Seri Tokoh Muslim Ilmuwan

Abu Ali al-Hasan ibn al-Haytham

Ditulis Oleh: Abahna Jafits

 

Segala puji milik Allah Tuhan semesta alam yang telah mengutus Muhammad SAW sebagai rasul dan nabi terakhir. Saya mengimani itu dan berlindung hanya kepada Allah dari segala penyakit hati yang dapat melemahkan keimanan yang sehat itu.

Dalam tulisan ini satu dan lainnya akan terasa tidak berhubungan namun jika anda dapat menangkap gagasan dasarnya maka perselisihan itu akan terasa damai dan tak ada pertentangan. Tulisan ini dimulai pertamatama untuk diri saya dan seandainya banyak manfaatnya untuk khalayak maka ambillah. Namun seandainya terdapat lebih banyak keburukan dibanding manfaat itu ada baiknya dibuang saja dan jangan diingat-ingat lagi.

Kita semua paham bahwa tak ada satupun makhluk yang hidup di muka bumi ini bisa lepas dari apa yang disebut dengan penyakit. Baik penyakit fisik ataupun batin. Dalam Al-Qur’an Surah Yunus Allah befirman “55. Ingatlah, sesungguhnya kepunyaan Allah apa yang ada di langit dan di bumi. Ingatlah, sesungguhnya janji Allah itu benar, tetapi kebanyakan mereka tidak mengetahui(nya). 56. Dia-lah yang menghidupkan dan mematikan dan hanya kepada-Nya-lah kamu dikembalikan. 57. Hai manusia, sesungguhnya telah datang kepadamu pelajaran dari Tuhanmu dan penyembuh bagi penyakit-penyakit (yang berada) dalam dada dan petunjuk serta rahmat bagi orang-orang yang beriman.”

Sahabat, manusia telah membangun teknologi yang begitu maju untuk mengenali berbagai macam penyakit fisik dan menciptakan berbagai macam formula untuk dapat melemahkan dan mematikannya. Bahkan dengan tekhnologi yang ada, manusia telah mampu membangun system kekebalan tubuh buatan untuk mengkarantina dan mencegah suatu penyakit agar tidak tumbuh di dalam tubuh seseorang. Semua itu dilakukan untuk menjamin keberlangsungan sebuah kehidupan.

Semua itu (penyembuhan dan pengobatan) adalah pelajaran yang datang dari Allah. Maka untuk orang yang beriman hal itu adalah sesuatu yang mesti diikhtiarkan meskipun Allah telah mewanti-wanti dengan mengatakan bahwa “Dia-lah yang menghidupkan dan mematikan dan hanya kepada-Nya-lah kamu dikembalikan (QS. Yunus 10:56).” Karena “Ingatlah, sesungguhnya kepunyaan Allah apa yang ada di langit dan di bumi…(QS. Yunus 10:55)”.

Kita tidak akan membahas mengenai sebuah penyakit dari mana asal-usulnya dan bagaimana penyembuhannya. Tulisan ini hanya ingin mengingatkan dan memberikan sebuah impuls, semangat dan gairah kepada ummat islam untuk maju ke depan dan kembali memimpin dunia karena kita pernah melakukan itu. Sejarah mencatat bahwa dengan cara demikianlah dunia telah berada dalam ketentraman dan minim pergolakan.

Lagilagi, dari surah Yunus ayat 57 yang artinya “Hai manusia, sesungguhnya telah datang kepadamu pelajaran dari Tuhanmu dan penyembuh bagi penyakit-penyakit (yang berada) dalam dada dan petunjuk serta rahmat bagi orang-orang yang beriman” ini kita menyaksikan bagaimana Al-Qur’an menawarkan gagasan canggih, komprehensif dan mendalam mengenai konsep ‘ilm. Pentingnya konsep ini terungkap dalam kenyataan bahwa Al-Qur’an menyebutnyebut akar kata dan kata turunan ‘ilm sekitar 800 kali[1]. Ini membuktikan dorongan islam yang begitu besar untuk pencarian ilmu. Oleh karenanya tidak mengherankan kalau peradaban islam masa awal telah mencatat begitu banyak ilmuwan dalam berbagi bidang. Baik itu dalam bidang keagamaan ataupun bidang keduniawian. Tidak ada dikotomi dan jurang yang menganga antara keduanya.

Dia, peradaban islam awal, yang notabene sangat muda dan baru bahkan dianggap sebagai sebuah kejutan yang dahsyat ini telah mampu megangkangi peradaban lain yang jauh lebih tua dan mapan dengan segala kemajuannya dengan kekuatan ‘ilm.

Al Hazen

Disini di Indonesia, negeri tercinta dengan penduduk muslim terbesar. Kita masih menganggap bahwa sebagian besar ilmu dan teknologi datangnya sematamata dari eropa. Padahal jika ditelisik lebih dalam lagi, kita akan menemukan ketika eropa diselimuti kegelapan selama berabadabad, jauh di negeri-negeri islam justru diterangi cahaya terang benderang.

Al-Alim al-Arabiy al-Hasan bin al-Haytham (the Arab Scientist al-Hasan bin al-Haytham) mata uang Iraq

Al-Alim al-Arabiy al-Hasan bin al-Haytham (the Arab Scientist al-Hasan bin al-Haytham) mata uang Iraq bernilai 10 dinar

Kita akan menceritakan satu episode gemilang itu ketika pada tahun 965 M di Basrah lahirlah seorang dengan nama Abu Ali al-Hasan ibn al-Haytham. Eropa menyebutnya dengan nama Alhazen. Ia pindah dari Basrah ke Kairo dan bekerja sebagai pegawai negeri pada pemerintahan Khalifah Al-Hakim dari Bani Fathimiyah dari tahun 996 sampai tahun 1020 M.

Abu Ali al-Hasan ibn al-Haytham pernah mencoba mengatur aliran sungai Nil yang setiap tahun banjir menggenangi pertanian rakyat. Namun usahanya itu gagal dan karena malu ia pura-pura gila. Di sebalik itu, Abu Ali al-Hasan ibn al-Haytham adalah orang yang gemar mempelajari ilmu-ilmu kuno tentang matematika dan fisika. Tidak hanya itu, dia juga memiliki ketertarikan yang kuat kepada ilmu kedokteran sehingga dapat juga mengarang buku-buku tentang kedokteran.

Pekerjaannya yang termasyhur adalah buku yang dikenal di dunia Eropa dengan nama Optics. Buku aslinya telah lama hilang tetapi salinannya dalam bahasa latin masih tetap dipelihara di Eropa. Dalam buku ini Alhazen menolak teori Euclid dan Ptolemy tentang mata yang menyatakan bahwa mata mengirimkan cahaya pelihat, barang apa yang dipandang. Alhazen menolaknya dengan menyatakan tentang teori cahaya dan warna. Juga menyatakan tentang bayangan dan pengembalian cahaya. Mengenai buku optics ini Al-Biruni dan Ibn Sinna memberikan pembenaran dan menyatakan bahwa “bukan sinar yang meninggalkan mata ketika memandang sesuatu tetapi sosok benda itu sendirilah yang masuk kedalam mata, kemudian berganti dengan kebeningan.”

Eropa menamakan teori Alhazen dengan “Alhazen problem” (soal-soal Alhazen) yang diantaranya menyatakan “sebuah cekung bulat, atau sebuah cembung bundar dari sebuah kaca berbentuk cylinder atau sebuah cermin tirus dapat dipergunakan untuk mencari dimana letak suatu benda. Dari kaca itu dapat diperoleh pengembalian cahaya pada mata yang tertentu letaknya”.

Teori Alhazen membawa persamaan pada derajat keempat, yaitu suatu teori baru yang diselesaikannya dengan menggunakan sebuah hyperbola, teori kerucut yang berkembang di Eropa menjadi teori pembuatan kapal.  Alhazen juga menyelediki perbiasan cahaya enteng dengan menggunakan alat saluran perantara seperti udara dan air. Dalam berbagai percobaanya, diantaranya dipergunakan buku berbentuk bola atau gelas berisi air. Dari teori ini orang kemudian dapat menciptakan lensa pembesar.

Penulis-penulis abad pertengahan dan orang-orang yang memperdalam ilmu mata selalu memakai buku Alhazen sebagai pedoman. Bukunya ini disalin kedalam bahasa latin dengan nama Opticae Thesaurus (teori-teori optic). Dalam bukunya yang meneliti cahaya senja dan kemudian disalin kedalam bahasa inggris dengan judul On Twilight Phenomenon, Alhazen mengungkapkan bahwa atmosphere yang menyelubungi bumi hanya setinggi 16.090 m saja. Dalam buku yang lain beliau menerangkan persolan bianglala, lingkaran cahaya sekitar bulan dan matahari, kacabola dan kaca parabola. Buku lainnya menerangkan tentang bayangan dan gerhana. Dalam masalah ini diterangkan memakai perhitungan matematika.

Alhazen melakukan percobaannya dengan melebur berbagai batu Kristal untuk dibuat menjadi kaca. Dari sinilah dia dapat menciptakan teleskop dan dengan teleskop inilah dia dapat menentukan jarak atmosphere dari permukaan bumi[2].

Kacamata yang dapat membantu penglihatan seseorang; kaca mikroskop yang bisa digunakan untuk meneliti bakteri yang tidakkasatmata dan menentukan jenis penyakit dan obatnya; dan kaca teleskop yang digunakannya untuk menentukan ketinggian atmosphere bumi adalah hasil karya kegigihan ilmuwan muslim ini. Selain itu, Alhazen juga membuat percobaan kaca api (the burning glass). Dengan percobaan ini Alhazen mengantarkan peradaban dunia ke arah yang lebih maju lagi dalam ilmu dioptrik atau daya cahaya. Dengan teori ini dia bercita-cita dapat melakukan pembakaran dari jarak jauh dengan alat dioptrica yang sekarang lebih dikenal dengan teknologi sinar laser.

Demikianlah, dengan penyandaran diri kepada Allah SWT, kegigihan, kesabaran dan konsistensi segala sesuatu dapat dicapai dan ditemukan jawabannya dengan gemilang. Dalam sebuah hadits disebutkan “mereka bertanya, “Ya Rasulullah, apakah kami berobat?” Beliau menjawab, “Ya, wahai hamba-hamba Allah. Sesungguhnya Allah meletakkan penyakit dan diletakkan pula penyembuhannya, kecuali satu penyakit yaitu penyakit ketuaan (pikun) (HR. Ashabussunnah).” Hadits yang lain menyebutkan “Allah menurunkan penyakit dan menurunkan pula obatnya, diketahui oleh yang mengetahui dan tidak akan diketahui oleh orang yang tidak mengerti. (HR. Bukhari dan Muslim).”[3]

Wallahu a’lam bishowab

SIB, 24 Jumaditsani 1434 H / 05 Mei 2013 M.


[1] Almanak Alam Islami (PUSTAKA JAYA), cet. th.2000) hal. 289.

[2] DR. OEMAR AMIN HOESIN, KULTUR ISLAM, PENERBIT DJAKARTA, Cet. Th. 1964, hal.57-60.

[3] Dari Hadits Web Kumpulan dan Referensi Belajar Hadits, http: //opi.110mb.com/ Sumber: 1100 Hadits Terpilih (Sinar Ajaran Muhammad) – Dr. Muhammad Faiz Almath – Gema Insani Press

Iklan

One response to “Seri Tokoh Muslim Ilmuwan

  1. Reblogged this on Adz-dzikro and commented:
    Hmmmm

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s