Warga Gaza Kembali ke Reruntuhan-reruntuhan Rumah Mereka

Seorang warga Palestina melihat pada pabrik makanan milik keluarganya, yang menurut saksi mata ditembaki oleh tentara Israel selama terjadinya penyerangan Israel ke Jalur Gaza, di Deri al Balah di pusat Jalur Gaza

Seorang warga Palestina melihat pada pabrik makanan milik keluarganya, yang menurut saksi mata ditembaki oleh tentara Israel selama terjadinya penyerangan Israel ke Jalur Gaza, di Deri al Balah di pusat Jalur Gaza

Banyak orang Palestina yang tinggal di dekat perbatasan Israel telah kembali ke tiang-tiang pancang reruntuhan bekas rumah mereka segera karena perluasan gencatan senjata yang rapuh antara Hamas dan Israel memasuki hari kedua.

Ketenangan terasa pada jum’at pagi sementara kedua belah pihak sedang mempertimbangakan upaya perdamaian yang dimediasi Mesir.

Om Ahmed, yang kembali ke kota Khozaa untuk memeriksa rumah yang dibelinya tahunb lalu, mendapati rumahnya itu telah rata dengan tanah karena serangan Israel.

“Saya merasa shock dan menjerit di jalan. Saya masih harus membayar tunggakannya. Saya seorang janda, suami saya mati terbunuh pada perang sebelumnya dan sekarang anak lelaki saya berada di rumah sakit,” katanya kepada Jazeera.

Kerabatnya yang bernama Nuseiba Kadeh dan keempat anaknya, yang selama terjadi konflik mengungsi ke tempat yang lebih aman, juga kembali kesana setelah genjatan senjata diperluas.

“Kami akan tinggal di sini selama lima hari ke depan. Saya belum memilhat beberapa anggota keluargaku sejaka perang dimulai. Saya ingin mengetahui bagaimana kabar mereka,” katanya.

Kesimpangsiuran pemberlakuan gencatan senjata antara penduduk yang hidup di kedua sisi perbatasan, khususnya setelah serangan-serangan Israel dan tembakan roket-roket Hamas ditembakkan tidak lama setelah persetujuan gencatan didorong.

Sejak saat itu, pertempuran Nampak telah padam. Jika ditilik, gencatan senjata terakhir termasuk yang terlama dalam konflik selama lima minggu ini. Gencatan senjata sebelumnya hancur karena badai tembakan pada tanggal 8 Agustus 2014.

Serangan Israel ke Gaza, yang dimulai sejak tanggal 8 juli, sejauh ini diklaim telah membunuh lebih dari 1.960 warga Palestina, kebanyakannya warga sipil, menurut kementerian kesehatan di Gaza. Lebih dari 100 ribu orang lainnya dilaporkan mengalami luka-luka.

Di pihak Israel, tiga warga sipil tewas terbunuh karena roket yang ditembakkan dari Jalur Gaza. Pertempuran ini juga telah menewaskan 64 tentara Israel, menurut pihak militer Israel.

Untuk mencetak solusi yang awet atas konflik ini, perundingan-perundingan berduri telah diadakan di Mesir antara Israel dan Faksi-faksi Palestina. Delegasi-delegasi kedua belah pihak kembali dari Kairo pada hari Kamis untuk melakukan konsultasi dengan basis-basis mereka.

Upaya-upaya untuk perjanjian yang awet

Ketua negosiator Palestina, Azzam al-Ahmed, mengatakan bahwa para delegasi telah mencapai “kesepakatan dalam banyak hal” berkenaan dengan dibukanya blokade yang dilakukan Israel terhadap kota Gaza, yang merupakan pembicayaan utama, namun membutuhkan tambahan waktu untuk membereskan beberapa perselisihan yang tersisa.

Para mediator yang berasal dari Mesir mengajukan agar pembicaraan-pembicaraan berkenaan dengan pelabuhan dan Bandar udara di Gaza ditunda dulu selama satu bulan sampai gencatan senjata permanen itu dapat benar-benar dirasakan, menurut dokumen-dokumen yang dilihat oleh agen berita AFP.

Perundingan-perundingan mengenai pertukaran antara dua mayat tentara Israel dengan tahanan-tahan Palestina yang diajukan oleh Israel akn juga batal.

Zona penyangga di dalam kota Gaza yang dijatuhkan Israel secara bertahap akan direduksi, dan nantinya akan berada di bawah komando Presiden Palestina Mahmoud Abbas.

Pemerintah Israel telah dikecam karena menerima perjanjian gencatan senjata selama lima hari itu, dengan ratusan protes di Tel Aviv menentang keputusan itu.

Para demonstran berkumpul menggelar konser pada hari Kamis kemarin sebagai bentuk solidaritas kepada warga Israel sebelah selatan, yang menghadapi datangnya roket-roket yang ditembakkan dari Jalur Gaza selama perang sebulan ini.

“Saya tidak percaya dengan perjanjian-perjanjian mereka. Kita telah melakukakan berbagai kesepakatan dengan orang-orang Palestina, dengan Hamas. Setiap kesepakatan selalu saja hancur,” kata Medina Shili, seorang demonstran, kepada Al Jazeera.

Seorang demonstran lain Naftali Horowitz mengatakan bahwa dia yakin kalau pengepungan Israel terhadap Gaza harus dilanjutkan.

“Saya yakin dengan cara mencekik mereka tak ada lagi korban warga sipil. Karena mereka tak akan memiliki pilihan lain kecuali menyerah dengan tanpa syarat,” kata Horowitz kepada Al Jazeera.

 Sumber: http://www.aljazeera.com/news/middleeast/2014/08/gazans-return-ruined-homes-as-truce-holds-201481552747944875.html

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s