SHAFIYAH binti Huyay

Shafiyah binti Huyay (رضي الله ﻋﻧﻬﺎ) menikah dengan Nabi Muhammad (ﷺ) pada tahun 7 H saat Nabi berusia enampuluh tahun dan dia sendiri berusia tujuhbelas tahun. Seperti yang terjadi pada kasus Juwayriyya binti al-Harits, pernikahan ini terjadi setelah salah satu peperangan Muslim yang menentukan, dalam hal ini, perang Khaybar.

Setelah perang Khaybar dimana kaum Muslim dapat mengalahkan orang-orang Yahudi, dua orang wanita dibawa ke hadapan Nabi Muhammad (ﷺ) oleh Bilal, Muadzdzin kulit hitam Madinah yang suara indahnya menembus langsung memanggil ummat muslim untuk melaksanakan shalat sampai wafatnya Nabi – setelah wafatnya Nabi, Billal tak bisa melantunkan adzdzan sampai Yerusalem menyatakan menyerah kepada khalifah ‘Umar pada tahun 17 H.

Dua orang perempuan itu adalah mereka yang telah ditinggal mati dalam peperangan. Salah satu perempuan itu memekik-mekik dan menjerit-jerit, dan menggosokkan rambutnya dengan pasir, sementara yang satunya lagi diam saja karena terkejut.

Wanita yang diam itu adalah Shafiyah, puteri Huyay ibn Akhtab, kepala dari Banu Nadir yang telah dikeluarkan dari Madinah pada tahun 4 H setelah merencanakan pembunuhan terhadap Rasulullah dengan cara menjatuhkan batu ke atas kepala Nabi ketika beliau sedang berbicara dengan ketua mereka. Sementara wanita yang ribut adalah sepupu Shafiyah. Shafiyah sendiri dapat ditelusuri leluhurnya langsung sampai ke Harun, saudara laki-laki Nabi Musa AS.

Nabi Muhammad (ﷺ) meminta seseorang untuk menjaga wanita yang menjerit-jerit itu lalu membuka jubahnya dan melingkarkannya pada bahu Shafiyah, yang suaminya terbunuh dalam peperangan itu. Itu adalah satu isyarat kasih sayang, dan sejak saat itu Shafiyah jadi dihormati dan diberi kehormatan dalam masyarakat Muslim. Lalu Nabi (ﷺ) berbalik kepada Bilal dan berkata,

“Billal, sudahkah Allah mencabut kasih sayang dari hatimu sehingga engkau biarkan dua wanita yang ditinggal mati suami mereka ini?”

Ini dirasakan sebagai sebuah teguran keras, dimana Nabi (ﷺ) jarang sekali mengkritik kebiasaan mereka yang melayaninya. Anas ibn Malik, contohnya pernah berkata, “Aku melayani Rasulullah (ﷺ) selama delapan tahun. Dia tak pernah sekalipun mengomeliku untuk sesuatu yang aku lakukan ataupun sesuatu yang tidak aku lakukkan.”

Seperti Ummu Habibah, Shafiyah adalah puteri dari seorang ketua yang hebat. Satu-satunya orang yang dapat menyelamatkannya dari dijadikan seorang budak padahal sebelumnya dia terbiasa menikmati bermacam kenikmatan, adalah Nabi.

Meskipun ayahnya pernah berencana membunuh Muhammad (ﷺ) pada saat setelah perang Uhud, dan bersekongkol dengan Banu Qurayza untuk membasmi semua kaum Muslim selama peperangan al-Khandaq, sudah merupakan karakteristik Nabi Muhammad (ﷺ) bahwa dia tidak pernah menyimpan dendam. Kepada mereka yang telah melakukan kesalahan, dia selalu berlaku kasih sayang alih-alih marah, dan bagi mereka yang tidak melakukan kesalahan, dia akan lebih memberikan kasih sayangnya.

Nabi Muhammad (ﷺ) mengundang Shafiyah untuk masuk Islam, yang mana dilakukan Shafiyah, dan setelah membebaskannya, kemudian Nabi menikahinya.

jewBeberapa orang mungkin bertanya bagaimana bisa Shafiyah menerima Islam dan menikahi Nabi sementara ayahnya sendiri adalah musuh yang sengit, dan peperangan-peperangan yang berdarah-darah telah terjadi antara orang-orang Yahudi dan orang-orang Muslim. Jawabannya bisa ditemukan pada apa yang telah diceritakannya tentang kehidupannya yang sebelumnya sebagai puteri kepala Banu Nadir.

Dia (رضي الله ﻋﻧﻬﺎ) berkata: “Aku adalah kesayangan ayahku dan juga kesayangan pamanku yang bernama Yasir. Mereka tak dapat melihatku bersama salah satu anak-anak mereka tanpa memangkuku. Ketika Rasulullah (ﷺ) datang ke Madinah, ayahku dan pamanku datang menemuinya. Saat itu pada awal pagi kira-kira antara shubuh dan matahari terbit. Mereka tidak kembali sampai matahari tergelincir. Mereka kembali dalam keadaan letih dan tertekan, berjalan dengan lambat, langkah-langkah mereka terasa berat. Aku tersenyum kepada mereka seperti biasanya aku lakukan tapi mereka tidak memperhatikanku karena mereka dalam keadaan sedih. Aku mendengar Abu Yasir bertanya pada ayahku, ‘Inikah dia?’ ‘Ya,memang.’ ‘Bisakah kau mengenalinya? Bisakah kau meyakinkannya?’ ‘Ya, aku dapat mengenalinya dengan sangat baik.’ ‘Bagaimana perasaanmu padanya?’ ‘Permusuhan, permusuhan selama aku hidup.’[i]

Signifikansi percakapan ini adalah bukti ketika kita melihat kembali ke dalam Taurat umat Yahudi, disana tertulis bahwa seorang Nabi akan datang yang akan memimpin para pengikutnya pada sebuah kemenangan. Bahkan sebelum Nabi Muhammad (ﷺ) datang ke kota Madinah, orang-orang Yahudi biasa memperlakukan para pemuja berhala di Yatsrib, sebagaimana kemudian disebut, bahwa saat datang Nabi berikutnya mereka akan dimusnahkan, seperti orang-orang Yahudi memusnahkan suku-suku lain yang menolak menyembah Tuhan di masa lalu. Sebagaimana dalam kasus, Nabi Isa AS yang secara tegas digambarkan dalam Taurat – namun ditolak oleh banyak orang-orang Yahudi saat dia benar-benar datang – Nabi berikutnya sekaligus yang terakhir secara akurat digambarkan di dalam Taurat, yang juga mengandungi tanda-tanda yang dapat dilihat dengan mudah oleh orang-orang Yahudi, Maka itu Ka’b al-Ahbar, salah seorang Yahudi pada saat itu yang telah masuk Islam, mengatakan bahwa Nabi ini digambarkan di dalam Taurat sepert ini:

‘Budakku, Ahmad, yang Terpilih, lahir di Mekkah, yang akan hijrah ke Madinah (atau dia sebut Tayyiba – nama lain yang diberikan adalah Yatsrib); ummatnya adalah mereka yang akan memuji Allah di dalam setiap kebesaran.’

‘Amr ibn al-‘As mengatakan bahwa dalam Taurat juga disebutkan:

‘Ya Nabi, Aku mengirimmu sebagai seorang saksi, pembawa kabar gembira dan seorang pemberi peringatan dan seorang pelindung orang yang buta huruf. Kamu adalah budak-Ku dan utusan-Ku. Aku telah memanggilmu satu-satunya dari orang yang percaya, seseorang yang tidak berkata kasar dan tidak pula berkata cabul, dan juga bukan orang yang berteriak di pasar-pasar atau yang membalas kejahatan dengan kejahatan, namun dia yang mengampuni dan memaafkan. Allah tak akan mengambilnya kembali pada diri-Nya sampai masyarakat yang bengkok telah dikuatkan olehnya dan mereka berkata, “Tidak ada Tuhan kecuali Allah.” Dengannya, mata-mata yang buta, telinga-telinga yang tuli, dan hati-hati yang tertutup akan terbuka.’

Untunglah ada deskripsi ini di dalam Taurat, sehingga rabbi Yahudi yang paling terpelajar yang bernama ‘Abdullah ibn Salam masuk Islam ketika melihat Muhammad (ﷺ) dan karena deskripsi ini pulalah Huyay ibn Akhtab juga dapat mengenali Nabi. Namum Huyay, seperti orang Yahudi kebanyakan, merasa sungguh kecewa bahwa Nabi terakhir (ﷺ) adalah anak keturunan dari Ismail dan bukan dari anak keturunan Ishaq (dua putera Nabi Ibrahim AS), Orang-orang Yahudi sampai saat itu mengklaim diri secara eksklusif sebagai anak keturunan Ishaq melalui jalur keturunan dua belas putera Ya’qub (yang juga dikenal sebagai Israel) yang darinya dua belas suku Israel berasal.

Huyay bukan saja marah karena Nabi terakhir muncul dari kalangan orang Arab, tapi dia juga tidak mau kehilangan posisinya atas kekuatan dan kepemimpiannya dalam kaumnya.

Oleh karena alasan inilah Huyay secara rahasia memutuskan untuk berseberangan dan melawan Nabi Muhammad (ﷺ) sementara di hadapan orang banyak dia dan pemimpin-pemimpin Yahudi lainnya bersikap damai dengan orang-orang Muslim dan Yahudi akan menghancurkannya sesegera mungkin ketika ada kesempatan untuk melakukannya.

Namun demikian, meskipun Shafiyah adalah puteri Huyay, tapi dia memiliki hati yang tulus dan benar-benar ingin menyembah Tuhan dan Penciptanya, Tuhan yang telah mengirimkan Musa, yang kepadanya dia punya hubungan, dan Isa, dan akhirnya Muhammad, semoga Allah ridla kepada mereka semua. Maka ketika kesempatan itu muncul, bukan hanya mengikutinya, tapi bahkan dia menikahi Nabi terakhir itu.

Meski Shafiyah mendapati dalam diri Muhammad (ﷺ) sebagai orang yang paling baik dan penuh perhatian, namun Shafiyah tidak selalu dapat diterima dengan cara yang menyenangkan oleh beberapa istri nabi yang lainnya, terutama ketika Shafiyah pertama kali bergabung ke dalam rumahtangga Nabi. Diriwayatkan oleh Anas bahwa dalam satu kesempatan, Nabi (ﷺ) mendapati Shafiyah sedang menangis. Saat Nabi bertanya padanya apa yang terjadi, Shafiyah menjawab bahwa dia mendengar Hafshah dengan cara meremehkan menggambarkannya sebagai ‘puteri seorang Yahudi’.

Nabi (ﷺ) menjawab dengan mengatakan, “Engkau sudah dapat dipastikan adalah puteri dari seorang Nabi (Harun), dan sudah dapat dipastikan pamanmu juga seorang Nabi (Musa), dan engkau sudah dapat dipastikan adalah seorang istri dari seorang Nabi (Muhammad), jadi dari semua itu apa yang dapat merendahkanmu?” Lalu Nabi berkata kepada Hafshah, “Ya Hafshah, takutlah kepada Allah!”

Suatu kali Nabi ditemani dalam perjalanannya oleh Shafiyah dan Zainab binti Jahsy. Pada saat itu unta Shafiyah berjalan dengan pincang sementara Zainab memiliki unta tambahan dan Nabi memintanya untuk memberikan unta tambahan itu kepada Shafiyah. Zainab menjawab dengan pedas, “Mestikah aku memberi pada seorang Yahudi!” Mendengar itu Nabi lalu menjauh dari Zainab dengan perasaan marah dan tidak berbuat apapun dengannya selama dua atau tiga bulan untuk memperlihatkan celaannya atas apa yang dikatakan Zainab.

Sekitar tiga bulan berikutnya, saat Nabi Muhammad (ﷺ) dalam sakitnya yang terakhir, Shafiyah merasa iba begitu dalam dan tulus hati, “Ya Rasulullah,” katanya, “Aku harap akulah yang menderita daripada engkau.” Beberapa istri Nabi lainnya saling mengedipkan mata dimana Nabi berada di antara mereka dan melihatnya, maka Nabi berseru, “Demi Allah, dia berbicara benar!”

Shafiyah masih menjalani masa sulit setelah meninggalnya Nabi (ﷺ). Suatu kali seorang budak wanita miliknya datang kepada Amir al Muminin dan berkata, “Amir al Muminin! Shafiyah menyukai Sabbath dan berhubungan dengan orang Yahudi!” ’Umar lalu menanyai Shafiyah perihal itu maka Shafiyah menjawab, “Aku tidak mencintai Sabbath dari semenjak Allah menggantikannya dengan hari Jum’at untukku dan aku berhubungan dengan Yahudi yang memiliki hubungan keluarga denganku.” Lalu Shafiyah bertanya pada budak wanitanya apa yang membuatnya berbohong kepada ‘Umar dan gadis itu menjawab, “Shaytan!” Shafiyah berkata, “Pergilah, kamu bebas.”

Shafiyah bersama Nabi (ﷺ) sekitar empat tahun, dia hanya berusia duapuluhsatu tahun ketika Nabi (ﷺ) meninggal dan hidup sebagai janda untuk tigapuluhsembilan tahun berikutnya. Dia sendiri meninggal pada tahun 50 H dalam usia enampuluh tahun, semoga Allah meridlainya.

[i] Lihat, (Muhammad Fathi Mus’ad, The Wives of Prophet Muhammad Their Strives and Their Lives. Islamic INC. Publishing and Distribution 8 As-Sayeda Zainab Sq.Cairo. Egypt Translated to English, Edited, and Prepared by: Al-Falah Foundation 24 Tairan st. Nasr city, Cairo, Egypt Tel & Fax: 2622838. PDF. Tanpa tahun. Hal. 162)

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s