Geus waktuna meureun?

Geus waktuna meureun?
Malik ka tukang atawa ka hareup
Kana poek atawa kana caang
Di tungtung gang nu boa kudu kamana

Ieu balati, sarungan!
Ceuk ilaing tuluy nyolendang samurai nu ngagebay

Geus waktuna meureun?
Wawanen urang ditanya kasadianana
Anging Allah tempat pamuntangan

Dina mumunggang gunung
Handapeun layung nu ngagantung
Caang masrahkeun diri kana poek
Kalangkang ilaing hut-het nyieun siluet

th

Bulan Sabit Bintang, Benarkah Simbol Islam?

Bulan Sabit Bintang, Benarkah Simbol Islam?.

BBM NAIK (Sakitnya tuh disini)

Dalam musim hujan seperti ini, sudah dapat dibayangkan bahwa Aceng dan Odin sedang “LALAYARAN” di Sungai Cikapuncung sambil melukis seperti biasa dan membacakan bebebrapa bait puisi yang dicolongnya sana-sini. Karena hujan yang turun saban hari, sungai itu kini jadi begitu lebar, sehingga mereka boleh menggunakan rakit yang lebih besar agar kanvasnya bisa juga disertakan disana, catnya beraneka warna. Apa saja akan dia lukis hari ini, kecuali buruh pabrik yang meradang karena tidak bisa pergi kerja karena motornya tak berbensin, ibu-ibu di pasar yang kembali lagi karena uang belanjaannya tak lagi cukup untuk membeli cabe sekedar menghangatkan badan, tukang ojek yang tak lagi mangkal karena penumpangnya takut ongkosnya dinaikkan.

Padahal itu semua adalah objek-objek lukis yang baik, dari kerut-kerut wajah yang keras dan dalam, garis-garis yang tak perlu diperhalus. Apa boleh buat? Pekerjaan mereka adalah melukis, dan dari sanalah mereka mendapatkan nama besar, jadi mereka melukis saja. Melukis orang-orang yang berjejer berkemeja putih sambil tersenyum (lebih dekat kepada menyeringai) setelah menaikkan harga BBM setelah melakukan perjalanan yang panjang menjajakan negara.

Udud VS SPP

Odin karek asup ka Imah Aceng waktu Aceng keur udud. Rohangan pinuh ku haseup.

Aceng   : “Jangar, Din!”

Odin      : “Naha kunaon?”

Aceng   : “Ceunah, lamun keur bararingung tuluy udud, eta kabingung teh biasana osok nyinglar. Ieu uing ti tadi geus udud beak sabungkus kabingung ngadon beuki nambah.”

Odin      : “Naha ceuk saha eta bisa kitu teh?”

Aceng   : “Heueuh ceuk anu beuki udud.”

Odin      : “Ari eta boga kabingung naon kitu meni bet kudu nyeungeut udud sagala?”

Aceng   : “Heueuh eta indungna budak ngarenghik ka uing menta duit sanggeus narima surat ti sakola. Ceunah ceuk eta surat, isukan budak teh kudu mawa duit limalas rebu keur mayar renang di kolam renang nu di tonggoh tea. Renang teh wajib lantaran asup kana ujian akhir semester. (Panon Aceng mencrong kosong jiga nu jauh panineungan. Lamun rada taliti mah bakal katingali aya cai nu ngalembereh tina juru panonna) Uing mah bingung ku jaman ayeuna, Din. Cenah sakola sd jeung smp mah haratis tapi aneh teu ngurangan resiko. Maksud teh enyaan ari iuran sakolana mah teu mayar, ngan nu lian-lianna asa diaya-ayakeun.” (Aceng jempe sakedapan bari nyedot ududna tuluy diburakeun.)

Odin      : !?!?!? (Unggut-unggutan)

Aceng   : “Heueuh sok we pikir ku silaing. Baheula mah basa urang sakola, asa can kungsi ku guru diperedih supaya meulian buku ieu buku itu, lks ieu lks itu, study tur ka ditu ka dieu, renang, bimbel jeung nu sejen-sejenna. Tara pan?” (Bari morongos ka Odin)

Odin      : (Gideug lalaunan)

Aceng   : “Heueuh kitu, ayeuna mah pelajaran teh asa diaya-ayakeun. Baheula mah nu jadi lanceuk apanan sok bisa we ngawurukan nu jadi adina da pelajaran sataun kamari teh sarua jeung pelajaran taun ayeuna. Pon kitu deui bukuna. (Leungeun Aceng apay-apayan jiga nu ngetrokkan bor gu penggrais) INI BUDI, INI IBU BUDI, WATI KAKAK BUDI, KUKURUYUK-KUKURUYUK.” (Sorana jiga arek leweh)

Odin      : “Ari kitu kumaha atuh ayeuna? Dibere budak teh duitna?”

Aceng   : “Sidik eta nu dipikiran ku uing teh, Din. Ieu oge udud meunang nganjuk ka bi Uti. Limalas rebu.”

Odin      : ?!?!? (Jebi bari ngabalieur)

Maria al-Qibtiyya (رضي الله ﻋﻧﻬﺎ)

Egypt_2Maria al-Qibtiyya (رضي الله ﻋﻧﻬﺎ) dikatakan telah menikah dengan Nabi (ﷺ) dan semua orang memberinya gelar yang sama yang diberikan untuk menghormati istri-istri Nabi, sebagai ‘Umm al-Muminin,’ ‘Ibunda Orang-orang Beriman’. Maria dilahirkan di dataran tinggi Mesir dari pasangan ayah Koptik dan ibu Yunani. Dia pindah ke istana Muqawqis saat dia masih sangat muda. Dia sendiri tiba di Madinah untuk bergabung dengan rumahtangga Nabi saat Nabi baru kembali melakukan perundingan dengan orang-orang Quraisy dimana perundingan itu dilakukan di al-Hudaibiyya. Maria memberi Nabi seorang putera yang sehat pada tahun 9 H, tahun yang sama ketika saudarinya Zainab wafat. Nabi memberi nama anak itu Ibrahim, nenek moyang orang-orang Yahudi dan Kristen, seorang nabi yang darinya nabi-nabi berikutnya berasal. Sayangnya, saat Ibrahim berusia delapan belas bulan, dia sakit keras dan akhirnya meninggal. Meski benar Nabi tahu bahwa puteranya yang masih kecil itu akan pergi ke surga, Nabi Muhammad (ﷺ) tak dapat menahan airmatanya jatuh. Saat beberapa sahabatnya bertanya mengapa beliau menangis, Nabi menjawab, “Ini sisi kemanusiaanku.”

Saat mayat Ibrahim dikebumikan, matahari sedang dalam keadaan gerhana sehingga langit menjadi gelap dan suram. Beberapa orang berpikir bahwasannya hal tersebut berhubungan dengan kematian Ibrahim, namun Nabi (ﷺ) segera membersihkannya. “Matahari dan bulan adalah dua tanda-tanda Allah,” katanya, “mereka tidak gerhana karena kelahiran atau kematian seseorang. Saat kalian menyaksikan tanda-tanda (gerhana) ini, segeralah mengingat Allah dengan melakukan shalat.”[i]

Sungguhpun orang-orang kafir biasa mengejek Nabi Muhammad karena dia tidak punya anak laki-laki dan mengatakan bahwa beliau telah ‘terputus’, Allah telah memperjelasnya dalam surah berikut (Quran S. Al-Kautsar 108:1-3), bahwa keadaan Nabi Muhammad berada di atas laki-laki lain:

بِسْمِ اللَّهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيمِ

Dengan menyebut nama Allah Yang Maha Pemurah lagi Maha Penyayang

إِنَّا أَعْطَيْنَاكَ الْكَوْثَرَ

Sesungguhnya Kami telah memberikan kepadamu nikmat yang banyak.

فَصَلِّ لِرَبِّكَ وَانْحَرْ

Maka dirikanlah shalat karena Tuhanmu; dan berkorbanlah.

إِنَّ شَانِئَكَ هُوَ الأبْتَرُ

Sesungguhnya orang-orang yang membenci kamu dialah yang terputus[ii].

Dan ayat berikut,

 مَا كَانَ مُحَمَّدٌ أَبَا أَحَدٍ مِنْ رِجَالِكُمْ وَلَكِنْ رَسُولَ اللَّهِ وَخَاتَمَ النَّبِيِّينَ وَكَانَ اللَّهُ بِكُلِّ شَيْءٍ عَلِيمًا

Muhammad itu sekali-kali bukanlah bapak dari seorang laki-laki di antara kamu, tetapi dia adalah Rasulullah dan penutup nabi-nabi. Dan adalah Allah Maha Mengetahui segala sesuatu. (Quran S. Al-Ahzab 33:40)

Maria dimuliakan dan dihormati Nabi dan keluarganya juga sahabat-sahabatnya. Dia sendiri menghabiskan tiga tahun hidupnya bersama Nabi sampai wafatnya Nabi. Maria meninggal lima tahun berikutnya setelah wafatnya Nabi pada tahun 16 H, semoga Allah meridlainya. Pada lima tahun akhir hidupnya, dia bagai seorang pertapa dan hampir tidak pernah keluar rumah kecuali untuk jiarah ke kuburan Nabi dan juga puteranya. Pada saat ia meninggal, ‘Umar ibn al-Khatab-lah yang menjadi imam shalat janazahnya dan dia dikuburkan di pekuburan al-Baqi.

[i] Abu Bakrah berkata, “Kami berada di sisi Rasulullah lalu terjadi gerhana matahari. Maka, Nabi berdiri dengan mengenakan selendang beliau (dalam satu riwayat: pakaian beliau sambil tergesa-gesa 7/34) hingga beliau masuk ke dalam masjid, (dan orang-orang pun bersegera ke sana 2/31), lalu kami masuk. Kemudian beliau shalat dua rakaat bersama kami hingga matahari menjadi jelas. Beliau menghadap kami, lalu bersabda, ‘Sesungguhnya matahari dan bulan adalah dua dari tanda-tanda kekuasaan Allah, dan sesungguhnya keduanya (2/31) bukan gerhana karena meninggalnya seseorang. Akan tetapi, Allah ta’ala menakut-nakuti hamba-hamba-Nya dengannya. Oleh karena itu, apabila kamu melihatnya, maka shalatlah dan berdoalah sehingga terbuka apa (gerhana) yang terjadi padamu.'” (Hal itu karena putra Nabi (ﷺ) yang bernama Ibrahim meninggal dunia, kemudian terjadi gerhana. Lalu, orang-orang berkomentar bahwa gerhana itu terjadi karena kematian Ibrahim itu. Hal ini lantas disanggah Rasulullah dengan sabda beliau itu.) (Ringkasan Shahih Bukhari – M. Nashiruddin Al-Albani – Gema Insani Press)

Hadits riwayat Aisyah (رضي الله ﻋﻧﻬﺎ), ia berkata:
Pada masa Rasulullah (ﷺ) pernah terjadi gerhana matahari. Saat itu Rasulullah (ﷺ) melakukan salat gerhana, beliau berdiri sangat lama dan rukuk juga sangat lama, lalu mengangkat kepala dan berdiri lama, tapi tidak seperti lamanya berdiri pertama. Kemudian beliau rukuk lama, tapi tidak seperti lamanya rukuk pertama. Selanjutnya beliau sujud. Kemudian berdiri lama, namun tidak seperti lamanya berdiri pertama, rukuk cukup lama, namun tidak selama rukuk pertama, mengangkat kepala, lalu berdiri lama, tapi tidak seperti lamanya berdiri pertama, rukuk cukup lama, tapi tidak seperti lamanya rukuk pertama, lalu sujud dan selesai. Ketika salat usai matahari sudah nampak sempurna kembali. Beliau berkhutbah di hadapan kaum muslimin, memuji Allah dan menyanjung-Nya, dan bersabda: Sesungguhnya matahari dan rembulan itu termasuk tanda-tanda kebesaran Allah. Keduanya terjadi gerhana bukan karena kematian atau kelahiran seseorang. Oleh sebab itu, jika kalian melihat keduanya gerhana, maka bertakbirlah, berdoalah kepada Allah, kerjakanlah salat dan bersedekahlah! Hai umat Muhammad, tidak seorang pun lebih cemburu daripada Allah, bila hambanya, lelaki maupun perempuan, berbuat zina. Hai umat Muhammad, demi Allah, seandainya kalian tahu apa yang kuketahui, tentu kalian banyak menangis dan sedikit tertawa. Ingatlah! Bukankah aku telah menyampaikan. (Shahih Muslim No.1499)

[ii] Dalam suatu riwayat dikemukakan bahwa ketika Ka’bubnul Asyraf (tokoh Yahudi) datang ke Makkah, kaum Quraisy berkata kepadanya: “Tuan adalah pemimpin orang Madinah, bagaimana pendapat tuan tentang si pura-pura shabar yang diasingkan oleh kaumnya, yang mengangggap dirinya lebih mulia daripada kita padahal kita menyambut oramg-orang yang melaksanakan haji, pemberi minumnya serta penjaga Ka’bah?” Ka’ab berkata: “Kalian lebih mulia daripadanya.” Maka turunlah ayat ini (S. 108:3) yang membantah ucapan mereka.
(Diriwayatkan oleh al-Bazazar dan yang lainnya dengan sanad shahih yang bersumber dari Ibnu Abbas.)
Dalam riwayat lain dikemukakan bahwa ketika Nabi (ﷺ) diberi wahyu, kaum Quraisy berkata: “Terputus hubungan Muhammad dengan kita.” Maka turunlah ayat ini (S.108:3) sebagai bantahan atas ucapan mereka.
(Diriwayatkan oleh Ibnu Abi Syaibah di dalam kitab al-Mushannif dan Ibnul Mundzir yang bersumber dari ‘Ikrimah)
Dalam riwayat lain dikemukakan bahwa kaum Quraisy menganggap kematian anak laki-laki berarti putus turunan. Ketika putra Rasulullah (ﷺ) meninggal, al-‘Ashi bin Wa’il berkata bahwa Muhammaad terputus turunannya. Maka ayat ini (S.108:3) sebagai bantahan terhadap ucapannya itu.
(Diriwayatkan oleh Ibnu Abi Hatim yang bersumber dari as-Suddi.)
Diriwayatkan oleh al-Baihaqi di dalam kitab ad-Dalail yang bersumber dari Muhammad bin ‘Ali, dan disebutkan bahwa yang meninggal itu ialah al-Qasim.
Dalam riwayat lain dikemukakan bahwa ayat ini (S.108:3) turun berkenaan dengan al-‘Ashi bin Wa’il yang berkata: “Aku membenci Muhammad.” Ayat ini (S.108:3) turun sebagai penegasan bahwa orang yang membenci Rasulullah akan terputus segala kebaikannya.
(Diriwayatkan oleh al-Baihaqi yang bersumber dari Mujahid.)
Dalam riwayat lain dikemukakan bahwa ketika wafat Ibrahim putra Rasulullah (ﷺ) orang-orang musyrik berkata satu sama lain: “Orang murtad itu (Muhammad) telah terputus keturunannya tadi malam.” Allah menurunkan ayat ini (S.108:1-3) yang membantah ucapan mereka.
(Diriwayatkan oleh at-Thabarani dengan sanad yang dha’if yang bersumber dari Abi Ayyub.)
Dalam riwayat lain dikemukakan bahwa ayat ini (S.108:2) turun ketika Jibril datang kepada Rasulullah pada peristiwa Hudhaibiyyah memerintahkan qurban dan shalat. Rasulullah segera berdiri khutbah fithri mungkin juga Adl-ha (Rawi meragukan, apakah peristiwa di dalam Hadits itu terjadi pada bulan Ramadhan ataukah Dzulqaidah) kemudian shalat dua raka’at dan menuju ke tempat qurban lalu memotong qurban.
(Diriwayatkan oleh Ibnu jarir yang bersumber dari Sa’ad bin Jubair.)
Keterangan:
Menurut as-Suyuthi riwayat ini sangat gharib. Matan hadits ini meragukan karena shalat Ied didahului khutbah.
Dalam riwayat lain dikemukakan bahwa ‘Uqbah bin Abi Mu’aith berkata: “Tidak seorang anak laki-laki pun yang hidup bagi Nabi (ﷺ) sehingga keturunannya terputus.” Ayat ini (S.108:3) turun sebagai bantahan terhadap ucapan itu.
(Diriwayatkan oleh Ibnu jarir yang bersumber dari Syamar bin ‘Athiyah.)
Dalam riwayat lain dikemukakan bahwa ketika Ibrahim putra Rasulullah (ﷺ) wafat, kaum Quraisy berkata: “Sekarang Muhammad menjadi Abtar (putus turunannya).” Hal ini meyebabkan Nabi (ﷺ) bersedih hati, maka turunlah ayat ini (S.108:1-3) sebagai penghibur baginya.
(Diriwayatkan oleh Ibnul Mundzir yang bersumber dari Ibnu Juraij.) (http://www.alquran-digital.com)

Ngaji

Aceng   : “Din, uingah rek ngaji teh ka masigit beulah ditu euy, nu di juru lembur. Nu rada nenggang nu aya bedug gede, geuningan.”

Odin      : “Naha kunaon meni ngajauhan ngaji teh?”

Aceng   : “Aih, ari ilaing. Didinya mah minimal lamun teu jadi ustad oge bisa jadi biduan.”

Odin      : “?!?!?!?”

Aceng   : “Pedah we unggal arek adan magrib, pan sok kadenge aya nu nyanyi?!”

Odin      : “?!?!?!?”

Catatan Untuk Penggunaan Kata-kata “Wahhabi” dan “Wahhabisme”

ibn Abdul WahhabPara pengikut Muhammad ibn Abdul-Wahhaab tidak pernah menggunakan terma “Wahhabi” atau “Wahhabisme” dalam menunjukkan dirinya atau keyakinannya. Umumnya, mereka akan menggunakan terma-terma seperti “ummat Muslim”, muwahhideen (“penganut monotheisme”) dan mereka menyebut seruan mereka, “seruan monotheisme sejati (tauheed),” “agama Islam,” “dawah Salaf” (mengacu kepada generasi-generasi awal ummat muslim yang shaleh) atau hanya “dawah.”[1] Muwahhideen adalah terma favorit mereka untuk digunakan kepada diri mereka, sebagai cara membedakan mereka dari ummat Muslim lain yang terlibat dalam praktik-praktik yang berbenturan dengan akar agama tauhid sejati.[2]

Sangat jelas bahwa ibn Abdul-Wahhaab tidak lebih daripada seorang pengikut Nabi (SAW), para shahabatnya, tabi’in, tabi’i tabi’in, dan beberapa ulama besar yang datang kemudian, seperti Imam Ahmad, ibn Taimiyyah, ibn al-Qayyim, ibn Katheer dan lain-lain. Namun demikian, untuk memberikan ibn Abdul-Wahhaab sebuah nama yang akan memperlihatkan pendekatannya dengan benar – seperti salafi (berarti orang yang mengikuti cara-cara para pendahulu yang shaleh) – tak akan mendapati gol dan tujuan yang sama dengan mereka yang datang dengan nama “Wahhabi”.[3]

Al-Uthaimeen menyatakan bahwa tak diragukan bahwa orang pertama yang menggunakan terma ini adalah para penentang dawahnya, meskipun tidak jelas apakah mereka yang ada di dalam Najd atau mereka yang ada di luar Najd yang pertama kali menggunakan terma ini. Apa yang jelas, bagaimanapun, adalah pada waktu tidak lama setelah penyerangan Muhammad Ali Pasha kepada al-Diriyyah, terma itu mulai menjadi biasa.[4]

Di lain pihak, tak ada kesangsikan bahwa terma ini aselinya digunakan untuk membuat “orang-orang menjauh” dari ajaran-ajaran Muhammad ibn Abdul-Wahhaab. Diklaim bahwa Muhammad ibn Abdul-Wahhaab menyeru kepada sebuah agama baru atau kepada madzhab kelima. Tentu saja, dalam tambahan menyebut mereka “Wahhabi,” mereka juga disebut bid’ah, kafir dan Khawarij.[5]

Selama abad yang telah berlalu, terbangun sebuah perbedaan pendapat di antara para pengikut ajaran-ajaran Muhammad ibn Abdul-Wahhaab apakah menerima atau tidak terma “Wahabi” yang ditujukan kepada mereka. Bagi mereka yang menerimanya, mereka merasa bahwa ajaran-ajaran Muhammad ibn Abdul-Wahhaab telah menjadi sangat jelas bagi semua dan bermacam terma “Wahhabi” adalah mirip dengan terma lain untuk mengikuti jalan generasi-generasi awal Islam yang shaleh. Karenanya, mereka melihat tidak ada masalah dalam penggunaan terma itu. Maka, Abdul-Azeez ibn Muhammad ibn Ibraheem, seorang anak keturunan ibn Abdul-Wahhaab, menulis akhir-akhir ini (barangkali terlalu optimis),

Terma Wahhabisme di zaman kita tidak menciptakan masalah bagi kita. Di zaman kecepatan ini, hasil-hasil penemuan memeprsempit jarak…[orang-orang] sekarang tahu untuk dirinya sendiri apa yang biasa mereka ketahui melalui alat-alat yang merubah kenyataan … Kebenaran sekarang terang dan terbukti bagi orang-orang yang melihat kenyataan. Orang-orang sekarang tahu bahwa Wahhabisme hanya berarti orang-orang yang menjalankan Sunnah, orang-orang Sunni, berpegang teguh pada doktrin para pendahulu yang shaleh dan mempertahankannya untuk melawan segala macam serangan.[6]

Bahkan, Aali-Bootaami mengatakan (juga barangkali terlalu optimistik) bahwa rencana jahat musuh-musuh ibn Abdul-Wahhaab pada hal ini benar-benar menyerang balik. Apa yang sebenarnya dimaksudkan untuk meremehkan sekarang menjadi papan penunjuk untuk mengikuti jalan Nabi (SAW) yang sebenarnya. Sekali orang mendengar kata “Wahhabi” sekarang, dia tahu bahwa kata ini mengacu kepada seseorang yang menyeru untuk mengikuti Quran dan Sunnah, mengikuti dalil, amar ma’ruf nahyi munkar, mengeliminir bidah-bidah dan takhyul dan ketaatan pada jalan yang telah ditempuh salafu shalih. Kenyataannya, para “Wahhabi” ini terus tumbuh menyebarkan kebenaran sementara Negara-negara Ottoman dan Sharif telah kehilangan eksistensinya.[7]

Mereka yang tidak keberatan dengan terma ini termasuk ibn Sahmaan, Muhammad Haamid al-Faqi, Muhammad Rasheed Ridha dan al-Nadwi. Sementara mereka yang terus keberatan pada terma ini termasuk Saalih al-Fauzaan[8]dan ibn Jibreen.[9]

Akan tetapi, dalam situasi mutakhir, sekali lagi, terma ini digunakan untuk menggiring orang agar menjauh dari Islam yang sejati, dalam cara yang sama dalam penggunaan terma “fundamentalist” yang digunakan untuk mengecilkan mereka yang mempraktikkan Islam yang sebenarnya. Khususnya sekarang dan zaman ini, banyak orang yang mulutnya kurang besar atau sebaliknya menganggap tidak bijaksana dan tidak hati-hati jika keluar dan menyerang Islam secara terbuka. Karenanya, mereka mencoba perkakas lain yang dapat digunakan untuk menyerang Islam – sementara pada saat yang sama menampakkan diri sebagai orang yang simpatik kepada ummat Muslim dan beberapa bentuk Islam. Harus ada layar yang berasap. Upaya itu adalah dengan mencoba melawan setiap penerapan Islam yang akan memiliki makna dan signifikansi yang nyata dalam kehidupan ummat Muslim. Barat takut pada tantangan yang diberikan oleh Islam dan satu-satunya cara mereka dapat menundukkan Islam – cara yang telah mereka ikuti selama berabad-abad – adalah dengan mencoba menjelek-jelekkannya dengan cara terburuk yang mungkin dilakukan.

Saat ini, perkakas yang dapat digunakan untuk melukiskan ummat Muslim yang benar-benar mengikuti Quran dan Sunnah tiada lain daripada fundamentalist, extremist, terbelakang dan terroris. Kenyataannya, salah satu metode yang digunakan oleh orang-orang yang “anti-Wahhaabi” adalah bahwa mereka menjejaki aspek-aspek yang mereka anggap tanpa diduga kembali kepada para “Wahhaabi” sementara tidak pernah menyebutkan bahwa hal-hal itu secara eksplisit disebutkan dalam Quran dan Sunnah. Karenanya, masalah mereka sebenarnya bukanlah dengan para “Wahhaabi” namun sebenarnya dengan makna Quran dan Sunnah yang jelas dan tegas.

Poin penting terakhir adalah bahwa “para pengikut” bisa jadi tidak selalu merefleksikan pendirian guru atau ajaran-ajaran aselinya. Ini benar bagi setiap pemimpin. Setiap ajaran, seruan atau gerakan bisa memiliki para pengikut yang menempel pada dirinya yang tidak benar-benar memahami pesannya, yang bodoh dalam dirinya atau yang tidak benar-benar tulus dalam kecintaannya pada seruan itu. Bahkan, dengan rasa hormat pada semua ajaran, orang harus membedakan para pengikut yang berpengetahuan yang benar-benar menjaga pesan dengan kata-kata dan tindakan dengan para pengikut yang tak terdidik. Karenanya, tindakan-tindakan yang diambil guru dan ajaran-ajaran aseli tidak bisa disalahkan. Sebagaimana dicatat al-Uthaimeen, masalah ini dimulai pada masa cukup awal dawah ibn Abdul-Wahhaab.[10] Selama hidup Muhammad ibn Abdul-Wahhaab, beberapa pengikutnya keberatan pada anak-anak keturunan Nabi (SAW), yang memakai pakaian yang berbeda untuk menandai diri mereka sendiri dari yang lain. Namun demikian, Muhammad ibn Abdul-Wahhaab sendiri tidak keberatan terhadap hal itu dan beliau telah mengoreksi “para pengikutnya.” Kedua, lebih penting, contoh yang diberikan oleh al-Uthaimeen mengenai tahun 1217 H. (setelah wafatnya ibn Abdul-Wahhaab), ketika para pengikut ibn Abdul-Wahhaab menaklukkan Taif. “Para pengikut” dengan penuh semangat menghancurkan buku-buku keagamaan di kota itu. Adalah putera Muhammad ibn Abdul-Wahhaab, yang telah mengecam tindakan itu dan mencoba mengoreksi cara-cara mereka.[11]

Di masa kontemporer, dua hal terjadi: setiap orang yang diberi label “Wahhabi” atau “Wahhabis” disalahkan atas segala hal. Banyak orang yang menyebut dirinya “Wahhabis” melakukan hal-hal yang tidak sesuai dengan prinsip-prinsip Muhammad ibn Abdul-Wahhaab atau, jika tidak bisa diperoleh secara langsung, cara para salaf darimana ibn Abdul-Wahhaab memperoleh ajaran-ajarannya. Maka, sekali lagi, barangkali inilah waktunya untuk bersiap-siap untuk tidak menggunakan terma “Wahhabi” dan “Wahhabisme” dan, malahan, mendorong semua untuk menjejak klaim-klaim mereka kembali kepada Quran dan Sunnah.

[1] Kenyataan, Membicarakan referensi pada abad 20, Muhammad Haamid al-Fiqi menyatakan bahwa orang-orang Najd tak pernah menyebut terma “Wahhabi.” Dia mengatakan bahwa mereka semua, termasuk para pemimpin keagamaan mereka, kebanyakannya adalah anak keturunan Muhammad ibn Abdul-Wahhaab, yang menyebut diri mereka dengan orang Najdi, untuk menghormati asal-usul mereka, dan Hanbali, untuk menghormati agama dan keyakinan mereka. Al-Fiqi dikutip dalam Dhaahir, hal. 29.

[2] Bandingkan, al-Uthaimeen, al-Shaikh, hal. 102. Al-Uthaimeen lebih jauh mencatat bahwa Winder, dalam bukunya Saudi Arabia in the Nineteenth Century, mengatakan bahwa ketika para pengikut ibn Abdul-Wahhaab menggunakan terma, “dawah Muhammad,” mereka mengacu kepada Muhammad ibn Abdul-Wahhaab. Al-Uthaimeen mengatakan bahwa yang seperti itu adalah tidak benar. Terma “dawah Muhammad” dalam tulisan-tulisan para pengikut Muhammad ibn Abdul-Wahhaab sebenarnya mengacu kepada Nabi Muhammad (SAW).

[3] Sejumlah penulis menekankan poin yang salah untuk menyebut mereka Wahhabi karena nama itu didapat dari nama ayah ibn Abdul-Wahhaab dan bukan namanya. Al-Uthaimeen (al-Shaikh, hal. 101) mengetengahkan kontroversi ini dan menyatakan bahwa sebenarnya tak ada perbedaan dari terma Hanbali, yang berhubungan pada kakeknya Ahmad. Tak diharapkan mereka disebut “Muhammadans” sebagai cara membedakan mereka dari sebagian ummat Muslim lainnya. Namun demikian, pada saat yang sama, terdapat banyak, termasuk Neibhur, yang salah berpikir bahwa nama itu berasal dari guru asal dawah itu, yaitu ayah Muhammad.

[4] Al-Uthaimeen, al-Shaikh, hal. 101. Lihat juga al-Nadwi, hal. 203.

[5] Missionaris Zweimer mencatat bahwa ibn al-Qayyim memiliki pandangan-pandangan yang mirip dengan pandangan-pandangan ibn Abdul-Wahhaab dan menyimpulkan meskipun ibn al-Qayyim menyadari dirinya sebagai seorang Hanbali, dia sebenarnya seorang Wahhabi. Kenyataannya adalah ibn al-Qayyim hidup berabad-abad sebelum ibn Abdul-Wahhaab nampaknya hilang pada Zweimer. Lihat al-Nadwi, hal. 201. Sebenarnya, telah menjadi sangat digemari bahwa siapa saja yang mengikuti Quran dan Sunnah da menentang syirk disebut seorang “Wahhabi.” Al-Saabiq, pada awal abad ini, menulis bahwa dia menemukan banyak orang yang menyebut bahwa Imam Ahmad, ibn Taimiyyah yang yang lain-lainnya yang seperti mereka sebagai “Wahhabi.” Dia menyatakan jika saja Shahabat Abu Bakr Nampak di antara orang-orang ini, mereka juga akan menyebutnya seorang “Wahhabi” juga. Lihat Fauzaan al-Saabiq, Al-Bayaan wa al-Ishhaar li-Kashf Zaig al-Mulhid al-Haaj al-Mukhtaar (N.c. N.p. 2001), hal. 60.

[6] Dikutip dalam al-Huqail, hal. 98.

[7] Ali-Bootaami, hal. 65-66.

[8] al-Fauzaan, “Taqeebaat ala ma Dhakarahu al-Ustaadh Abdul-Kareem al-Khateeb” hal. 68-69.

[9] Untuk pandangan ibn Jibreen, lihat al-Abdul-Lateef, hal. 76.

[10] Orang mestilah tidak pernah lupa kenyataan bahwa banyak yang akhirnya jatuh di bawah payung kepemimpinan Muhammad ibn Abdul-Wahhaab adalah orang-orang Badui yang bodoh yang pengetahuannya kurang tentang Islam. Meskipun ibn Abdul-Wahhaab secara konstan mengrimkan guru-guru kepada daerah-daerah yang berbeda-beda, namun tidak cukup untuk menghilangkan tahun-tahun kebodohan dan mindset yang mendatangkan keinginan untuk belajar. Dengan jelas, tindakan-tindakan orang-orang seperti ini tidak bisa merefleksikan ajaran-ajaran sang pemimpin.

[11] Al-Uthaimeen, al-Shaikh, hal. 103.

Seluruhnya dikutip dari buku The Life, Teachings and Influence of Muhammad ibn Abdul-Wahhaab Karya Jamaal Zarabozo

MAYMUNA binti al-Harith

radhiAllahuanhaMaymunah binti al-Harith (رضي الله ﻋﻧﻬﺎ) menikah dengan Nabi Muhammad (ﷺ) pada tahun 7 H, saat Nabi berumur enampuluh tahun dan dia sendiri berusia tigapuluhenam tahun. Saudara perempuan Maymunah yang bernama Ummu al-Fadl Lubaba adalah ibu dari Abdullah ibn Abbas, putera dari salah satu paman Nabi dan salah satu sahabatnya yang paling bijaksana. Ummu al-Fadl adalah salah satu sahabat pertama dari Nabi. Suatu kali Abu Lahab[i], musuh Allah dan Rasulullah, masuk ke dalam rumah saudaranya, al-Abbas, dan berniat menyerang langganan Abbas yang bernama Abu Rafi karena telah masuk Islam. Abu Lahab menjatuhkannya ke tanah lalu berlutut di atasnya dan terus memukulinya. Ummu al-Fadl lalu meraih tonggak yang ada disana dan menghantamkannya pada kepala Abu Lahab sampai tonggak itu patah sambil berkata, “Akankah kau menjadikannya bulan-bulanan hanya karena tuannya tak ada?” Dia lalu diobati sambil memikul rasa malu dan mati satu minggu berikutnya.

Zainab binti Khuzaimah, Ummul Mu’minin, juga adalah saudara tirinya. Saudari-saudarinya yang lain termasuk Asma binti Umays, istri Ja’far ibn Abu Thalib, yang nanti akan menikah dengan Abu Bakar, dan Salma binti Umays, istri dari Hamzah – “Singa Allah”. Saudari kandungnya adalah Lubaba, Asma dan Izza. Maymuna adalah anggota ‘Ahlul-Bayt’, bukan hanya karena atas dasar dia adalah istri Nabi (ﷺ), tapi juga karena ia adalah kerabatnya. Zaid ibn Arqam meriwayatkan bahwa Rasulullah (ﷺ) berkata, “Aku memohonkan untukmu kepada Allah! Ya Ahlul Bayt!” tiga kali. Zaid ditanya siapakah Ahlul Bayt itu dan dia berkata, “Keluarga Ali ibn Abu Thalib, keluarga Ja’far ibn Abu Thalib, keluarga Aqil ibn Abu Thalib, dan keluarga Al-Abbas ibn Abdul Muttalib.”[ii]

Maimunah atau Barra sebagaimana kemudian dia dipanggil, merasa ingin sekali menikah dengan Nabi (ﷺ). Dia pergi menemui saudarinya, Ummu al-Fadl untuk berbicara pada suaminya, dan Ummu al-Fadl lalu berbicara pada suaminya, al-Abbas. Al-Abbas segera setelah berbicara dengan Ummu al-Fadl langsung pergi menemui Rasulullah (ﷺ) dengan membawa tawaran pernikahan Maimunah, dan tawaran itu kemudian diterima Nabi.

Ketika kabar gembira itu sampai kepada Maimunah, dia sedang di atas seekor unta, dan dia ketika itu langsung turun dari unta itu dan berkata, “Unta ini dan apa-apa yang ada di atasnya adalah untuk Rasulullah (ﷺ).”

Mereka menikah pada bulan syawal tahun 7 H setelah ummat muslim Madinah diizinkan memasuki kota Mekkah di bawah naungan perjanjian Hudaibiyah untuk menunaikan umrah. Allah SWT menurunkan ayat berikut berkenaan dengan ini:

 يَا أَيُّهَا النَّبِيُّ إِنَّا أَحْلَلْنَا لَكَ أَزْوَاجَكَ اللاتِي آتَيْتَ أُجُورَهُنَّ وَمَا مَلَكَتْ يَمِينُكَ مِمَّا أَفَاءَ اللَّهُ عَلَيْكَ وَبَنَاتِ عَمِّكَ وَبَنَاتِ عَمَّاتِكَ وَبَنَاتِ خَالِكَ وَبَنَاتِ خَالاتِكَ اللاتِي هَاجَرْنَ مَعَكَ وَامْرَأَةً مُؤْمِنَةً إِنْ وَهَبَتْ نَفْسَهَا لِلنَّبِيِّ إِنْ أَرَادَ النَّبِيُّ أَنْ يَسْتَنْكِحَهَا خَالِصَةً لَكَ مِنْ دُونِ الْمُؤْمِنِينَ قَدْ عَلِمْنَا مَا فَرَضْنَا عَلَيْهِمْ فِي أَزْوَاجِهِمْ وَمَا مَلَكَتْ أَيْمَانُهُمْ لِكَيْلا يَكُونَ عَلَيْكَ حَرَجٌ وَكَانَ اللَّهُ غَفُورًا رَحِيمًا

“Hai Nabi, sesungguhnya Kami telah menghalalkan bagimu isteri- isterimu yang telah kamu berikan mas kawinnya dan hamba sahaya yang kamu miliki yang termasuk apa yang kamu peroleh dalam peperangan yang dikaruniakan Allah untukmu, dan (demikian pula) anak-anak perempuan dari saudara laki-laki bapakmu, anak-anak perempuan dari saudara perempuan bapakmu, anak-anak perempuan dari saudara laki-laki ibumu dan anak-anak perempuan dari saudara perempuan ibumu yang turut hijrah bersama kamu dan perempuan mukmin yang menyerahkan dirinya kepada Nabi kalau Nabi mau mengawininya, sebagai pengkhususan bagimu, bukan untuk semua orang mukmin. Sesungguhnya Kami telah mengetahui apa yang Kami wajibkan kepada mereka tentang isteri-isteri mereka dan hamba sahaya yang mereka miliki supaya tidak menjadi kesempitan bagimu. Dan adalah Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.” (Quran S. Al-Ahzab; 33:50)

Nabi memberinya nama Maimunah yang berarti “berkah”, dan Maimunah hidup bersama Nabi sekitar tiga tahun sampai meninggalnya Nabi. Dia jelas sekali memiliki sifat yang baik dan baik kepada siapa saja, dan tidak banyak cekcok atau tidak sependapat dengan istri-istri Nabi yang berhubungan dengannya. Aisyah berkata mengenainya, “Di antara kami, dialah yang paling takut kepada Allah dan yang paling memelihara hubungan kekeluargaan.” Di dalam kamarnyalah Nabi pertama kali mulai merasakan efek-efek yang menjadi sakitnya yang terakhir dan meminta izin kepada istri-istrinya untuk tinggal di kamar Aisyah sampai penyakitnya ini berakhir.

Setelah wafatnya Nabi (ﷺ), Maimunah melanjutkan hidup di kota Madinah untuk waktu empatpuluh tahun, meninggal pada usia delapanpuluh tahun pada tahun 51 H (semoga Allah meridlainya), menjadi istri Nabi yang meninggal terakhir kecuali satu. Dia meminta agar dikuburkan di tempat mana dia menikah dengan Nabi, yaitu di Saraf dan permintaannya ini dikabulkan.

Diriwayatkan pada saat penguburannya, Ibn Abbas berkata, “Ini adalah istri Nabi (ﷺ), maka jika kalian mengangkat kerandanya, jangan menggoyang atau membuat kegaduhan, tapi lemah-lembut.” Juga diriwayatkan oleh Ibn Abbas bahwa suatu kali dia bermalam sebagai tamu Maimunah, yang juga adalah bibinya, dan Nabi (ﷺ). Mereka (Nabi dan Maimunah) tidur di dalam selimut dengan memanjang dan dia (Ibn Abbas) tidur di ujung secara menyilang. Setelah mereka tidur beberapa saat, Nabi bangkit di tengah malam untuk shalat tahajjud, dan Ibn Abbas bergabung dengannya.

Mereka berwudu, dan dia shalat sebelas rakaat bersama Nabi ((ﷺ)). Kemudian mereka berdua kembali tidur sampai shubuh. Billal adzan, dan Nabi melaksanakan shalat dua rakaat sebelum pergi ke masjid untuk menjadi imam shalat shubuh.

Ibn Abbas berkata bahwa doa yang dipanjatkan Nabi pada malam itu adalah: “Ya Allah, tempatkan cahaya dalam hati hamba, cahaya dalam lidah hamba, cahaya dalam pendengaran hamba, cahaya dalam penglihatan hamba, cahaya di belakang hamba, cahaya di depan hamba, cahaya di kanan hamba, cahaya di kiri hamba, cahaya di atas hamba, cahaya di bawah hamba, tempatkan cahaya dalam otot hamba, dalam daging hamba, dalam darah hamba, di rambut hamba dan di kulit hamba, tempatkan cahaya dalam jiwa hamba dan buatkan cahaya berlebihan untuk hamba; jadikan hamba cahaya dan berikan hamba cahaya.”

Telah disepakati bahwa setelah Nabi menikahi Maimunah, yang berarti beliau sekarang telah beristri Sembilan (Aisyah, Saudah, Hafshah, Ummu Salamah, Zainab binti Jahsy, Juwairiyya, Ummu Habibah, Shafiyya dan Maimunah), ayat berikut turun:

Tidak halal bagimu mengawini perempuan-perempuan sesudah itu dan tidak boleh (pula) mengganti mereka dengan isteri-isteri (yang lain), meskipun kecantikannya menarik hatimu kecuali perempuan- perempuan (hamba sahaya) yang kamu miliki. Dan adalah Allah Maha Mengawasi segala sesuatu. (Quran S. Al-Ahzab; 33:52)

Setelah turun ayat ini, Nabi ((ﷺ)) tidak menikah lagi. Saat bagaimanapun, pemimpin ummat Kristen atau Muqawqis yang berasal dari Mesir mengirimi Nabi dua orang kakak beradik budak beragama Kristen sebagai hadiah (sebagai jawaban atas surat Nabi yang mengajaknya masuk Islam), bersama dengan sebuah jubah yang bagus dan beberapa obat-obatan. Nabi menerima salah satu budak perempuan itu yang bernama Maria ke dalam rumahtangganya; Nabi memberikan saudari Maria yang bernama Serena kepada seorang laki-laki yang memintanya dengan hormat, yaitu Hassan ibn Tsabit; Nabi juga menerima jubahnya; dan Nabi mengembalikan obat-obatan dengan memberikan catatan, “Sunnahku adalah obatku!” Ini terjadi pada tahun 7 H, saat Nabi berusia enampuluh tahun dan Maria berusia duapuluh tahun.

[i] Al-Bukhari mencatat dari Ibn ‘Abbas bahwa Nabi keluar menuju lembah Al-Batha lalu mendaki gunung. Nabi lalu berseru,

«يَا صَبَاحَاه»

(Hai orang-orang, kemarilah!) Maka orang-orang Quraisy berkumpul mengitarinya. Lalu Nabi berkata,

«أَرَأَيْتُمْ إِنْ حَدَّثْتُكُمْ أَنَّ الْعَدُوَّ مُصَبِّحُكُمْ، أَوْ مُمَسِّيكُمْ أَكُنْتُمْ تُصَدِّقُونِّي»

(Jika aku katakan pada kalian bahwa musuh akan menyerang kalian di pagi hari, atau di malam hari, akan kalian mempercayaiku?) Mereka menjawab “Ya.” Kemudian Nabi berkata,

«فَإِنِّي نَذِيرٌ لَكُمْ بَيْنَ يَدَيْ عَذَابٍ شَدِيد»

(Sesungguhnya, aku pembawa peringatan (yang dikirimkan) kepada kalian sebelum datangnya siksaan yang keras.) Kemudia Abu Lahab berkata, “Celaka engkau! Hanya untuk inikah engkau mengumpulkan kami?” Maka Allah menurunkan ayat ini,

(تَبَّتْ يَدَآ أَبِى لَهَبٍ وَتَبَّ )

(Binasalah kedua tangan Abu Lahab dan sesungguhnya dia akan binasa!) sampai akhir surah. Dalam narasi lain disebutkan bahwa dia berdiri menaburi tangannya dengan pasir dan berkata, “Celaka kau demi akhir hari ini! Hanya untuk inikah kau mengumpulkan kami” Kemudian Allah menurunkan ayat ini,

(تَبَّتْ يَدَآ أَبِى لَهَبٍ وَتَبَّ )

(Binasalah kedua tangan Abu Lahab dan sesungguhnya dia akan binasa!) Bagian pertama adalah permohonan yang melawan dia sedang bagian kedua adalah informasi mengenai dia. Abu Lahab adalah salah satu paman Rasulullah. Namanya adalah ‘Abdul-‘Uzza ibn Abdul-Muttalib. Nama keluarganya adalah Abu ‘Utaybah dan dia dipanggil Abu Lahab karena wajahnya yang bercahaya. Dia seringkali menyebabkan kecelakaan kepada Rasulullah. Dia membenci Nabi dan mencaci Nabi juga mencaci agama Nabi. Imam Ahmad mencatat dari Abu Az-Zinad bahwa seorang laki-laki bernama Rabi’ah ibn ‘Abad dari suku Bani Ad-Dil, yang merupakan lelaki jahiliyyah pra Islam yang kemudian masuk Islam berkata padanya, “Aku melihat Nabi pada masa jahiliyyah di pasar Dhul-Majaz dan dia berkata,

«يَا أَيُّهَا النَّاسُ، قُولُوا: لَا إِلهَ إِلَّا اللهُ تُفْلِحُوا»

(Wahai manusia Katakanlah bahwasannya tidak ada Tuhan yang berhak disembah kecuali Allah maka kalian akan berhasil.) Orang-orang berkumpul mengitarinya dan di belakangnya seorang lelaki yang wajahnya bercahaya, juling (atau bersilangan) matanya dengan dua kepangan di rambutnya. Dia berkata, “Sungguh, dia adalah seorang yang telah ingkar (Dari agama kami) dan dia sorang pembohong!” Orang ini mengikuti Nabi kemanapun Nabi pergi. Maka aku bertanya siapakah dia maka mereka (orang-orang) berkata, “Dia adalah pamannya, Abu Lahab.” Ahmad juga mencatat narasi ini dari Surayj, yang melaporkannya dari Ibn Abu Az-Zinad, yang melapurkannya dari ayahnya (Abu Zinad) yang menyebutkan narasi yang sama ini. Dalam laporan ini, Abu Zinad berkata, “Aku berkata pada Rabi’ah, ‘Apakah kau masih kecil ketika itu?’ Dia menjawab, ‘Tidak. Demi Allah, ketika itu aku adalah yang paling cerdas, dan aku adalah seorang peniup seruling yang paling kuat,’” Ahmad sendirian meriwayatkan hadits ini. (Tafsir Ibn Katsir)

Imam Ahmad Rahimallah mencatat bahwa Ibn ‘Abbas (رضي الله عنه) berkata: Ketika Allah menurunkan ayat ini,

(وَأَنذِرْ عَشِيرَتَكَ الاٌّقْرَبِينَ )

(Dan berilah peringatan kepada kerabat-kerabatmu yang terdekat (QS Asy-Syuaraa’; 26:214)), Rasulullah (ﷺ) keluar dan naik ke bukit Shafa, lalu berteriak:

«يَا صَبَاحَاه»

(Wahai orang-orang!) Orang-orang berkumpul mengitarinya, beberapa datang dengan keinginan sendiri dan lainnya mengirim orang atas namanya untuk mengetahui apa yang terjadi. Rasulullah berkata:

«يَا بَنِي عَبْدِالْمُطَّلِبِ، يَا بَنِي فِهْرٍ، يَااَبنِي لُؤَيَ، أَرَأَيْتُمْ لَوْ أَخْبَرْتُكُمْ أَنَّ خَيْلًا بِسَفْحِ هَذَا الْجَبَلِ تُريدُ أَنْ تُغِيرَ عَلَيْكُمْ صَدَّقْتُمُونِي؟»

(Ya Bani `Abd Al-Muttalib, Ya Bani Fihr, Ya Bani Lu’ayy! Apa pendapat kalian seandainya aku beritahu kalian bahwa pasukan berkuda akan keluar di kaki gunung ini. Apakah kalian mempercayaiku?) Mereka berkata, “Ya,” Nabi berkata:

«فَإِنِّي نَذِيرٌ لَكُمْ بَيْنَ يَدَي عَذَابٍ شَدِيد»

(Aku peringatkan kalian akan siksa yang sangat pedih) Abu Lahab berkata, “Celaka engkau! Hanya untuk inikah engkau mengumpulkan kami? Kemudian Allah menurunkan ayat:

(تَبَّتْ يَدَآ أَبِى لَهَبٍ وَتَبَّ )

(Binasalah kedua tangan Abu Lahab dan sesungguhnya ia akan binasa!) (Qur’an S. Al-Lahab; 111:1) ﴿ (Tafsir Ibnu Katsir)

[ii]

(إِنَّمَا يُرِيدُ اللَّهُ لِيُذْهِبَ عَنكُـمُ الرِّجْسَ أَهْلَ الْبَيْتِ وَيُطَهِّرَكُمْ تَطْهِيــراً)

(Sesungguhnya Allah bermaksud hendak menghilangkan dosa dari kamu, hai ahlul bait dan membersihkan kamu sebersih-bersihnya.(Qur’an S. Al-Ahzab; 33:33)) Ini adalah sebuah pernyataan yang jelas bahwa istri-istri Nabi adalah termasuk di antara anggota ahlul bayt, karena merekalah alasan ayat ini diturunkan, dan para ulama sepakat dengan suara bulat bahwa mereka adalah alasan kenapa ayat ini diturunkan dalam kasus ini, apakah ini alasan satu-satunya ataukah ada alasan lainnya. Ibn Jarir mencatat bahwa ‘Ikrimah biasa menyebut di pasar:

(إِنَّمَا يُرِيدُ اللَّهُ لِيُذْهِبَ عَنكُـمُ الرِّجْسَ أَهْلَ الْبَيْتِ وَيُطَهِّرَكُمْ تَطْهِيــراً)

(Sesungguhnya Allah bermaksud hendak menghilangkan dosa dari kamu, hai ahlul bait dan membersihkan kamu sebersih-bersihnya.(Qur’an S. Al-Ahzab; 33:33)) “Ayat ini diturunkan semata-mata mengenai istri-istri Nabi.” Ibn Abi Hatim mencatat bahwa Ibn ‘Abas berkata mengenai ayat:

(إِنَّمَا يُرِيدُ اللَّهُ لِيُذْهِبَ عَنكُـمُ الرِّجْسَ أَهْلَ الْبَيْتِ)

(Sesungguhnya Allah bermaksud hendak menghilangkan dosa dari kamu, hai ahlul bait,) ” Ayat ini diturunkan semata-mata mengenai istri-istri Nabi.” ‘Ikrimah berkata: “Siapa saja yang tidak setuju denganku bahwa ayat ini diturunkan semata-mata mengenai istri-istri Nabi, aku siap menemuinya dan berdoa dan memohon semoga laknat Allah bagi siapa saja yang berbohong.” Jadi mereka (istri-istri Nabi) sendirilah yang menjadi alasan turunnya ayat ini, namun yang lain bisa jadi dimasukkan dengan cara generalisasi. Ibn Jarir menceritakan bahwa Shafiyah bint Shaybah berkata: “Aisyah (رضي الله ﻋﻧﻬﺎ) berkata Nabi keluar pada suatu pagi ,mengenakan jubah bergaris yang terbuat dari rambut unta. Al-Hasan(رضي الله عنه) datang dan Nabi menyelimutinya dengan jubah bersama dengannya. Lalu Al-Husen (رضي الله عنه) datang dan Nabi menyelimutinya dengan jubah bersama dengannya. Lalu Fatimah RA datang maka Nabi juga menyelimutinya dengan jubah bersama dengannya. Lalu Ali RA datang dan Nabi juga menyelimutinya dengan jubah bersama dengannya. Lalu Nabi berkata:

(إِنَّمَا يُرِيدُ اللَّهُ لِيُذْهِبَ عَنكُـمُ الرِّجْسَ أَهْلَ الْبَيْتِ وَيُطَهِّرَكُمْ تَطْهِيــراً)

(Sesungguhnya Allah bermaksud hendak menghilangkan dosa dari kamu, hai ahlul bait dan membersihkan kamu sebersih-bersihnya.(Qur’an S. Al-Ahzab; 33:33)) Ini dicatat oleh Muslim. Dalam shahihnya, Muslim mencatat bahwa Yazid ibn Hayyan berkata: ‘Husen ibn Sabrah, ‘Umar ibn Muslim dan aku pergi mendatangi Zaid ibn Arqam RA, dan ketika kami telah duduk bersama-sama dengannya, Husen berkata: ‘Engkau sungguh beruntung, wahau Zaid! Engkau melihat Rasulullah dan mendengarnya berbicara, dan engkau pergi berperang bersamanya, dan engkau shalat di belakangnya. Engkau sungguh beruntung, wahay Zaid! Katakan kepada kami apa yang telah engkau dengar dari Rasulullah.’ Dia berkata, ‘Wahai putera saudaraku, demi Allah, aku sudah tua dan ini telah lama sekali, dan aku sudah lupa sebagian apa yang pernah aku ketahui dari Rasulullah. Apa saja yang aku katakan padamu, terimalah, dan apa saja yang aku tidak katakana padamu, jangan engkau hiraukan.’ Lalu dia berkata, ‘Suatu hari Rasulullah berdiri untuk mengingatkan kami di tempat yang bernama Khum, antara Mekkah dan Madinah, dan dia memuji dan bersyukur kepada Allah, dan dia berpidato dan memperingatkan kami. Lalu dia berkata;

«أَمَّا بَعْدُ، أَلَا أَيُّهَا النَّاسُ فَإِنَّمَا أَنَا بَشَرٌ يُوشِكُ أَنْ يَأْتِيَنِي رَسُولُ رَبِّي فَأُجِيبَ، وَأَنَا تَارِكٌ فِيكُمْ ثَقَلَيْنِ: أَوَّلُهُمَا كِتَابُ اللهِ تَعَالَى، فِيهِ الْهُدَى وَالنُّورُ فَخُذُوا بِكِتَابِ اللهِ وَاسْتَمْسِكُوا بِه»

(Ammaa ba’du! Wahai manusia, sesusngguhnya aku manusia dan segera utusan Tuhanku akan dating dan aku akan menjawabnya. Aku tinggalkan bagi kalian dua hal, pertama adalah kitab Allah yang merupakan petunjuk dan cahaya, maka jadikanlah ia petunjuk dan berpegangteguhlah pada kitab Allah.) Nabi meminta mereka agar berpegangteguh pada kitab Allah, lalu beliau berkata:

«وَأَهْلُ بَيْتِي أُذَكِّرُكُمُ اللهَ فِي أَهْلِ بَيْتِي، أُذَكِّرُكُمُ اللهَ فِي أَهْلِ بَيْتِي»

(Dan Ahl-Bayt ku: Ingatlah Allah kepada Ahl-Bayt-ku, Ingatlah Allah kepada Ahl-Bayt-ku.) mengucapkannya tiga kali’. Husen berkata padanya, ‘Siapakah Ahl-Bayt – nya, wahai Zaid, bukankah istri-istrinya Ahl-Bayt-nya?’ Dia berkata, ‘Istri-istrinya adalah Ahl-Bayt-nya, tapi juga Ahl-Bayt-nya adalah mereka yang tidak diizinkan menerima sedekah setelah wafatnya beliau.’ Dia berkata, ‘Siapakah mereka?’ Dia berkata, ‘Mereka adalah keluarga ‘Ali, keluarga ‘Aqil, keluarga Ja’far, dan keluarga ‘Abas, Radliallahuanhuma.’ Dia berkata, ‘Apakah keluarga-keluarga ini tidak diperbolehkan menerima sedekah setelah kewafatan Nabi?’ Dia berkata, ‘Ya.’” Komentar ini datang dari Zaid bin Arqam dan tidak Marfu’. (Tafsir ibn Katsir)

Asal-usul Syiah

Oleh :  Dr. Ragheb El Sergani

Ulama-ulama Usul Al-Fiqh (Prinsip-prinsip Hukum Islam) menyatakan aturan berikut, “Seseorang tak bisa memberikan sebuah keputusan terhadap sesuatu sampai dia memiliki konsepsi jang jelas tentangnnya”. Berdasarkan aturan itu, tidaklah bernilai memberikan pendapat tentang syiah sampai anda memiliki pengetahuan yang baik tentang mereka. Tidak juga bermakna mengekspresikan pendapat seseorang yang mencoba mendamaikan pandangan-pandangan Sunni dan Syiah tanpa mengenali keadaan dua sekte itu. Sama halnya, bukanlah pandangan yang nyata untuk menerima atau menolak berbicara tentang Syiah tanpa mengetahui realitas masalahnya, yang mana perluasannya berbahaya, mengaturnya menjadi prioritas kita dan hubungannya pada berbagai variable Ummah yang dihadapi.

Ringkasnya, sebelum kita membuat kritik yang menentang ataupun mendukung syiah, kita harus pertama-tama memahami siapakah Syiah itu, bagaimana asal-usulnya, bagaimana latar belakang teologi dan Fiqh mereka, bagaimana sejarah mereka, apakah tujuan dan ambisi mereka di dunia nyata. Hanya setelah melakukan ini, kita dapat memperlihatkan pandangan kita lebih jauh, khususnya ketika kita mengetahui begitu banyaknya orang yang mengubah pandangan yang telah lama diyakininya dan menyerahkan gagasan mereka setelah mereka disuguhkan informasi dan pandangan yang jelas.

Siapakah Syiah?

Masalah ini bukanlah semata-mata tentang bangsa tertentu yang hidup di sebuah Negara tertentu yang memiliki beberapa perselisihan dengan Negara tetangganya. Lebih dari itu, ini adalah sebuah masalah yang memiliki latar belakang teologis, historis dan Fiqh yang harus diacu.

Banyak sejarahwan yang berselisih pendapat mengenai kapan dimulainya Syiah ini.

Apa yang biasa dipercayai orang banyak adalah bahwa Syiah adalah mereka yang mendukung ‘Ali bin Abu Talib pada masa kekhalifahan Mu`awiyah bin Abu Sufyan, (RA). Menurut pengertian ini, mereka yang mendukung `Ali bin Abu Talib adalah Syiah sementara mereka yang mendukung Mu`awiyah adalah Sunnis. Pemahaman seperti itu tak pernah dapat diterima. Lebih lagi, orang-orang Sunni percaya dengan rasa hormat perselisihan yang timbul antara du shahabat yang terhormat ini bahwa ‘Ali (RA)—lah yang benar, sementara Mu`awiyah (RA) melaksanakan Ijtihad namun tidak mencapai kebenaran. Maka, pemikiran orang-orang Sunni jelas-jelas bersama ‘Ali. Lebih lagi, prinsip-prinsip, doktrin dan ideology yang dpegang oleh Syiah secara keseluruhan benar-benar berbeda dengan apa yang dipegang oleh `Ali bin Abu. Karenanya, adalah keliru jika mengatakan bahwa kemunculan Syah adalah pada masa itu.

Beberapa sejarahwan mengatakan bahwa kemunculan Syiah adalah setelah Al-Hussein (RA) syahid. Pendapat ini kedengarannya lebih logis. Kenyataannya, Al-Hussein memberontak terhadap pemerintahan Yazid bin Mu`aweiyah dan karenanya, dia menuju ke Iraq setelah para pengikutnya yang berada di sana berjanji akan kembali padanya. Akan tetapi, mereka membiarkannya terjatuh di saat-saat yang sangat kritis, yang membuatnya harus menemui kesyahidan di Karbala. Kelompok orang yang mengundangnya dan gagal mendukungnya merasa menyesal dan memutuskan untuk menebus dosa-dosa mereka dengan cara memberontak terhadap kekhalifahan Umayyah. Mereka benar-benar melakukannya dan sejumlah besar dari mereka terbunuh sehingga disebut Syiah. Ini bisa menjelaskan kenapa kita melihat bahwa Syiah itu lebih lekat pada Al-Hussein bin `Ali daripada kepada `Ali bin Abu Talib (RA) sendiri. Mereka juga, sebagaimana dapat kita lihat, menandai peringatan kesyahidan Al-Hussein tapi tidak menandai hari kesyahidan `Ali bin Abu Talib.

Namun demikian, sekte ini hanya tumbuh sebagai gerakan politis yang menentang dinasti Ummayyah dan kembali melakukan upaya untuk memberontak pada dynasty ini. Sampai saat itu, mereka tidak memegang prinsip-prinsip teologi dan fiqh yang berbeda dengan orang-orang Sunni. Kita bahkan akan mengetahui bahwa pemimpin-pemimpin awal yang diklaim orang-orang Syiah sebagai imam-imam Syiah ternyata hanyalah orang-orang Sunni yang mengadopsi doktrin-doktrin dan prinsip-prinsip orang-orang Sunni.

Situasi terus berlanjut dan berangsur stabil untuk beberapa bulan setelah kesyahidan Al-Hussein (RA). Pada periode ini hidup `Ali Zainul-`Abdin bin Al- Hussein yang merupakan seorang yang berkepribadian baik dan ulama yang zuhud. Dia tak pernah dilaporkan memiliki keyakinan atau ideology yang berbeda dengan apa yang dipegang oleh para shahabat dan shalafu shalih.

`Ali Zainul-`Abdin memiliki dua orang putera yang yang shaleh dan murni, yang bernama, Mohammed Al-Baqir dan Zaid, yang keduanya benar-benar berkeyakinan sama dengan apa yang dipegang ulama-ulama Sunni termasuk para shahabat dan penerusnya. Akan tetapi, Zaid bin `Ali (RA) berbeda dalam melihat bahwa `Ali bin Abu Talib lebih layak dianggap khlaifah daripada Abu Bakr (RA). Meskipun pendapat bertentangan dengan consensus Ummah dan bertentangan dengan banyak hadits yang secara eksplisit menganggap bahwa Abu Bakr Al-Siddik, `Umar dan `Uthman memiliki peringkat yang lebih tinggi dibanding `Ali (RA), perbedaan pendapat ini, bagaimanapun, tidak berhubungan dengan masalah doctrinal. Sementara dia memandang bahwa `Ali –lah yang terbaik, dia, bagaimanapun, mengakui ketinggian derajat tiga khalifah pertama. Dia juga percaya dalam hal kebolehan mengangkat seorang imam meski ada orang yang lebih tinggi derajatnya. Jika demikian, dia tidak menolak imamah Abu Bakr, `Umar dan `Uthman (RA). Selain dari itu, dia juga setuju dengan orang-orang Sunni dalam hal teologi, prinsip-prinsip dan Fiqh.

Mengulangi upaya yang telah dilakukan kakeknya, Al-Hussein bin `Ali (RA), Zaid bin `Ali memberontak melawan khlaifah Umayyah, Hisham bin Abdul-Malik, yang berakhir dengan terbunuhnya dia pada tahun 122 H. Para pengikutnya kemudian mendirikan sebuah sekte yang didasarkan atas gagasan-gagasannya, yang dalam sejarah dikenal dengan nama Zaydiyyah,dinamai setelah Zaid bin `Ali. Meski dianggap sebagai sekte yang yang berbasis Syiah, Zaydiyyah sepakat dengan orang-orang Sunni dalam segala hal kecuali menempatkan `Ali dalam posisi yang lebih tinggi disbanding tiga khalifah yang lebih mula. Para pengikut sekte ini terutama ada di Yaman dan mereka ada sekte Syiah yang lebih dekat kepada Sunni – bahkan orang akan sulit membedakan mereka dari orang-orang Sunni even one can hardly distinguish them from Sunnis dalam banyak hal.

Adalah bermanfaat untuk menyebutkan bahwa sebuah kelompok para pengikut Zaid bin `Ali bertanya padanya mengenai pendapatnya tentang Abu Bakr dan `Umar. Dalam jawabannya, dia memohon kepada Allah untuk menunjukkan rahmat-Nya kepada kedua orang khalifah itu, namun mereka yang bertanya padanya menolak untuk melakukan hal yang sama dan keluar dari sektenya. Karenanya mereka dikenal dalam sejarah sebagai Rafidah (para pembangkang) karena mereka menolak kekhalifahan Abu Bakr dan `Umar pada satu sisi, dan menolak pendapat  Zaid di sisi yang lain. Generasi-generasi selanjutnya dari grup seperti ini mendirikan sebuah sekte yang nanti dikenal sebagai sekte Ithna `Ashriyyah (Imamiyyah) yang menjadi sekte Syiah terbesar.

Mohammed Al-Baqir, saudara dari Zaid bin `Ali, meninggal delapan tahun sebelum saudaranya (pada tahun 114 H.) meninggalkan seorang putera yang menjadi seorang ulama terhormat, Ja`far Al-Sadiq. Kemudian dia menjadi seorang ulama utama dan seorang Faqih, yang memegang teologi yang sama dengan apa yang diyakini para Shahabat, tabiin, dan para ulama secara umum.

Pada akhir era kekhalifahan Umayyah, gerakan Abbasiyyah memulai aktifitasnya yang bertujuan menggalang orang-orang untuk melawan kekhalifahan Umayyah. Gerakan ini bekerjasama dengan kelompok-kelompok yang keluar dari Zeid bin `Ali dan keduanya dapat menggulingkan kekhalifahan Umayyah pada tahun  132 H. Kekhalifahan Abbasiyyah kemudian berkuasa diketuai oleh pendirinya Abul-`Abbas Al-Saffah dan penggantinya Abu Ja`far Al-Mansur. Mereka yang bekerjasama dengan gerakan ini kemudian menjadi kecewa karena mereka berusaha mendirikan kekhalifahan yang diperintah oleh cucu `Ali bin Abu Talib. Karenanya, mereka membentuk sebuah kelompok yang disebut Al-Talibiyyun (para pendukung `Ali bin Abu Talib (RA) dibandingkan kepada Abbasiyyah yang dinamai setelah Al-`Abbas bin Abdul-Muttalib) dengan tujuan untuk melakukan kudeta terhadap kekhalifahan Abbasiyyah.

Sampai era ini, tak ada pelangaran teologis ataupun fiqh yang essensial kecuali kritik terhadap Abu Bakr dan `Umar; sebenarnya, beberapa dari mereka yang keluar dari Zaid bin `Ali yang menolak mereka dan bahkan mengutuk mereka di depan public.

Ja`far Al-Sadik meninggal tahun 148 H. meninggal seorang putera bernama Musa Al-Kazim, yang juga seorang ulama namun tak sebanding dengan ayahnya. Dia meninggal pada tahun 183 H. meninggalkan beberapa putera termasuk `Ali bin Musa Al-Rida.

Terjadilah Khalifah Abbasiyyah, al Ma’mun melihat konten pemberontakan Al-Talibiyyun yang mengklaim kekhalifahan untuk anak keturunan `Ali bin Abu Talib alih-alih untuk anak keturunan Al-`Abbas. Maka, dia mengangkat `Ali bin Musa Al-Rida sebagai pangeran mahkota, yang dipenuhi dengan kontroversi di antara kalangan Abbasiyyah. Namun demukian, `Ali bin Musa Al-Rida tiba-tiba meninggal pada tahun 203 H., dan Al-Talibiyyun menuduh Al-Ma’mun –lah yang membunhnya dan sekali lagi meningkatkan revolusi suksesi melawan Abbasiyyah sebagaimana mereka lakukan kepada Umayyah.

Bagaimanapun, tahun-tahun yang berlalu member ruang agar revolusi ini relative menurun. Sampai saat itu, Syiah belum mengadopsi sebuah mazhab pemikiran keagamaan yang independen yang disebut Syiah. Malahan, yang ada hanyalah gerakan-gerakan politis yang bertujuan memperoleh kekuatan dan menentang para penguasa karena berbagai alas an yang tidak termasuk kepada alas an-alasan teologis sebagaimana dipegang Syiah yang ada sekarang.

Dengan cara yang mencolok, dawah-dawah perselisihan seperti itu menemukan dukungan dalam skala besar di kawasan Persia (Iran hari ini). Sebenarnya, banyak penduduk di daerah itu yang menyesali atas runtuhnya kekaisaran Persia dan fusinya ke dalam Negara Islam. Mereka, bangsa Persia, menganggap diri mereka bersal dari ras yang lebih tinggi, kesukuan yang lebih baik dan sejarah yang lebih hebat disbanding Muslim. Perasaan ini menimbulkan perasaan Persophilia – sebuah ideology yang berarti memberikan prioritas pada ras dan kesukuan mereka dibanding lainnya bahkan Islam. Beberapa di antara mereka bahkan memperlihatkan ketaatan yang mendalam kepada akar-akar, kunci, persedian dan barel Persia mereka, bahkan kepada api yang pernah mereka sembah.

Karena mereka tidak cukup punya kekuatan untuk melakukan pemberontakan melawan Negara Islam, dan menjadi Muslim untuk beberapa decade, mereka menemukan revolusi Al-Talibiyyun sebagai jalan yang dengannya dapat menggulingkan kekhalifahan Islam yang telah menggulingkan Negara Persia mereka sebelumnya. Pada saat yang sama, mereka tak mau meninggalkan Islam yang telah mereka anut bertahun-tahun. Mereka, namun demikian, memutuskan menyusupkannya dengan cara menyuntikkannya peninggalan Negara Persia sehingga menciptakan instabilitas di dalam Ummah Muslim. Mereka mempertahankan penampangan yang rendah, sementara Al-Talibiyyu dibuat seakan-akan berada pada penampangan yang tinggi. Mengingat Al-Talibiyyun berafiliasi kepada `Ali bin Abu Talib, adalah bagian dari ahlul bayt Nabi dan maka dijunjung tinggi orang-orang, sehingga orang-orang itu dapat terjamin melanjutkan misi mereka.

Maka, upaya-upaya Persophil untuk menyatu dengan Al-Talibiyyun yang berasal dari Ahlul Bayt Nabi adalah untuk membentuk satu kemerdekaan baru, bukan hanya dalam bidang politik tapi juga dalam keagamaan, entitas.

Kembali ke Al-Talibiyyun, kita dapat melihat setelah kematian `Ali Al-Rida yang telah diangkat sebagai pangeran mahkota oleh Khalifah Al-Ma’mun, dia digantikan oleh anaknya Mohammed Al-Jawad yang meninggal pada tahun 220 H. Dia juga kemudian digantikan oleh puteranya `Ali bin Mohammed Al-Hadi yang meninggal pada tahun 254 H. Akhirnya, yang terakhir digantikan oleh Al-Hassan bin `Ali yang disebut Al-`Askary yang juga meninggal secara tiba-tiba pada tahun 260 H. meninggalkan seorang putera yang berusia 5 tahun, Mohammed.

Beberapa tahun sebelumnya, gerakan-gerakan separatis, yang dilakukan beberapa Ahlul Bayt Nabi dan Persophil, berikrar kepada putera tertua pemimpin Al-Talibiyyun, dimulai dengan `Ali Al-Rida dan diakhiri dengan Al-Hassan Al-`Askary. Mengenai leluhur-leluhur `Ali Al-Rida, seperti ayahnya Musa Al-Kazim atau kakeknya Ja`far Al-Sadik atau kakek buyutnya Mohammed Al-Baqir, mereka tidak dianggap pemimpin revolusioner melawan penguasa Umayyah atau Abbasiyyah.

Namun demikian, setelah Al-Hassan Al-`Askary meninggal pada tahun 260 H., para revolusioner ini benar-benar kebingungan kepada siapa mereka menyandarkan kepemimpinan sementara Al-Hassan Al-`Askary sendiri hanya meninggalkan seorang putera yang masih sangat kecil. Mereka bahkan menjadi benar-benar kebingungan setelah anak yang masih sangat kecil itu meninggal sevara tiba-tiba. Hal ini menghasilkan perpecahan kelompok-kelompok revolusioner itu ke dalam berbagai sekte yang masing-masing berbeda dari yang lainnya dalm terma prinsip-prinsip dan gagasan demikian juga dalam keyakinan.

Yang paling terkenal dari antara sekte-sekte itu adalah Ithna `Ashriyyah (Imamiyyah), yang sekarang banyak berlaku di Iran, Iraq dan Lebanon. Ini adalah sekte Syiah terbesar pada saat ini.

Para pemuka sekte ini mulai menambahi ke dalam gagasan-gagasan Islam yang akan bekerja dengan baik dalam situasi-situasi yang terpapar akhir-akhir ini dan yang dapat memastikan keberlangsungan sekte mereka menghipun dengan absennya pemimpin mereka.

Mereka menambahkan begitu banyak bid’ah yang serius ke dalam agama Islam, dan mengklaim bid’ah-bid’ah itu sebagai bagian dan paket dari Islam. Maka, bid’ah-bid’ah itu, dengan berlalunya waktu, menjadi komponen kunci igeologi dan pemikiran mereka. Beberapa bid’ah itu berhubungan dengan Imamah (kekhalifahan). Mencari justifikasi untuk kekurangan imam pada saat ini, mereka berargumen bahwa imam itu hanya ada duabelas, dengan rangkaian sebagai berikut: 1- `Ali bin Abu Talib, 2- Al-Hassan bin `Ali, 3- Al-Hussein bin `Ali, 4- `Ali Zainul-`Abidin bin Al-Hussein, 5- Mohammed Al-Baqir bin Zainul-`Abidin, 6- Ja`far Al-Sadik bin Mohammed Al-Baqir, 7- Musa Al-Kazim, 8- `Ali Al-Rida, 9- Mohammed Al-Jawad, 10- `Ali Al-Hadi, 11- Mohammed Al-Mahdi dan 12- Al-Hassan Al-`Askary.

Duabelas Imam SyiahItulah kenapa sekte ini dinamai Ithna `Ashriyyah. Mencari pembenaran kenapa pergantian imam itu berakhir, mereka mengklaim bahwa anak kecil Muhammad bin Al-Hassan Al-`Askary belumlah mati sampai sekarang, dan karenanya, menurut mereka, dia menghilang di dalam sebuah gua di gunung dan masih hidup sampai sekarang (lebih dari seribu tahun sampai sekarang). Mereka kemudian mengklaim bahwa imam ini akan kembali dan memerintah dunia. Mereka juga yakin bahwa dia adalah Imam Mahdi yang ditungu-tunggu. Mereka juga mengklaim bahwa Rasulullah (SAW) mewariskan imamah kepada dubelas nama itu namun para Shahabat menahan informasi itu. Inilah kenapa mereka menghukumi para Shahabat umumnya sebagai orang-orang yang kafir (akan tetapi, beberapa dari mereka menghukumi para Shahabat hanya sebagai orang-orang yang tamak) karena mereka menyembunyikan wasiat itu. Dipengaruhi oleh system pemerintahan Persia, mereka memperkenalkan keniscayaan system monarchi yang percaya bahwa imam haruslah anak lelaki tertua dari `Ali bin Abu Talib demikian juga seterusnya semua yang menggantikan imam-imam yang ada sebelumnya. Bahkan Negara-negara Islam Sunni mendasarkan pada system monarchi seperti itu, seperti Umayyah, Abbasiyyah, Seljuk, Ayyubi dan kekhalifahan Ottoman, tak pernah menganggap bahwa sistem monoarchi seperti itumenjadi bagian dari agama atau aturan itu mesti berbasis dinansi. Dipengaruhi juga oleh Persia, mereka memperkenalkan kekudusan pemerintahan dinasti. Dengan demikian, mereka yakin akan kesempurnaan imam-imam yang telah disebutkan di atas dan karenanya menganggap perkataan mereka itu sesuci Quran dan Hadits Nabi. Lebih lagi, kebanyakan aturan-aturan Fiqh mereka berasal dari perkataan para imam tanpa memperhatikan apakah perkataan itu otentik atau kepalsuan yang disandarkan kepada mereka. Lebih jauh, dalam bukunya “Islamic Government”, Khomeini, pemimpin revolusi Iran, menyatakan, “Salah satu fundamen ideology kita adalah bahwa imam-imam kita lebih tinggi derajatnya dari para malaikat yang setia dan para nabi.[1]”  Karenanya, ini menjelaskan kebencian mereka yang sengit kepada para shahabat (kecuali beberapa di antara mereka yang tidak melebihi tigabelas). Mereka juga bahkan memperlihatkan kebencian kepada beberapa Ahlul Bayt Nabi, seperti Al-`Abbas (RA), pamanda Rasulullah, dan puteranya Abdullah bin `Abbas (RA), ulama besar Ummah. Tak dapat dibantah, kebencian kepada dua tokoh ini dan menghukumi mereka sebagai kafir adalah disebabkan oleh konflik sejarah antara Ithna `Ashriyyah dengan kekhalifahan Abbasiyyah.

Di antara bid’ah-bid’ah mereka adalah mereka menganggap kebanyakan negeri-negeri Muslim sebagai Darul-Kufr (Negeri Orang-orang Kafir). Mereka jugaKhomeini menghukumi orang-orang Madinah, Mekkah, Mesir dan Libanon sebagai orang-orang kafir, yang telah meriwayatkan apa yang dikatakan Nabi dengan keliru dalam hal ini yang mereka yakini sebagai bagian dari agama mereka.

Anda dapat merujuk gagasan-gagasan seperti itu dari sumber-sumber aseli mereka, seperti Al-Kafy, Bihar Al-Anwar dan Tafsir Al-Qummi, Tafsir Al-`Ayyashi, Al-Burhan dan kitab-kitab lainnya.

Konsekuensinya, mereka tidak mengakui ulama-ulama Sunni dan semua kitab Hadits shahih, seperti Al-Bukhari, Muslim, Al-Tirmidhi dan Al-Nasa’i. Mereka juga menolak otoritas  Abu Hanifah, Malik, Al-Shafi`i dan Ibn Hanbal. Mereka juga tidak mengakui kehebatan Khalid bin Al-Walid atau Sa`d bin Abu Waqqas, `Umar bin Abdul-`Aziz, Musa bin Nusair, Nourul-Din Mahmoud, Salahud-Din, Qutuz dan Muhammad Al-Fatih.

Sebagai hasil dari itu – mereka tidak mengakui para Shahabat, para Tabiin dan kitab-kitab hadits dan tafsir, mereka mempertahankan begitu banyak ucapan-uvapan yang disandarkan kepada Imam-imam mereka melalui jalur periwayatan yang sangat lemah. Konsekuensinya, banyak bid’ah-bid’ah yang menjijikkan yang mendapatkan tempat dalam doktrin-doktrin, peribadatan, perdagangan dan kehidupan mereka. Dalam artikel ini, saya tidak berniat memberikan daftar bid’ah-bid’ah yang mereka lakukan; sebenarnya, tujuan seperti itu membutuhkan susunan kitab-kitab. Saya disini hanya mengacu pada asal-asul masalahnya sehingga kita dapat memahami konsekuensinya. Namun demikian, dibutuhkan perbincangan yang panjang lebar mengenai bid’ah-bid’ah itu seperti Taqiyyah (dibolehkannya seorang penganut Syiah untuk menyembunyikan keyakinan mereka jika berada di bawah ancaman, penganiayaan atau pemaksaan) dan Raj’a (kembalinya Imam-imam mereka dari kematian), memandang bahwa Qur’an itu telah disisipi, tidak percaya kepada Allah, Bid’ah-bid’ah yang dilakukan di dalam kuil, membangun kuil-kuil di dalam masjid, Bid’ah-bid’ah keji yang dilakukan dalam perayaan kesyahidan Al-Hussein dan ribuan bid’ah lain yang menjadi tonggak-tonggak kunci dalam agama menurut Ithna `Ashriyyah.

Semua yang telah saya sebutkan hanyalah bagian dari igdeologi Ithna `Ashriyyah. However, terdapat beberapa sekte-sekte lain dalam satu periode sejarah, khususnya dalam periode yang dikenal dalam sejarah sebagai periode “Shia Bewilderment (kebingungan Syiah)”, yang dimulai pada awal pertengahan abad ketiga hijriah, setelah meninggalnya Al-Hassan Al-`Askary (Imam keduabelas sekaligus yang terakhir menurut mereka).

200px-Mollah_imamzadeh_tabrizDari periode ini, literature buku-buku yang menumbuhkan ideology dan doktrin-doktrin mereka disusun. Metodologi mereka menyebar secara luas di kawasan Persia khususnya dan di dunia Muslim umumnya. Namun demikian, saat itu tak ada satu Negara pun yang mengadopsi ideology ini secara resmi. Setidaknya, pada akhir abad ketigabelas dan permulaan abad keempatbelas hijriah, pengembangan-pengembangan yang serius dilakukan di beberapa tempat yang membuat Syiah mendapatkan kekuatan di beberapa tempat, yang mendapatkan penolakan-penolakan yang serius di seluruh Ummat Muslim. Inilah yang akan saya bahas dalam beberapa artikel yang akan dating, insya Allah.

Namun demikian, saya harus mengulang kembali aturan ” Seseorang tak bisa memberikan sebuah keputusan terhadap sesuatu sampai dia memiliki konsepsi jang jelas tentangnnya “. Maka, jika kita mengambil sebuah keputusan dalam sebuah masalah atau pembahasan yang specific, pertama-tama yang harus kita miliki adalah pengetahuan tentangnya. Dengan kata lain, kita tak dapat menghukumi sesuatu benar atau salah atau mengatakan itu lebih baik dilakukan begini-begitu kecuali ketika informasi yang shahih mengenai itu tersedia. Tak dapat diragukan, penghukuman-penghukuman yang didasrkan pada hasrat dan hawa nafsu dan tak ada studi yang dilakukan pastilaah akan menyebabkan kemungkaran.

Semoga Allah Memuliakan Islam dan Ummat Muslim.

Sumber: Islamstory.com

[1] Khomeini, Islamic Government, hal. 52

Ragheb el-Sergany

Ragheb el-Sergany (السرجاني‎ ﺮﺍﻏﺐ) adalah seorang ulama, ahli bedah dan akademisi Mesir yang lebih dikenal karena bahasan Sejarah Islam-nya, dan penemuan dan supervisinya pada laman IslamStory.com, sebuah website yang lebih menekankan pada pembahasan mengenai sejarah Islam. Beliau juga adalah seorang assisten profesor uro-surgery di Cairo University School of Medicine. Ragheb juga seorang host dan co-host sejumlah program acara televisi terkenal di dunia Arab, yang telah meninggikan reputasinya di antara para audien Arab. Serial audio-nya merinci dengan teliti masa-masa dalam Sejarah Islam, termasuk Cerita Kenabian ﴿ﺍﻠﺳﻴﺮﺓ ﺍﻠﻨﺒﻮﻴﺔ﴾, “Andalusia: dari kelahiran sampai kematiannya”, “Tatar: dari kelahirannya sampai pertempuran ‘Ayn Jaloot”, juga telah menambah reputasinya.

Ragheb el-SerganyRagheb dilahirkan di “al-Mahalla al-Kubra”, sebuah kota di “al-Gharbiya” kegubernuran di Mesir pada tahun 1964. Beliau lulus dari Cairo University of Medicine (Kasr el-Ainy School of Medicine) pada tahun 1988 dengan gelar Bachelor, dengan baik dan terhormat. Beliau kemudian melanjutkan ke Universitas Kairo dan mendapat gelar Master pada tahun 1992, dan gelar doktornya dalam bidang urosurgery di bawah supervisi orang-orang Mesir dan Amerika pada tahun 1998.

Ragheb hafal Qur’an pada tahun 1991 (dalam usia 27 tahun).

Keseluruhan pendidikannya telah membuatnya berkarya dalam bidang-bidang berikut:

  • Sebagai asisten profesor urosurgery di Universitas Kairo.
  • Sebagai Kepala Cabang Administrator Hadara Center for Historical Studies di Kairo.
  • Supervisor www.islamstory.com
  • Sebagai peneliti dan pemikir Islam, dengan perhatian khusus dalam Sejarah Islam.

Dr. Ragheb mengumpulkan proyek intelektualnya dengan tema bernama, “Bersama kita bisa membangun sebuah bangsa terbaik” ﴿ﻤﻌﺄ ﻨﺒﻨﻲ ﺨﻴﺮ ﺃﻤﺔ﴾. Dia menulis bahwa proyek ini adalah sebuah hasil dari studi sejarah islam yang sangat teliti dan komprehensif, dan bahwasannya ini mengandung beberapa tujuan.

  • Deduksi faktor-faktor kebangkitan kembali sebuah bangsa, dan menggunakan faktor-faktor itu untuk menciptakan sebuah renaisan bangsa-bangsa Muslim (ummah).
  • Memberikan harapan ke dalam hati-hati ummat Muslim, dan mendorong mereka untuk mendapat pengetahuan yang menguntungkan dan menggunakan kerja konstruktif untuk meraih kebangkitan kembali mereka.
  • Memurnikan Sejarah Islam dari fitnah-fitnah, dan menghadirkan aspek civilitas dalam lompatannya.

Beliau telah bertahun-tahun membagikannya dalam bentuk kuliah, buku-buku, artikel dan paper analisis berkenaan dengan isu kebangkitan kembali, dan telah berkunjung ke berbagai belahan dunia dalam prosesnya.

Beliau juga telah menulis 25 buku dengan subjek Sejarah dan Pemikiran Islam. Buku-bukunya tersebut adalah:

  1. “What did the Muslims contribute to the world? The contributions of Muslims to human civilization”: menerima penghargaan Mubarak’s award untuk studi keislaman pada tahun 2009.
  2. “Mercy in the life of the Messenger”: menerima penghargaan pertama “The International Contest” dalam bentuk yang berhubungan dengan Nabi SAW pada tahun 2007.
  3. “The story of the Tatars: from the beginning until the Battle of ‘Ayn Jaloot (the Spring of Goliath)”.
  4. “The story of the Crusades: from the beginning until the era of ‘Emad ul-Deen Zinky”.
  5. “Science and the construction of nations”: a founded study in the issue of constructing and developing nations.
  6. “The story of medical sciences in the Islamic civilization”.
  7. “Palestine: the duties of the Ummah”.
  8. “And one of her (family) bore witness”.
  9. “Compassionate amongst each other: the story of solidarity and aid in the Islamic civilization”.
  10. “Between history and reality: 4 volumes”.
  11. “An Ummah that will never die”.
  12. “A message to the youth of the Ummah”.
  13. “How to safeguard Fajr prayer”.
  14. “How to memorize the Noble Qur’an”.
  15. “Reading: a methodology of life”.
  16. “Boycott: A religious obligation and a nationalistic necessity”.
  17. “My fellow physician, boycott”.
  18. “You and Palestine”.
  19. “Palestine will not be lost: How?”
  20. “We are not at the time of Abraha”.
  21. “If ye help him not”.
  22. “Torture in the prisons of freedom”.
  23. “Ramadan and the construction of the Ummah”.
  24. “Hajj is not for pilgrims alone”.
  25. “Who will buy Paradise?”

Ragheb juga menjadi pembawa acara dan co-host program-program televisi chanel-chanel seperti: Iqra’a, al-Resala, al-Hiwar, al-Nas, al-Jazeera, demikian juga dengan program-program radio di beberapa negara termasuk Palestina, Yordania, Libanon, Sudan dan Uni Emirat Arab.

Beliau juga telah membuat ratusan kuliah dalam bentuk audio tape yang membincangkan Kisah Kenabian dan kisah para shahabat, demikian juga dengan kisah Andalusia dan bangsa Tatar. Serial audionya termasuk juga “Bagaimana menjadi seorang ilmuan” dan “Menjadi seorang shahabat”.

Sumber: wikipedia.org