JUWAYRIYYA binti al-Harits

radhiAllahuanhaJuwayriyya binti Harits (رضي الله ﻋﻧﻬﺎ) menikah dengan Nabi (ﷺ) pada tahun 5 H, saat Nabi berusia limapuluhenam tahun dan dia sendiri berusia duapuluh tahun, tidak lama setelah Nabi menikah dengan Zainab binti Jahsy, dan sebagai hasil dari keberhasilan iring-iringan tentara kaum Muslim yang melawan Banu Mushthaliq[ii] yang dengan cepat ditaklukkan setelah serangan tiba-tiba dari Nabi. Di antara tawanan yang dibawa iring-iringan ini adalah Juwayriyya yang cantik, puteri dari al-Harits yang merupakan ketua dari Banu Mushthaliq.

Juwayriyya khawatir jika saja kaum Muslim mengetahui siapakah dia sebenarnya, mereka akan meminta uang tebusan yang berlebihan untuk kebebasannya. Setelah kaum Muslim kembali ke Madinah dengan barang rampasan dan para tawanan, Juwayriyya meminta bertemu dengan Nabi Muhammad (ﷺ) dan berharap Nabi akan mencegah apa yang dikhawatirkannya.

Melihat betapa cantiknya Juwayriyya, Aisyah merasa tidak nyaman atas pertemuan Juwayriyya dengan sang Nabi. Namun Juwayriyya memaksa dan pada akhirnya diizinkan juga menemui Nabi (ﷺ) dan dibawa menemui Nabi ketika Nabi sedang bersama Aisyah. Setelah Juwayriyya selesai berbicara, Nabi berpikir sejenak lalu berkata, “Bolehkah aku mengusulkan sesuatu yang akan lebih baik daripada ini?”

Nabi kemudian meminta Juwayriyya menikah dengannya, dan Juwayriyya sesegera itu langsung menerimanya.

Mesti diingat, meskipun Juwayriyya itu seorang wanita cantik dan dari keturunan terhormat, yang dipikirkan Nabi adalah bagaimana meneyelamatkannya dan anggota sukunya dari nasib buruk yang akan menimpanya. Dengan menikahi Juwayriyya, Banu Mushthaliq akan mau masuk Islam secara terhormat, dan dengan menyingkirkan rasa terhina karena sebelumnya telah ditaklukkan. Maka tak akan perlu lagi bagi mereka memulai lagi sebuah perang balas dendam yang akan terus berlanjut sampai salah satu dari kedua belah pihak dibinasakan.

Sesegera setelah pernikahan itu diumumkan, seluruh harta rampasan yang diambil dari Banu Mushthaliq dikembalikan lagi, dan semua tawanan dibebaskan karena mereka sekarang berada dalam perlindungan Nabi Muhammad (ﷺ). Karenanya Aisyah suatu kali pernah berkata mengenai Juwayriyya, “Aku tidak kenal seorang wanita yang lebih memberkati terhadap kaumnya lebih daripada Juwayriyya binti al-Harits.”

Setelah Nabi dan Juwayriyya menikah, Nabi (ﷺ) lalu mengubah namanya dari Barra menjadi Juwayriyya.

Diriwayatkan oleh Juwayriyya bahwa pada suatu pagi buta Rasulullah (ﷺ) keluar dari kamarnya ketika Juwayriyya sedang shalat shubuh. Ketika Nabi kembali lagi pada pagi hari Juwayriyya masih duduk di tempat yang sama. “Apakah kau duduk terus duduk di sana sejak tadi aku meninggalkanmu?” Tanya Nabi. “Ya,” jawab Juwayriyya. Maka Nabi berkata, “Aku telah membaca kalimat, mengiringi ucapanmu, jika ia ditimbang (pahalanya) dengan apa yang engkau baca hari ini sejak tadi shubuh akan sama beratnya, yaitu (artinya = Maha suci Allah dan aku memuji-Nya, sebanyak ciptaan-Nya, sejauh ridlo-Nya, seberat timbangan arsy-Nya, dan sebanyak tinta untuk menulis kalimat-Nya).”[iii] Ini mengingatkan kita pada ayat al-Qur’an berikut ini (Qur’an S. Al-Kahfi 18:109):

Katakanlah: “Kalau sekiranya lautan menjadi tinta untuk (menulis) kalimat-kalimat Tuhanku, sungguh habislah lautan itu sebelum habis (ditulis) kalimat-kalimat Tuhanku, meskipun Kami datangkan tambahan sebanyak itu (pula). قُلْ لَوْ كَانَ الْبَحْرُ مِدَادًا لِكَلِمَاتِ رَبِّي لَنَفِدَ الْبَحْرُ قَبْلَ أَنْ تَنْفَدَ كَلِمَاتُ رَبِّي وَلَوْ جِئْنَا بِمِثْلِهِ مَدَدًا

Juwayriyya menikah dengan Nabi (ﷺ) selama enam tahun dan hidup tigapuluhsembilan tahun berikutnya setelah Nabi wafat. Dia meninggal pada tahun 50 H pada usia enampuluhlima tahun, semoga Allah meridlainya.

Catatan:

[ii] Banu Mushthaliq tinggal di sebelah utara kota Mekkah. Mereka bagian dari keturunan Bani Khaza’ah yang pernah menguasai Mekkah. Asal-usul mereka dari Yaman. Pasukan Banu Mushthaliq dan pasukan muslim berperang di dekat sumur yang bernama al-Maraisi yang terletak di antara Mekkah dan Madinah, 250 KM dari Mekkah dan 320 KM dari Madinah. (Fathi Fawzi ‘Abd al-Mu’thi, Detik-Detik Penulisan Wahyu, Penerbit Zaman, Jakarta, Cet. 1, hal. 82-83)

[iii] Bulughul Maram, Kitab Adab dan Kesopanan, Hadits ke-107
Juwairiyyah Binti al-Harits (رضي الله ﻋﻧﻬﺎ) berkata: Rasulullah (ﷺ) bersabda kepadaku: “Aku telah membaca kalimat, mengiringi ucapanmu, jika ia ditimbang (pahalanya) dengan apa yang engkau baca hari ini akan sama beratnya, yaitu (artinya = Maha suci Allah dan aku memuji-Nya, sebanyak ciptaan-Nya, sejauh ridlo-Nya, seberat timbangan arsy-Nya, dan sebanyak tinta untuk menulis kalimat-Nya).” Riwayat Muslim.

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s