Ummu Habibah Ramlah binti Abu Sufyan (رضي الله ﻋﻧﻬﺎ)

HABASYAH

HABASYAH

Ummu Habibah Ramlah binti Abu Sufyan (رضي الله ﻋﻧﻬﺎ)[ii] sebenarnya telah menikah dengan Nabi (ﷺ) pada tahun 1 H. Namun demikian dia tidak ikut hidup bersama Nabi di Madinah sampai tahun 7 H, ketika Nabi berumur enampuluh tahun dan dia sendiri berusia tigapuluhlima tahun. Ummu Habibah puteri dari Abu Sufyan, seorang pria yang pada sebagian besar hidupnya dihabiskan sebagai musuh yang nyata Nabi (ﷺ) – yang menghabiskan banyak hartanya dalam memerangi ummat Muslim dan memimpin pasukan kafirun untuk melawan kaum Muslim dalam peperangan-peperangan besar di awal tumbuhnya kaum Muslim, termasuk perang Badar, Uhud dan al-Khandaq. Tentu saja tidak sampai peristiwa penaklukan Mekkah, saat Nabi secara bermurah hati memaafkannya, Abu Sufyan masuk Islam dan mulai berperang bersama kaum Muslim alih-alih melawan mereka.

Ummu Habibah dan suaminya yang pertama yang bernama Ubaydullah ibn Jahsy, saudara lelaki Zainab binti Jahsy adalah diantara orang-orang pertama yang masuk Islam di Mekkah, dan mereka adalah diantara kaum Muslim awal yang melakukan hijrah ke Habasyah untuk mencari perlindungan.

Di Habasyah, namun demikian, Ubaydullah meninggalkan Islam dan menjadi seorang Kristen. Ubaydullah juga mencoba membuat Ummu Habibah (رضي الله ﻋﻧﻬﺎ) menjadi seorang Kristen namun istrinya itu tetap bertahan[iii].

Ini membuat Ummu Habibah berada pada posisi yang sulit karena seorang wanita muslim hanya bisa menikah dengan seorang pria muslim. Dia tidak bisa lagi hidup bersama suaminya tapi juga tidak mungkin kembali kepada ayahnya yang masih sibuk memerangi ummat Muslim. Maka dia tetap berada di Habasyah bersama saudara perempuannya, hidup dengan penuh kesederhanaan dalam isolasi, menunggu apa yang ditakdirkan Allah untuknya.

Suatu hari, ketika Ummu Habibah (رضي الله ﻋﻧﻬﺎ) duduk di dalam kamarnya yang sunyi, seorang asing di tanah asing yang jauh dari kampung halamannya, seorang inang mengetuk pintunya dan berkata bahwa dia diutus Najasyi untuk menyampaikan sebuah pesan. Pesan itu adalah bahwa Nabi Muhammad (ﷺ) meminangnya, dan seandainya dia menerima lamaran ini agar menunjuk seseorang untuk menjadi wakilnya. Maka ditunjuknyalah salah seorang muslim yang berada di Habasyah sebagai wakilnya[iv], dan upacara pernikahan itu dapat dilaksanakan di Habasyah meski dia tidak berada di tempat yang sama dengan Nabi.

Secara alamiah Ummu Habibah (رضي الله ﻋﻧﻬﺎ) merasa senang dan menerima langsung lamaran itu. “Allah telah memberimu berita gembira! Allah telah memberimu berita gembira!” dia berteriak, menarik perhiasan kecil miliknya dan memberikannya pada seorang gadis yang sedang tersenyum. Dia minta pada gadis itu untuk mengulang kembali pesan itu sampai dia benar-benar dapat mempercayai apa yang didengarnya.

Segera setelahnya, seluruh muslim yang saat itu sedang mencari perlindungan di Habasyah berkumpul di istana Najasyi untuk menyaksikan upacara pernikahan sederhana antara Nabi dan Ummu Habibah, dan Khalid ibn Said bertindak sebagai walinya. Saat pernikahan itu selesai, Najasyi[v] berbicara kepada yang sedang berkumpul itu:

“Alhamdulillah, subhanallah, dan aku bersaksi bahwasannya tiada Tuhan kecuali Allah dan bahwasannya Muhammad adalah pelayan dan utusan-Nya dan Allah telah memberi kabar gembira kepada Isa putera Maria.”

“Rasulullah (ﷺ) memintaku menandatangani perjanjian pernikahan antara dia dengan Ummu Habibah puteri Abu Sufyan. Aku menyetujui permintaannya dan dengan atas namanya aku memberikan Ummu Habibah mas kawin sebesar empat ratus emas dinar.” Najasyi menyerahkan empat ratus emas dinar itu kepada Khalid ibn Said yang berdiri dan berkata:

‘Segala puji hanya milik Allah. Aku memuji-Nya dan memohon pertolongan dan ampunan-Nya dan kepada-Nya aku bertobat. Aku bersaksi bahwasannya Muhammad adalah pelayan dan utusan-Nya yang telah diutus-Nya dengan membawa agama yang menjadi petunjuk dan kebenaran yang mengungguli semua agama yang ada, meskipun semua yang menolaknya tidak menyukai ini. Aku setuju untuk melakukan apa yang diminta Nabi (ﷺ) dan bertindak sebagai wali atas nama Ummu Habibah puteri Abu Sufyan. Semoga Allah memberkati Rasulullah dan istrinya ini. Selamat kepada Ummu Habibah atas kebaikan yang telah ditakdirkan Allah untuknya ini.”

Khalid mengambil mas kawin itu dan menyerahkannya kepada Ummu Habibah. Jadi meskipun Ummu Habibah tidak bisa pergi ke Arab secara langsung, dia telah diatur oleh Nabi (ﷺ) dari momen itu dan mereka bisa tetap menikah.

Kaum muslim yang menjadi saksi perjanjian pernikahan itu baru saja hendak pergi, ketika Najasyi berkata kepada mereka, “Duduklah, ini adalah kebiasaan para nabi untuk menyajikan makanan pada saat pernikahan.” Dengan senang hati semuanya duduk lagi untuk makan-makan dan merayakan kesempatan yang menggembirakan itu.

Ummu Habibah khususnya, sulit untuk dapat mempercayai nasib baiknya, di kemudian hari dia menggambarkan betapa ingin dia untuk membagi kebahagiaanya itu, dia berkata: “Ketika aku menerima uang itu sebagai mas kawin, aku kirimkan limapuluh mithqal emas kepada inang yang pertama kali mengabarkan padaku berita gembira itu, dan aku berkata padanya, ‘aku memberimu apa yang ingin aku berikan saat kau memberiku berita gembira itu tapi pada saat itu aku tidak punya sepeserpun uang.’

“Tidak lama setelah itu, dia datang kepadaku dan mengembalikan emas itu. Dia juga bahkan membuatkan sebuah kotak yang berisikan kalung yang telah kuberikan kepadanya lalu memberikannya kepadaku, dan berkata, ‘Najasyi telah memerintahkan padaku agar tidak mengambil apapun darimu, dan dia telah memerintahkanku wanita-wanita di lingkungan rumahtangganya untuk menghadiahimu wewangian.”

“Pada hari berikutnya, dia membawakan untukku ambergris, kunyit dan minyak kayu gaharu dan berkata, ‘aku punya pertanyaan yang ingin aku ajukan padamu.’

“’Apakah itu?’ tanyaku.

“’Aku telah menerima Islam,’ jawabnya, ‘dan sekarang aku mengikuti agama Muhammad (ﷺ). Tolong sampaikan salamku padanya, dan berilah dia tahu bahwa aku percaya kepada Allah dan nabi-Nya. Aku mohon jangan engkau lupa.”’

Enam tahun berikutnya, pada tahun 7 H, saat kaum Muslim yang hijrah ke Habasyah itu akhirnya dapat kembali ke Arab, Ummu Habibah datang ke kota Madinah dimana terdapat Nabi Muhammad (ﷺ) yang baru saja kembali dari perang Khaybar dengan membawa kemenangan lalu menyambutnya dengan hangat.

Ummu Habibah meriwayatkan: “Saat aku bertemu Nabi (ﷺ), aku katakan padanya tentang pengaturan yang dibuat untuk pernikahan itu, dan tentang hubunganku dengan gadis inang itu. Aku katakan padanya bahwa gadis itu telah menjadi seorang muslimah dan menyampaikan ucapan salam padanya. Nabi merasa gembira atas berita itu dan berkata, ‘Wa alayha as salam wa rahmatullaahi wa barakaatuh’[vi] – ‘Dan semoga baginya keselamatan, rahmat dan berkah Allah.’”

Kekuatan karakter Ummu Habibah dapat ditakar dengan apa yang terjadi pada saat dekat-dekat dengan penaklukan Mekkah, saat ayahnya, Abu Sufyan, datang ke kota Madinah setelah kaum Quraisy melanggar perjanjian Hudaibiyyah, dengan maksud untuk mencoba melakukan renegosiasi (suatu penyelesaian baru) dengan Nabi dan kaum Muslim. Sebelum melakukan itu pertama-tama Abu Sufyan mendatangi kamar Ummu Habibah dan ketika dia baru saja mau duduk di atas selimut yang biasa digunakan Nabi (ﷺ) untuk tidur, Ummu Habibah yang baru bertemu ayahnya setelah lebih dari enam tahun, meminta ayahnya itu untuk tidak duduk di atas selimut itu dan dengan cepat melipat selimut itu lalu menyimpannya.

“Apakah aku terlalu bagus untuk temat tidurnya atau tempat tidurnya yang terlalu bagus untukku?” Tanya Abu Sufyan.

“Bagaimana bisa seorang musuh Islam dibiarkan duduk di atas tempat tidur Nabi Suci?” jawab Ummu Habibah.

Setelah Abu Sufyan masuk Islam, setelah peristiwa penaklukan Mekkah, dan menjadi musuh dari musuh Islam, saat itulah Ummu Habibah menerima dan mencintainya lagi sebagai seorang ayah. Saat dia menerima berita bahwa ayahnya dan saudara laki-lakinya yang bernama Muawiyah, yang nanti menjadi khalifah ummat Muslim, telah menjadi Muslim setelah penaklukan, dia bersujud kepada Allah penuh dengan rasa syukur.

Ummu Habibah menghabiskan empat tahun hidupnya bersama Nabi Muhammad (ﷺ) dan hidup tigapuluhtiga tahun setelah wafatnya Nabi, meninggal dalam usia tujuhpuluhdua tahun pada tahun 44 H, semoga Allah meridlainya.

radhiAllahuanhaSeperti semua istri-istri Nabi (ﷺ) lainnya, Ummu Habibah juga menghabiskan sebagian besar waktunya untuk mengingat Allah dan beribadah kepada-Nya. Dia telah meriwayatkan bahwa suatu kali Nabi (ﷺ) berkata padanya, “Sebuah rumah akan dibangun di surga bagi siapa saja yang dalam waktu siang dan malamnya shalat sunnat duabelas rakaat,” dan dia menambahkan, “Aku tak pernah berhenti melakukannya sejak aku menerimanya dari Rasulullah (ﷺ).”

[i] http://islamstory.com/en/node/38440

[ii] Habibah adalah anak Ramlah binti Abu Sufyan (رضي الله ﻋﻧﻬﺎ) dari suami pertamanya, ‘Ubayd Allah ibn Jahsy yang dilahirkan di Habasyah.

[iii] Suatu malam Ummu Habibah bermimpi dan melihat dalam mimpinya itu suaminya ‘Ubayd Allah ibn Jahsy dalam sebuah kondisi yang mengerikan dan tersesat di dalam laut gelap yang dalam. Maka dia terbangun ketakutan dan tidak bisa menenangkan pikirannya.

Diriwayatkan Ummu Habibah (رضي الله ﻋﻧﻬﺎ), dia bercerita, “Aku melihat dalam tidurku suamiku sUbayd Allah ibn Jahsy dalam gambaran terburuk dan terjelek. Aku ketakutan. Aku berkata, ‘Demi Allah, dia telah berubah’. Pagi harinya aku mendapati dia berkata padaku bahwa telah berpikir dan memutuskan bahwa agama terbaik untuk dimasuki adalah kristen. Aku berkata padanya, tidak ada yang lebih baik bagimu kecuali Islam, dan aku katakan padanya mengenai apa yang aku lihat dalam mimpiku tapi dia tidak mengindahkannya. Dia lalu menjadi benar-benar ketagihan minum-minum. Suaminya itu lalu memberi Ummu Habibah kebebasan pilihan apakah diceraikan ataukah masuk menjadi penganut Kristen. (Muhammad Fathi Mus’ad, The Wives of Prophet Muhammad Their Strives and Their Lives. Islamic INC. Publishing and Distribution 8 As-Sayeda Zainab Sq.Cairo. Egypt Translated to English, Edited, and Prepared by: Al-Falah Foundation 24 Tairan st. Nasr city, Cairo, Egypt Tel & Fax: 2622838. PDF. Tanpa tahun).

[iv] Dalam buku Detik-Detik Penulisan Wahyu disebutkan bahwa yang menjadi wakil Nabi di Habasyah untuk menikahi Ummu Habibah adalah Khalid ibn Said al-Ash.

[v] Hadits ke-25 Dari Abu Hurairah (رضي الله ﻋﻧﮫ) bahwa Nabi (ﷺ) menyiarkan kematian Najasyi pada hari kematiannya, beliau keluar bersama mereka ke tempat sholat, bershaf bersama mereka, dan sholat empat takbir untuknya. Muttafaq Alaihi. (Kitab Hadits Bulughul Maram Min Adillatil Ahkam, Oleh : Al-Hafidz Ibnu Hajar Al-Ashqolani. (http://www.mutiara-hadits.co.nr/)

Hadits riwayat Abu Hurairah (رضي الله ﻋﻧﮫ):
Bahwa Rasulullah (ﷺ) mengumumkan kemangkatan Raja Najasy kepada kaum muslimin pada hari kematiannya, maka beliau dan kaum muslimin keluar menuju ke tempat salat dan bertakbir empat kali (melaksanakan salat gaib). (Shahih Muslim No.1580)

Hadits riwayat Jabir bin Abdullah (رضي الله ﻋﻧﮫ):
Bahwa Rasulullah (ﷺ) menyalatkan Ash-hamah An-Najasyi, beliau bertakbir empat kali. ((Shahih Muslim No.1582) Sumber: http://hadith.al-islam.com/bayan/Tree.asp?Lang=IND))

[vi] Disebutkan dalam buku Muhammad Fathi Mus’ad, The Wives of Prophet Muhammad Their Strives and Their Lives. Islamic bahwa nama inang itu adalah Abrahah.

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s