„Islamietisch Paedagogisch Ideaal” Menuju tercapainya Islamic Worldview

BUNGAOleh: Abahna Jafits

Hampir satu abad yang lalu, tepatnya tanggal 17 Juni 1934 dalam rapat Persatuan Islam di Bogor, Muhammad Natsier pernah berkata “Maju atau mundurnya salah satu kaum bergantung sebagian besar kepada pelajaran dan pendidikan yang berlaku dalam kalangan mereka itu. Tak ada satu bangsa yang terbelakang menjadi maju, melainkan sesudahnya mengadakan dan memperbaiki didikan anak-anak dan pemuda-pemuda mereka.”

Mohammad Natsier kemudian mengambil misal bangsa Jepang yang pada masa itu mulai membuka pintu untuk masuknya ilmu-ilmu dari luar bangsanya sehingga mereka pelajari dengan  tekun bahkan mengirimkan pemuda-pemuda terbaik mereka untuk belajar di luar negeri, padahal sebelumnya bangsa Jepang menutup rapat pintu dan jendela mereka dari pengaruh yang dating dari luar. Dan hasilnya kita lihat hari ini, bagaimana mereka dapat menguasai panggung dunia dengan penuh percaya diri.

Mohammad Natsier juga tak lupa mengambil contoh bangsa Spanyol yang jatuh tersungkur dari bangsa kelas satu dunia menjadi bangsa yang tak diperhitungkan oleh karena terlena kesenangan dunia dan tak memperdulikan pendidikan para pemudanya yang akan mengambil tongkat estafet kepemimpinan bangsa. Bagaimana cordoba pada masa keemasannya menjadi pusat peradaban dunia kemudian luluh lantak hanya karena despotism, korupsi, kolusi, nepotisme dan buruknya kaderisasi kepemimpinan dalam bentuk pendidikan.

Dalam bahasa Indonesia, pendidikan berasal dari verba didik yang berarti memelihara dan memberi latihan (ajaran, tuntunan, pimpinan) mengenai akhlak dan kecerdasan pikiran. Kemudian kata ini diberi imbuhan pen-kan menjadi kata noun pendidikan yang berarti proses pengubahan sikap dan tata laku seseorang atau kelompok orang dalam usaha mendewasakan manusia melalui upaya pengajaran dan pelatihan; proses, cara, perbuatan mendidik.

Menurut M. Natsier tujuan dari didikan Islam atau “Islamietisch Paedagogisch Ideaal itu” ialah “satu pimpinan jasmani dan ruhani yang menuju kepada kesempurnaan dan lengkapnya sifat-sifat kemanusiaan dengan arti yang sesungguhnya”. Beliau menyebut pimpinan semacam ini sekurangnya membutuhkan dua hal :

  1. Satu tujuan yang tertentu tempat mengarahkan didikan itu.
  2. Satu asas tempat mendasarkannya.

“Apakah tujuan yang akan dituju oleh didikan kita?’, sebenarnya tidak pula dapat dijawab sebelum menjawab pertanyaan yang lebih tinggi lagi jaitu : „Apakah tujuan hidup kita didunia ini ?’ Kedua pertanyaan ini tidak dapat dipisahkan, keduanya sama (identiek), Tujuan didikan ialah Tujuan-Hidup.

Dan tujuan seorang muslim tidak lain adalah menjadi penyembah Allah dan tidak menyekutukanNya sebagaimana dapat kita baca dalam surat (Q.s. Addzariyat: 56).

“Dan aku tidak menciptakan jin dan manusia melainkan supaya mereka mengabdi kepada-Ku.”

Inilah tujuan hidup kita diatas dunia. Kata “Liya’buduni” dalam QS. Addzariyat: 56 yang berarti “menyembah Aku” ini mempunyai arti yang sangat dalam dan luas. “Menyembah Allah” itu melengkapi semua ketaatan dan ketundukan kepada semua perintah Ilahi yang membawa kepada kebesaran dunia dan kemenangan akhirat, serta menjauhkan diri dari segala larangan yang menghalangi tercapainya kemenangan dunia dan akhirat itu.

Dalam Q.s. Al-Fathir : 28 Allah menerangkan syarat dan sifat seseorang yang berhak menamakan diri “Hamba Allah” itu: “Dan demikian (pula) di antara manusia, binatang-binatang melata dan binatang-binatang ternak ada yang bermacam-macam warnanya (dan jenisnya). Sesungguhnya yang takut kepada Allah di antara hamba-hamba-Nya, hanyalah ulama. Sesungguhnya Allah Maha Perkasa lagi Maha Pengampun.” Ayat ini menjelaskan bahwa ilmu, ialah satu syarat yang terpenting untuk menjadi Hamba Allah yang sesungguhnya. Seorang Hamba Allah, bukanlah seorang yang mengasingkan diri dari kenikmatan dunia dan pergi bertapa kehutan belukar, dan mengerjakan hanya sekedar „sembahyang” dan „puasa” saja! Bukan sekedar itu yang dimaksud dengan menyembah Allah itu.

Malah dengan terang dan tegas pula Tuhan peringatkan bahwa segala barang yang baik dan rezeki yang halal diatas dunia ini, adalah teruntuk bagi Hamba Allah !

„Katakanlah! Siapakah yang mengharamkan perhiasan Allah yang Dia keluarkan untuk hamba-Nya, beserta rezeki yang baik itu ? Katakanlah, (semua itu) untuk mereka yang beriman diatas dunia ini,dan semata-mata akan (kepunyaan mereka) dihari kiamat” (Q.s. Al-A’raf: 31).

Hamba Allah, ialah orang yang ditinggikan Allah derajatnya, sebagai pemimpin untuk manusia. Mereka menurut perintah Allah, dan berbuat baik kepada sesama machluk, lagi menunaikan ibadah terhadap Tuhannya, sebagaimana tersimpul dalam firman Tuhan :

“Bukanlah menghadapkan wajahmu ke arah timur dan barat itu suatu kebajikan, akan tetapi sesungguhnya kebajikan itu ialah beriman kepada Allah, hari kemudian, malaikat-malaikat, kitab-kitab, nabi-nabi dan memberikan harta yang dicintainya kepada kerabatnya, anak-anak yatim, orang-orang miskin, musafir (yang memerlukan pertolongan) dan orang-orang yang meminta-minta; dan (memerdekakan) hamba sahaya, mendirikan shalat, dan menunaikan zakat; dan orang-orang yang menepati janjinya apabila ia berjanji, dan orang-orang yang sabar dalam kesempitan, penderitaan dan dalam peperangan. Mereka itulah orang-orang yang benar (imannya); dan mereka itulah orang-orang yang bertakwa.” (Q.s. Al-Baqarah : 177).

Kepada Hamba Allah yang beginilah Tuhan telah memberi satu „balagh”, satu ultimatum, yakni satu pemberitahuan yang keras, bahwa kemenangan dan kejayaan di atas dunia ini tidak diberikan, melainkan kepada hamba-Nya yang pantas dan patut lagi mempunyai kecakapan yang cukup untuk menerima dan mengurus dunia.Lain dari itu, tidak!

„Sesungguhnya Kami telah tetapkan dalam Zabur, sesudahnya peringatan, bahwa sesungguhnya dunia ini diwarisi oleh hamba*-Ku yang patut*, dan sesungguhnya dalam hal ini adalah satu pemberian tahu, „peringatan” untuk orang yang menyembah Allah” (Q.s. Al-Anbija : 105-106).

Beginilah sekurangnya sifat-sifat dan amalannya seseorang yang mempunyai derajat „Hamba Allah” itu ! Maka nyata pula bahwa memperhambakan diri yang semacam ini ialah untuk kepentingan dan keperluan yang menyembah itu sendiri, bukan untuk yang disembah. Allah berfirman  „Tidak ! Aku tidak berkehendak mendapat rezeki dari mereka dan Aku tidak berkehendak, supaya mereka memberi Aku makan. Sesungguhnya Allah itulah yang memberi rezeki yang mempunyai semua kekuatan dan kekuasaan yang paling berkuasa” (Q.s. Addzariyat : 57-58).

Perhambaan kepada Allah yang jadi tujuan hidup dan jadi tujuan didikan kita, bukanlah suatu perhambaan yang memberi keuntungan kepada yang disembah, tetapi perhambaan yang mendatangkan kebahagiaan kepada yang menyembah; perhambaan yang memberi kekuatan kepada yang memperhambakan dirinya itu.

„Dan barang siapa yang syukur kepada Tuhan maka sesungguhnya ia bersyukur untuk kebaikan dirinya sendiri dan barang siapa yang ingkar, maka sesungguhnya Tuhanku Mahakaya dan Mahamulia l” (Q.s. An-Naml: 40).

Akan menjadi orang yang memperhambakan segenap ruhani dan jasmaninya kepada Allah s.w.t. untuk kemenangan dirinya dengan arti yang seluas-luasnya yang dapat dicapai oleh manusia itulah tujuan hidup manusia diatas dunia. Dan itulah tujuan didikan yang harus kita berikan kepada anak kita kaum Muslimin.

Inilah „Islamietisch Paedagogisch Ideaal” yang gemerlapan yang harus memberi suar kepada tiap-tiap pendidik Muslimin dalam mengemudikan pendidikannya.

Demikian halusnya pengertian hamba Allah yang menjadi tujuan pendidikan Islam sehingga tak ada angka-angka yang mampu menjadi tolok ukur keberhasilannya. Keberhasilan pendidikan Islam tidak boleh diukur oleh semua hal yang bersifat materialistic, dengan sederet gelar mentereng, seberapa luas kekuasaan, berapa banyak kekayaan, setinggi apa jabatan. Semua hal itu hanyalah effek samping. Dr. Yusuf Qardhawi menyebut “seseorang belum diakui sebagai ahli suatu ilmu sebelum mengintegrasikan ilmu yang dimilikinya dengan amal. Inilah yang dimaksud wara, asasnya adalah takut kepada Allah SWT yang merupakan buah dari ilmu yang hakiki.”

Oleh karenanya tercapainya tujuan pendidikan Islam hanya dapat dirasakan dan dilihat akibatnya ketika seluruh peri kehidupan mendapatkan hasil yang maksimal sehingga terciptalah sebuah peradaban adiluhung yang mengandung Islamic worldview.

Worldview (dalam bahasa Inggris) weltanschauung atau weltansicht (Jerman), terkadang juga disebut paradigma. Menurut DR. Hamid Fahmi Zarkasy, worldview adalah tolok ukur untuk membedakan antara suatu peradaban dengan peradaban yang lain. Dalam tradisi Islam klasik tidak ditemukan terma khusus untuk pengertian worldview, meski tidak berarti bahwa para ulama tidak memiliki asas yang sistemik untuk memahami realitas. Para ulama abad 20 menggunakan terma khusus untuk pengertian worldview ini, meskipun berbeda antara satu dengan yang lain. Maulana al-Mawdudi mengistilahkannya dengan Islami nazariat (Islamic Vision), Sayyid Qutb menggunakan istilah al-TaÎawwur al-Islam (Islamic Vision), Mohammad AÏif al-Zayn menyebutnya al-Mabda’ al-Islam (Islamic Principle),  Prof. Syed Naquib al-Attas menamakannya Ru’yatul Islam lil wujd (Islamic Worldview). Meskipun istilah yang dipakai berbeda-beda pada umumnya para ulama tersebut sepakat bahwa Islam mempunyai cara pandangnya sendiri terhadap segala sesuatu. Untuk menunjukkan bahwa penambahan kata sifat “Islam” untuk kata worldview dapat merubah makna etimologis dan terminologisnya.

Istilah Islami Nazariyat (Islamic Vision) bagi al-Mauwdudi berarti “pandangan hidup yang dimulai dari konsep keesaan Tuhan (shahadah) yang berimplikasi pada keseluruhan kegiatan kehidupan manusia di dunia. Sebab shahadah adalah pernyataan moral yang mendorong manusia untuk melaksanakannya dalam kehidupannya secara menyeluruh”. Worldview dalam istilah Shaykh Atif al-Zayn adalah al-Mabda’ al-Islam yang lebih cenderung merupakan kesatuan iman dan akal dan karena itu ia mengartikan mabda’ sebagai aqidah fikriyyah yaitu kepercayaan yang berdasarkan pada akal. Sebab baginya iman didahului dengan akal. Sayyid Qutb memahami dari perspektif teologis dan juga metafisis mengartikannya dengan al-tasawwur al-Islami, yang berarti sebagai “akumulasi dari keyakinan asasi yang terbentuk dalam pikiran dan hati setiap Muslim, yang memberi gambaran khusus tentang wujud dan apa-apa yang terdapat dibalik itu.” S.M.Naquib al-Attas mengartikan worldview Islam sebagai pandangan Islam tentang realitas dan kebenaran yang nampak oleh mata hati kita dan yang menjelaskan hakekat wujud; oleh karena apa yang dipancarkan Islam adalah wujud yang total maka worldview Islam berarti pandangan Islam tentang wujud (ru’yat al-Islam lil-wujd).

Poin penting yang dapat ditangkap dari definisi keempat tokoh diatas adalah bahwa pandangan hidup Islam adalah pandangan Islam tentang realitas dan kebenaran yang menjelaskan tentang hakekat wujud yang berakumulasi dalam akal pikiran dan memancar dalam keseluruhan kegiatan kehidupan umat Islam di dunia. Pandangan-pandangan diatas telah cukup baik menggambarkan karakter Islam sebagai suatu pandangan hidup yang membedakannya dengan pandangan hidup lain. Pandangan hidup seorang muslim adalah pandangan hidup yang didasarkan dan bertujuan untuk mengesakan Allah SWT atau dengan bahasa M. Natsier adalah untuk menjadi “hamba Allah”. Sebagai syarat utama seorang muslim adalah mengakui keesaan Allah SWT dan mengakui Nabi Muhammad SAW sebagai rasul dan nabi penutup.

Wallahu a’lam bi shawab

SIB 21 Muharam 1434 H/ 05 Desember 2012

Iklan

3 responses to “„Islamietisch Paedagogisch Ideaal” Menuju tercapainya Islamic Worldview

  1. Ping-balik: „Islamietisch Paedagogisch Ideaal” Menuju tercapainya Islamic Worldview Sebuah resume | Kang Gungun

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s