Lelaki Dungu dan Sang Takdir

Dongeng berikut adalah sebuh cerita yang saya ambil dari buku Bengkel Kreativitas karya Jordan E. Ayan (Mizan, Cetakan IV, Mei 2003). Menurut penulis buku tersebut, dongeng ini menunjukkan sifat mengabaikan, penghalang kita dari manfaat peristiwa serentak.

 

Dalam Kisah ini, seorang lelaki yang tidak begitu berbakat dan kurang sukses memutuskan bahwa, jika hendak memanfaatkan potensi dirinya semaksimal mungkin, dia harus berkelana untuk menemui Sang Takdir, yang akan memberitahu bagaimana cara mengatasi masalahnya. Dia kemudian memulai perjalanan panjangnya, dan pada sore harinya dia bertemu seekor serigala.

“Mau kemana?” selidik serigala pada lelaki itu.

“ Aku sedang mencari Sang Takdir, yang akan memberitahuku cara mengakhiri masalah yang telah kuderita sepanjang hidupku.”

Serigala mengangguk-angguk mendengar lelaki itu, lalu berkata. “Sang Takdir memang amat bijaksana. Pada dia kita mungkin dapat menggantungkan hidup. Saudaraku, jika kau bertemu dengannya tolong katakan padanya bahwa telah bertahun-tahun aku menderita sakit kepala. Maukah kau tanyakan kepadanya bagaimana aku bisa mengakhiri penderitaan itu?”

Lelaki itu mengangguk tanda setuju dan melanjutkan perjalanan.

Tak lama kemudian, dia bertemu seorang penjaga malam di kota tempat dia akan bermalam. “Anda mau kemana?” tanya penjaga malam pada lelaki itu.

“Aku akan bertemu Sang Takdir yang akan membantu menyelesaikan masalahku. Sudah lama aku mencari pekerjaan yang menghasilkan lebih dari sekedar putus asa dan kegagalan,” jawab lelaki itu.

Penjaga malam memberi tahu lelaki itu bahwa dia juga sebenarnya kurang mujur dengan pekerjaannya: jam kerjanya terlalu panjang dan gajinya amat kecil. Lalu berkata, “Saudaraku, jika engkau sudah berhasil menemui Sang Takdir, maukah kau tanyakan bagaimana aku bisa mendapatkan segala yang kudambakan dalam hidup ini?”

Lelaki itu setuju lalu beristirahat malam itu. Esok paginya dia melanjutkan perjalanan. Dia tiba di tepi sebuah sungai dan disambut seekor ikan yang menanyakan tujuannya. Diceritakanlah semua kisahnya kepada sang ikan. Sang ikan menjawab, “selama hidup aku tidak bisa menutup mulut. Berjanjilah, jika kau bertemu Sang Takdir, akan kau tanyakan bagaimana aku bisa menutup mulutku dan engkau akan kuantarkan ke seberang dengan naik punggungku.” Lelaki itu setuju, lalu sang ikan menyeberangkan lelaki itu di atas punggungnya.

Pada akhirnya, lelaki itu sampailah di rumah Sang Takdir. Ketika itu sang Takdir sedang duduk memutar rodanya. Pada sang takdir lelaki itu menceritakan kesengsaraannya, tentang ketidakmampuannya mencari nafkah dan kurangnya bakat. Sang takdir memutarkan roda untuk lelaki itu, lalu bertanya. “Wahai lelaki yang baik, adakah makhluk lain yang kau temui sepanjang perjalannmu kemari yang juga membutuhkan bantuanku?”

Lelaki itu tiba-tiba teringat pada sang ikan, lelaki penjaga malam dan sang serigala, lalu meceritakan semua keluh kesah mereka.

Sang Takdir menjawab. “Untuk serigala itu hanya ada satu obat. Dia harus memakan kepala orang terbodoh di kerajaannya, baru sakit kepalanya akan hilang untuk selamanya. Sang ikan tidak bisa menutup mulut karena ada dua butur permata di dalam mulutnya. Jika kau ambil permata-permata itu , maka dia akan bisa menutup mulutnya. Kepada penjaga malam, suruhlah dia menggali di sudut dinding rumahnya sebelah barat laut. Bantulah dia, dan akan kalian temukan dua kendi besar penuh berisi emas.”

Namun demikian, pada lelaki itu sang takdir tidak menunjuki sesuatu cara yang dapat ditempuh lelaki itu. Bagi si lelaki, hal itu tidaklah menjadi masalah, dia sangat percaya bahwa segala sesuatunya akan menjadi berubah seratus persen tepat ketika dia melaporkan keluh kesahnya pada sang takdir. Maka berlalulah lelaki itu dari hadapan sang takdir.

Dalam perjalanan pulang, lelaki itu menempuh perjalanan yang sama ketika dia pergi menemui sang takdir dan bertemu sang ikan lalu diceritakannya apa yang harus dilakukannya menurut Sang Takdir. Dimasukkannya tangannya ke dalam mulut ikan itu. maka benarlah, dia menemukan dua butir zamrud yang indah. Tak terkira girangnya ikan itu kemudian berkata, “terimakasih, temanku! Sebagai imbalannya, ambillah permata itu satu untukmu. Itu adalah permata yang bagus sekali. Zamrud yang mahal sekali harganya.”

Tapi lelaki itu tersenyum dan menggelengkan kepalanya.

“Tidak, temanku. Aku tidak butuh permata-permata itu.” lalu memberikannya kembali kepada ikan itu. tapi ikan itu menolaknya karena tak ada cara untuknya memakai permata yang indah-indah itu.

Karena ditolak ikan itu, maka permata-permata itu dilemparkan lelaki itu ke tengah-tengah sungai sampai tenggelam dan tak dapat dilihatnya lagi.

“Aku tak butuh permata-permata itu. Sang Takdir telah memutarkan roda nasib untukku. Di tempat asalku, aku akan menumui nasibku.” Dan berlalulah ia dari ikan itu.

Kemudian dia bertemu sang penjaga malam dan menceritakan kendi berisi emas yang ada di rumah penjaga malam itu. sesuai perintah sang penjaga malam, mereka berdua menggalinya dan menemukan dua buah kendi yang penuh berisi emas dan perhiasan. Dengan penuh rasa gembira, sang penjaga malam menawarkan untuk membagi dua hasil temuan mereka. Masing-masing mendapat satu kendi penuh berisi emas permata. Lagi-lagi, lelaki itu tersenyum dan menggelengkan kepalanya.

“Simpanlah untukmu dua kendi berisi emas permata itu. jangan khawatir dengan nasibku. Sang Takdir telah memutarkan roda nasib untukku,” lalu pergi meninggalkan sang penjaga malam yang sedang gembira itu.

Tibalah saatnya lelaki itu bertemu dengan serigala yang sedang menahan rasa sakit kepalanya. Dengan penuh harap, serigala itu menanyakan kabar yang dibawa lelaki itu untuk menyembuhkan sakit kepalanya. Lalu lelaki itu bercerita bahwa satu-satunya obat untuk menghilangkan rasa sakit kepala serigala itu adalah dengan cara memakan kepala orang yang paling dungu di kerajaan itu.

Serigala itu mengangguk. Pikirnya, itu mungkin obat paling masuk akal yang pernah didengarnya. Ini bahkan dari sang takdir. Tak ada hal yang dapat meragukannya. Tapi ketika dia harus mencari kepala orang yang paling dungu di kerajaan itu, semakin menjadi-jadilah sakit kepalanya. Untuk mengurangi rasa sakit kepalanya serigala itu meminta si lelaki menceritakan perjalannya, dari sejak lelaki itu meninggalkannya sampai dia kembali lagi menemuinya.

“Dengan mendengar ceritamu, mungkin sakit kepalaku akan tidak terlalu terasa.” Kata serigala itu memohon.

Maka tersenyumlah lelaki itu dan diceritakannya semua perjalannya. Pertemuannya dengan penjaga malam, pertemuannnya dengan sang ikan lengkap dengan keluh kesah mereka. Lengkap pula dengan bagaimana dia menyelesaikan masalah untuk mereka berdua berdasar petunjuk sang takdir.

Setelah selesai mendengar lelaki itu bercerita, maka berdirilah serigala itu.

“Kau tak mengambil dua buah zamrud dari ikan itu?” tanya serigala. Lelaki itu menggeleng dan tersenyum.

“Kau juga tidak mengambil sebuah kendi penuh berisi emas permata dari penjaga malam? Padahal dia telah ikhlas memberikannya padamu?” tanya serigala itu lagi.

Lagi-lagi lelaki itu menggelegkan kepalanya dan tersenyum.

“Kau adalah laki-laki terbaik yang pernah aku temui.” Kata serigala itu sambil menyeringai. Lelaki itu tersenyum.

“Terimakasih. Aku tidak membutuhkan zamrud-zamrud dan sekendi emas permata itu. Untuk apa? Bukankah sang takdir telah memutarkan roda nasib untukku?”

“Tapi sang takdir tidak memberi petunjuk bagaimana kau dapat mengubah nasibmu kan?” tanya serigala.

Lelaki itu diam, lama sekali berpikir. Sementara itu sang serigala merasa amat girang. Karena sekarang dia telah menemukan obat yang dapat menghilangkan sakit kepalanya untuk selama-lamanya. Tak ada orang paling dungu di kerajaan itu kecuali seorang lelaki yang telah melepaskan dua kali kesempatannya untuk mengubah nasibnya. Lelaki itu ada di hadapnnya dan tinggal diterkam saja.

Sanggar Indah Banjaran, 26 Februari 2012.

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s