Halloween Dalam Timbangan

MUQADDIMAH

Segala puji hanya milik Allah yang telah menurunkan kepada kita utusan-Nya sebagai penunjuk kepada jalan agama yang lurus. Saya bersaksi tiada Tuhan kecuali Allah dan Muhammad SAW sebagai utusan-Nya.

Allah SWT telah berfirman dalam Al-Qur’anul Kariem,

وَلا يَزَالُونَ يُقَاتِلُونَكُمْ حَتَّى يَرُدُّوكُمْ عَنْ دِينِكُمْ إِنِ اسْتَطَاعُوا

(yang artinya) “…Mereka tidak henti-hentinya memerangi kamu sampai mereka (dapat, mengembalikan kamu dari agamamu (kepada kekafiran), seandainya mereka sanggup…” (Al Baqarah: 217)

Telah kita saksikan di hadapan kita bahwa dulu, sekarang dan juga nanti akan selalu ada pemikiran-pemikiran yang mencoba memengaruhi kita baik itu yang positif ataupun yang negative. Hal demikian adalah wajar adanya sebab kita ditakdirkan menjadi makhluk social yang saling bergantung satu sama lain. Namun sebagai masyarakat yang telah mengenal kebenaran melalui wahyu yang diturunkan kepada Nabi Muhammad SAW, sudah selayaknya kita berpegang teguh pada tali yang kuat itu, sebagaimana kita biasa membaca ayat ini dalam shalat:

اهْدِنَا الصِّرَاطَ الْمُسْتَقِيمَ

“Tunjukilah kami jalan yang lurus”

صِرَاطَ الَّذِينَ أَنْعَمْتَ عَلَيْهِمْ غَيْرِ الْمَغْضُوبِ عَلَيْهِمْ وَلا الضَّالِّينَ

“(yaitu) Jalan orang-orang yang telah Engkau beri nikmat kepada mereka; bukan (jalan) mereka yang dimurkai dan bukan (pula jalan) mereka yang sesat”

Pemikiran-pemikiran negative itu ada yang sengaja ditiupkan untuk merubah arah berfikir ummat Islam melalui pengajaran-pengajaran dan buku-buku secara terang-terangan, dan ada juga yang ditiupkan secara samar-samar dengan cara disebarkannya tradisi-tradisi yang dapat mengacaukan dan merubah haluan berfikir ummat Islam.

Prof. DR. Yusuf Al-Qardhawi dalam bukunya Sistem Masyarakt Islam dalam Qur’an dan Sunnah telah menyebutkan bahwa “Masyarakat Islam diwarnai oleh pemikiran dan pemahaman yang menentukan pandangannya terhadap segala persoalan, peristiwa, tingkah laku seseorang, nilai dan hubungan. Masyarakat Islam menentukan ini semuanya dari sudut pandang Islam, mereka tidak mengambil hukum kecuali dari sumber referensi Islam yang bersih dan jernih dari kotoran-kotoran dan penambahan-penambahan, sebagai akibat dari rusaknya zaman. Sumber yang bersih itulah yang mampu menangkal pemikiran yang ekstrim dan pemikiran yang cenderung kendor, penyimpangan orang-orang yang membuat kebatilan dan penakwilan orang-orang yang bodoh.”

 

ASAL MUASAL HALLOWEEN

Akan kita lihat nanti pada saat menjelang dan sesudah tanggal 31 Oktober pada televise dan media-media massa lainnya dipenuhi dengan film, liputan atau acara-acara yang berhubungan dengan “Halloween”. Acara-acara tersebut mungkin akan tidak secara vulgar mengatakan bahwa dia dimaksudkan untuk memperingati acara “Halloween”. Ini karena “Halloween” bukanlah tradisi kita bangsa Indonesia. Acara seperti ini mungkin saja diliput atau diadakan hanya karena ramainya saja.Halloween

Oleh karena hanya ramai-nya itulah biasanya kita akan mengikutinya saja dan memandang itu sebagai sesuatu yang biasa untuk ditonton. Menonton dan menyaksikan itu memang bukan sesuatu yang salah jika kita tahu alang ujurnya. Yang menjadi masalah adalah membiarkan itu menjadi kebiasaan dan tradisi kita. Dengan cara sedikit demi sedikitlah dia akan menjadi bagian dari kita.

Halloween atau Hallowe’en (/ˌhæləˈwin, ˈin, ˌhɒl/😉 adalah kontraksi dari “All HallowsEvening, juga dikenal sebagai All Hallows’ Eve (malam keramat (mensucikan)) adalah acara yang dirayakan setiap satu tahun satu kali di beberapa negara eropa barat dan Amerika utara pada tanggal 31 oktober, yang didedikasikan untuk memperingati orang-orang mati, yang termasuk di dalamnya para santo dan para martir.

Menurut beberapa sarjana, Hallow’s Eve (malam keramat) adalah sebuah perayaaan yang dikristianisasi dan mendapat atau dipengaruhi oleh perayaan festival bangsa Eropa Barat, dan festival orang-orang mati dengan akar budaya pagan, terutama bangsa Celtic Samhain. Sementara sarjana yang lain justru mengatakan bahwa ini sesungguhnya adalah original adat kebiasaan bangsa Samhain yang dipengaruhi oleh agama Kristen.

Secara etimologi, kata Halloween atau Hallowe’en mulai dikenal kira-kira sejak tahun 1745. Kata ini datang dari bahasa skotlandia dari terma All Hallows’ Eve (malam sebelum All Hallows’ Day (hari keramat (mensucikan)). Di Skotlandia, kata eve adalah even, dan ini terkontraksi menjadi e’en atau een. Seiring berjalannya waktu, (All) Hallow(s) E(v)en berevolusi menjadi Halloween.

Meskipun frase All Hallows’ ditemukan dalam bahasa inggris kuno (ealra hālgena mæssedæg, mass-day of all saints), All Hallows’ Eve sendiri belum ditemukan sampai tahun 1556.

Adat kebiasaan halloween dinilai telah dipengaruhi oleh adat kebiasaan dan kepercayaan negara-negara berbahasa Celtik, yang beberapa diantaranya berakar pada kepercayaan pagan, dan sebagiannya berakar pada kristen Celtik. Bahkan, Jack Santino, seorang folklorist, menulis bahwa “nilai-nilai kesucian dan religius adalah konteks dasar untuk memahami Halloween di Irlandia utara, namun sebagaimana di keseluruhan Irlandia terdapat kompleksitas jalur antara adat kepercayaan dengan kekristenan dan yang diasosiasikan dengan agama yang telah ada di tengah-tengah bangsa Irish sebelum datangnya agama kristen. Sejarawan Nicholas Rogers, menelusri asal mula Halloween. Beliau mencatat bahwa “beberapa folklorists telah mendeteksi asal mula Halloween dalam hari raya bangsa Romawi yaitu Pomona, dewi buah-buahan dan bibit, atau festival orang-orang mati yang disebut Parentalia, yang lebih typikal berhubungan dengan festival bangsa Celtik yang disebut Samhain“, yang datang dari bahasa Irish kuno untuk “akhir musim panas”. Samhain (dari akar kata SAH-win atau SOW-in) adalah yang pertama dan yang paling utama dari keempat kwartal dalam hitungan kalender Gaelic abad pertengahan di Irlandia, Scotlandia dan di Isle of Man.

Samhain ini biasanya diadakan antara tanggal 31 oktober s/d 1 november dan festival-festival yang sama juga dirayakan pada saat yang sama oleh bangsa-bangsa Celtic Brittonic; seperti Calan Gaeaf (di Wales), Kalan Gwav (di Cornwall) dan Kalan Goañv (di Brittany). Samhain dan Calan Gaeaf disebut dalam beberapa literatur Irish dan Welsh awal. Nama-nama tersebut telah digunakan para sejarahwan untuk merujuk pada adat kebiasaan Halloween bangsa Celtik sampai abad ke -19, dan masih tetap digunakan di Gaelic dan Welsh untuk menyebutkan Halloween.

Samhain/Calan Gaeaf menandai akhir dari musim panen dan dimulainya musim dingin atau merupakan bagian paling gelap dari satu tahun itu. Beltane/Calan Mai, dianggap sebagai waktu dimana roh halus atau para peri (the ) dapat lebih mudah datang ke dunia dan aktif secara partikular. Jiwa-jiwa orang yang telah meninggal juga dikatakan berkunjung kembali ke rumah-rumah mereka. Hari raya itu, adalah dimana roh-roh orang mati hadir bersama mereka. Bagimanapun, roh-roh itu atau para peri itu dapat menyebabkan kecelakaan, dan perlu untuk didamaikan atau ditangkal. Dan ini kelihatannya masih berpengaruh pada tradisi Halloween yang ada sekarang. Api unggun, dianggap mampu menjadi pelindung dan membersihkan kekuatan-kekuatan jahat, masih dilakukan dan terkadang digunakan dalam ritual-ritualnya.

HALLOWEEN DAN PENGARUH AGAMA KRISTEN

Bible sendiri sesungguhnya tidak menyebut-nyebut ritual Halloween ini. Menurut Bible, ritual ini baik yang kuno maupun yang berkembang hari ini memperlihatkan sebuah perayaan yang salah kaprah tentang arti kematian dan roh-roh halus, ataupun roh-roh jahat. Bible memperingatkan: “There must never be anyone among you who . . . consults ghosts or spirits, or calls up the dead.” (terjemah bebasnya: “Mestilah tidak ada di antara kalian (orang beriman)…berunding dengan hantu-hantu, roh-roh, atau memanggil orang-orang mati”)(Deuteronomy 18:10-12, The Jerusalem Bible). Dalam 1 Corinthians 10:20, 21, Bible mengatakan: “I do not want you to be participants with demons. You cannot drink the cup of the Lord and the cup of demons too.” (Terjemah bebas: “Aku tak menginginkan kalian menyertai dengan para iblis. Kalian tak bias minum dari piala Tuhan sementara juga minum dari piala para iblis) – New International Version.

Meskipun demikian, dipercaya bahwa tradisi Halloween sekarang telah mendapat pengaruh dogma kristen dan praktik-praktiknya pun darinya. Bukankah Halloween sendiri diadakan pada malam sebelum hari-hari suci kristen yang biasa disebut All Hallows’ Day (hari orang-orang suci (keramat)) yang dikenal juga dengan nama All Saints’, Hallowmas atau Hallowtide pada tanggal 1 Nopember dan All Souls’ Day pada tanggal 2 Nopember? Bahkan menjadikan hari libur pada tanggal 31 oktober sebagai All Hallows’ Eve. Tiga hari ini secara kolektif mengacu sebagai Hallowmas dan merupakan waktu untuk menghormati para santo dan waktu untuk berdoa bagi orang-orang yang baru saja meninggal yang dianggap sedang menuju surga.

All Saints sendiri diperkenalkan pada tahun 609, namun asalnya dirayakan pada tanggal 13 mei. Pada tahun 835, tanggal 31 Mei ini diganti dengan tanggal 1 Nopember (tanggal yang sama dengan tanggal Samhain) pada masa Paus Gregory IV, dengan dasar pemikiran bahwa Roma pada musim panas tak dapat mengakomodasi sebagian besar peziarah pada tanggal 31 Mei itu, dan mungkin juga karena pertimbangan keadaan kesehatan publik menghormati apa yang disebut sebagai Roman Fever, penyakit yang merenggut banyak nyawa selama musim panas yang pengap di beberapa daerah. Sementara yang lain menyatakan bahwa ini adalah pengaruh bangsa Celtik dan yang lainnya lagi mengatakan bahwa ini adalah gagasan orang Jerman.

Pada abad 12 tradisi ini menjadi holy days of obligation (hari suci yang wajib diadakan) hampir di seluruh benua Eropa dan melibatkan beberapa tradisi seperti membunyikan lonceng gereja untuk roh-roh dalam tempat penyucian dosa. Sebagai tambahan “sudah menjadi tradisi untuk para peratap yang berpakaian serba hitam beriring-iringan di jalan-jalan, membunyikan lonceng dengan suara yang memilukan dan memanggili semua orang-orang kristen yang dipanggil baik untuk mengingat jiwa-jiwa yang miskin dan memilukan.” “Souling”, tradisi makan bersama dan berbagi kue yang disebut soul cakes untuk semua jiwa-jiwa kristen, dianggap sebagai asal mula dari tradisi trick-or-treating. Tradisi ini diketemukan di sebagian Inggris dan diawali setidaknya sejak abad ke-15. Sekelompok orang miskin, biasanya anak-anak, akan mendatangi rumah-rumah dari pintu ke pintu selama masa Hallowmas untuk mengumpulkan kue dengan maksud jika diberi akan mendoakan jiwa-jiwa di tempat api penyucian dosa. Praktik serupa juga dapat ditemukan di belahan Eropa barat seperti Itali.

Di Inggris, tradisi ini mendapat serangan selama masa Reformasi yang menurut orang-orang Protestant, purgatory (api penyucian dosa) adalah doktin paus yang tidak sesuai dengan gagasan tentang takdir. Sehingga, bagi sebagian orang Protestant yang Nonkonformis, teologi All Hallows’ Eve harus didefinisikan kembali; tanpa doktrin penyucian jiwa, “roh-roh yang kembali tak bisa melakukan perjalanan dari tempat penyucian jiwa menuju ke surga, sebagaimana yang biasa dipercayai dan diterima orang-orang katolik. Bahkan sebaliknya, apa yang dinamakan hantu adalah roh setan yang sesungguhnya. Sebagaimana roh-roh itu biasa mengancam.” Orang-orang Protestant lainnya terus melanjutkan penelusuran asal mula tradisi ini, khusunya mengenai prosesi candlelit dan tradisi membunyikan lonceng gereja untuk memperingati orang-orang mati.

Pada abad ke-19, di sebagian negara Inggris, keluarga-keluarga Kristen berkumpul pada malam All Hallows’ Eve. Salah seorang di antara mereka memegang seikat jerami yang dibakar di atas garpu rumput sementara yang lainnya berlutut mengelilinginya, berdoa untuk kerabat dan teman-teman mereka sampai apinya padam. Tradisi ini dikenal dengan nama teen’lay, diperoleh dari bahasa Inggris kuno tendan yang berarti mengobarkan atau kata yang memiliki hubungan dengan kata tenlach dari bahasa Irlandia kuno yang berarti hati.

HALLOWEEN MENURUT PANDANGAN ISLAM

Di tanah sunda sendiri, sebelum berkembangnya Islam, tumbuh subur kepercayaan seperti ini. Sebut saja dalam pikukuh dan pitutur yang merupakan ajaran tentang kepercayaan masyarakat suku Baduy. Mereka memberi nama agama Sunda Wiwitan. Pikukuh dan pitutur berlaku sebagai hukum adat. Diantara pikukuh yaitu berkaitan dengan kosmogoni atau asal-usul terjadinya Buana PancaTengah (Alam semesta). Menurut kepercayaan mereka, ada tiga macam alam: (1) Buana Nyungcung tempat bersemayamnya Sang Hyang Keresa, terletak paling atas; (2) Buana Panca Tengah, tempat berdiam manusia dan makhluk lainnya, berada di tengah-tengah; dan (3) Buana Larang, yaitu neraka, berada paling bawah.

Telah nampak kepada kita bahwa tradisi Halloween ini adalah datangnya dari tradisi pagan yang biasanya menganut ajaran dinamisme/animisme sehingga wajarlah jika ia kemudian melahirkan kepercayaan takhyul dan khurafat. Menjadi urgent bagi kita sekarang untuk mewartakan keadaan ini karena sesungguhnya kepercayaan-kepercayaan seperti ini tidak saja tumbuh di negeri-negeri yang mempraktekkan tradisi Halloween. Tradisi ini bisa tumbuh dan berkembang di mana saja, tidak terkecuali di Indonesia.

Telah kita saksikan dan telusuri asa-usul Halloween. Dan telah nampaklah kepada kita bahwa tradisi ini intinya adalah kepercayaan takhyul yang percaya bahwa roh-roh orang mati dapat hdup kembali dan datang menghampiri orang hidup pada waktu-waktu tertentu, yaitu pada tanggal 31 Oktober itu. Jika dihubungkan dengan Islam, maka kepercayaan itu akan tertolaklah dengan serta merta, sebagaimana yang dikatakan oleh yang berikut ini.

Hadis riwayat Abdullah bin Masud ra., ia berkata:
Ketika aku sedang berjalan bersama Rasulullah saw. di suatu tanah pertanian di mana beliau bertongkatkan sebatang pelepah korma, tiba-tiba beliau lewat di hadapan beberapa orang Yahudi. Lalu mereka saling berbicara dengan yang lain: Tanyakanlah kepadanya tentang roh! Kemudian mereka berkata: Apakah yang membuat kamu sekalian bertanya kepadanya? Dia tidak akan membalas kamu sekalian dengan sesuatu yang tidak kamu sukai. Lalu sebagian mereka berkata lagi: Tanyakanlah kepadanya! Lalu sebagian mereka datang menghampiri Rasulullah saw. untuk bertanya tentang roh. Rasulullah saw. terdiam tidak memberikan jawaban apapun, sehingga aku tahu beliau sedang diturunkan wahyu. Aku tetap berdiri di tempatku. Seusai wahyu turun, Rasulullah saw. membacakan ayat:

وَيَسْأَلُونَكَ عَنِ الرُّوحِ قُلِ الرُّوحُ مِنْ أَمْرِ رَبِّي وَمَا أُوتِيتُمْ مِنَ الْعِلْمِ إِلا قَلِيلا

“Dan mereka bertanya kepadamu tentang roh. Katakanlah: Roh itu termasuk urusan Tuhanku dan tidaklah kalian diberi pengetahuan melainkan sedikit” (Q.S Al-Isra 17:85). (Shahih Muslim No.5002)

 

Dalam hadits yang juga mengandung Al-Quran surah Al-Isra ayat 85 di atas menjadi jelaslah bagi kita bahwa kepercayaan tentang adanya roh gentayangan atau biasa kita sebut sebagai takhyul itu adalah suatu kepercayaan yang salah kaprah.

Dalam Surah Al-Isra ayat 22 Allah SWT berfirman:

لا تَجْعَلْ مَعَ اللَّهِ إِلَهًا آخَرَ فَتَقْعُدَ مَذْمُومًا مَخْذُولا

“Janganlah kamu adakan tuhan yang lain di samping Allah, agar kamu tidak menjadi tercela dan tidak ditinggalkan (Allah).”

Sedangkan mengikuti tradisi yang tidak jelas sebagaimana Hallowen ini, Al-Qur’an Surah Al-Baqarah ayat 170 telah mengabarkan:

وَإِذَا قِيلَ لَهُمُ اتَّبِعُوا مَا أَنْزَلَ اللَّهُ قَالُوا بَلْ نَتَّبِعُ مَا أَلْفَيْنَا عَلَيْهِ آبَاءَنَا أَوَلَوْ كَانَ آبَاؤُهُمْ لا يَعْقِلُونَ شَيْئًا وَلا يَهْتَدُونَ

Dan apabila dikatakan kepada mereka: “Ikutilah apa yang telah diturunkan Allah,” mereka menjawab: “(Tidak), tetapi kami hanya mengikuti apa yang telah kami dapati dari (perbuatan) nenek moyang kami”. “(Apakah mereka akan mengikuti juga), walaupun nenek moyang mereka itu tidak mengetahui suatu apapun, dan tidak mendapat petunjuk?”.

Dalam suatu riwayat dikemukakan bahwa turunnya ayat ini (S. 2: 170) sehubungan dengan ajakan Rasulullah SAW kepada kaum Yahudi untuk masuk Islam, serta memberikan kabar gembira, memperingatkan mereka akan siksaan Allah serta adzab-Nya. Rafi’ bin Huraimallah dan Malik bin ‘auf dari kaum Yahudi menjawab ajakan ini dengan berkata: “Hai Muhammad! Kami akan mengikuti jejak nenek moyang kami, karena mereka lebih pintar dan lebih baik daripada kami.” Ayat ini turun sebagai teguran kepada orang-orang yang hanya mengikuti jejak nenek moyangnya.
(Diriwayatkan oleh Ibnu Abi Hatim dari Sa’id atau ‘Ikrimah yang bersumber dari Ibnu Abbas.)

Mestilah diketahui bahwa peringatan dalam tulisan ini ditujukan kepada orang-orang yang beriman dan orang-orang yang mengaku beragama islam supaya mereka idak tergelincir ke dalam tradisi yang keliru. Sebab terhadap orang yang tak beriman, peringatan-peringatan dalam bentuk apapun akan menjadi tidak berguna sebagaimana Allah SWT berfirman dalam Q.S Al-Baqarah 2:6,

إِنَّ الَّذِينَ كَفَرُوا سَوَاءٌ عَلَيْهِمْ ءَأَنْذَرْتَهُمْ أَمْ لَمْ تُنْذِرْهُمْ لا يُؤْمِنُونَ

“Sesungguhnya orang-orang kafir, sama saja bagi mereka, kamu beri peringatan atau tidak kamu beri peringatan, mereka tidak juga akan beriman.”

 

Wallahu a’lam bi ashshawab

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s