Hassan bin Ahmad-Guru PERSIS “Sang Singa dalam Tulisan, Domba dalam Pergaulan”

Hasan bin Ahmad 1

Hasan bin Ahmad / A. Hasan

Nama aslinya adalah Hassan bin Ahmad, tapi lebih dikenal sebagai A. Hassan. Ketika tinggal di Bandung, orang biasa menyebutnya Hassan Bandung. Begitu pula saat tinggal di Bangil, dirinya dikenal dengan sebutan Hassan Bangil.

Ayahnya berasal dari India bernama Ahmad Sinna Vappu Maricar, Sedangkan ibunya bernama Muznah – kelahiran Surabaya – berasal dari Palekat, Madras. Kedua orangtuanya menikah di Surabaya dan kemudian tinggal di Singapura. Disamping seorang pedagang, ayahnya yang keturunan ulama’ Mesir cukup ahli di bidang agama dan kepenulisan dalam bahasa Tamil. Di Singapura, ayahnya adalah pemimpin surat kabar ‘Nurul Islam’, serta menerbitkan buku-buku keislaman.

Semasa kecil, Hassan bin Ahmad memperoleh pendidikan langsung dari ayahnya. Pada usia 7 tahun disamping belajar di Sekolah Melayu, Hassan bin Ahmad juga les privat bahasa Melayu, Tamil, Arab dan Inggris. Pada usia 12 tahun beliau sudah dididik mengenal berbagai profesi. Mula-mula sebagai buruh di toko kain kemudian menjadi pedagang tekstil, permata dan minyak wangi. Lantas menjadi agen distribusi es, vulkanisir ban mobil, hingga guru bahasa Melayu, Inggris dan Arab untuk orang-orang India di beberapa tempat di Singapura seperti di Arab Street, Baghdad Street dan Geylang, serta menjadi guru tetap di Madrasah Assegaf.

Itulah yang membuat pria kelahiran Singapura 31 desember tahun 1887 ini gemar berguru kepada banyak orang. Gurunya antara lain adalah Haji Ahmad di Bukittiung, Muhammad Thaib di Minto Road, Said Abdullah al-Musawi al-Mausili, Abdul Latif (seorang ulama yang terkenal di Malaka dan Singapura), Syeikh Hassan al-Malabary dan Syeikh Ibrahim al-Hind. Semua itu ditempuh hingga dirinya berusia 23 tahun.

Meskipun pada masa tersebut A. Hassan belum memiliki pengetahuan luas tentang tafsīr, fiqh, fara‘id, manthiq dan ilmu-ilmu lain, namun dengan ilmu alat yang dimiliki mampu mengantarnya memperdalam pengetahuan agama secara otodidak. Sementara penguasaannya terhadap bahasa Arab, Inggris, Tamil, dan Melayu juga dapat digunakan dalam pengembaraan intelektualnya.

Pada masa itu dirinya telah membaca majalah Al-Manār yang diterbitkan Muhammad Rasyid Ridha di Mesir, serta majalah Al-Imām yang diterbitkan ulama’-ulama’ muda di Minangkabau. A. Hassan juga dengan tekun mengkaji kitab Al-Kafa‘ah karya Ahmad al-Syurkati, Bidāyat al-Mujtahid karya Ibnu Rusyd, Zad al-Ma‘ad karya Ibnu Qayyim al-Jawziyyah, Nayl al-Awthār karya Muhammad Ali al-Syawkaniy, dan Subul al-Salam karya al-Shan‘aniy. Sehingga pada kemudian hari bacaan-bacaan tersebut cukup mempengaruhi corak berpikirnya.

Koleksi bukunya sangat banyak, yang terdiri dari berbagai lapangan ilmu. Buku-bukunya ini seluruhnya dibaca dengan teliti, bahkan mungkin dihapalnya. Setiap masalah yang diajukan kepadanya dengan mudah ditunjukkan pada halaman buku yang telah penuh dengan tanda-tanda yang membuktikan bahwa buku-buku tersebut memang sudah dibacanya.

Di samping perpustakaannya yang besar, A. Hassan memiliki catatan sendiri yang berisikan berbagai masalah, lengkap dengan dalil-dalilnya yang disusun menurut abjad. Catatan inilah yang selalu dibawa sebagai pengganti buku-bukunya yang tebal.

Oleh ayahnya, A. Hassan diharapkan dapat menjadi seorang penulis. Oleh karenanya, di usia remajanya A. Hassan sudah mulai aktif menulis. Pada tahun 1909 – kira-kira ketika beliau berumur 22 tahun – adalah kali pertama karyanya mulai dipublikasikan. Tulisan pertamanya itu ialah mengecam Kadli (hakim) yang memeriksa perkara dengan mengumpulkan (mencampuradukkan) tempat duduk pria dan wanita. Pada saat itu tidak ada seorang pun yang berani mengemukakan kritik, kecuali A. Hassan yang terangsang untuk mengangkat pena. Tiga tahun berselang dari itu beliau menjadi anggota redaksi surat kabar ‘Utusan Melayu’ yang diterbitkan Singapore Press.

Pada saat itulah, A. Hassan mulai banyak menulis masalah keagamaan yang berkisar seputar nasehat-nasehat dan mengajak pembaca kepada kebaikan dan mencegah kemunkaran. Tulisan-tulisannya banyak mengandung kritik konstruktif, khususnya bagi kemajuan dan perkembangan umat Islam. Tak jarang pula dia menulis dalam bentuk puisi yang menyentuh. Suatu kali pernah ia mengecam masyarakat ummat Islam mengapa tidak maju dan ucapan ini dianggap politik sehingga ia tidak dibenarkan lagi berpidato. Profesinya sebagai jurnalis di Singapura ini diakhirinya pada tahun 1916.

Perjalanannya Menuju Bandung dan Menemukan PERSIS

Pada tahun 1921, A. Hassan hijrah dari Singapura ke Surabaya untuk meneruskan usaha tekstil milik pamannya. Di saat itulah dirinya menyaksikan pertikaian antara “kaum muda” dan “kaum tua” dalam masalah agama. “Kaum muda” melakukan gerakan pembaharuan pemikiran Islam melalui tukar pikiran, tabligh, dan diskusi-diskusi keagamaan. Sedangkan “kaum tua” tetap mempertahankan pikiran keagamaan yang selama itu diyakininya.

Hal inilah yang mendorong A. Hassan kembali memperdalam masalah-masalah keagamaan. Dengan serius dipelajarinya kembali al-Qur’an dan Hadits Sahih. Setelah merasa mantap, maka A. Hassan ikut bersuara dan berdiri dalam barisan “kaum muda”. Namun perdebatan di ‘kota pahlawan’ itu tak dapat diikutinya dalam waktu lama sebab di tahun 1924 ia harus berangkat ke Kediri untuk mempelajari keterampilan pertenunan dan setelah itu melanjutkan ke sekolah pertenunan milik pemerintah di kota Bandung.

Selama di Bandung, A. Hassan berkenalan dengan tokoh-tokoh saudagar PERSIS (Persatuan Islam), antara lain : Asyari, Tamim, Zamzam dan lain-lain. Kedatangannya di Bandung ialah pada tahun 1925, dua tahun setelah berdirinya PERSIS. Di “kota kembang”, A. Hassan tinggal bersama keluarga Muhammad Yunus – salah seorang pendiri PERSIS. Setelah sering mengikuti pengajian-pengajian yang diselenggarakan PERSIS, lantas ia menyatakan diri bergabung dengan PERSIS. Setelah diangkat menjadi guru agama di PERSIS, dia semakin giat melakukan penelaahan dan pengkajian Islam. Dari sinilah, di kemudian hari – meskipun bukan sebagai pendiri – nama A. Hassan kerap diidentikkan dengan PERSIS. Seringkali ia mengajar di pengajian-pengajian PERSIS dan banyak orang tertarik oleh pengetahuan dan kepribadiannya sehingga membatalkan maksudnya kembali ke Surabaya. Dia menetap di Bandung menjadi guru PERSIS dan menjadi tokoh terkemuka PERSIS.

Pekerjaan rutin yang dialaminya sungguh banyak. Menjadi guru PERSIS, memberi kursus kepada pelajar-pelajar didikan barat, bertabligh setiap minggu, menyusun berbagai karangan untuk mengisi majalah ataupun buku-buku lainnya dan berdebat dimana saja.

Debat A Hassan Kontra Ahmadiyah

Sejak awal A Hassan sangat menentang Ahmadiyah, sebab ajarannya menyeleweng dari ajaran Islam. Penyelewengannya yang terutama adalah pengakuannya terhadap Mirza Gulam Ahmad sebagai nabi setelah Nabi Muhammad SAW, dan mengaku adanya kitab suci setelah Al-Quran, yaitu Tadzkirah yang diturunkan kepada Mirza Gulam Ahmad. Inilah penyelewengan yang sangat fatal. Bila mengaku ada nabi lagi setelah Nabi Muhammad Saw dan ada kitab suci setelah Al-Quran, kelompok itu jelas keluar dari Islam, tidak termasuk golongan muslim.

Maka pada tahun 1930-an, Tuan Hassan melakukan perdebatan dengan tokoh Ahmadiyah Indonesia, Abubakar Ayyub.

Dalam perdebatan itu, A Hassan mengemukakan sebuah hadits yang berbunyi: “Di hari Rasulullah SAW meninggal, bumi berteriak, katanya: “Ya Allah, apakah badanku ini akan Engkau kosongkan daripada diinjak oleh kaki-kaki nabi sampai hari kiamat? Maka Allah berfirman kepada bumi itu: “Aku akan jadikan di atas badanmu manusia yang hatinya seperti nabi-nabi.

Abubakar Ayyub lalu menanyakan tentang riwayat hadits ini. Maka A Hassan menjawab tidak tahu, sambil berkata: “Apakah tuan suka hadits ini? Bila tuan suka silakan pakai, bila tidak silakan tolak.

Abubakar Ayyub pun menolak hadits yang disampaikan oleh A Hassan itu, karena tidak jelas siapa perawinya, dari mana diambilnya, dan di kitab apa tertulisnya. Pengikut Ahmadiyah yang hadir ketika itu bersorak, merasa bangga dengan tokohnya yang akan menang berdebat dengan waktu singkat, sebab A Hassan tidak bisa menerangkan riwayat hadits yang dibacanya. Para penonton dari kalangan Ahmadiyah bersorak, dan Ayyub pun merasa dirinya menang.

Namun kemudian A Hassan membuat kejutan. Ia mengatakan bahwa hadits itu terdapat di kitab Mirza, Tuhfah Baghdad halaman 11. Seketika, para pengikut Ahmadiyah diam seribu bahasa.

Maka A Hassan meminta kepada Abubakar Ayyub agar bertanya kepada nabinya (Mirza) tentang riwayat hadits itu dan dari mana diambilnya, serta tanyakan pula, bagaimana bumi bisa bicara kepada manusia, sebab hadits itu bukan hadits nabi, mengingat bumi berteriak setelah Rasulullah wafat. Jadi, tegas A Hassan, tentu ada orang lain yang mendengar omongan bumi, dan jawaban Allah itu pun orang lain yang mendengar. Siapa dia? Tanyakan kepada Mirza.

Abubakar Ayub yang ketika itu sudah kalah total tak bisa membantah argumen A Hassan, tetapi ia masih berkelit dengan mengatakan bahwa hadits itu, bisa jadi terdapat dalam kitab “Kanzul Ummi”, masih kitabnya Ahmadiyah, namun ia bahkan melemahkan dirinya dengan mengaku tidak membawa kitab tersebut, jadi tidak bisa dilihat.

Selanjutnya A. Hassan menegaskan bahwa dengan adanya hadits itu sudah cukup menunjukkan kepalsuan Mirza. Lagi pula, kata A Hassan, hadits yang dibawakan oleh Mirza itu dengan jelas menyebutkan bahwa nabi (setelah Nabi Muhammad) tidak ada lagi. Yang ada hanya orang-orang yang hatinya seperti nabi.

“Kalau perkataan yang begini terang, tuan mau putar-putar lagi, saya minta diadakan juri. Saya heran, apa sebab Ahmadiyah takut diadakan juri. Juri tidak akan makan orang!” tegas A. Hassan.

Dari perdebatan ini jelas bahwa sebenarnya Abubakar Ayyub tidak memiliki hujjah (dalil) yang kuat untuk membela Mirza Gulam Ahmad sebagai seorang nabi. Meski demikian ia tidak tunduk dan menjadi pengikut Islam yang benar. Ia tetap menjadi pengikut Ahmadiyah. Memang Abubakar Ayyub dikenal sebagai orang yang pandai memutarbalikkan fakta demi untuk mempertahankan keyakinannya kepada Ahmadiyah.

Hal itu terlihat ketika A Hassan tak menyebut rawi hadis dan kitab yang memuatnya, keluarlah ejekan dan cemoohan. Namun kektika A. Hassan menyebutkan bahwa hadis itu tertera di kitab Tuhfah Baghdad terbitan Punjab Press Sialkot, Muharram 1311 H, Abubakar Ayyub dan pengikut Mirza lainnya pucat pasi, tetapi mereka tidak berubah keyakinan, tetap menjadi pengikuti Mirza.

Sikap Hidup A. Hassan

Pendiriannya kuat untuk tidak menerima sedekah atau bantuan orang untuk hidup yang merupakan hasil didikan ayahnya. Ia mulai menyusun tafsir Al-Furqan dan mendirikan percetakan sendiri. Diterbitkan dan dijualnya sendiri.

Di kediamannya yang berupa rumah sederhana di Gg. Blk. Pagade Bandung dia menerbitkan majalah “Pembela Islam” yang dicetak dengan kertas HVS dan menggunakan tinta biru. Dia bekerja sendiri sejak dari sejak menset, mencetak, menjilid, mengoreksi dan mengedarkan, hasil penjualannya digunakan untuk membiayai hidupnya yang sederhana. Mesin cetak yang telah dimiliknya dimanfaatkannya dan segala dikerjakannya sendiri dengan penuh kegembiraan dan penuh semangat.

Sebagai pembaharu terkemuka PERSIS, A. Hassan melakukan dakwah secara frontal. Dirinya menganggap umat Islam pada waktu itu sudah menjadi beku dan mundur lantaran menyimpang dari ajaran al-Qur’an dan al-Hadits. Padahal baginya, Islam itu sesuai tuntutan zaman dan tidak menghambat kemajuan zaman. Oleh karenanya, umat Islam harus terus mencari ilmu pengetahuan dan mengikuti perkembangan sains modern.

Itulah yang membuat A. Hassan kerap pula bergaul dengan tokoh-tokoh besar seperti HOS Tjokroaminoto, H. Agus Salim, AM Sangadji, Bakri Suroatmodjo, Wondo Amiseno, Faqih Hasyim, Ahmad Syurkatiy, Mas Mansur, H. Munawar Chalil, Soekarno, Muhammad Maksum, Mahmud Aziz dan tokoh-tokoh lainnya. Itulah pasalnya, disamping A. Hassan dikenal sebagai ulama’ yang berpendirian teguh dan ahli dalam berbagai ilmu keagamaan, juga dikenal sebagai politikus ulung.

Murid-muridnya, yaitu Mohammad Natsir, KH. Isa Anshary, KH.E. Abdurrahman, dan KH. Rusyad Nurdin adalah orang-orang yang nanti menjadi dominan di dalam PERSIS. Itulah kenapa A. Hassan sampai saat ini tetap diakui sebagai guru utama PERSIS.

Meski demikian, di saat luang dia tetap meneruskan bakatnya sebagai penulis. Buah pena pertamanya yang mendapat sambutan luas masyarakat, adalah Tafsir al-Furqan. Di masa inilah, A. Hassan berkenalan dengan Soekarno dan M. Natsir. Bersama Natsir inilah, dirinya menerbitkan majalah “Pembela Islam” dan “Al-Lisaan”. Di kedua majalah inilah, A. Hassan memperlihatkan sosok dan kapasitas pribadinya sebagai pembela, pemurni, dan pembaharu Islam.

Pendiriannya tegas sebagai pemegang teguh dasar Qur’an dan Hadits, sangat hati-hati dalam agama, ahli debat yang tiada tara dan kritikus tajam. Dengan sikap pribadinya yang luhur, menunjukkan bahwa kritiknya semata-mata di dalam garis agama. Baginya agama di atas segalanya. Dia membela agama dengan seluruh kekuatan yang ada padanya, tidak peduli bahaya apapun yang harus dihadapinya. Semboyan hidupnya adalah “tidak ada penghidupan yang lebih baik daripada hidup mengikuti agama dan berbuat kebaikan kepada siapapun sekedar bisa dengan penuh keikhlasan”.

Yang menarik dari A. Hassan adalah bahwa musuh dalam perdebatan bukanlah musuh orangnya. Itulah sebabnya, dirinya selalu menaruh hormat kepada siapa saja meski itu adalah musuh debatnya. Ketika mereka bertamu akan dilayaninya sebaik mungkin. Dan bagi yang melayangkan surat padanya, tiada pernah tak dibalasnya. Itulah yang membuat A. Hassan dijuluki “singa dalam tulisan, domba dalam pergaulan”.

Bagaimanapun juga Islam tidak boleh dipahami secara beku. Itulah yang membuat namanya menjadi terkenal di pelosok Nusantara, Malaysia, bahkan Singapura. Ketika membela panji-panji ajaran Islam, A. Hassan tak hanya melakukannya lewat karya tulis, dirinya juga dikenal sebagai tokoh debat yang sangat piawai. Satu hal penting, dia tidak memilih lawan berdebat; siapa saja, kapan saja, dan dimana saja debat akan diladeninya asal demi upaya menegakkaan ajaran Islam.

Berdebat dalam hal agama bagi A. Hassan bagaikan membebaskan katak dari kurungan tempurung. Dengan begitu dapat memberi kesempatan orang untuk memilah dan memilih kebenaran sejati. Dia menyadari kalau caranya ini tengah ditentang banyak orang. Namun dengan perdebatan itu dirinya berharap agar orang dapat beragama secara cerdas dan jelas.

Beragam pertanyaan yang diajukan kepadanya selalu dapat dijawabnya berikut dalil-dalil yang melandasinya. Seperti telah di sebutkan di muka, A. Hassan mempunyai buku catatan pribadi mengenai hampir semua masalah agama. Setiap masalah disusun menurut abjad secara rapi dan dalam perdebatan, dirinya hanya membawa buku catatan tersebut.

Dari Bandung ke Bangil

Abdul Qadir Hasan

Abdul Qadir Hasan – Putera Sulung A. Hasan

Pada tahun 1941, A. Hassan pindah  dari Bandung ke Bangil dan mendirikan Pesantren PERSIS Bangil disamping Pesantren Puteri yang kemudian dipimpin oleh putera sulungnya A. Qadir Hassan. Di sinilah dirinya semakin berkonsentrasi memperjuangkan pikirannya; dengan tetap mengajar, menulis buku, surat menyurat, serta menulis di majalah Himāyat al-Islām yang diterbitkannya. Disamping itu dirinya masih tetap bersemangat mengembangkan PERSIS, bertablig, berpolemik dan bahkan berdebat.

Hassan bin Ahmad meninggal pada hari Senin tanggal 10 Nopember 1958 pada usia 70 tahun dan dikuburkan di pekuburan Segok, Bangil.

Karya-karya A. Hassan

Semasa hidupnya A. Hassan banyak menghasilkan berbagai karya tulis. Dalam bidang Al-Qur‘an dan Tafsir: Tafsir Al-Furqān, Tafsir Al-Hidāyah, Tafsir Surah Yāsīn, dan Kitab Tajwīd. Dalam bidang Hadits, Fiqh, dan Ushūl Fiqh: Soal Jawab: Tentang Berbagai Masalah Agama, Risalah Kudung, Pengajaran Shalat, Risalah Al-Fatihah, Risalah Haji, Risalah Zakāt, Risalah Riba, Risalah Ijma‘, Risalah Qiyas, Risalah Madzhab, Risalah Taqlīd, Al-Jawahir, Al-Burhan, Risalah Jum‘at, Hafalan, Tarjamah Bulūg al-Marām, Muqaddimah Ilmu Hadits dan Ushūl Fiqh, Ringkasan Islam dan Al-Fara‘idh.

Sedangkan di bidang Akhlaq: Hai Cucuku, Hai Putraku, Hai Putriku, Kesopanan Tinggi. Secara Islam. Dalam bidang Kristologi: Ketuhanan Yesus, Dosa-dosa Yesus, Bibel Lawan Bibel, Benarkah Isa Disalib?, Isa dan Agamanya. Dan dalam bidang Aqidah, Pemikiran Islam dan Umum: Islam dan Kebangsaan, Pemerintahan Cara Islam, Adakah Tuhan?, Membudakkan Pengertian Islam, What is Islam?, ABC Politik, Merebut Kekuasaan, Risalah Ahmadiyah, Topeng Dajjal, Al-Tauhid, Al-Iman, Hikmat dan Kilat, An-Nubuwwah, Al-‘Aqa’id, al-Munāzharah, Surat-surat Islam dari Endeh, Is Muhammad a True Prophet?

Dalam bidang Sejarah, A. Hassan menulis tentang Al-Mukhtār, Sejarah Isrā‘ Mi’rāj. Sedangkan di bidang Bahasa dan Kata Hikmat: Kamus Rampaian, Kamus Persamaan, Syair, First Step Before Learning English, Al-Hikam, Special Dictionary, Al-Nahwu, Kitab Tashrīf, Kamus Al-Bayān, dan lain-lain.

Sampai hari ini, karya-karya ulama terkemuka ini masih tetap pantas untuk dibaca dan dikaji, menjadi tempat kita menemukan berbagai jawaban dari beragam pertanyaan, dan masih memberikan warna dan pemahaman tersendiri kepada masyarakat tentang kesejatian Islam.

Gungun Mulyawan dari berbagai sumber.

Silahkan buka juga:

  1. http://cabangmargaasih.blogspot.com/2013/10/a-hassan-ulama-nasional-yang-serba-bisa.html
  2. http://ruangbening.wordpress.com/2013/12/10/a-hassan/
  3. http://id.wikipedia.org/wiki/Ahmad_Hassan
  4. A. Hasan, Kitab Soal-Jawab, Penerbit CV. Diponegoro, Bandung, Jilid 1,2,3, hal. akhir.

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s