Sawda binti Zam’a

Oleh: DR Ragheb Elsegany

Diterjemahkan Oleh: Gungun Mulyawan

ANGGREKSawda binti Zam’a (رضي الله عنه) adalah muslimah pertama yang melakukan hijrah ke Abyssina. Suaminya telah meninggal dan sekarang dia hidup bersama dengan ayahnya yang sudah tua. Dia sendiri sudah separuh baya, agak gemuk, berwatak ramah dan menyenangkan, serta orang yang dianggap tepat untuk merawat Nabi dan keluarganya. Maka Muhammad (ﷺ) mempersilahkan Khawla untuk berbicara dengan Abu Bakar dan juga kepada Sawda sebagai tujuannya.
Khawla langsung menuju Sawda dan berkata.
“Apakah kau ingin Allah memberimu berkah yang besar, Sawda?”
Maka Sawda bertanya.
“Apakah itu, Khawla?” Tanya Sawda.
Dan Khawla berkata.
“Rasul Allah telah menyuruhku untuk meminangmu!”
Mendengar itu Sawda mencoba mengumpulkan perasaannya yang campur aduk antara keheranan dan rasa gembira yang melambung kemudian ia berkata dengan suara bergetar.
“Aku mau! Pergilah pada ayahku dan katakan berita gembira itu.”
Maka Khawla pergi kepada Zam’a, seorang tua yang kasar. Khawla menyalami laki-laki tua itu lalu berkata,
“Muhammad bin Abdullah bin Abdul Mutallib telah mengutusku untuk meminang Sawda.”
Orang tua itu berkata.
“Anugerah yang mulia. Dan bagaimana katanya?” Maksud orang tua ini adalah bagaimana pendapat Sawda.
“Dia mau.” Jawab Khawla.
Maka Zam’a meminta Khawla untuk memanggilkan Sawda. Ketika Sawda datang, laki-laki tua itu berkata.
“Sawda, perempuan ini menyebut kalau Muhammad bin Abdullah bin Abdul Muttalib telah memintaku untuk menikahkanmu padanya. Ini adalah anugerah yang mulia. Maukah kau aku tikahkan kepadanya?”
Sawda menerima dan merasa bahwa ini adalah penghormatan yang sungguh besar. Sawda kemudian pindah ke rumah Muhammad (ﷺ) dan mulai mengurusi puteri-puteri dan rumahtangga Nabi. Sementara itu Aisyah menjadi tunangan Nabi (ﷺ) dan masih bermain boneka di rumah ayahnya.
Ini tentu menjadi kejutan besar di kota Mekkah bahwa Nabi (ﷺ) telah memilih menikahi seorang janda yang tidak lagi muda apalagi cantik. Nabi, bagaimanapun, ingat betul bagaimana Sawda menjalani hidup dalam hijrah ke Abyssinnia, meninggalkan rumah dan harta kekayaan, menyeberangi padang pasir dan lautan menuju sebuah negeri untuk menjaga agamanya.
Selama dua tahun berikutnya, kaum Quraish meningkatkan upaya-upaya yang penuh kedengkian untuk menghancurkan Nabi (ﷺ) dan para pengikutnya. Kedengkian yang begitu jelas dilatari oleh keraguan bahwa Muhammad (ﷺ) adalah benar-benar Rasul Allah.
Mungkin tanda-tanda paling bagus tentang hal itu pada periode ini adalah mengenai Mi’raj Nabi. Perjalanan Nabi (ﷺ) di malam hari dengan menunggangi kuda bersayap yang dinamai Buraq, melampaui langit menuju Masjid Al-Aqsa di Jerusalem dimana Nabi (ﷺ) memimpin shalat nabi-nabi yang telah hidup sebelum dia. Lalu beliau dengan menggunakan Buraq dan ditemani oleh Jibril naik ke langit ketujuh, kemudian dari sebalik dunia wadag, dari singgasana Allah, Nabi (ﷺ) dianugerahi perintah shalat lima waktu yang kemudian menjadi kewajiban bagi para pengikutnya.
Saat Nabi (ﷺ) menggambarkan perjalanannya yang menakjubkan itu kepada penduduk Mekkah, mereka mentertawakannya. Bahkan, meski Nabi (ﷺ) dapat menggambarkan secara akurat bagaimana Mesjid Al-Aqsa (dan mereka tahu bahwa Nabi belum pernah datang ke mesjid itu sebelumnya). Bahkan ketika Nabi (ﷺ) dapat menggambarkan dimana beliau berhenti untuk minum di perjalanan menuju Jerusalem. Bahkan ketika Nabi (ﷺ) mengatakan kepada mereka bagaimana beliau dapat menunjukkan tempat hilangnya unta kepada seorang laki-laki yang sedang mencarinya. Bahkan ketika Nabi (ﷺ) mengatakan kepada mereka tentang sebuah kabilah, yang mana tak ada seorang pun yang mengetahuinya, mendekati kota Mekkah dan akan tiba satu hari berikutnya. Bahkan ketika Kaum Quraish tahu bahwa deskripsi Nabi (ﷺ) tentang Masjid Al-Aqsa itu benar-benar akurat. Dan bahkan ketika mereka menyaksikan dengan mata kepala sendiri kedatangan kabilah yang dikatakan Nabi (ﷺ) itu. Bahkan ketika bertemu dengan orang yang dibantu Nabi (ﷺ) menemukan untanya. Bahkan ketika melihat tempat dimana Nabi (ﷺ) berhenti untuk minum, mereka tetap menolak untuk mempercayainya.
Hanya Sayyidina Abu Bakr, sahabatnya yang paling dekat dan mertuanya di masa yang akan datang, yang menerima pernyataan Nabi (ﷺ) tentang perjalanan mengagumkannya dalam waktu sangat singkat itu.
“Kalau dia yang mengatakannya,” kata Abu Bakar, ketika seorang penduduk Mekkah memberitahukan padanya kabar itu dengan maksud mengolok-olok, “maka itu benar!”
Sementara rasa permusuhan kaum Quraish terhadap Nabi Muhammad (ﷺ) dan kaum Muslimin terus saja meningkat, (dan Aisyah ketika itu masih seorang anak perempuan) saat itu Allah mempersiapkan masyarakat muslim di tempat yang bernama Yathrib untuk masa yang akan datang.
Dalam waktu ziarah haji di Mekkah tahun berikutnya, duabelas orang dari Yathrib, sebuah kota kecil sekitar duaratus mil sebelah utara kota Mekkah, diam-diam menyatakan ikrar setia kepada Nabi (ﷺ), bersumpah untuk tidak menyembah tuhan lain kecuali Allah, tidak mencuri, tidak berkata dusta, tidak melakukan perzinahan, tidak membunuh anak-anak mereka, tidak mengabaikan perintah Nabi (ﷺ). Mereka kemudian kembali ke Yathrib ditemani seorang Muslim bernama Mus’ab ibn Umayr, yang mengajari mereka apa yang pernah dipelajarinya dari Nabi (ﷺ).
Hasilnya, jumlah orang Muslim mulai meningkat di Madina, dan ketika tiba saatnya musim haji lagi, kali ini sebanyak tujuhpuluh orang dari Yathrib – tiga di antaranya adalah perempuan: Umm Sulaym, Nsayba binti Ka’b dan Asma bint Amri – berikrar setia di Mekkah kepada Nabi (ﷺ). Kali ini mereka juga bersumpah untuk membela dan melindungi Nabi (ﷺ), bahkan kalau perlu sampai mati atau sampai titik darah penghabisan. Setelah kejadian ini, Nabi (ﷺ) memberikan izin bagi para pengikutnya untuk melakukan hijrah ke Yathrib. Dan perlahan namun dengan pasti, secara berduaan atau bertigaan kaum Muslim mulai meninggalkan kota Mekkah.
Tiga orang pemimpin kaum Quraish mulai menyadari apa yang sedang terjadi, dan memutuskan untuk membunuh Nabi sebelum Nabi mendapatkan kesempatan bergabung dengan para pengikutnya di Yathrib. Namun Allah melindungi Nabi, dan di ujung malam menjelang fajar ketika mereka berencana membunuh Nabi itu, Nabi Muhammad (ﷺ) bersama Abu Bakar RA menyelinap keluar dari kota Mekkah dan bersembunyi di sebuah gua bernama Thawr yang berada di selatan Kota Mekkah.
Semua orang tahu apa yang terjadi ketika orang-orang yang memburu Nabi dan Abu Bakar itu tiba di gua: Mereka menemukan seekor merpati bersarang di atas sebuah pohon yang menutupi mulut gua, melintasi tempat dimana seekor laba-laba yang memintal jejaringnya. Siapa saja yang memasuki gua itu mestilah membuat takut merpati itu dan merusak jejaring laba-labanya, pikIr mereka. Begitulah mereka berpikir dan tidak punya keinginan untuk melihat ke dalam gua itu. Padahal buruan mereka berada begitu dekat jika saja salahsatu dari mereka melihat ke bawah ke arah kakinya, mestilah dia dapat menemukan Nabi (ﷺ) dan Abu Bakar RA berada di sana. Atas keputusan Allah-lah, Nabi (ﷺ) dan Abu Bakar RA dapat selamat!
Sampai ketika kaum Quraish menyerah dan merasa putus asa untuk melakukan pencarian lagi, Nabi Muhammad (ﷺ) dan Abu Bakar RA berputar mengitari kota Mekkah dan menuju arah utara. Hanya seorang pria, seorang ksatria bernama Suraqa bin Jusham yang mencurigai keberadaan mereka dan mulai merencanakan pengejaran, tergoda dengan hadiah yang ditawarkan kaum Quraish bagi siapa saja yang dapat menangkap dua orang itu. Semerta ketika ia berteriak dari jarak yang tidak terlalu jauh dari dua orang dalam perjalanan itu, kudanya tiba-tiba saja mulai terbenam ke dalam pasir dan dia sadar jika ia tidak balik lagi, padang pasir itu bisa saja menelannya. Dia menyerah dan menghentikan pengejarannya, memohon kepada Nabi (ﷺ) dan Abu Bakar RA untuk memaafkannya lalu kembali pulang ke kota Mekkah.
Setelah sekian lama, perjalanan yang berat yang dijalani Nabi (ﷺ) beserta Abu Bakar RA akhirnya mencapai Yathrib dengan sambutan yang meriah. Waktu untuk mereka di kota Mekkah baru saja berakhir, dan waktu untuk mereka di Madinah baru saja dimulai – Madinah adalah nama yang sejak saat itu diberikan untuk kota Yathrib, Madinah Al-Munawarrah, yang berarti ‘kota yang diterangi’, kota yang diterangi dengan cahaya Nabi Muhammad (ﷺ) serta keluarga dan sahabat-sahabatnya Radhiyallahuma.
Perjalanan Nabi Muhammad (ﷺ) dan Abu Bakar RA ini biasanya disebut sebagai hijrah, dan inilah tonggak penanggalan Islam. Dan setelah hijrah ini masyarakat muslim pertama tumbuh secara cepat, berkembang dan berbuah.
Ketika Sawda mulai menua, Nabi khawatir kalau-kalau istri keduanya ini merasa kesal karena harus bersaing dengan istri-istrinya yang lain yang lebih muda. Oleh karenanya Nabi menawarinya untuk bercerai. Sawda berkata bahwa dia akan memberikan malamnya untuk Aisyah, dimana dia juga sangat mengasihinya, karena dia hanya ingin menjadi istri Nabi di siang hari. Sawda sendiri hidup sampai masa Umar bin al Khattab. Dia dan Aisyah diingat sebagai dua orang yang sangat dekat.

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s