Sufisme

Oleh: Shaykh Saleh As-Saleh

Tari Sufi

Alih bahasa dari Bahasa Inggris ke Bahasa Indonesia oleh: GM. Nawari

Alih bahasa ini bisa jadi tidak pas, ada kekurangan, atau bahkan berlebihan. Oleh karenanya pembaca kami rujuk untuk membaca aslinya. Dan untuk melakukan itu pembaca tinggal klik di sini. Koreksi terhadap karya terjemahan ini sangat dibutuhkan untuk mencapai kesempurnaan pemahaman.

Sufisme, Kata Dasar dan Derivasinya:

Terdapat beberapa pendapat mengenai asal kata sufisme. Beberapa di antaranya adalah:

1) Beberapa orang sufi merasa senang mengaitkan namanya pada Ahlus-Sufaah di masa Nabi (ﷺ). Mereka mengklaim bahwa terdapat banyak kemiripan antara ahli Sufi dengan Ahlu-Suffa. Ahlu-Suffa adalah kaum miskin Muhaajirin yang hijrah dari Makkah ke Madinah denganuntuk melepaskan diri dari penyiksaan bangsa Arab pagan. Mereka lari dari kampong halamannya tanpa memiliki rumah, uang, keluarga, bahkan tempat singgah. Nabi (ﷺ) dan para shahabatnya membantu mereka. Nabi (ﷺ) mengizinkan mereka untuk tinggal di sekitar halaman masjid. Kenyataannya, bagaimanapun, kaum Muslim yang miskin itu beristirahat di masjid hanya karena terpaksa. Jumlah mereka kadang bertambah dan kadang juga berkurang. Beberapa di antara mereka juga ada yang tinggal lebih lama dibanding yang lain. Jadi, mereka bukanlah kelompok yang bergabung karena sesuatu alasan tertentu. Sufism dalam tahap awalnya menekankan diri pada konsep-konsep melepaskan diri dari kehidupan duniawi, kemiskinan, isolasi, dlsb. Ahlus-Suffah tidaklah memilih konsep-konsep seperti demikian. Mereka pada saat itu adalah orang-orang yang membutuhkan bantuan dan kaum Muslim mengulurkan tangan pada mereka. Mereka tidak mengisolasi diri. Faktanya, mereka bergabung dalam Jihaad kapanpun seruan itu diumumkan. Ketika Allah swt melimpahkan karunia-Nya kepada kaum muslim, beberapa di antara mereka menjadi manusia merdeka dan menjadi bagian orang kaya di antara para shahabat Nabi (ﷺ) sementara lainnya menjadi pemimpin di beberapa negeri. Para sufi ingin membangun tautan dan claim dengan masa Rasulullah (ﷺ) seakan Rasulullah (ﷺ) merestui benih awal sufisme seperti yang ditunjukkan dalam kasus Ahlus-Suffah. Sebagai tambahan, dari sudut pandang linguistic, mengasalkan sufisme dari As-Suffah adalah salah, sebab terma yang betul mestinya ‘Suffisme’ dan bukan Sufisme.

2) As-Saf al-Awwal (الصف الٲول ) Beberapa Sufi mengklaim bahwa Sufisme berasal dari As-Saff al-Awwal (Jajaran Pertama) “berdiri di belakang Tangan Allah Yang Maha Kuasa dan Yang Maha Agung, dengan kebajikan dari keteguhan hati yang tinggi dan hasrat kepada Allah dalam hati mereka dan dengan memposisikan diri mereka yang paling dalam di belakang-Nya.” Terma ini jauh dari dapat dipakai secara lingustik jika demikian, terma yang benar mestinya Saffy (صفى).

3) As-Safaa’ (الصفاء): Sufi yang lain mengklaim bahwa terma-nya ini berasal dari kata As-Safaa’ yang berarti kejelasan, kemurnian, ketulusan. Hal ini diselisihi sendiri oleh sufi lainnya dan secara lingustik hal ini tidaklah pas. Terma turunannya mestinya menjadi Safwee, Safaawee atau Safaa’iee bukan Soofee.

4) Sūfah (ﺻﻮﻒﻪ): Ada juga yang mengatakan bahwa kata sufi itu berasal dari kata
‘Sūfah,’ nama untuk beberapa orang yang biasa melayani Ka’bah pada masa pra-Islam (Jahiliyyah), dan sesiapa yang biasa berkhalwat di Masjid Suci (Al-Masjid Al-Haraam)[1]. Meskipun pertalian ini bisa jadi terdengar baik secara lingustik, hal ini tertolak disebabkan beberapa hal:

(a) Orang-orang “Sūfah” tidak dikenal secara baik oleh sebagian besar kaum sufi awal.

(b) Jika pertalian ini benar, sudah semestinya dikenal di masa shahabat. Bagaimanapun, pertalian demikian tidak dikenal di masa shahabat.

(c) Orang shaleh menolak dirinya dipertalikan dengan suku bangsa masa Jaahiliyyah.[2]

5) Sophia (ﺴﻮﻔﻲﺓ): Sejarahwan juga filsuf Abu Rayhaan Al-Bayrooni (mgl.440 H) menyebutkan bahwa kata “Sufisme” berasal dari terma “Sophia” dari bahasa Yunani yang berarti kebijaksanaan. Bangsa Yunani adalah bangsa yang mula-mula mengemukakan konsep tentang Wahdat Al-Wujood (Penyatuan eksistensi: bahwa semua eksistensi merupakan realitas tunggal dimana Allah, dan bahwa semua yang kita saksikan adalah satu aspek dari essensi Allah). Tak seorang pun dapat menegaskan atau bahkan menolak autentisitas derivasi ini, karena dengan jelas sufisme menurut jalan ini sangat dipengaruhi filosofi Yunani dan Hindu.

6) As-Sūf (الصوف): Banyak dari kalangan sufi baik itu yang dulu atau yang ada sekarang sadar bahwa terma sufisme mengacu kepada penggunaan pakaian berbahan wool (Sūf). Hal ini juga merupakan pendapat dari Shaykh- ul-Islam Ibn Taymeeyah. Ibn Khaldoon juga condong pada pendapat ini dalam “Muqaddimah”-nya yang terkenal. Banyak dari orientalist pun berpandangan sama. Meskipun ini adalah pendapat yang paling biasa mengenai derivasi terma ini, namun masih diperselisihi oleh beberapa sufi seperti Al-Qushayree (Mgl.465 H) yang mengklaim bahwa kaum sufi tidak secara khusus memakai pakaian berbahan wool[3]. Namun demikian, hasrat banyak kaum sufi untuk menghubungkan nama mereka dengan asal-usulnya menjelaskan tatacara ibadah mereka yang berlebih-lebihan, pemisahan diri dari kehidupan duniawi, mengabaikan harta yang didapat secara syah, property, anak keturunan, dlsb. Di lain pihak, mengenakan pakaian berbahan wool bukanlah suatu hal yang berfaedah atau meningkatkan status seorang Muslim di hadapan Allah. Bahkan, Nabi (ﷺ) juga menyukai mengenakan pakaian lain. Faktanya, beliau (ﷺ) tidak menyukai bau yang dikeluarkan bahan wol ini ketika mengeluarkan keringat sebagaimana yang diriwayatkan dari Siti Aisyah. Beliau (ra) berkata:

“Saya membuat mantel berwarna hitam untuk Nabi (ﷺ) lalu beliau mengenakannya; namun ketika beliau berkeringat karena memakainya beliau jadi ingat pada bau busuk yang dikeluarkan oleh wol, beliau menanggalkannya. Perawi berkata: Saya piker beliau berkata: dia menyukai bau harum.”[4]

Dan dari hadits yang dikeluarkan melalui jalur Anas, beliau (ﷺ) berkata:

“Pakaian yang paling disukai Nabi (ﷺ) untuk dikenakan adalah Hibara (semacam pakaian orang Yaman yang terbuat dari bahan katun yang terbaik untuk dipakai).”[5]

7) Terma yang tidak diasalkan: Pendapat ini dipegang oleh beberapa tokoh sufi seperti al-Qushayriee dan al- Hajooyari (mgl.456 AH). Mereka berkata bahwa terma ini adalah gelar yang ada dengan sendirinya. Klaim ini adalah klaim yang aneh dan sangat lemah, karena tak ada satu pun gelar yang diadopsi oleh suatu sekte yang tidak memiliki perhubungan arti.

Demikianlah beberapa pendapat yang paling terkenal mengenai asal dari kata sufisme. Beberapa perbedaan mengenai terma ini disebabkan alam mistik yang menyelimuti sufisme dalam konsep-konsep esoteric yang membuka berbagai macam interpretasi. Setiap guru sufi dapat menambahkan metodologi dan konsep-konsepnya sendiri berdasarkan pada pengalaman-pengalaman pribadi (Thawq). Hal ini membawa ketakterhinggaan terma sufisme dalam doktrin maupun tatacara ritualnya. Kasus ini bahkan lebih buruk ketika dihubungkan pada arti sufisme. Salah seorang tokoh sufi kontemporer, Dr. ‘Abdul Hameed Mahmoud berkata: “Pendapat mengenai arti ini [At-Tasawwuf] belum sampai pada hasil yang konklusif.”[6]

As-Siraaj At-Tusi (mgl. 378 H) menyebutkan bahwa definisi sufisme lebih dari seratus, sementara As-Sahrawardee (mgl. 632 H) menceritakan bahwa perkataan shayk sufi mengenai arti kata Tasawwuf lebih dari seribu. Salah satu sufi belakangan yang bernama Ibn ‘Ajeebah (mgl. 1224 H) menceritakan bahwa shaykh Zarrooq (mgl. 889 H) telah menyebutkan bahwa definisi sufisme ini mencapai dua ribu. Definisi-definisi itu mengungkapkan arti kata sufisme yang menghubungkan antara konsep-konsep dan praktik-praktiknya. Definisi-definisi itu berkisar pada kemelaratan, ketekunan, pengasingan diri, penarikan diri dari dunia, kerahasiaan, muslihat, pencabutan jiwa, keajaiban, menyanyi, menari, mengenakan pakaian berbahan wol, ekstase, transformasi batin, pembangunan spiritual, semua cara untuk mencapai Wahdat Al-Wujood.[7] Kenyataannya, studi yang hati-hati berkenaan sejarah dan pelaku sufisme membawa seseorang pada konklusi yang sama bahwa ternyata tak ada arti spesifik dan konfrehensif mengenai sufisme ini. Meski demikian, dapat dikatakan dengan mudah bahwa sufisme menggambarkan akomodasi kepercayaan, pengalaman, filosofi, dan metodologi yang berbeda beberapa derajat dari Qur’an, Sunnah yang shahih, dan cara-cara Salaf. Sebagian besar akomodasi ini merupakan perkara-perkara penting yang akhirnya membentuk Sufisme, utamanya:

Ketakterhinggaan interpretasi figurative teks dan/atau perkataan-perkataan guru-guru mereka.
Mengklasifikasikan Deen kepada Thaahir (Sharee’ah) dikenakan pada kaum muslim biasa sementara Baatin (Tersembunyi) dikenal hanya pada Guru dan mistik.
Peminjaman berbagai ikhtilaf dalam perihal syahadat, ibadah, atau moral. Para sufi ekstrim meminjam segala keyakinan juga semua macam bid’ah (innovasi).
Hubungan menyimpang antara Guru dan muridnya.
Ungkapan Kashf dalam ordo-ordo Sufi hanya boleh diklaim oleh Guru, yaitu orang-orang yang telah merasakan dan menyaksikan semua realitas eksistensi ghaib (realitas tak kasatmata).
Menekankan Manaamaat (mimpi), mengarang-ngarang cerita dan/atau hadits, sebagaimana Shatahaat (ungkapan emosional dan intens mengenai kegembiraan dan agitasi yang timbul dari apa yang mereka sebut dengan sentuhan-sentuhan ilahiah yang sertamerta selama laku mistis yang melahirkan mantera-mantera bid’ah dan mistis, halusinasi, dan dalam beberapa kasus mengatakan ungkapan-ungkapan kekufuran). Mereka mengatakan bahwa ungkapan-ungkapan itu disebabkan oleh hal-hal mistis dalam satu tingkat mabuk spiritual, misalnya “Maha suci aku (subhaani),” dan “Di balik jubahku terdapat satu-satunya tuhan”.

Sumber: ashabulhadeeth.com

[1] Imaam Ibnul Jawzee mendukung sudut pandang ini dalam bukunya book Tablees Iblees, hal. 201.

[2] Lihat Majmoo’al-Fataawaa by Shaykhul Islam Ibn Taymeeyah, vol. 11, hal. 6.

[3] Ar-Rissalah Al-Qushayriyyah, hal. 126, terbitan Daar al-Kitaab Al-‘Arabi, Beirut (1957).

[4] Diriwayatkan oleh Abu Dawwod (Terjemahan bahasa Inggris no. 4063) dan Ahmad dalam Musnad-nya (6:132, 144, 219, 249) dan lain-lain. Al-Haakim berkata: “shahih menurut al-Bukhaari and Muslim,” and Ath-Thahabi menyetujinya. Al-Albaani meriwayatkannya dalam As- Saheeha (2136).

[5] Lihat Saheeh Al-Bukhaari, vol. 7, no. 704.

[6] Abhaath fit-Tasawwuf, hal. 153 (Taqdees, hal. 40)

[7] Lihat Taqdees Al-Ashkhaas, hal. 40-44, Masaadir At-Talaqee, hal. 35-37, and At-Tasawwuf: Al-Mansha’ wal Masaadir, hal. 36-39.

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s