemukan dukungan dalam skala besar di kawasan Persia (Iran hari ini). Sebenarnya, banyak penduduk di daerah itu yang menyesali atas runtuhnya kekaisaran Persia dan fusinya ke dalam Negara Islam. Mereka, bangsa Persia, menganggap diri mereka bersal dari ras yang lebih tinggi, kesukuan yang lebih baik dan sejarah yang lebih hebat disbanding Muslim. Perasaan ini menimbulkan perasaan Persophilia – sebuah ideology yang berarti memberikan prioritas pada ras dan kesukuan mereka dibanding lainnya bahkan Islam. Beberapa di antara mereka bahkan memperlihatkan ketaatan yang mendalam kepada akar-akar, kunci, persedian dan barel Persia mereka, bahkan kepada api yang pernah mereka sembah.

Karena mereka tidak cukup punya kekuatan untuk melakukan pemberontakan melawan Negara Islam, dan menjadi Muslim untuk beberapa decade, mereka menemukan revolusi Al-Talibiyyun sebagai jalan yang dengannya dapat menggulingkan kekhalifahan Islam yang telah menggulingkan Negara Persia mereka sebelumnya. Pada saat yang sama, mereka tak mau meninggalkan Islam yang telah mereka anut bertahun-tahun. Mereka, namun demikian, memutuskan menyusupkannya dengan cara menyuntikkannya peninggalan Negara Persia sehingga menciptakan instabilitas di dalam Ummah Muslim. Mereka mempertahankan penampangan yang rendah, sementara Al-Talibiyyu dibuat seakan-akan berada pada penampangan yang tinggi. Mengingat Al-Talibiyyun berafiliasi kepada `Ali bin Abu Talib, adalah bagian dari ahlul bayt Nabi dan maka dijunjung tinggi orang-orang, sehingga orang-orang itu dapat terjamin melanjutkan misi mereka.

Maka, upaya-upaya Persophil untuk menyatu dengan Al-Talibiyyun yang berasal dari Ahlul Bayt Nabi adalah untuk membentuk satu kemerdekaan baru, bukan hanya dalam bidang politik tapi juga dalam keagamaan, entitas.

Kembali ke Al-Talibiyyun, kita dapat melihat setelah kematian `Ali Al-Rida yang telah diangkat sebagai pangeran mahkota oleh Khalifah Al-Ma’mun, dia digantikan oleh anaknya Mohammed Al-Jawad yang meninggal pada tahun 220 H. Dia juga kemudian digantikan oleh puteranya `Ali bin Mohammed Al-Hadi yang meninggal pada tahun 254 H. Akhirnya, yang terakhir digantikan oleh Al-Hassan bin `Ali yang disebut Al-`Askary yang juga meninggal secara tiba-tiba pada tahun 260 H. meninggalkan seorang putera yang berusia 5 tahun, Mohammed.

Beberapa tahun sebelumnya, gerakan-gerakan separatis, yang dilakukan beberapa Ahlul Bayt Nabi dan Persophil, berikrar kepada putera tertua pemimpin Al-Talibiyyun, dimulai dengan `Ali Al-Rida dan diakhiri dengan Al-Hassan Al-`Askary. Mengenai leluhur-leluhur `Ali Al-Rida, seperti ayahnya Musa Al-Kazim atau kakeknya Ja`far Al-Sadik atau kakek buyutnya Mohammed Al-Baqir, mereka tidak dianggap pemimpin revolusioner melawan penguasa Umayyah atau Abbasiyyah.

Namun demikian, setelah Al-Hassan Al-`Askary meninggal pada tahun 260 H., para revolusioner ini benar-benar kebingungan kepada siapa mereka menyandarkan kepemimpinan sementara Al-Hassan Al-`Askary sendiri hanya meninggalkan seorang putera yang masih sangat kecil. Mereka bahkan menjadi benar-benar kebingungan setelah anak yang masih sangat kecil itu meninggal sevara tiba-tiba. Hal ini menghasilkan perpecahan kelompok-kelompok revolusioner itu ke dalam berbagai sekte yang masing-masing berbeda dari yang lainnya dalm terma prinsip-prinsip dan gagasan demikian juga dalam keyakinan.

Yang paling terkenal dari antara sekte-sekte itu adalah Ithna `Ashriyyah (Imamiyyah), yang sekarang banyak berlaku di Iran, Iraq dan Lebanon. Ini adalah sekte Syiah terbesar pada saat ini.

Para pemuka sekte ini mulai menambahi ke dalam gagasan-gagasan Islam yang akan bekerja dengan baik dalam situasi-situasi yang terpapar akhir-akhir ini dan yang dapat memastikan keberlangsungan sekte mereka menghipun dengan absennya pemimpin mereka.

Mereka menambahkan begitu banyak bid’ah yang serius ke dalam agama Islam, dan mengklaim bid’ah-bid’ah itu sebagai bagian dan paket dari Islam. Maka, bid’ah-bid’ah itu, dengan berlalunya waktu, menjadi komponen kunci igeologi dan pemikiran mereka. Beberapa bid’ah itu berhubungan dengan Imamah (kekhalifahan). Mencari justifikasi untuk kekurangan imam pada saat ini, mereka berargumen bahwa imam itu hanya ada duabelas, dengan rangkaian sebagai berikut: 1- `Ali bin Abu Talib, 2- Al-Hassan bin `Ali, 3- Al-Hussein bin `Ali, 4- `Ali Zainul-`Abidin bin Al-Hussein, 5- Mohammed Al-Baqir bin Zainul-`Abidin, 6- Ja`far Al-Sadik bin Mohammed Al-Baqir, 7- Musa Al-Kazim, 8- `Ali Al-Rida, 9- Mohammed Al-Jawad, 10- `Ali Al-Hadi, 11- Mohammed Al-Mahdi dan 12- Al-Hassan Al-`Askary.

Duabelas Imam SyiahItulah kenapa sekte ini dinamai Ithna `Ashriyyah. Mencari pembenaran kenapa pergantian imam itu berakhir, mereka mengklaim bahwa anak kecil Muhammad bin Al-Hassan Al-`Askary belumlah mati sampai sekarang, dan karenanya, menurut mereka, dia menghilang di dalam sebuah gua di gunung dan masih hidup sampai sekarang (lebih dari seribu tahun sampai sekarang). Mereka kemudian mengklaim bahwa imam ini akan kembali dan memerintah dunia. Mereka juga yakin bahwa dia adalah Imam Mahdi yang ditungu-tunggu. Mereka juga mengklaim bahwa Rasulullah (SAW) mewariskan imamah kepada dubelas nama itu namun para Shahabat menahan informasi itu. Inilah kenapa mereka menghukumi para Shahabat umumnya sebagai orang-orang yang kafir (akan tetapi, beberapa dari mereka menghukumi para Shahabat hanya sebagai orang-orang yang tamak) karena mereka menyembunyikan wasiat itu. Dipengaruhi oleh system pemerintahan Persia, mereka memperkenalkan keniscayaan system monarchi yang percaya bahwa imam haruslah anak lelaki tertua dari `Ali bin Abu Talib demikian juga seterusnya semua yang menggantikan imam-imam yang ada sebelumnya. Bahkan Negara-negara Islam Sunni mendasarkan pada system monarchi seperti itu, seperti Umayyah, Abbasiyyah, Seljuk, Ayyubi dan kekhalifahan Ottoman, tak pernah menganggap bahwa sistem monoarchi seperti itumenjadi bagian dari agama atau aturan itu mesti berbasis dinansi. Dipengaruhi juga oleh Persia, mereka memperkenalkan kekudusan pemerintahan dinasti. Dengan demikian, mereka yakin akan kesempurnaan imam-imam yang telah disebutkan di atas dan karenanya menganggap perkataan mereka itu sesuci Quran dan Hadits Nabi. Lebih lagi, kebanyakan aturan-aturan Fiqh mereka berasal dari perkataan para imam tanpa memperhatikan apakah perkataan itu otentik atau kepalsuan yang disandarkan kepada mereka. Lebih jauh, dalam bukunya “Islamic Government”, Khomeini, pemimpin revolusi Iran, menyatakan, “Salah satu fundamen ideology kita adalah bahwa imam-imam kita lebih tinggi derajatnya dari para malaikat yang setia dan para nabi.[1]”  Karenanya, ini menjelaskan kebencian mereka yang sengit kepada para shahabat (kecuali beberapa di antara mereka yang tidak melebihi tigabelas). Mereka juga bahkan memperlihatkan kebencian kepada beberapa Ahlul Bayt Nabi, seperti Al-`Abbas (RA), pamanda Rasulullah, dan puteranya Abdullah bin `Abbas (RA), ulama besar Ummah. Tak dapat dibantah, kebencian kepada dua tokoh ini dan menghukumi mereka sebagai kafir adalah disebabkan oleh konflik sejarah antara Ithna `Ashriyyah dengan kekhalifahan Abbasiyyah.

Di antara bid’ah-bid’ah mereka adalah mereka menganggap kebanyakan negeri-negeri Muslim sebagai Darul-Kufr (Negeri Orang-orang Kafir). Mereka jugaKhomeini menghukumi orang-orang Madinah, Mekkah, Mesir dan Libanon sebagai orang-orang kafir, yang telah meriwayatkan apa yang dikatakan Nabi dengan keliru dalam hal ini yang mereka yakini sebagai bagian dari agama mereka.

Anda dapat merujuk gagasan-gagasan seperti itu dari sumber-sumber aseli mereka, seperti Al-Kafy, Bihar Al-Anwar dan Tafsir Al-Qummi, Tafsir Al-`Ayyashi, Al-Burhan dan kitab-kitab lainnya.

Konsekuensinya, mereka tidak mengakui ulama-ulama Sunni dan semua kitab Hadits shahih, seperti Al-Bukhari, Muslim, Al-Tirmidhi dan Al-Nasa’i. Mereka juga menolak otoritas  Abu Hanifah, Malik, Al-Shafi`i dan Ibn Hanbal. Mereka juga tidak mengakui kehebatan Khalid bin Al-Walid atau Sa`d bin Abu Waqqas, `Umar bin Abdul-`Aziz, Musa bin Nusair, Nourul-Din Mahmoud, Salahud-Din, Qutuz dan Muhammad Al-Fatih.

Sebagai hasil dari itu – mereka tidak mengakui para Shahabat, para Tabiin dan kitab-kitab hadits dan tafsir, mereka mempertahankan begitu banyak ucapan-uvapan yang disandarkan kepada Imam-imam mereka melalui jalur periwayatan yang sangat lemah. Konsekuensinya, banyak bid’ah-bid’ah yang menjijikkan yang mendapatkan tempat dalam doktrin-doktrin, peribadatan, perdagangan dan kehidupan mereka. Dalam artikel ini, saya tidak berniat memberikan daftar bid’ah-bid’ah yang mereka lakukan; sebenarnya, tujuan seperti itu membutuhkan susunan kitab-kitab. Saya disini hanya mengacu pada asal-asul masalahnya sehingga kita dapat memahami konsekuensinya. Namun demikian, dibutuhkan perbincangan yang panjang lebar mengenai bid’ah-bid’ah itu seperti Taqiyyah (dibolehkannya seorang penganut Syiah untuk menyembunyikan keyakinan mereka jika berada di bawah ancaman, penganiayaan atau pemaksaan) dan Raj’a (kembalinya Imam-imam mereka dari kematian), memandang bahwa Qur’an itu telah disisipi, tidak percaya kepada Allah, Bid’ah-bid’ah yang dilakukan di dalam kuil, membangun kuil-kuil di dalam masjid, Bid’ah-bid’ah keji yang dilakukan dalam perayaan kesyahidan Al-Hussein dan ribuan bid’ah lain yang menjadi tonggak-tonggak kunci dalam agama menurut Ithna `Ashriyyah.

Semua yang telah saya sebutkan hanyalah bagian dari igdeologi Ithna `Ashriyyah. However, terdapat beberapa sekte-sekte lain dalam satu periode sejarah, khususnya dalam periode yang dikenal dalam sejarah sebagai periode “Shia Bewilderment (kebingungan Syiah)”, yang dimulai pada awal pertengahan abad ketiga hijriah, setelah meninggalnya Al-Hassan Al-`Askary (Imam keduabelas sekaligus yang terakhir menurut mereka).

200px-Mollah_imamzadeh_tabrizDari periode ini, literature buku-buku yang menumbuhkan ideology dan doktrin-doktrin mereka disusun. Metodologi mereka menyebar secara luas di kawasan Persia khususnya dan di dunia Muslim umumnya. Namun demikian, saat itu tak ada satu Negara pun yang mengadopsi ideology ini secara resmi. Setidaknya, pada akhir abad ketigabelas dan permulaan abad keempatbelas hijriah, pengembangan-pengembangan yang serius dilakukan di beberapa tempat yang membuat Syiah mendapatkan kekuatan di beberapa tempat, yang mendapatkan penolakan-penolakan yang serius di seluruh Ummat Muslim. Inilah yang akan saya bahas dalam beberapa artikel yang akan dating, insya Allah.

Namun demikian, saya harus mengulang kembali aturan ” Seseorang tak bisa memberikan sebuah keputusan terhadap sesuatu sampai dia memiliki konsepsi jang jelas tentangnnya “. Maka, jika kita mengambil sebuah keputusan dalam sebuah masalah atau pembahasan yang specific, pertama-tama yang harus kita miliki adalah pengetahuan tentangnya. Dengan kata lain, kita tak dapat menghukumi sesuatu benar atau salah atau mengatakan itu lebih baik dilakukan begini-begitu kecuali ketika informasi yang shahih mengenai itu tersedia. Tak dapat diragukan, penghukuman-penghukuman yang didasrkan pada hasrat dan hawa nafsu dan tak ada studi yang dilakukan pastilaah akan menyebabkan kemungkaran.

Semoga Allah Memuliakan Islam dan Ummat Muslim.

Sumber: Islamstory.com

[1] Khomeini, Islamic Government, hal. 52

Bagaimana Membebaskan Diri dari Kecanduan Masturbasi dan Gambar-gambar Porno

Oleh: Sheikh Ahmad Kutty[1]

Dosen Senior, The Islamic Institute of Toronto — Canada

Jika seseorang kecanduan pada suatu kebiasaan buruk yang dapat menghancurkan jiwa spiritualnya yang dengan demikian akan membawa kehancuran dirinya, dia harus segera mengerahkan kemampuannya dan mengambil langkah yang dianggap perlu untuk menyapih dirinya dari kebiasaan itu dengan segera.Porn

Untuk menguatkan dirinya itu dia harus, mencari penyuluhan dan therapy yang dapat diberikan oleh professional yang ada di sekitarnya dari kalangan orang muslim. Jika tak ada dari kalangan orang muslim, dia boleh memilih orang yang baik secara etik dan moral. Adalah penting bagi dirinya untuk menyapih dirinya dari kebiasaan-kebiasaan buruk itu. Konsekuensi membiarkan diri bertahan pada kebiasaan buruk itu adalah sesuatu yang tak dapat terperikan; tak terbantahkan lagi bahwa kebiasaan-kebiasaan buruk itu dapat merusak jiwa spiritualnya dan dapat menyebabkan kematian spiritualnya.

Dosa-dosa seperti itu dapat menyebabkan kecanduan, karena dapat menyebabkan diri jasmaninya mencari kesenangan dalam dosa. Sebagaimana dikatakan oleh Al-Busiri, “Diri jasmani itu bagaikan seorang bayi; jika engkau membiarkannya (tidak mendidiknya), dia akan tumbuh menempel (menyusu) selamanya (menyusahkan), namun jika engkau menyapihnya, maka dia akan terbiasa.” Saya menyarankan beberapa tip yang dapat digunakan seseorang untuk menguatkan dirinya:

  1. Bayangkan dan renungkan bagaimana buruknya dosa yang mengerikan ini dan bayangkan gambaran api neraka seperti yang dilukiskan dalam Qur’an dan Sunnah sesering mungkin kapanpun kamu tergoda untuk mengunjungi ataupun membaca situs-situs dan majalah-majalah seperti itu, adegan yang terjadi di neraka akan bermain di pikiranmu. Maka, kalaupun kamu memiliki gambaran kecanduan ini sebagai kesenangan, kamu juga dapat menggambarkannya sebagai penyebab rasa sakit dan penderitaan.
  2. Yakinkan dirimu sendiri urgensi menghapuskan kanker ganas ini dari kehidupanmu dengan cara mengambil langkah-langkah seperti mendaftar semua hal-hal negative tentang kebiasaan itu, dan mendaftar ayat-ayat dan tradisi yang dapat memberatkan dosa itu. Ingatlah bahwa hal ini lebih serius daripada kanker yang menyerang tubuhmu,  kecuali jiwamu dapat menyelamatkanmu bahkan setelah ragamu terpisah dari bumi.
  3. Bayangkan kerugian mengerikan yang akan kau hadapi jika engkau mati dalam keadaan kecanduan dosa paling mengerikan ini.
  4. Mintalah kekuatan kepada Allah dengan cara memohon pertolongan-Nya. Namun kamu tak dapat meminta pertolongan Allah kecuali kamu berusaha untuk membangun hubungan dengan-Nya melalui shalat lima waktu, jadi jangan sampai mengulur-ulur waktu shalat.
  1. Buatlah sekedul waktu dimana kamu tak akan dibiarkan memiliki waktu untuk memikirkan hal-hal seperti itu. Imam Ash-Syafi`i berkata, “Jika engkau tidak memenuhi pikiranmu dengan pekerjaan-pekerjaan baik, ragamu akan membuatmu sibuk dalam hal-hal buruk!”
  2. Kitari dirimu dengan pengaruh dan semangat Islam dan benar-benar membenamkan dirimu di dalamnya.
  3. Selalu berada di sekitar orang-orang Muslim yang baik yang menyibukkan diri berbuat kebaikan; bergabunglah dengan sebuah halaqah dimana latihan spiritual ditanamkan bersamaan dengan belajar Islam.
  4. Buatlah pikiran dan lidahmu sibuk dengan dzikir (mengingat Allah). Ucapkan kalimat-kalimat berikut dan lainnya yang hamper sama secara berulang-ulang: Subhan Allah; al-hamdu lillah; laa ilaha illa Allah; Allahu akbar; Wa laa hawla wala quwwata illa billah. Astaghfir Allaha al-azhim min kulli dhanbin wa atubu ilaihi. (Maha suci Allah; segala puji hanya bagi Allah; tiada Tuhan kecuali Allah, Allah Maha Besar. Tak ada kekuatan kecuali dengan izin Allah. Aku memohon ampun kepada Allah dari segala dosa dan bertaubat kepada-Nya.)
  5. Sekali kamu dapat melepaskan diri dari kebiasaan-kebiasaan buruk ini, kamu harus berpikir untuk menikah dengan sungguh-sungguh; karena pernikahan dapat menjadi pelindung melawan godaan-godaan itu.

Saya berdoa semoga Tuhan yang Maha Pengampun akan menyelamatkan kita dari kecenderungan buruk jiwa-jiwa kita dan membuat kita membenci kekafiran, kedurhakaan dan dosa-dosa; dan semoga Allah menimbulkan rasa cinta ke dalam hati-hati kita kepada keimanan dan perbuatan-perbuatan baik. Aamiin.

[1] Sheikh Ahmad Kutty adalah dosen senior dan Sarjana Islam di Islamic Institute of Toronto, Ontario, Canada.

Halloween Dalam Timbangan

MUQADDIMAH

Segala puji hanya milik Allah yang telah menurunkan kepada kita utusan-Nya sebagai penunjuk kepada jalan agama yang lurus. Saya bersaksi tiada Tuhan kecuali Allah dan Muhammad SAW sebagai utusan-Nya.

Allah SWT telah berfirman dalam Al-Qur’anul Kariem,

وَلا يَزَالُونَ يُقَاتِلُونَكُمْ حَتَّى يَرُدُّوكُمْ عَنْ دِينِكُمْ إِنِ اسْتَطَاعُوا

(yang artinya) “…Mereka tidak henti-hentinya memerangi kamu sampai mereka (dapat, mengembalikan kamu dari agamamu (kepada kekafiran), seandainya mereka sanggup…” (Al Baqarah: 217)

Telah kita saksikan di hadapan kita bahwa dulu, sekarang dan juga nanti akan selalu ada pemikiran-pemikiran yang mencoba memengaruhi kita baik itu yang positif ataupun yang negative. Hal demikian adalah wajar adanya sebab kita ditakdirkan menjadi makhluk social yang saling bergantung satu sama lain. Namun sebagai masyarakat yang telah mengenal kebenaran melalui wahyu yang diturunkan kepada Nabi Muhammad SAW, sudah selayaknya kita berpegang teguh pada tali yang kuat itu, sebagaimana kita biasa membaca ayat ini dalam shalat:

اهْدِنَا الصِّرَاطَ الْمُسْتَقِيمَ

“Tunjukilah kami jalan yang lurus”

صِرَاطَ الَّذِينَ أَنْعَمْتَ عَلَيْهِمْ غَيْرِ الْمَغْضُوبِ عَلَيْهِمْ وَلا الضَّالِّينَ

“(yaitu) Jalan orang-orang yang telah Engkau beri nikmat kepada mereka; bukan (jalan) mereka yang dimurkai dan bukan (pula jalan) mereka yang sesat”

Pemikiran-pemikiran negative itu ada yang sengaja ditiupkan untuk merubah arah berfikir ummat Islam melalui pengajaran-pengajaran dan buku-buku secara terang-terangan, dan ada juga yang ditiupkan secara samar-samar dengan cara disebarkannya tradisi-tradisi yang dapat mengacaukan dan merubah haluan berfikir ummat Islam.

Prof. DR. Yusuf Al-Qardhawi dalam bukunya Sistem Masyarakt Islam dalam Qur’an dan Sunnah telah menyebutkan bahwa “Masyarakat Islam diwarnai oleh pemikiran dan pemahaman yang menentukan pandangannya terhadap segala persoalan, peristiwa, tingkah laku seseorang, nilai dan hubungan. Masyarakat Islam menentukan ini semuanya dari sudut pandang Islam, mereka tidak mengambil hukum kecuali dari sumber referensi Islam yang bersih dan jernih dari kotoran-kotoran dan penambahan-penambahan, sebagai akibat dari rusaknya zaman. Sumber yang bersih itulah yang mampu menangkal pemikiran yang ekstrim dan pemikiran yang cenderung kendor, penyimpangan orang-orang yang membuat kebatilan dan penakwilan orang-orang yang bodoh.”

 

ASAL MUASAL HALLOWEEN

Akan kita lihat nanti pada saat menjelang dan sesudah tanggal 31 Oktober pada televise dan media-media massa lainnya dipenuhi dengan film, liputan atau acara-acara yang berhubungan dengan “Halloween”. Acara-acara tersebut mungkin akan tidak secara vulgar mengatakan bahwa dia dimaksudkan untuk memperingati acara “Halloween”. Ini karena “Halloween” bukanlah tradisi kita bangsa Indonesia. Acara seperti ini mungkin saja diliput atau diadakan hanya karena ramainya saja.Halloween

Oleh karena hanya ramai-nya itulah biasanya kita akan mengikutinya saja dan memandang itu sebagai sesuatu yang biasa untuk ditonton. Menonton dan menyaksikan itu memang bukan sesuatu yang salah jika kita tahu alang ujurnya. Yang menjadi masalah adalah membiarkan itu menjadi kebiasaan dan tradisi kita. Dengan cara sedikit demi sedikitlah dia akan menjadi bagian dari kita.

Halloween atau Hallowe’en (/ˌhæləˈwin, ˈin, ˌhɒl/😉 adalah kontraksi dari “All HallowsEvening, juga dikenal sebagai All Hallows’ Eve (malam keramat (mensucikan)) adalah acara yang dirayakan setiap satu tahun satu kali di beberapa negara eropa barat dan Amerika utara pada tanggal 31 oktober, yang didedikasikan untuk memperingati orang-orang mati, yang termasuk di dalamnya para santo dan para martir.

Menurut beberapa sarjana, Hallow’s Eve (malam keramat) adalah sebuah perayaaan yang dikristianisasi dan mendapat atau dipengaruhi oleh perayaan festival bangsa Eropa Barat, dan festival orang-orang mati dengan akar budaya pagan, terutama bangsa Celtic Samhain. Sementara sarjana yang lain justru mengatakan bahwa ini sesungguhnya adalah original adat kebiasaan bangsa Samhain yang dipengaruhi oleh agama Kristen.

Secara etimologi, kata Halloween atau Hallowe’en mulai dikenal kira-kira sejak tahun 1745. Kata ini datang dari bahasa skotlandia dari terma All Hallows’ Eve (malam sebelum All Hallows’ Day (hari keramat (mensucikan)). Di Skotlandia, kata eve adalah even, dan ini terkontraksi menjadi e’en atau een. Seiring berjalannya waktu, (All) Hallow(s) E(v)en berevolusi menjadi Halloween.

Meskipun frase All Hallows’ ditemukan dalam bahasa inggris kuno (ealra hālgena mæssedæg, mass-day of all saints), All Hallows’ Eve sendiri belum ditemukan sampai tahun 1556.

Adat kebiasaan halloween dinilai telah dipengaruhi oleh adat kebiasaan dan kepercayaan negara-negara berbahasa Celtik, yang beberapa diantaranya berakar pada kepercayaan pagan, dan sebagiannya berakar pada kristen Celtik. Bahkan, Jack Santino, seorang folklorist, menulis bahwa “nilai-nilai kesucian dan religius adalah konteks dasar untuk memahami Halloween di Irlandia utara, namun sebagaimana di keseluruhan Irlandia terdapat kompleksitas jalur antara adat kepercayaan dengan kekristenan dan yang diasosiasikan dengan agama yang telah ada di tengah-tengah bangsa Irish sebelum datangnya agama kristen. Sejarawan Nicholas Rogers, menelusri asal mula Halloween. Beliau mencatat bahwa “beberapa folklorists telah mendeteksi asal mula Halloween dalam hari raya bangsa Romawi yaitu Pomona, dewi buah-buahan dan bibit, atau festival orang-orang mati yang disebut Parentalia, yang lebih typikal berhubungan dengan festival bangsa Celtik yang disebut Samhain“, yang datang dari bahasa Irish kuno untuk “akhir musim panas”. Samhain (dari akar kata SAH-win atau SOW-in) adalah yang pertama dan yang paling utama dari keempat kwartal dalam hitungan kalender Gaelic abad pertengahan di Irlandia, Scotlandia dan di Isle of Man.

Samhain ini biasanya diadakan antara tanggal 31 oktober s/d 1 november dan festival-festival yang sama juga dirayakan pada saat yang sama oleh bangsa-bangsa Celtic Brittonic; seperti Calan Gaeaf (di Wales), Kalan Gwav (di Cornwall) dan Kalan Goañv (di Brittany). Samhain dan Calan Gaeaf disebut dalam beberapa literatur Irish dan Welsh awal. Nama-nama tersebut telah digunakan para sejarahwan untuk merujuk pada adat kebiasaan Halloween bangsa Celtik sampai abad ke -19, dan masih tetap digunakan di Gaelic dan Welsh untuk menyebutkan Halloween.

Samhain/Calan Gaeaf menandai akhir dari musim panen dan dimulainya musim dingin atau merupakan bagian paling gelap dari satu tahun itu. Beltane/Calan Mai, dianggap sebagai waktu dimana roh halus atau para peri (the ) dapat lebih mudah datang ke dunia dan aktif secara partikular. Jiwa-jiwa orang yang telah meninggal juga dikatakan berkunjung kembali ke rumah-rumah mereka. Hari raya itu, adalah dimana roh-roh orang mati hadir bersama mereka. Bagimanapun, roh-roh itu atau para peri itu dapat menyebabkan kecelakaan, dan perlu untuk didamaikan atau ditangkal. Dan ini kelihatannya masih berpengaruh pada tradisi Halloween yang ada sekarang. Api unggun, dianggap mampu menjadi pelindung dan membersihkan kekuatan-kekuatan jahat, masih dilakukan dan terkadang digunakan dalam ritual-ritualnya.

HALLOWEEN DAN PENGARUH AGAMA KRISTEN

Bible sendiri sesungguhnya tidak menyebut-nyebut ritual Halloween ini. Menurut Bible, ritual ini baik yang kuno maupun yang berkembang hari ini memperlihatkan sebuah perayaan yang salah kaprah tentang arti kematian dan roh-roh halus, ataupun roh-roh jahat. Bible memperingatkan: “There must never be anyone among you who . . . consults ghosts or spirits, or calls up the dead.” (terjemah bebasnya: “Mestilah tidak ada di antara kalian (orang beriman)…berunding dengan hantu-hantu, roh-roh, atau memanggil orang-orang mati”)(Deuteronomy 18:10-12, The Jerusalem Bible). Dalam 1 Corinthians 10:20, 21, Bible mengatakan: “I do not want you to be participants with demons. You cannot drink the cup of the Lord and the cup of demons too.” (Terjemah bebas: “Aku tak menginginkan kalian menyertai dengan para iblis. Kalian tak bias minum dari piala Tuhan sementara juga minum dari piala para iblis) – New International Version.

Meskipun demikian, dipercaya bahwa tradisi Halloween sekarang telah mendapat pengaruh dogma kristen dan praktik-praktiknya pun darinya. Bukankah Halloween sendiri diadakan pada malam sebelum hari-hari suci kristen yang biasa disebut All Hallows’ Day (hari orang-orang suci (keramat)) yang dikenal juga dengan nama All Saints’, Hallowmas atau Hallowtide pada tanggal 1 Nopember dan All Souls’ Day pada tanggal 2 Nopember? Bahkan menjadikan hari libur pada tanggal 31 oktober sebagai All Hallows’ Eve. Tiga hari ini secara kolektif mengacu sebagai Hallowmas dan merupakan waktu untuk menghormati para santo dan waktu untuk berdoa bagi orang-orang yang baru saja meninggal yang dianggap sedang menuju surga.

All Saints sendiri diperkenalkan pada tahun 609, namun asalnya dirayakan pada tanggal 13 mei. Pada tahun 835, tanggal 31 Mei ini diganti dengan tanggal 1 Nopember (tanggal yang sama dengan tanggal Samhain) pada masa Paus Gregory IV, dengan dasar pemikiran bahwa Roma pada musim panas tak dapat mengakomodasi sebagian besar peziarah pada tanggal 31 Mei itu, dan mungkin juga karena pertimbangan keadaan kesehatan publik menghormati apa yang disebut sebagai Roman Fever, penyakit yang merenggut banyak nyawa selama musim panas yang pengap di beberapa daerah. Sementara yang lain menyatakan bahwa ini adalah pengaruh bangsa Celtik dan yang lainnya lagi mengatakan bahwa ini adalah gagasan orang Jerman.

Pada abad 12 tradisi ini menjadi holy days of obligation (hari suci yang wajib diadakan) hampir di seluruh benua Eropa dan melibatkan beberapa tradisi seperti membunyikan lonceng gereja untuk roh-roh dalam tempat penyucian dosa. Sebagai tambahan “sudah menjadi tradisi untuk para peratap yang berpakaian serba hitam beriring-iringan di jalan-jalan, membunyikan lonceng dengan suara yang memilukan dan memanggili semua orang-orang kristen yang dipanggil baik untuk mengingat jiwa-jiwa yang miskin dan memilukan.” “Souling”, tradisi makan bersama dan berbagi kue yang disebut soul cakes untuk semua jiwa-jiwa kristen, dianggap sebagai asal mula dari tradisi trick-or-treating. Tradisi ini diketemukan di sebagian Inggris dan diawali setidaknya sejak abad ke-15. Sekelompok orang miskin, biasanya anak-anak, akan mendatangi rumah-rumah dari pintu ke pintu selama masa Hallowmas untuk mengumpulkan kue dengan maksud jika diberi akan mendoakan jiwa-jiwa di tempat api penyucian dosa. Praktik serupa juga dapat ditemukan di belahan Eropa barat seperti Itali.

Di Inggris, tradisi ini mendapat serangan selama masa Reformasi yang menurut orang-orang Protestant, purgatory (api penyucian dosa) adalah doktin paus yang tidak sesuai dengan gagasan tentang takdir. Sehingga, bagi sebagian orang Protestant yang Nonkonformis, teologi All Hallows’ Eve harus didefinisikan kembali; tanpa doktrin penyucian jiwa, “roh-roh yang kembali tak bisa melakukan perjalanan dari tempat penyucian jiwa menuju ke surga, sebagaimana yang biasa dipercayai dan diterima orang-orang katolik. Bahkan sebaliknya, apa yang dinamakan hantu adalah roh setan yang sesungguhnya. Sebagaimana roh-roh itu biasa mengancam.” Orang-orang Protestant lainnya terus melanjutkan penelusuran asal mula tradisi ini, khusunya mengenai prosesi candlelit dan tradisi membunyikan lonceng gereja untuk memperingati orang-orang mati.

Pada abad ke-19, di sebagian negara Inggris, keluarga-keluarga Kristen berkumpul pada malam All Hallows’ Eve. Salah seorang di antara mereka memegang seikat jerami yang dibakar di atas garpu rumput sementara yang lainnya berlutut mengelilinginya, berdoa untuk kerabat dan teman-teman mereka sampai apinya padam. Tradisi ini dikenal dengan nama teen’lay, diperoleh dari bahasa Inggris kuno tendan yang berarti mengobarkan atau kata yang memiliki hubungan dengan kata tenlach dari bahasa Irlandia kuno yang berarti hati.

HALLOWEEN MENURUT PANDANGAN ISLAM

Di tanah sunda sendiri, sebelum berkembangnya Islam, tumbuh subur kepercayaan seperti ini. Sebut saja dalam pikukuh dan pitutur yang merupakan ajaran tentang kepercayaan masyarakat suku Baduy. Mereka memberi nama agama Sunda Wiwitan. Pikukuh dan pitutur berlaku sebagai hukum adat. Diantara pikukuh yaitu berkaitan dengan kosmogoni atau asal-usul terjadinya Buana PancaTengah (Alam semesta). Menurut kepercayaan mereka, ada tiga macam alam: (1) Buana Nyungcung tempat bersemayamnya Sang Hyang Keresa, terletak paling atas; (2) Buana Panca Tengah, tempat berdiam manusia dan makhluk lainnya, berada di tengah-tengah; dan (3) Buana Larang, yaitu neraka, berada paling bawah.

Telah nampak kepada kita bahwa tradisi Halloween ini adalah datangnya dari tradisi pagan yang biasanya menganut ajaran dinamisme/animisme sehingga wajarlah jika ia kemudian melahirkan kepercayaan takhyul dan khurafat. Menjadi urgent bagi kita sekarang untuk mewartakan keadaan ini karena sesungguhnya kepercayaan-kepercayaan seperti ini tidak saja tumbuh di negeri-negeri yang mempraktekkan tradisi Halloween. Tradisi ini bisa tumbuh dan berkembang di mana saja, tidak terkecuali di Indonesia.

Telah kita saksikan dan telusuri asa-usul Halloween. Dan telah nampaklah kepada kita bahwa tradisi ini intinya adalah kepercayaan takhyul yang percaya bahwa roh-roh orang mati dapat hdup kembali dan datang menghampiri orang hidup pada waktu-waktu tertentu, yaitu pada tanggal 31 Oktober itu. Jika dihubungkan dengan Islam, maka kepercayaan itu akan tertolaklah dengan serta merta, sebagaimana yang dikatakan oleh yang berikut ini.

Hadis riwayat Abdullah bin Masud ra., ia berkata:
Ketika aku sedang berjalan bersama Rasulullah saw. di suatu tanah pertanian di mana beliau bertongkatkan sebatang pelepah korma, tiba-tiba beliau lewat di hadapan beberapa orang Yahudi. Lalu mereka saling berbicara dengan yang lain: Tanyakanlah kepadanya tentang roh! Kemudian mereka berkata: Apakah yang membuat kamu sekalian bertanya kepadanya? Dia tidak akan membalas kamu sekalian dengan sesuatu yang tidak kamu sukai. Lalu sebagian mereka berkata lagi: Tanyakanlah kepadanya! Lalu sebagian mereka datang menghampiri Rasulullah saw. untuk bertanya tentang roh. Rasulullah saw. terdiam tidak memberikan jawaban apapun, sehingga aku tahu beliau sedang diturunkan wahyu. Aku tetap berdiri di tempatku. Seusai wahyu turun, Rasulullah saw. membacakan ayat:

وَيَسْأَلُونَكَ عَنِ الرُّوحِ قُلِ الرُّوحُ مِنْ أَمْرِ رَبِّي وَمَا أُوتِيتُمْ مِنَ الْعِلْمِ إِلا قَلِيلا

“Dan mereka bertanya kepadamu tentang roh. Katakanlah: Roh itu termasuk urusan Tuhanku dan tidaklah kalian diberi pengetahuan melainkan sedikit” (Q.S Al-Isra 17:85). (Shahih Muslim No.5002)

 

Dalam hadits yang juga mengandung Al-Quran surah Al-Isra ayat 85 di atas menjadi jelaslah bagi kita bahwa kepercayaan tentang adanya roh gentayangan atau biasa kita sebut sebagai takhyul itu adalah suatu kepercayaan yang salah kaprah.

Dalam Surah Al-Isra ayat 22 Allah SWT berfirman:

لا تَجْعَلْ مَعَ اللَّهِ إِلَهًا آخَرَ فَتَقْعُدَ مَذْمُومًا مَخْذُولا

“Janganlah kamu adakan tuhan yang lain di samping Allah, agar kamu tidak menjadi tercela dan tidak ditinggalkan (Allah).”

Sedangkan mengikuti tradisi yang tidak jelas sebagaimana Hallowen ini, Al-Qur’an Surah Al-Baqarah ayat 170 telah mengabarkan:

وَإِذَا قِيلَ لَهُمُ اتَّبِعُوا مَا أَنْزَلَ اللَّهُ قَالُوا بَلْ نَتَّبِعُ مَا أَلْفَيْنَا عَلَيْهِ آبَاءَنَا أَوَلَوْ كَانَ آبَاؤُهُمْ لا يَعْقِلُونَ شَيْئًا وَلا يَهْتَدُونَ

Dan apabila dikatakan kepada mereka: “Ikutilah apa yang telah diturunkan Allah,” mereka menjawab: “(Tidak), tetapi kami hanya mengikuti apa yang telah kami dapati dari (perbuatan) nenek moyang kami”. “(Apakah mereka akan mengikuti juga), walaupun nenek moyang mereka itu tidak mengetahui suatu apapun, dan tidak mendapat petunjuk?”.

Dalam suatu riwayat dikemukakan bahwa turunnya ayat ini (S. 2: 170) sehubungan dengan ajakan Rasulullah SAW kepada kaum Yahudi untuk masuk Islam, serta memberikan kabar gembira, memperingatkan mereka akan siksaan Allah serta adzab-Nya. Rafi’ bin Huraimallah dan Malik bin ‘auf dari kaum Yahudi menjawab ajakan ini dengan berkata: “Hai Muhammad! Kami akan mengikuti jejak nenek moyang kami, karena mereka lebih pintar dan lebih baik daripada kami.” Ayat ini turun sebagai teguran kepada orang-orang yang hanya mengikuti jejak nenek moyangnya.
(Diriwayatkan oleh Ibnu Abi Hatim dari Sa’id atau ‘Ikrimah yang bersumber dari Ibnu Abbas.)

Mestilah diketahui bahwa peringatan dalam tulisan ini ditujukan kepada orang-orang yang beriman dan orang-orang yang mengaku beragama islam supaya mereka idak tergelincir ke dalam tradisi yang keliru. Sebab terhadap orang yang tak beriman, peringatan-peringatan dalam bentuk apapun akan menjadi tidak berguna sebagaimana Allah SWT berfirman dalam Q.S Al-Baqarah 2:6,

إِنَّ الَّذِينَ كَفَرُوا سَوَاءٌ عَلَيْهِمْ ءَأَنْذَرْتَهُمْ أَمْ لَمْ تُنْذِرْهُمْ لا يُؤْمِنُونَ

“Sesungguhnya orang-orang kafir, sama saja bagi mereka, kamu beri peringatan atau tidak kamu beri peringatan, mereka tidak juga akan beriman.”

 

Wallahu a’lam bi ashshawab

Wine Tanpa Alkohol, halalkah?

Menanggapi permintaan penduduk kelas atas Teluk-Emirat, sebuah perusahaan Dubai mengumumkan diluncurkannya sebuah produk anggur “halal” pertama di dunia yang mengandung “daun emas 24 karat yang dapat dimakan” dengan nol alcohol.

DubaiProduces-Worlds-First-Halal-WineSebagaimana diberitakan oleh onislam.net, Lussory Gold adalah “anggur berkilau yang halal- karena alkoholnya telah dibuang” – dan daun emas itu bisa “bergerak naik turun sesuai ritme busa anggur,” menurut Lootah Premium Foods yang dikutip oleh 24/7 surat kabar di Emirat.

Anggur ini, yang berasal dari kebun anggur La Mancha, Sepanyol “dibuat sama dengan anggur biasa atau sampanye,” kata perusahaan makanan dan minuman itu.

“Lussory adalah 100 persen halal dengan 0.0 kandungan alcohol.”

Islam mengambil sikap tanpa kompromi dalam hal pelarangan mabuk-mabukan. Agama ini melarang ummat Muslim untuk minum atau bahkan menjual alcohol.

Aturan umum dalam Islam adalah bahwa setiap minuman yang dapat memabukkan adalah haram, baik itu banyak ataupun sedikit, apakah itu alcohol, obat-obatan terlarang, minuman yang dipermentasikan dan lain sebagainya.

Sebuah penelitian di Inggris merilis pada bulan November 2010 menemukan bahwa alcohol lebih berbahaya dan mematikan dibanding heroin ataupun kokain.

Alkohol disalahkan karena 195.000 kematian di 27 negara Uni Eropa setiap tahun dan lebih dari 10.000 kecelakaan jalan raya – yang berujung kematian, dengan resiko terbesarnya adalah kaum muda

Alkohol juga disalahkan untuk 7,4 persen penyakit dan kematian premature di Uni Eropa, menurut laporan komisi Uni Eropa tahun 2006.

Dengan merilis produk baru ini, perusahaan Dubai berharap membuka keran pada pasar yang lebih besar.

“Kami telah berpengalaman menerima permintaan besar untuk sampanye halal kelas satu pertama dari para pelanggan dank klaein kami, berharap menawarkan sebuah pengalaman premier dalam pernikahan, ulang tahun atau acara-acara perusahaan,” kata Tony Colley, General Manager Lootah Premium Foods.

Sufisme

Oleh: Shaykh Saleh As-Saleh

Tari Sufi

Alih bahasa dari Bahasa Inggris ke Bahasa Indonesia oleh: GM. Nawari

Alih bahasa ini bisa jadi tidak pas, ada kekurangan, atau bahkan berlebihan. Oleh karenanya pembaca kami rujuk untuk membaca aslinya. Dan untuk melakukan itu pembaca tinggal klik di sini. Koreksi terhadap karya terjemahan ini sangat dibutuhkan untuk mencapai kesempurnaan pemahaman.

Sufisme, Kata Dasar dan Derivasinya:

Terdapat beberapa pendapat mengenai asal kata sufisme. Beberapa di antaranya adalah:

1) Beberapa orang sufi merasa senang mengaitkan namanya pada Ahlus-Sufaah di masa Nabi (ﷺ). Mereka mengklaim bahwa terdapat banyak kemiripan antara ahli Sufi dengan Ahlu-Suffa. Ahlu-Suffa adalah kaum miskin Muhaajirin yang hijrah dari Makkah ke Madinah denganuntuk melepaskan diri dari penyiksaan bangsa Arab pagan. Mereka lari dari kampong halamannya tanpa memiliki rumah, uang, keluarga, bahkan tempat singgah. Nabi (ﷺ) dan para shahabatnya membantu mereka. Nabi (ﷺ) mengizinkan mereka untuk tinggal di sekitar halaman masjid. Kenyataannya, bagaimanapun, kaum Muslim yang miskin itu beristirahat di masjid hanya karena terpaksa. Jumlah mereka kadang bertambah dan kadang juga berkurang. Beberapa di antara mereka juga ada yang tinggal lebih lama dibanding yang lain. Jadi, mereka bukanlah kelompok yang bergabung karena sesuatu alasan tertentu. Sufism dalam tahap awalnya menekankan diri pada konsep-konsep melepaskan diri dari kehidupan duniawi, kemiskinan, isolasi, dlsb. Ahlus-Suffah tidaklah memilih konsep-konsep seperti demikian. Mereka pada saat itu adalah orang-orang yang membutuhkan bantuan dan kaum Muslim mengulurkan tangan pada mereka. Mereka tidak mengisolasi diri. Faktanya, mereka bergabung dalam Jihaad kapanpun seruan itu diumumkan. Ketika Allah swt melimpahkan karunia-Nya kepada kaum muslim, beberapa di antara mereka menjadi manusia merdeka dan menjadi bagian orang kaya di antara para shahabat Nabi (ﷺ) sementara lainnya menjadi pemimpin di beberapa negeri. Para sufi ingin membangun tautan dan claim dengan masa Rasulullah (ﷺ) seakan Rasulullah (ﷺ) merestui benih awal sufisme seperti yang ditunjukkan dalam kasus Ahlus-Suffah. Sebagai tambahan, dari sudut pandang linguistic, mengasalkan sufisme dari As-Suffah adalah salah, sebab terma yang betul mestinya ‘Suffisme’ dan bukan Sufisme.

2) As-Saf al-Awwal (الصف الٲول ) Beberapa Sufi mengklaim bahwa Sufisme berasal dari As-Saff al-Awwal (Jajaran Pertama) “berdiri di belakang Tangan Allah Yang Maha Kuasa dan Yang Maha Agung, dengan kebajikan dari keteguhan hati yang tinggi dan hasrat kepada Allah dalam hati mereka dan dengan memposisikan diri mereka yang paling dalam di belakang-Nya.” Terma ini jauh dari dapat dipakai secara lingustik jika demikian, terma yang benar mestinya Saffy (صفى).

3) As-Safaa’ (الصفاء): Sufi yang lain mengklaim bahwa terma-nya ini berasal dari kata As-Safaa’ yang berarti kejelasan, kemurnian, ketulusan. Hal ini diselisihi sendiri oleh sufi lainnya dan secara lingustik hal ini tidaklah pas. Terma turunannya mestinya menjadi Safwee, Safaawee atau Safaa’iee bukan Soofee.

4) Sūfah (ﺻﻮﻒﻪ): Ada juga yang mengatakan bahwa kata sufi itu berasal dari kata
‘Sūfah,’ nama untuk beberapa orang yang biasa melayani Ka’bah pada masa pra-Islam (Jahiliyyah), dan sesiapa yang biasa berkhalwat di Masjid Suci (Al-Masjid Al-Haraam)[1]. Meskipun pertalian ini bisa jadi terdengar baik secara lingustik, hal ini tertolak disebabkan beberapa hal:

(a) Orang-orang “Sūfah” tidak dikenal secara baik oleh sebagian besar kaum sufi awal.

(b) Jika pertalian ini benar, sudah semestinya dikenal di masa shahabat. Bagaimanapun, pertalian demikian tidak dikenal di masa shahabat.

(c) Orang shaleh menolak dirinya dipertalikan dengan suku bangsa masa Jaahiliyyah.[2]

5) Sophia (ﺴﻮﻔﻲﺓ): Sejarahwan juga filsuf Abu Rayhaan Al-Bayrooni (mgl.440 H) menyebutkan bahwa kata “Sufisme” berasal dari terma “Sophia” dari bahasa Yunani yang berarti kebijaksanaan. Bangsa Yunani adalah bangsa yang mula-mula mengemukakan konsep tentang Wahdat Al-Wujood (Penyatuan eksistensi: bahwa semua eksistensi merupakan realitas tunggal dimana Allah, dan bahwa semua yang kita saksikan adalah satu aspek dari essensi Allah). Tak seorang pun dapat menegaskan atau bahkan menolak autentisitas derivasi ini, karena dengan jelas sufisme menurut jalan ini sangat dipengaruhi filosofi Yunani dan Hindu.

6) As-Sūf (الصوف): Banyak dari kalangan sufi baik itu yang dulu atau yang ada sekarang sadar bahwa terma sufisme mengacu kepada penggunaan pakaian berbahan wool (Sūf). Hal ini juga merupakan pendapat dari Shaykh- ul-Islam Ibn Taymeeyah. Ibn Khaldoon juga condong pada pendapat ini dalam “Muqaddimah”-nya yang terkenal. Banyak dari orientalist pun berpandangan sama. Meskipun ini adalah pendapat yang paling biasa mengenai derivasi terma ini, namun masih diperselisihi oleh beberapa sufi seperti Al-Qushayree (Mgl.465 H) yang mengklaim bahwa kaum sufi tidak secara khusus memakai pakaian berbahan wool[3]. Namun demikian, hasrat banyak kaum sufi untuk menghubungkan nama mereka dengan asal-usulnya menjelaskan tatacara ibadah mereka yang berlebih-lebihan, pemisahan diri dari kehidupan duniawi, mengabaikan harta yang didapat secara syah, property, anak keturunan, dlsb. Di lain pihak, mengenakan pakaian berbahan wool bukanlah suatu hal yang berfaedah atau meningkatkan status seorang Muslim di hadapan Allah. Bahkan, Nabi (ﷺ) juga menyukai mengenakan pakaian lain. Faktanya, beliau (ﷺ) tidak menyukai bau yang dikeluarkan bahan wol ini ketika mengeluarkan keringat sebagaimana yang diriwayatkan dari Siti Aisyah. Beliau (ra) berkata:

“Saya membuat mantel berwarna hitam untuk Nabi (ﷺ) lalu beliau mengenakannya; namun ketika beliau berkeringat karena memakainya beliau jadi ingat pada bau busuk yang dikeluarkan oleh wol, beliau menanggalkannya. Perawi berkata: Saya piker beliau berkata: dia menyukai bau harum.”[4]

Dan dari hadits yang dikeluarkan melalui jalur Anas, beliau (ﷺ) berkata:

“Pakaian yang paling disukai Nabi (ﷺ) untuk dikenakan adalah Hibara (semacam pakaian orang Yaman yang terbuat dari bahan katun yang terbaik untuk dipakai).”[5]

7) Terma yang tidak diasalkan: Pendapat ini dipegang oleh beberapa tokoh sufi seperti al-Qushayriee dan al- Hajooyari (mgl.456 AH). Mereka berkata bahwa terma ini adalah gelar yang ada dengan sendirinya. Klaim ini adalah klaim yang aneh dan sangat lemah, karena tak ada satu pun gelar yang diadopsi oleh suatu sekte yang tidak memiliki perhubungan arti.

Demikianlah beberapa pendapat yang paling terkenal mengenai asal dari kata sufisme. Beberapa perbedaan mengenai terma ini disebabkan alam mistik yang menyelimuti sufisme dalam konsep-konsep esoteric yang membuka berbagai macam interpretasi. Setiap guru sufi dapat menambahkan metodologi dan konsep-konsepnya sendiri berdasarkan pada pengalaman-pengalaman pribadi (Thawq). Hal ini membawa ketakterhinggaan terma sufisme dalam doktrin maupun tatacara ritualnya. Kasus ini bahkan lebih buruk ketika dihubungkan pada arti sufisme. Salah seorang tokoh sufi kontemporer, Dr. ‘Abdul Hameed Mahmoud berkata: “Pendapat mengenai arti ini [At-Tasawwuf] belum sampai pada hasil yang konklusif.”[6]

As-Siraaj At-Tusi (mgl. 378 H) menyebutkan bahwa definisi sufisme lebih dari seratus, sementara As-Sahrawardee (mgl. 632 H) menceritakan bahwa perkataan shayk sufi mengenai arti kata Tasawwuf lebih dari seribu. Salah satu sufi belakangan yang bernama Ibn ‘Ajeebah (mgl. 1224 H) menceritakan bahwa shaykh Zarrooq (mgl. 889 H) telah menyebutkan bahwa definisi sufisme ini mencapai dua ribu. Definisi-definisi itu mengungkapkan arti kata sufisme yang menghubungkan antara konsep-konsep dan praktik-praktiknya. Definisi-definisi itu berkisar pada kemelaratan, ketekunan, pengasingan diri, penarikan diri dari dunia, kerahasiaan, muslihat, pencabutan jiwa, keajaiban, menyanyi, menari, mengenakan pakaian berbahan wol, ekstase, transformasi batin, pembangunan spiritual, semua cara untuk mencapai Wahdat Al-Wujood.[7] Kenyataannya, studi yang hati-hati berkenaan sejarah dan pelaku sufisme membawa seseorang pada konklusi yang sama bahwa ternyata tak ada arti spesifik dan konfrehensif mengenai sufisme ini. Meski demikian, dapat dikatakan dengan mudah bahwa sufisme menggambarkan akomodasi kepercayaan, pengalaman, filosofi, dan metodologi yang berbeda beberapa derajat dari Qur’an, Sunnah yang shahih, dan cara-cara Salaf. Sebagian besar akomodasi ini merupakan perkara-perkara penting yang akhirnya membentuk Sufisme, utamanya:

Ketakterhinggaan interpretasi figurative teks dan/atau perkataan-perkataan guru-guru mereka.
Mengklasifikasikan Deen kepada Thaahir (Sharee’ah) dikenakan pada kaum muslim biasa sementara Baatin (Tersembunyi) dikenal hanya pada Guru dan mistik.
Peminjaman berbagai ikhtilaf dalam perihal syahadat, ibadah, atau moral. Para sufi ekstrim meminjam segala keyakinan juga semua macam bid’ah (innovasi).
Hubungan menyimpang antara Guru dan muridnya.
Ungkapan Kashf dalam ordo-ordo Sufi hanya boleh diklaim oleh Guru, yaitu orang-orang yang telah merasakan dan menyaksikan semua realitas eksistensi ghaib (realitas tak kasatmata).
Menekankan Manaamaat (mimpi), mengarang-ngarang cerita dan/atau hadits, sebagaimana Shatahaat (ungkapan emosional dan intens mengenai kegembiraan dan agitasi yang timbul dari apa yang mereka sebut dengan sentuhan-sentuhan ilahiah yang sertamerta selama laku mistis yang melahirkan mantera-mantera bid’ah dan mistis, halusinasi, dan dalam beberapa kasus mengatakan ungkapan-ungkapan kekufuran). Mereka mengatakan bahwa ungkapan-ungkapan itu disebabkan oleh hal-hal mistis dalam satu tingkat mabuk spiritual, misalnya “Maha suci aku (subhaani),” dan “Di balik jubahku terdapat satu-satunya tuhan”.

Sumber: ashabulhadeeth.com

[1] Imaam Ibnul Jawzee mendukung sudut pandang ini dalam bukunya book Tablees Iblees, hal. 201.

[2] Lihat Majmoo’al-Fataawaa by Shaykhul Islam Ibn Taymeeyah, vol. 11, hal. 6.

[3] Ar-Rissalah Al-Qushayriyyah, hal. 126, terbitan Daar al-Kitaab Al-‘Arabi, Beirut (1957).

[4] Diriwayatkan oleh Abu Dawwod (Terjemahan bahasa Inggris no. 4063) dan Ahmad dalam Musnad-nya (6:132, 144, 219, 249) dan lain-lain. Al-Haakim berkata: “shahih menurut al-Bukhaari and Muslim,” and Ath-Thahabi menyetujinya. Al-Albaani meriwayatkannya dalam As- Saheeha (2136).

[5] Lihat Saheeh Al-Bukhaari, vol. 7, no. 704.

[6] Abhaath fit-Tasawwuf, hal. 153 (Taqdees, hal. 40)

[7] Lihat Taqdees Al-Ashkhaas, hal. 40-44, Masaadir At-Talaqee, hal. 35-37, and At-Tasawwuf: Al-Mansha’ wal Masaadir, hal. 36-39.

Pemenang MW ternyata model porno, di mana moralitas penyelenggara?

TOLAK MISS WORLD 2013JAKARTA (Arrahmah.com) – Pengamat Sosial Iwan Januar menyatakan kemenangan model porno Megan Young sebagai Miss World 2013 adalah bukti bahwa moral dan etika cuma untuk seru-seruan, bukan kriteria sebenarnya. “Semestinya elemen-elemen masyarakat — apalagi elemen Islam — yang mendukung kontes Miss World malu dan secara arif mengakui mereka salah,” tegasnya kepada mediaumat.com (30/9/2013) melalui surat elektronik.
Menurutnya, tabiat penyelenggaraan Miss World meski digelar di Indonesia, hanya mengedepankan fisik dan sama sekali tidak berubah. Fisiklah yang jadi ukuran utama dalam kontes ini bukan behavior seperti yang didengang-dengungkan panitia dan para pendukung kontes ini.
“Semua orang tahu Megan Young itu model porno. Dia tidak malu tampil buka-bukaan di beberapa majalah dan situs. Lalu dimana letak behaviornya? Mana kepribadian luhur yang katanya dikedepankan di kontes ini? Kalau cuma sekedar berkebaya atau tampil dengan busana daerah itu kan hanya sesaat. Sementara tabiat aslinya mereka tidak punya rasa malu dan etika. Kalau memang etika menjadi salah satu pertimbangan kuat di kontes ini harusnya perempuan seperti itu tidak bakal jadi pemenang, kan? Nyatanya dia menang, artinya kontes yang menjunjung adat timur cuma kamuflase saja.”
Sedangkan panitia penyelenggara sekaligus juri Liliana Tanoesoedibjo menyatakan model porno tersebut adalah kontestan yang cocok mendapatkan mahkota Miss World. “”Saya melihat dan menilai Megan berbeda dengan yang lain, orangnya sangat persistent (gigih) dan menguasai segala keadaan,” kata istri Cawapres dari Partai Hanura tersebut kepada Okezone usai malam final Miss World 2013 di BNDCC, Nusa Dua, Bali, Sabtu (29/9/2013)
– See more at: http://www.arrahmah.com/news/2013/10/02/pemenang-mw-model-porno-moralitas-penyelenggara.html#sthash.dkK9HO6M.dpuf