KHADIJAH binti Khuwaylid

KHADIJAH binti Khuwaylid

Oleh: DR Ragheb Elsegany

Diterjemahkan Oleh: Gungun Mulyawan

Khadijah رضي الله عنه adalah seorang perempuan yang berasal dari keturunan terhormat. Ayahnya, Khuwaylid adalah seorang pemimpin yang paling disegani di antara sukunya dan terbunuh di sebuah peperangan. Suaminya pun telah meninggal, dan membuatnya menjadi seorang janda yang makmur dan berkecukupan.

Ketika Muhammad (ﷺ) masih muda, Khadijah pernah mempercayakan kekayaannya kepada Muhammad. Khadijah meminta Muhammad untuk berdagang ke Syria. Saat itu Muhammad terkenal karena kejujuran, seadanya dan dapat dipercaya. Ketika pulang dari Syria, Muhammad membawa begitu banyak keuntungan untuk Khadijah.

Mendengar cerita perjalanan Muhammad, Khadijah begitu terkagum-kagum dan memutuskan bahwa Muhammadlah calon suami yang tepat baginya. Padahal telah banyak bangsawan penting Quraish yang meminangnya dan ditolaknya. Sedangkan pada Muhammad, Khadijah malah yang berinisiatif mengajukan lamaran. Maka setelah paman Nabi, Abu Talib, merestui mereka, menikahlah Muhammad dan Khadijah. Pada saat pernikahan itu, Muhammad masih berumur duapuluhlima tahun sementara Khadijah berusia empatpuluh tahun.

Selama limabelas tahun Muhammad dan Khadijah menjalani kehidupan perkawinan yang bahagia, bahkan Khadijah melahirkan beberapa anak. Putera pertama mereka yang bernama Qasim, meninggal pada saat berumur dua tahun. Dua putera mereka yang lain, Tayyib dan Tahir, juga lahir, namun juga meninggal ketika masih orok. Selain daripada tiga anak laki-laki yang semuanya meninggal dalam keadaan masih kecil itu, Muhammad dan Khadijah juga memiliki empat orang anak perempuan yang mampu bertahan hidup sampai dewasa, yaitu: Zaynab, Ruqayya, Umm Kulthum dan Fatima.

Tak seorangpun kecuali Allah tentunya, yang mengetahui kelebihan seorang pria daripada istrinya. Kebaikan dan keburukannya, kekuatan dan kelemahannya. Semakin Khadijah mengenali suaminya maka bertambahlah cinta dan rasa hormatnya. Semua orang di Mekkah memanggil suaminya dengan sebutan ‘al-Amin’, yang mengandung arti ‘yang terpercaya’, dan Khadijah, lebih daripada orang lain, mengetahui betapa tepatnya panggilan ini.

Menjadi kebiasaan Muhammad pada saat itu, setiap tahun di bulan Ramadan mengasingkan diri di sebuah gua di gunung Hira yang berada di pinggiran kota Mekkah. Khadijah selalu berusaha memastikan supaya Nabi (ﷺ) cukup makan dan minumnya selama pengasingan itu. Sampai suatu ketika di akhir bulan Ramadan, saat itu Muhammad berusia empatpuluh tahun dan Khadijah berumur limapuluhlima tahun. Muhammad tiba-tiba saja sudah ada di rumah mereka tengah malam, gemetaran, ketakutan, lalu berkata,

“Selimuti aku, selimuti aku!”

Khadijah merasa begitu khawatir menyaksikan keadaan seperti itu. Cepat-cepat dia membelitkan selimut sampai melingkari bahu Nabi (ﷺ). Dan ketika Nabi (ﷺ) mulai tenang, Khadijah memintanya (ﷺ) agar menggambarkan apa sesungguhnya yang telah terjadi.

Nabi mengatakan padanya bagaimana sesuatu yang tak pernah dilihatnya – yang merupakan malaikat Jibril – tiba-tiba saja hadir di hadapannya ketika dia sedang tidur dan berkata,

“Bacalah!”

“Tapi saya tak bisa baca,” jawabnya, itu karena Nabi (ﷺ) bukanlah manusia terpelajar dan memang tidak bisa baca tulis.

“Bacalah!” Jibril mengulang, mendekap Muhammad ke dadanya.

“Saya tak bisa membaca,” Nabi kembali menjawab.

“Bacalah!” Jibril kembali mengulang perintahnya, sambil benar-benar mendekap Nabi.

“Apa yang mesti saya baca?” akhirnya Nabi menjawab seakan-akan putus asa, kemudian Jibril berkata:

Al-alaq 1-5

 

Bacalah dengan (menyebut) nama Tuhanmu Yang menciptakan, Dia telah menciptakan manusia dari segumpal darah. Bacalah, dan Tuhanmulah Yang Maha Pemurah, Yang mengajar (manusia) dengan perantaran kalam, Dia mengajar kepada manusia apa yang tidak diketahuinya.

(Quran 96:1-5)

Pada saat itu Muhammad (ﷺ) tidak benar-benar menyadari bahwa kejadian ini adalah saat dimulainya turun wahyu Al-Qur’an. Pada saat pertemuan pertamanya dengan Jibril itu, Muhammad begitu ketakutan. Itu karena dia tidak tahu siapakah Jibril itu atau apa sebenarnya yang sedang terjadi. Oleh karena ketakutannya itu, Muhammad kemudian bangun dan lari keluar gua tapi masih mendapati Jibril berada di hadapannya. Bahkan ketika dia berpaling, Jibril tetap saja ada di hadapannya, menutupi kakilangit dengan bentuk indahnya yang menakjubkan.

“Oh Muhammad,” kata Jibril pada akhirnya.

“Kau adalah utusan Allah dan akulah Jibril,” dan dengan kalimat ini Jibril menghilang dari pandangan Nabi (ﷺ).

Setelah Jibril menghilang, Muhammad (ﷺ) langsung merangkak menuruni gunung secepat mungkin. Dia mulai bertanya-tanya apakah dia mulai gila sampai membayangkan sebuah penampakan jirim atau dia kesurupan dan kerasukan jin?

Mendengar kata-kata Muhammad, Khadijah tutup mulut saja dan tidak membagikan kisah menakutkan itu kepada siapapun. Khadijah sadar bahwa sesuatu yang maha hebat dan mengagumkan telah menimpa suaminya. Lalu Khadijah memastikan kepada Muhammad bahwa suaminya itu tidaklah gila atau kerasukan.

“Janganlah khawatir,” katanya, “demi Dia yang menguasai jiwa Khadijah, aku berharap engkaulah nabi untuk bangsa ini. Allah tak akan mempermalukanmu, karena engkau telah berbuat baik pada kerabatmu, kau berkata jujur, engkau membantu siapa saja yang membutuhkan, engkau membantu orang lemah, engkau menjamu tamu dan engkau menyambut panggilan orang-orang yang kesusahan.”

Ketika Muhammad (ﷺ) mulai relaks, Khadijah lalu membawa Nabi kepada saudara sepupunya, Waraqa bin Naufal, seseorang yang luas pengetahuannya. Khadijah sungguh yakin bahwa sepupunya itu akan mampu menjelaskan makna sesungguhnya yang telah menimpa suami tercintanya. Perlu diketahui bahwa Waraqa adalah orang yang telah mempelajari kitab-kitab agama Yahudi dan Kristiani. Waraqa juga telah banyak berguru pada orang-orang bijaksana dari agama-agama itu. Dia tahu bahwa nabi yang akan datang telah diramalkan oleh Musa AS dan Isa AS, dan dia tahu tanda-tanda yang dapat menegaskan identitas Nabi ini ketika kemunculannya.

Setelah mendengar dengan cermat cerita Nabi (ﷺ), Waraqa yang tua dan buta itu berseru,

“Ini adalah jirim yang sama yang menyampaikan wahyu Allah kepada Musa. Saya berharap saya masih muda dan masih hidup ketika kaummu mengusirmu.”

“Akankah mereka mengusirku?” tanya Muhammad.

“Ya,” jawab Waraqa. “Tak seorang pun dengan karunia yang sekarang engkau terima tidak diperlakukan dengan permusuhan; dan seandainya saja aku dapat hidup ketika kau diusir, aku akan membantumu dengan seluruh kekuatanku. Mari aku raba punggungmu.”

Sambil berbicara, Waraqa meraba bagian tubuh di antara bilah bahu Nabi dan menemukan apa yang dia rasakan: lingkaran kecil, sedikit menonjol secara tidak beraturan di kulit, seukuran telur merpati. Ini adalah salah satu dari banyak tanda yang diketahui Waraqa yang mengindikasikan identitas nabi setelah Isa AS.

“Ini adalah tanda kenabian!” dia berseru. “Sekarang aku benar-benar yakin bahwa engkaulah Nabi yang diramalkan di dalam Taurat yang diwahyukan kepada Musa AS dan di dalam Injil yang diwahyukan kepada Isa AS. Engkaulah utusan Allah, dan makhluk yang hadir ke hadapanmu di gunung itu pastilah malaikat Jibril!”

Khadijah merasa begitu girang dan tersanjung mendapati dirinya mulai memahami apa yang sebenarnya terjadi di gunung itu. Tak lama setelah kejadian ini, Muhammad diperintahkan dalam sebuah wahyu Allah berikutnya, melalui malaikat JIbril, untuk mengajak orang-orang agar hanya menyembah Allah. Dan pada poin ini Khadijah tidak merasa ragu mengekspresikan ke hadapan orang banyak sesuatu yang diketahuinya dimana sebelumnya dirahasiakannya untuk beberapa saat:

“Aku bersaksi bahwa tiada tuhan kecuali Allah,” katanya, “dan aku bersaksi bahwa Muhammad adalah utusan Allah.”

Tahun-tahun berikutnya merupakan tahun-tahun sulit dimana para pemimpin Quraish melakukan apa saja atas kekuasaan mereka untuk menghentikan Nabi dalam menyebarkan ajaran-ajarannya. Pada saat itu maka Khadijahlah sumber tetap pemberi perlindungan dan pertolongan untuk Muhammad (ﷺ). Seluruh kekayaannya dibelanjakannya di jalan Allah untuk membantu menyebarkan pesan-pesan suaminya, membantu membebaskan budak-budak yang telah menerima Islam, dan membantu menampung kaum muslimin yang secara perlahan namun pasti mulai tumbuh, baik secara jumlah maupun kekuatan.

Menyaksikan itu, Kaum Quraish merasa begitu geram atas kesuksesan Nabi (ﷺ). Mereka lalu melakukan apa saja dengan kekuatannya untuk menakut-nakuti Nabi dan para pengikutnya, seringkali dengan memberikan siksaan yang mengerikan. Namun tetap tak menemui keberhasilan.

Situasi menjadi bertambah buruk sampai-sampai memaksa Nabi menganjurkan para pengikutnya untuk pergi ke negeri Abyssina. Negeri dimana pemimpinnya, Negus, adalah penganut Nasrani yang tulus dan bersungguh-sungguh untuk memberi mereka penampungan dan perlindungan.

Maka tibalah waktunya, sebagaimana diramalkan Waraqa. Muhammad dan para pengikutnya – dijauhkan dari seluruh anggota sukunya. Bani Hashim digiring keluar dari kota Mekkah dan dipaksa berkemah di sebuah jurang kecil di tentang gunung gemunung. Ini terjadi jauh setelah Waraqa meninggal, dan sekitar tujuh tahun setelah malam luarbiasa dimana Muhammad (ﷺ) menerima wahyu pertamanya melalui Jibril.

Disana, saat dimana rumah-rumah milik mereka sendiri kosong di kota Mekkah, orang-orang muslim itu dipaksa telanjang di tengah begitu dinginnya malam musim dingin dan di tengah terik siang musim panas, dengan begitu sedikitnya makanan dan tempat bernaung. Tak ada seorang pun yang bersedia melakukan jual beli dengan kaum muslimin saat itu, atau mengijinkan putera-puteri mereka menikahi salah satu dari mereka.

Untungnya masih ada saja yang secara diam-diam bersimpati kepada kaum muslimin dan mengirimi mereka makanan seandainya ada kesempatan. Terkadang dengan cara menyimpankan perbekalan di atas punggung seekor keledai atau kuda kemudian mengirimnya dengan cara dipecut sehingga berderap berlari menuju arah yang telah ditentukan. Mereka berharap binatang itu tak akan berhenti atau tersesat sebelum mencapai tujuannya.

Selama tiga tahun komunitas muslim saat itu menjalani hidup yang keras. Namun meskipun mereka kelaparan dan kehausan, telanjang di tengah panas dan dingin, ini justru menjadi waktu dimana hati-hati kaum muslimin pertama itu dibersihkan hatinya dan kemudian diisi dengan cahaya pengetahuan dan kebijaksanaan. Kaum Muslimin sadar betul bahwa mereka mengikuti cahaya kebenaran, dan tak ada yang lain kecuali itu. Mereka tidak peduli bagaimana perlakukan dan perkataan orang-orang Quraish kepada mereka. Allah dan Rasul-Nya telah cukup bagi mereka.

Dalam pada itu selama periode ini kaum muslim yang telah mendapatkan perlindungan di Abyssina kembali ke Mekkah untuk memeriksa bagaimana keadaan di kampong halaman sampai menemukan keadaan yang ternyata jauh lebih buruk daripada sebelumnya. Tak lama, kebanyakan dari mereka kembali ke Abyssina dan jumlah mereka bertambah karena perintah Nabi (ﷺ) supaya mereka ditemani.

Akhirnya boikot dari kaum Quraish itu dicabut dan kaum muslimin diijinkan kembali memasuki kota. Namun tiga tahun yang berat itu telah meminta korban. Pertama, paman Nabi, Abu Thalib yang ketika itu berusia lebih dari delapanpuluh tahun, meninggal; dan beberapa bulan kemudian, di bulan Ramadhan, Khadijah (رضي الله عنه) juga meninggal di usia enampuluhlima tahun.

Nabi Muhammad (ﷺ) merasa begitu berduka atas kepergian istrinya itu. Bagaimanapun, mereka telah menjalani pernikahan selama duapuluhlima tahun. Khadijah bahkan telah melahirkan lima anak untuk mereka. Selain Khadijah, hanya satu istri Nabi yang nanti akan datang, Maria orang Koptik, yang memberi Nabi seorang putera diberi nama Ibrahim. Dan sebagaimana Qasim, Ibrahim pun ditakdirkan meninggal ketika masih sangat kecil, di usia delapanbelas bulan.

Khadijah adalah orang pertama yang mengumumkan keimanan dan penerimaannya bahwa Muhammad (ﷺ) adalah utusan Allah, dan dia tak pernah berhenti melakukan apa saja yang dia mampu untuk membantu. Cinta dan kasih sayang telah tumbuh diantara Nabi (ﷺ) dan Khadijah (رضي الله عنه). Kasih sayang mereka terus meningkat secara kualitas, dan semakin mendalam sepanjang tahun-tahun yang dilalui, bahkan kematian tak dapat merampas cinta mereka.

Nabi Muhammad (ﷺ) tak pernah berhenti mencintai Kahdijah (رضي الله عنه), dan bahkan setelah beliau menikahi beberapa istri lainnya di tahun-tahun berikutnya dan juga mencintai mereka semua, jelas terlihat bahwa Khadijah selalu memiliki tempat khusus di hatinya. Bahkan kapan saja Aisyah, istri ketiganya, mendengar Nabi membicarakan Khadijah, atau melihatnya mengirimi makanan untuk teman-teman dan kerebat Khadijah, Aisyah tak dapat menahan rasa cemburunya, karena rasa cinta Nabi pada Khadijah yang masih begitu besar.

Suatu ketika Aisyah pernah bertanya apakah hanya Khadijah yang pantas untuk cinta Nabi? Nabi (ﷺ) menjawab:

“Dia mempercayaiku ketika tak ada seorang pun melakukannya, dia menerima Islam ketika orang-orang menolakku, dan dia menolong serta membuatku merasa nyaman ketika tak seorang pun yang lain yang menjulurkan tangan untuk membantuku.”

Diriwayatkan oleh Abu Hurairah (رضي الله عنه), pada suatu ketika, ketika Khadijah masih hidup, Jibril datang kepada Nabi (ﷺ) dan berkata, “Ya Rasul Allah, sebentar lagi akan datang padamu Khadijah dengan membawa semangkuk sup (makanan atau minuman). Saat dia tiba di hadapanmu, sampaikan salam padanya dari Tuhannya dan juga dari aku, dan sampaikan pula padanya kabar gembira dari istana permata di surga, tempat dimana tak akan terasa kebisingan dan rasa lelah.”

Setelah paman Nabi – Abu Thalib – dan istri pertamanya – Khadijah – meninggal di tahun yang sama. Nabi Muhammad (ﷺ) dan kaum Muslimim yang masih sedikit menanggung suatu masa sulit dan penganiayaan di tangan kaum Quraish. Bahkan Nabi yang ketika itu berusia limapuluh tahun, menamai tahun ini sebagai ‘tahun dukacita.’

Dalam kehidupan pribadinya, Nabi kehilangan istri tercintanya, yang sekarang tidak ada lagi untuk berbagi sukaduka; sementara di masyarakat hinaan-hinaan dari kaum Quraish datang secara bertubi-tubi. Sekarang ia bahkan tidak mendapatkan perlindungan dari pamannya yang baru saja meninggal. Bahkan ketika beliau berkunjung ke Ta’if, sebuah kota kecil di pegunungan di luar kota Mekkah untuk menyeru penduduknya agar menyembah Allah, Nabi (ﷺ) sampai-sampai ditolak dan ditimpuki batu.

Dikisahkan melalui jalur Aisyah bahwa dalam perjalanan pulangnya ke Mekkah dari Ta’if, Jibril muncul di hadapan Nabi (ﷺ) dan berkata, “Allah SWT telah mendengar apa yang dikatakan orang-orang kepadamu dan bagaimana mereka menjawab seruanmu, dan Dia telah mengutus malaikat penjaga gunung-gunung dan kau boleh mengatakan apa saja yang kau ingin dia lakukan kepada mereka.”

Kemudian Jibril memanggil malaikat penjaga gunung agar keluar. Maka keluarlah Malaikat penjaga gunung, mengucapkan salam dan berkata,

“O Muhammad, Allah telah mendengar apa yang kaummu katakan kepadamu. Aku malaikat penjaga gunung-gunung, dan Tuhanmu telah mengirimku untukmu agar kau dapat menyuruhku melakukan apa saja yang kau inginkan. Kalau kau mau, aku dapat menyatukan gunung-gunung di pinggir kota Mekkah sehingga mereka terhimpit di antara gunung-gunung itu.”

Tapi Rasulullah (ﷺ) berkata padanya, “justru aku berharap Allah menjadikan anak keturunan mereka menjadi orang-orang yang hanya menyembah Allah, tanpa mempersekutukan-Nya.”

Tak lama berselang dari kejadian itu maka turunlah wahyu Qur’an Surat 93. ADH DHUHAA ayat 1-11.

Qur’an Surat 93. ADH DHUHAA ayat 1-11.

Demi waktu matahari sepenggalahan naik, dan demi malam apabila telah sunyi (gelap), Tuhanmu tiada meninggalkan kamu dan tiada (pula) benci kepadamu. Dan sesungguhnya hari kemudian itu lebih baik bagimu daripada yang sekarang (permulaan). Dan kelak Tuhanmu pasti memberikan karunia-Nya kepadamu , lalu (hati) kamu menjadi puas. Bukankah Dia mendapatimu sebagai seorang yatim, lalu Dia melindungimu? Dan Dia mendapatimu sebagai seorang yang bingung, lalu Dia memberikan petunjuk. Dan Dia mendapatimu sebagai seorang yang kekurangan, lalu Dia memberikan kecukupan. Sebab itu, terhadap anak yatim janganlah kamu berlaku sewenang-wenang. Dan terhadap orang yang minta-minta, janganlah kamu menghardiknya. Dan terhadap nikmat Tuhanmu, maka hendaklah kamu siarkan. (QS. ADH DHUHAA 93;1-11)

Begitulah. Setelah tiga tahun yang penuh perjuangan, seorang kerabat Rasulullah (ﷺ) yang bernama Khawla mendatangi Nabi dan mengatakan bahwa keadaan rumah tangga nabi begitu murung dan terabaikan. Dia mengatakan bahwa puteri-puteri nabi membutuhkan seorang ibu agar dapat dijagai dan dirawati.

“Tapi siapa yang dapat menggantikan tempat Khadijah?” Nabi bertanya.

“Aisyah, puteri Abu Bakar, orang yang paling mengasihimu,” jawab Khawla.

Abu bakar (رضي الله عنه) adalah orang pertama yang menerima Islam dan dia adalah sahabat yang paling dekat dengan Nabi (ﷺ). Sebagaimana Khadijah ( رضي الله عنه), Abu Bakar juga telah melakukan apa saja yang dapat dilakukannya untuk membantu Nabi (ﷺ), dan memebelanjakan seluruh kekayaannya di jalan Allah. Namun demikian mesti diingat bahwa Nabi (ﷺ) ketika itu telah berumur limapuluhtiga tahun sedangkan Aisyah seorang anak perempuan berumur tujuh tahun. Posisinya akan sangat sulit baginya kalau harus menjaga dan merawat rumahtangga Nabi serta puteri-puterinya.

“Dia masih terlalu muda.” Jawab Nabi.

Tapi Khawla selalu memiliki jawaban untuk segala pertanyaan. Khawla menyarankan Nabi untuk, pada saat yang sama, juga menikahi Sawda, Janda Al-Sakran bin ‘Amr.

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s